LOGINTiba-tiba, derap langkah kaki yang berat namun teratur mendekat dengan cepat dari arah lorong yang remang. Raja, asisten pribadi Baskara yang berwajah kaku dan bertubuh tegap, muncul dari balik bayangan. Pria bersetelan gelap itu langsung mengambil alih posisi di depan pintu, menekan sebuah kombinasi rumit pada panel tersembunyi di dinding yang langsung memicu sistem pengunci sentral.
Klik! Pintu baja berlapis kayu itu kini terkunci ganda secara otomatis. Kiara menatap Raja dengan mata membulat. "Apa yang terjadi padanya? Suaranya terdengar kesakitan. Bukankah kita harus memanggil dokter atau mendobrak masuk untuk—" "Mundur, Nona Kiara," potong Raja. Suaranya sangat datar dan sedingin es, sama sekali tidak memancarkan kepanikan sedikit pun. Seolah-olah badai amarah yang meledak di balik pintu itu adalah rutinitas usang yang sudah terlampau sering ia hadapi. "Tapi dia melemparkan sesuatu di dalam sana! Bagaimana jika dia melukai dirinya sendiri?" desak Kiara, rasa penasarannya mengalahkan rasa takut yang mulai merayap di tengkuknya. Raja menoleh lambat. Sorot matanya tajam, menghunus bagai sebilah belati. Ia memajukan langkah, memaksa Kiara untuk mundur secara otomatis. "Dengar baik-baik, Nona. Karena Anda orang baru di sini, saya akan memberikan satu-satunya peringatan yang akan menyelamatkan nyawa dan kewarasan Anda," desis Raja dengan nada rendah yang penuh dengan ancaman mutlak. "Jangan pernah mencoba mengganggu Tuan Baskara saat beliau sedang berada dalam fase ini." Raja mengangkat tangan bersarung hitamnya, menunjuk lurus ke arah tumpukan kertas yang berserakan di ruang kerja. “Kenapa?” tanya Kiara setengah bingung. "Tugas Anda di sini adalah menyortir dokumen itu, bukan menjadi pahlawan kesiangan. Jika Anda masih menghargai kesempatan yang Tuan Baskara berikan hari ini, tutup telinga Anda, tutup mulut Anda, dan kembalilah bekerja." "Tapi—" "Rasa iba dan rasa ingin tahu adalah dua hal yang paling menjijikkan bagi Tuan Baskara," sela Raja telak, tak memberi celah untuk dibantah. "Jika Anda berani menerobos masuk, beliau tidak akan segan-segan menghancurkan Anda lebih hancur dari apa yang dilakukan mantan tunangan Anda sore tadi." Raja membalikkan badannya, berdiri tegak bak patung gargoyle penjaga neraka di depan pintu tersebut. Menutup semua celah komunikasi. "Lanjutkan pekerjaan Anda, Nona Kiara. Atau kemasi barang Anda dan keluar dari rumah ini sekarang juga." Kiara menelan ludah yang terasa berpasir. Peringatan Raja bukan sekadar gertakan kosong; itu adalah hukum mutlak di kediaman ini. Perlahan, ia melangkah mundur, meninggalkan area pintu itu dan kembali berlutut di tengah tumpukan kertasnya. Sembari tangannya kembali gemetar memilah dokumen di bawah lampu temaram, Kiara menyadari satu hal malam ini. Pria yang telah menyelamatkannya dari jalanan itu tidak hanya memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas, tetapi juga menyimpan rahasia yang membuat Kiara bertanya tanya. Suara teriakan tak terdengar setelah beberapa jam. Kiara yang masih mengerjakan tugasnya, melihat dua orang pelayan masuk kamar Baskara. Keduanya tampak terburu buru dan berwajah cemas. Bahkan tak lama kemduian, terdengar suara benda pecah yang menghantam lantai. “Ah…” Teriakan dari dalam ruangan membuat Kiara berdiri. hampir saja dia mengintip ke dlaam tapi langkahnya berhenti saat melihat dua pelayan itu keluar dengan darah di kening mereka. “Ada apa?” tanya Kiara pada salah satu diantara mereka yang terlihat ketakutan. “Keluar!” teriak Baskara dan keduanya langsung beriri dan meninggalkan Kiara yang msaih berdiri memataung bingung. Kiara memaksakan diri untuk melihat keadaan di dalam. Dia melangkah pelan dan melihat kaca berserakan di lantai. Darah pun terlihat bercecer di sana. “Sudah aku bilang, keluar!! Kalian tuli, hah?” berang Baskara tanpa mengetahui jika Kiara yang ada di sana. “Tu-an, apa Anda butuh sesuatu?” tanya Kiara dengan suara bergetar. Baskara tidak berada di atas kursi rodanya. Pria yang beberapa jam lalu memancarkan aura dominasi mutlak tak tersentuh dari dalam Maybach mewah, kini duduk merosot di atas karpet tebal, di antara pecahan vas porselen dan robekan dokumen. Kursi rodanya tergeletak miring. Kemeja hitamnya kusut masai, tiga kancing teratasnya terlepas, memperlihatkan dada bidang yang naik-turun menahan emosi. Yang paling membuat napas Kiara tercekat adalah darah. Darah segar menetes pelan dari buku-buku jari Baskara yang terkepal kuat hingga urat-uratnya menonjol, menodai karpet persia di bawahnya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Suara Baskara sangat rendah, mengalun seperti geraman predator yang terluka namun tetap mematikan. "Apa Raja tidak mengajarimu aturan di rumah ini, Nona Kiara?" "Pintu... pintunya tidak terkunci dengan rapat setelah pelayan tadi keluar, Tuan," jawab Kiara seraya menelan ludah. