Share

bab 6

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-07-14 10:55:58

Rahang Baskara mengeras. Ia ingin mendorong wanita ini, meneriakinya. Namun, sentuhan jemari Kiara yang lembut di kulit kasarnya mengirimkan sensasi aneh yang sudah lama mati di tubuhnya. Perlahan, cengkeraman tangan Baskara di pergelangan tangan Kiara mengendur.

Memanfaatkan momen itu, Kiara segera menarik tangan Baskara ke pangkuannya. Dengan telaten, ia mulai membersihkan darah di buku-buku jari pria itu menggunakan handuk basah.

Keheningan kembali merajai ruangan itu, namun kali ini ketegangannya berubah haluan. Tidak ada lagi niat membunuh di udara, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih pekat dan berbahaya.

Baskara menatap puncak kepala Kiara yang menunduk. Ia bisa mencium aroma hujan yang bercampur dengan wangi sampo stroberi yang murah namun memabukkan dari rambut wanita itu. Pandangannya perlahan turun. Kemeja putih Kiara masih sedikit lembap di bagian bahu akibat hujan sore tadi, mencetak siluet tubuhnya dengan samar.

Tiba-tiba, dada Baskara berdesir aneh saat Kiara mengangkat tangannya lebih dekat ke wajah wanita itu.

Luka di buku jari Baskara ternyata cukup dalam. Kiara mengerutkan kening, lalu secara naluriah memajukan bibirnya dan meniup luka itu dengan lembut untuk mengusir rasa perih akibat cairan antiseptik yang baru saja ia oleskan.

Hembusan napas hangat Kiara menerpa kulit dingin Baskara.

"Tahan sedikit, Tuan," bisik Kiara manis, ibu jarinya mengusap punggung tangan Baskara dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Ini akan sedikit perih, tapi setelah ditutup perban, rasanya akan lebih baik."

Tubuh Baskara seketika menegang. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena sengatan panas yang tiba-tiba berpusat di perut bawahnya. Hembusan napas Kiara, sentuhan jemari wanita itu yang rapuh namun berani, dan suara lembutnya seolah menjadi mantra yang membangunkan iblis kelaparan di dalam diri sang CEO.

Selama dua tahun ia terjebak di kursi roda, tidak ada satu wanita pun yang berani menyentuhnya tanpa gemetar ketakutan atau menatapnya dengan jijik. Namun wanita ini... wanita ini menyentuhnya dengan keikhlasan murni yang memabukkan.

Mata dingin sedingin es milik Baskara seketika menggelap, memancarkan hasrat primitif yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Sebelum Kiara sempat menempelkan plester, Baskara membalikkan tangannya dan balik menggenggam jemari mungil Kiara dengan erat. Dengan satu tarikan kuat, ia memaksa tubuh Kiara mencondong ke depan hingga dada wanita itu nyaris menabrak dada bidangnya. Kiara tersiap pelan, matanya melebar karena terkejut saat wajah Baskara kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia bisa merasakan napas pria itu yang memburu menerpa bibirnya.

"Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?" Suara Baskara berubah menjadi serak dan berat, sarat akan peringatan, namun getaran gairah di dalamnya tak bisa disembunyikan. Matanya menatap lurus ke bibir merah muda Kiara yang sedikit terbuka.

Jantung Kiara berdegup gila-gilaan. Suara pria ini begitu kuat, nyaris menelannya hidup-hidup Namun, Kiara berusaha tetap tenang. "Sa-saya hanya mengobati luka Anda, Tuan."

"Sikap manismu ini... bisa disalahartikan oleh pria yang sedang putus asa," bisik Baskara dingin. Ibu jarinya yang tak terluka bergerak lambat, mengusap punggung tangan Kiara dengan sentuhan posesif yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Kau memancing sisi lain dariku yang tidak kau ketahui. Jika kau terus berlutut di depanku dengan tatapan seperti itu, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar ini malam ini."

Wajah Kiara memerah panas mendengarnya. Ia tahu persis arti tatapan gelap pria di depannya ini. Sebuah kilat bahaya yang maskulin. Dengan cepat, ia menarik tangannya dari genggaman Baskara, meski jantungnya masih berdebar tak karuan.

"Maaf, Tuan. Lukanya... lukanya sudah selesai saya perban," cicit Kiara, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski ia buru-buru berdiri dan merapikan roknya. "Saya akan memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan kaca ini. Selamat malam, Tuan Baskara."

Tanpa menunggu jawaban, Kiara berdiri dan hendak pergi dari sana. Dia merapikan kotak obat dan tak berani menatap Baskara.

“Tidak perlu terlalu munafik dengan bersikap peduli padaku. Kemari barang barangmu dan kamu perlu lagi melihat kelemahanku,” lirih Baskara.

“Tuan … saya tidak bermaksud….”

