Share

Tiada Lagi Ombak Namamu
Tiada Lagi Ombak Namamu
Author: Grind

Bab 1

Author: Grind
"Nona Sinta, gimana pendapatmu tentang berita ini?"

Kameramen tidak berani berkedip, bersiap menekan tombol jepret kapan saja demi menangkap reaksinya.

Sinta mengangkat kelopaknya, menatap dengan dingin, lalu tersenyum tipis

"Fotonya bagus, mereka kelihatan mesra banget."

Sama sekali tidak ada kesan histeris seperti yang dibayangkan semua orang.

Para wartawan tertegun, penampilan yang sangat tidak biasa ini membuat adu argumen yang sudah mereka siapkan tidak terpakai sama sekali.

Siapa yang tidak tahu, Sinta, sebagai putri tunggal kaya raya, sejak kecil sangat dimanjakan dan egois. Dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, barang yang tidak dia inginkan tidak akan diberikan pada orang lain meskipun sudah dibuang.

Laki-laki pun tidak terkecuali.

Tiga tahun lalu, dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ronald Garga dan mengejarnya selama tiga tahun sampai akhirnya berhasil bertunangan.

Tidak ada yang percaya, Sinta yang seperti ini akan menyerah begitu saja.

Para wartawan maju satu langkah. Baru saja hendak bertanya, tapi mikrofon yang diulurkan dihalangi oleh sebuah tangan.

Ronald mengenakan setelan jas hitam, dengan ekspresi tenang, berdiri santai tapi memancarkan aura terpandang.

Mata hitamnya yang dalam perlahan menatap para wartawan, membuat semua orang patuh untuk mundur beberapa langkah.

"Kali ini kamu lumayan bisa menahan diri."

Dia menatap Sinta dengan suara datar

"Kalau lagi sakit ya tenang aja, nggak usah bikin ulah."

Lalu dia menatap para wartawan dan berkata dengan dingin, "Semua bubar."

Para wartawan merasa tidak puas, tapi mereka tidak berani menentang keinginan Ronald.

Saat hendak pergi, Sinta terkekeh dingin, mendorong orang yang menghalangi jalan di depannya.

"Permisi, bisa minggir dikit nggak?"

"Memotong pembicaraan orang lain itu nggak sopan, tahu nggak?"

Ejekan di matanya membuat tubuh Ronald menjadi kaku.

"Sinta, kamu nggak usah pura-pura nggak kenal sama aku, aku udah janji bakal kasih kamu status Nyonya Garga, aku nggak bakal ingkar janji."

Di matanya terdapat kepercayaan diri yang dibuat-buat.

Pada saat itu, suara perempuan yang lemah juga terdengar bersamaan.

"Nona Sinta, kamu jangan salah paham ya, aku sama Ronald udah lama ... putus ...."

"Pas hari pertunangan kalian, HP-ku hilang dan aku cuma ingat nomor telepon dia, makanya aku minta tolong dia buat jemput aku .... Kamu jangan mikir yang nggak-nggak ya!"

Virly Jasmine entah sejak kapan sudah berada di dekat mereka berdua, tampak seperti perempuan polos yang lemah lembut.

Sinta menatap mereka berdua tanpa berkedip cukup lama, sampai Ronald mengerutkan dahi dan berdiri menghalangi Virly.

Baru kemudian Sinta angkat bicara

"Siapa itu Ronald?"

Dia menunjuk ke arah Ronald, "Dia ya?"

Sebelum mereka berdua sempat merespons, Sinta melambaikan tangan dan berkata tanpa acuh.

"Nggak penting sih, kalau kamu kenal sama dia, mending bawa pergi aja sekarang, jangan ganggu konferensi pers-ku."

Semua orang tertegun.

Namun, dia malah mendekati mikrofon dan tersenyum

"Hari ini aku bikin konferensi pers cuma mau nyatain dua hal aja."

"Pertama, aku hilang ingatan dan ingatanku berhenti di tiga tahun lalu."

"Kedua, aku mau batalin pertunangan sama si siapa itu ... Ronald. Oh ya, tolong sampaikan ucapan selamatku buat dia dan Nona Virly, semoga cepat dapat momongan."

"Segitu aja, makasih semuanya."

Setelah berbicara, dia berbalik dan kembali ke kamar rawat.