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai, namun matanya menolak untuk berpaling. "Lalu kau pikir kau bisa melenggang masuk menjadi pahlawan kesiangan?!" bentak Baskara tiba-tiba. Tangannya menyambar sebuah asbak kristal di dekatnya dan melemparkannya ke arah dinding. “Keluar!” Prang! Pecahan kristal memantul ke segala arah. Beberapa serpihan kecil mengenai betis Kiara yang hanya terbalut rok kerja, menimbulkan perih. Namun, wanita itu tidak meringis. Ia bahkan tidak mundur selangkah pun. Matanya tetap terpaku pada rahang Baskara yang mengeras. Entah mengapa, di balik amarah badai dan kekejaman pria itu, Kiara justru semakin penasaran dengan keadaannya. "Keluar," desis Baskara, matanya menyipit berbahaya. "Keluar dari ruanganku sekarang, atau aku akan memastikan kau menyesal pernah dilahirkan." Kiara memejamkan mata sesaat. Peringatan Raja kembali terngiang di telinganya. Namun, alih-alih mundur, Kiara melangkah maju. Ia berjalan lurus ke arah kamar mandi yang terbuka pintunya di sudut ruangan, mengambil sebuah handuk kecil bersih dan kotak P3K dari balik cermin, lalu membasahi handuk itu dengan air hangat. "Apa yang kau lakukan?!" bentak Baskara saat Kiara berlutut tepat di hadapannya, mengabaikan serpihan beling di sekitarnya. Jarak mereka kini tak lebih dari jengkal. Tanpa banyak bicara, Kiara meraih tangan kanan Baskara yang berlumuran darah. Seketika, Baskara mencengkeram pergelangan tangan Kiara dengan tangan kirinya. Cengkeraman itu begitu kuat, seolah ingin meremukkan tulang Kiara. Mata elang pria itu menatap tajam, mencari jejak rasa kasihan atau ketakutan. "Kau berani mengabaikan perintahku?" geram Baskara, napas hangatnya menerpa wajah Kiara. "Kau benar-benar tidak takut padaku?" "Jika saya takut, saya sudah lari menyusul dua pelayan Anda," balas Kiara tenang. Ia menatap lurus ke mata pria itu. "Maf jika saya lancang. Anda butuh bantuan, meski ego Anda menolaknya."Rahang Baskara mengeras. Ia ingin mendorong wanita ini, meneriakinya. Namun, sentuhan jemari Kiara yang lembut di kulit kasarnya mengirimkan sensasi aneh yang sudah lama mati di tubuhnya. Perlahan, cengkeraman tangan Baskara di pergelangan tangan Kiara mengendur. Memanfaatkan momen itu, Kiara segera menarik tangan Baskara ke pangkuannya. Dengan telaten, ia mulai membersihkan darah di buku-buku jari pria itu menggunakan handuk basah. Keheningan kembali merajai ruangan itu, namun kali ini ketegangannya berubah haluan. Tidak ada lagi niat membunuh di udara, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih pekat dan berbahaya. Baskara menatap puncak kepala Kiara yang menunduk. Ia bisa mencium aroma hujan yang bercampur dengan wangi sampo stroberi yang murah namun memabukkan dari rambut wanita itu. Pandangannya perlahan turun. Kemeja putih Kiara masih sedikit lembap di bagian bahu akibat hujan sore tadi, mencetak siluet tubuhnya dengan samar. Tiba-tiba, dada Baskara berdesir aneh saat Kiara men
Tiba-tiba, derap langkah kaki yang berat namun teratur mendekat dengan cepat dari arah lorong yang remang. Raja, asisten pribadi Baskara yang berwajah kaku dan bertubuh tegap, muncul dari balik bayangan. Pria bersetelan gelap itu langsung mengambil alih posisi di depan pintu, menekan sebuah kombinasi rumit pada panel tersembunyi di dinding yang langsung memicu sistem pengunci sentral. Klik! Pintu baja berlapis kayu itu kini terkunci ganda secara otomatis. Kiara menatap Raja dengan mata membulat. "Apa yang terjadi padanya? Suaranya terdengar kesakitan. Bukankah kita harus memanggil dokter atau mendobrak masuk untuk—" "Mundur, Nona Kiara," potong Raja. Suaranya sangat datar dan sedingin es, sama sekali tidak memancarkan kepanikan sedikit pun. Seolah-olah badai amarah yang meledak di balik pintu itu adalah rutinitas usang yang sudah terlampau sering ia hadapi. "Tapi dia melemparkan sesuatu di dalam sana! Bagaimana jika dia melukai dirinya sendiri?" desak Kiara, rasa penasarannya men