"Tidak bermaksud apa?" Baskara memotong dengan nada setajam silet. Tangannya yang masih berlumuran darah kering mencengkeram lengan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih. "Tidak bermaksud menatapku seperti aku ini spesimen langka di kebun binatang? Tidak bermaksud menyentuhku dengan tangan lembutmu seolah aku ini anak kecil yang perlu ditenangkan?"

Kiara menelan ludah. "Saya hanya…"

"Hanya apa?!" Baskara menggebrak sisa meja nakas di sampingnya. Botol obat dan kapas berhamburan ke lantai. "Hanya mengasihani pria cacat yang bahkan tidak bisa berdiri untuk mengusirmu sendiri?!"

Kalimat kejam itu meluncur dari mulutnya sendiri seperti racun yang ia telan setiap hari selama dua tahun terakhir. Namun alih-alih meredakan amarahnya, pengucapan itu justru membuat dadanya semakin sesak.

Kiara tidak mundur. Ia masih berlutut di lantai, di antara serpihan kaca yang menggores lututnya. Kemeja putihnya yang masih sedikit lembap menempel di kulit, mencetak lekuk tubuhnya dengan samar di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Roknya tersingkap sedikit di atas lutut, memperlihatkan kulit pucat yang dihiasi goresan merah kecil.

Dan justru itulah yang membuat Baskara nyaris kehilangan kendali.

Bukan niat Kiara. Bukan godaan yang disengaja. Tapi cara wanita itu mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bibir merah mudanya yang sedikit terbuka saat ia menarik napas, helaian rambut basah yang menempel di lehernya.

Panas menjalar di perut bawah Baskara. Sesuatu yang sudah dua tahun ia kira mati, terkubur bersama kehancuran kakinya, kini berdenyut menyakitkan. Dan itu membuat syaraf normal kelakiannya menegang. Murka pada wanita di depannya yang tanpa sadar membangkitkan monster yang seharusnya tetap tertidur.

"Kau pikir kau siapa?" desis Baskara. Suaranya turun menjadi geraman rendah yang menggetarkan udara di antara mereka. Tangannya terulur, mencengkeram dagu Kiara dengan kasar, memaksa wanita itu mendongak lebih tinggi. Jemarinya menekan terlalu kuat, nyaris menyakitkan. "Kau pikir dengan berlutut di depanku, menatapku dengan mata nakalmu itu, menyentuh tanganku seolah aku ini sesuatu yang rapuh kau pikir itu membuatku tertarik padamu?"

Kiara meringis pelan karena cengkeraman di dagunya, namun matanya tidak berpaling. "Saya tidak pernah berpikir begitu, Tuan."

"Bagus." Baskara melepaskan dagu Kiara dengan sentakan kasar, seolah kulit wanita itu membakar jarinya. Ia memutar kursi rodanya menjauh, membelakangi Kiara. Napasnya memburu, bahunya naik-turun dengan tidak teratur. "Karena kau bukan siapa-siapa. Kau wanita jalanan yang kebetulan pingsan di depan mobilku. Dan aku tidak menginginkanmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 6

    Rahang Baskara mengeras. Ia ingin mendorong wanita ini, meneriakinya. Namun, sentuhan jemari Kiara yang lembut di kulit kasarnya mengirimkan sensasi aneh yang sudah lama mati di tubuhnya. Perlahan, cengkeraman tangan Baskara di pergelangan tangan Kiara mengendur. Memanfaatkan momen itu, Kiara segera menarik tangan Baskara ke pangkuannya. Dengan telaten, ia mulai membersihkan darah di buku-buku jari pria itu menggunakan handuk basah. Keheningan kembali merajai ruangan itu, namun kali ini ketegangannya berubah haluan. Tidak ada lagi niat membunuh di udara, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih pekat dan berbahaya. Baskara menatap puncak kepala Kiara yang menunduk. Ia bisa mencium aroma hujan yang bercampur dengan wangi sampo stroberi yang murah namun memabukkan dari rambut wanita itu. Pandangannya perlahan turun. Kemeja putih Kiara masih sedikit lembap di bagian bahu akibat hujan sore tadi, mencetak siluet tubuhnya dengan samar. Tiba-tiba, dada Baskara berdesir aneh saat Kiara men

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 5

    Tiba-tiba, derap langkah kaki yang berat namun teratur mendekat dengan cepat dari arah lorong yang remang. Raja, asisten pribadi Baskara yang berwajah kaku dan bertubuh tegap, muncul dari balik bayangan. Pria bersetelan gelap itu langsung mengambil alih posisi di depan pintu, menekan sebuah kombinasi rumit pada panel tersembunyi di dinding yang langsung memicu sistem pengunci sentral. Klik! Pintu baja berlapis kayu itu kini terkunci ganda secara otomatis. Kiara menatap Raja dengan mata membulat. "Apa yang terjadi padanya? Suaranya terdengar kesakitan. Bukankah kita harus memanggil dokter atau mendobrak masuk untuk—" "Mundur, Nona Kiara," potong Raja. Suaranya sangat datar dan sedingin es, sama sekali tidak memancarkan kepanikan sedikit pun. Seolah-olah badai amarah yang meledak di balik pintu itu adalah rutinitas usang yang sudah terlampau sering ia hadapi. "Tapi dia melemparkan sesuatu di dalam sana! Bagaimana jika dia melukai dirinya sendiri?" desak Kiara, rasa penasarannya men