Mata para wartawan berbinar, mereka mulai menulis dengan cepat.

Mata Ronald mengerut ketat, dia menatap punggung Sinta yang pergi dan melangkah lebar untuk mengejarnya.

Virly yang melihat hal itu ikut menyusul di belakang.

Sinta yang baru mau menutup pintu, ditahan dengan kuat oleh sebuah tangan.

Ronald menerobos masuk.

"Mending kamu pergi sendiri sebelum aku panggil polisi."

Dia mengeluarkan ponselnya dan layar menunjukkan angka 110.

Kerutan di dahi pria itu makin mendalam.

"Kamu belum puas juga bikin ulahnya?"

"'Kan udah aku bilang, posisi kamu sebagai Nyonya Garga nggak bakal berganti."

Virly yang baru saja sampai wajahnya langsung pucat.

Sinta menyilangkan tangan di dada, berkata dengan tenang.

"Ronald, 'kan? Yang aku omongin tadi kurang jelas ya?"

"Atau daya tangkap kamu yang bermasalah?"

Suara Ronald tertahan, dia menatap mata Sinta dengan dingin.

"Sinta, trik pura-pura hilang ingatan ini payah banget."

"Pertunangan ini menyangkut Keluarga Garga dan Lioda, kamu nggak bisa seenaknya aja."

Baru saja kalimat itu selesai, Virly buru-buru menambahkan

"Nona Sinta, kamu beneran udah salah paham!"

Dia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam pelukannya dan menyerahkannya.

"Ini sebenarnya hadiah yang mau aku kasih buat kamu sama Ronald pas pertunangan, ini cincin pasangan yang aku desain sendiri."

Hingga cincin pasangan itu muncul, mata Sinta yang tadinya tenang akhirnya menunjukkan sedikit perubahan.

Tidak ada yang tahu, Sinta yang berusia 26 tahun sudah mati dalam kecelakaan mobil tersebut.

Sekarang, di dalam tubuh ini, terdapat jiwa Sinta yang berusia 36 tahun.

Dalam ingatan 10 tahun itu, setelah terbangun dia menggunakan segala cara untuk membalas dendam pada Virly yang merusak acara pertunangannya.

Namun, setiap kalinya selalu dihalangi oleh Ronald.

Pria itu memang menikahinya menjadi Nyonya Garga sesuai keinginannya, tapi menggunakan alasan tersebut untuk mengurungnya di rumah sakit jiwa selama 10 tahun.

Virly datang untuk menertawakannya dan memberi tahu bahwa Roni dan Merry, ayah ibu Sinta, berlutut di tanah memohon pada Ronald untuk melepaskannya, bahkan tidak ragu menyerahkan Grup Lioda.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada mereka, keduanya mengalami kecelakaan mobil di jalan dan meninggal dunia.

Sinta menjadi gila dan menatap dengan mata merah sambil mencekik leher Virly, sampai dia menyadari cincin di tangan perempuan itu.

Virly tertawa makin keras, "Sinta, aku dengar kamu sampai operasi potong tulang cuma demi pakai cincin yang ukurannya lebih kecil ini. Kamu belum tahu ya, pasangan cincin ini aku yang desain, cincin perempuannya dari awal memang pakai ukuranku!"

Sinta ditarik pisah oleh dokter yang datang dan malam itu juga dia melompat dari gedung untuk bunuh diri.

Begitu membuka mata kembali, dia menyadari jiwanya sudah kembali ke masa 10 tahun lalu.

Kali ini, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Mengenai cincin ini, Sinta menarik pandangannya dan terkekeh.

"Barang murah yang nggak seberapa ini mending kamu pakai sendiri aja."

Setelah berbicara, dia tanpa ragu menekan tombol panggil polisi dan memberi isyarat tangan agar mereka berdua pergi.

"Silakan keluar."

Ronald menatapnya dengan dalam lalu berbalik pergi, suaranya yang dingin bergema di dalam kamar rawat.

"Sinta, kuharap kamu beneran hilang ingatan."

Setelah mengunci pintu dengan keras, dia segera menelepon Merry.

"Ibu, aku mau batalkan pertunangan sama Ronald."

"Iya, aku serius."

"Pasangan perjodohan yang baru udah aku pikirkan, aku mau sama anak haram dari Keluarga Jerico itu aja!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status