"Kau baru saja pingsan," suara bariton Baskara kembali mengalun, kali ini dengan nada meremehkan yang kentara. "Jika kau menyerah sekarang dan menyadari bahwa kau tidak sekuat ucapanmu, pintu keluar ada di sana. Besok pagi, sopirku akan mengantarmu pergi, dan anggap saja pertolonganku hari ini sebagai sedekah." Namun, alih-alih berbalik menuju pintu, Kiara justru melangkah maju. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Tangan pucatnya mulai memungut lembar demi lembar kertas tersebut. Matanya dengan cepat memindai kop surat dan tanggal pada dokumen, otak desainernya yang terbiasa dengan detail mulai bekerja memilah kekacauan itu. Mendengar suara gemerisik kertas, Baskara melirik dari sudut matanya. Pria itu sedikit tertegun. Ia mengira wanita yang baru saja hancur hatinya itu akan menangis mengeluhkan keadaannya, atau setidaknya memprotes betapa tidak masuk akalnya tugas itu. Namun Kiara hanya diam, fokus memungut dan mengelompokka
"Tuan Baskara ingin Nona menemuinya di ruang kerja jika Nona sudah merasa lebih baik," tambah pelayan itu lagi dengan nada hormat. Meski tubuhnya masih terasa remuk redam, insting bertahan hidup Kiara menyala terang. Ia tidak bisa merepotkan orang asing, dan ia harus segera memikirkan langkah selanjutnya untuk hidupnya yang baru saja hancur lebur. Setelah menghabiskan minumannya dan merapikan penampilannya seadanya di depan cermin besar, Kiara melangkah keluar kamar, mengikuti arahan pelayan menuju lantai bawah. Rumah itu sangat megah, lebih pantas disebut istana, namun terasa sangat sunyi dan dingin. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan hangat, seolah waktu berhenti di dalam tembok-tembok marmer ini. Saat tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang terbuka separuh, Kiara menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya, dan melangkah masuk. Di balik meja kerja besar berbahan kayu eboni, punggung seorang pria yang menghadap ke jendela kaca besar tampak membayang, menat
"Kau—!" Vanya menggeram, mengangkat tangan bersiap melayangkan tamparan kedua. Namun kali ini, Kiara dengan sigap menangkap pergelangan tangan Vanya di udara. Cengkeraman Kiara begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, membuat Vanya merintih kesakitan. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi," desis Kiara tajam, menatap tepat ke dalam manik mata Vanya. "Roda berputar. Dan saat tiba giliranku berada di atas, aku akan memastikan kalian berdua membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari semua kehancuran ini." Kiara menghempaskan tangan Vanya dengan kasar. Tanpa menoleh lagi pada wajah Rendy yang pias, Kiara membalikkan badan dan melangkah keluar. Ia meninggalkan lima tahun hidupnya di ruangan itu, membawa serta luka yang menganga, namun menolak untuk terlihat hancur. Hujan menderas tanpa peringatan saat Kiara melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit sore itu. Langit kelabu tampak seolah ikut meratapi nasibnya, menumpahkan tirai air yang tebal ke jalanan ibukota. Dalam
"Ih, kamu nakal! Apa gak bisa pelan pelan?”Jantung Kiara berdegup kencang. Suara decitan dan erangan napas yang memburu menghentikan langkah Kiara tepat di depan pintu ruang kerja eksklusif itu.Senyum yang sejak tadi merekah di bibirnya perlahan pudar. Di tangan kirinya, ia mendekap erat sebuah map kulit berisi draf final desain perhiasan musim gugur, kejutan yang ia siapkan untuk ulang tahun Rendy, tunangannya sekaligus manajer di departemen ini.Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendorongnya perlahan.Udara seolah tersedot habis dari paru-paru Kiara dalam satu kedipan mata. Tubuhnya membeku. Pemandangan di depanya sungguh membuatnya tak bisa berkutik.Di atas meja kerja tempat mereka biasa merancang masa depan bersama, berserakan kertas-kertas laporan. Namun bukan itu yang membuat dunia Kiara runtuh. Di atas meja itu, Rendy nyaris telanjang bulat. Kemeja kerjanya sudah terlempar entah ke mana. Pria itu tengah memacu pinggulnya kuat-