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 4

    "Kau baru saja pingsan," suara bariton Baskara kembali mengalun, kali ini dengan nada meremehkan yang kentara. "Jika kau menyerah sekarang dan menyadari bahwa kau tidak sekuat ucapanmu, pintu keluar ada di sana. Besok pagi, sopirku akan mengantarmu pergi, dan anggap saja pertolonganku hari ini sebagai sedekah." Namun, alih-alih berbalik menuju pintu, Kiara justru melangkah maju. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Tangan pucatnya mulai memungut lembar demi lembar kertas tersebut. Matanya dengan cepat memindai kop surat dan tanggal pada dokumen, otak desainernya yang terbiasa dengan detail mulai bekerja memilah kekacauan itu. Mendengar suara gemerisik kertas, Baskara melirik dari sudut matanya. Pria itu sedikit tertegun. Ia mengira wanita yang baru saja hancur hatinya itu akan menangis mengeluhkan keadaannya, atau setidaknya memprotes betapa tidak masuk akalnya tugas itu. Namun Kiara hanya diam, fokus memungut dan mengelompokka

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 3

    "Tuan Baskara ingin Nona menemuinya di ruang kerja jika Nona sudah merasa lebih baik," tambah pelayan itu lagi dengan nada hormat. Meski tubuhnya masih terasa remuk redam, insting bertahan hidup Kiara menyala terang. Ia tidak bisa merepotkan orang asing, dan ia harus segera memikirkan langkah selanjutnya untuk hidupnya yang baru saja hancur lebur. Setelah menghabiskan minumannya dan merapikan penampilannya seadanya di depan cermin besar, Kiara melangkah keluar kamar, mengikuti arahan pelayan menuju lantai bawah. Rumah itu sangat megah, lebih pantas disebut istana, namun terasa sangat sunyi dan dingin. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan hangat, seolah waktu berhenti di dalam tembok-tembok marmer ini. Saat tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang terbuka separuh, Kiara menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya, dan melangkah masuk. Di balik meja kerja besar berbahan kayu eboni, punggung seorang pria yang menghadap ke jendela kaca besar tampak membayang, menat

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 2

    "Kau—!" Vanya menggeram, mengangkat tangan bersiap melayangkan tamparan kedua. Namun kali ini, Kiara dengan sigap menangkap pergelangan tangan Vanya di udara. Cengkeraman Kiara begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, membuat Vanya merintih kesakitan. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi," desis Kiara tajam, menatap tepat ke dalam manik mata Vanya. "Roda berputar. Dan saat tiba giliranku berada di atas, aku akan memastikan kalian berdua membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari semua kehancuran ini." Kiara menghempaskan tangan Vanya dengan kasar. Tanpa menoleh lagi pada wajah Rendy yang pias, Kiara membalikkan badan dan melangkah keluar. Ia meninggalkan lima tahun hidupnya di ruangan itu, membawa serta luka yang menganga, namun menolak untuk terlihat hancur. Hujan menderas tanpa peringatan saat Kiara melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit sore itu. Langit kelabu tampak seolah ikut meratapi nasibnya, menumpahkan tirai air yang tebal ke jalanan ibukota. Dalam

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 1

    "Ih, kamu nakal! Apa gak bisa pelan pelan?”Jantung Kiara berdegup kencang. Suara decitan dan erangan napas yang memburu menghentikan langkah Kiara tepat di depan pintu ruang kerja eksklusif itu.Senyum yang sejak tadi merekah di bibirnya perlahan pudar. Di tangan kirinya, ia mendekap erat sebuah map kulit berisi draf final desain perhiasan musim gugur, kejutan yang ia siapkan untuk ulang tahun Rendy, tunangannya sekaligus manajer di departemen ini.Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendorongnya perlahan.Udara seolah tersedot habis dari paru-paru Kiara dalam satu kedipan mata. Tubuhnya membeku. Pemandangan di depanya sungguh membuatnya tak bisa berkutik.Di atas meja kerja tempat mereka biasa merancang masa depan bersama, berserakan kertas-kertas laporan. Namun bukan itu yang membuat dunia Kiara runtuh. Di atas meja itu, Rendy nyaris telanjang bulat. Kemeja kerjanya sudah terlempar entah ke mana. Pria itu tengah memacu pinggulnya kuat-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status