LOGINLima tahun kesetiaan dan pengorbanan Kiara dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan. Di hari ia berencana memberikan kejutan manis, Kiara justru memergoki tunangannya, Rendy, tengah bercumbu panas dengan Vanya yang merupakan putri tunggal pemilik perusahaan tepat di atas meja kerja mereka. Tak cukup menghancurkan hatinya, Vanya memecat Kiara dengan tidak hormat dan merampas seluruh mahakarya desain perhiasan milik Kiara untuk dipatenkan atas namanya sendiri. Dibuang, dirampok, dan diinjak-injak hingga ke dasar jurang, Kiara menolak untuk menangis memohon. Di tengah pelariannya di bawah guyuran hujan badai, takdir nyaris merenggut nyawanya di bawah roda Maybach hitam milik Baskara Adhitama. Baskara adalah CEO Adhitama Group yang dikenal sebagai tiran berdarah dingin. Ia penguasa bisnis yang kejam dan ditakuti, namun terpenjara di atas kursi roda akibat sebuah kecelakaan tragis di masa lalu. Di saat semua orang menatap Baskara dengan ketakutan atau belas kasihan yang memuakkan, Kiara menatapnya sederajat dengan keberanian dan keikhlasan yang tak pernah pria itu temui. Insiden itu membawa Kiara masuk ke dalam sangkar emas sang tiran. Bukan sebagai wanita lemah yang butuh diselamatkan, melainkan sebagai asisten pribadi tangguh yang tak gentar menghadapi amarah badai sang CEO.
View More"Ih, kamu nakal! Apa gak bisa pelan pelan?”
Jantung Kiara berdegup kencang. Suara decitan dan erangan napas yang memburu menghentikan langkah Kiara tepat di depan pintu ruang kerja eksklusif itu. Senyum yang sejak tadi merekah di bibirnya perlahan pudar. Di tangan kirinya, ia mendekap erat sebuah map kulit berisi draf final desain perhiasan musim gugur, kejutan yang ia siapkan untuk ulang tahun Rendy, tunangannya sekaligus manajer di departemen ini. Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendorongnya perlahan. Udara seolah tersedot habis dari paru-paru Kiara dalam satu kedipan mata. Tubuhnya membeku. Pemandangan di depanya sungguh membuatnya tak bisa berkutik. Di atas meja kerja tempat mereka biasa merancang masa depan bersama, berserakan kertas-kertas laporan. Namun bukan itu yang membuat dunia Kiara runtuh. Di atas meja itu, Rendy nyaris telanjang bulat. Kemeja kerjanya sudah terlempar entah ke mana. Pria itu tengah memacu pinggulnya kuat-kuat di antara kedua paha seorang wanita. Wanita bergaun merah yang gaunnya sudah tersingkap hingga ke dada itu melenguh keras, meraup bibir Rendy dengan rakus sementara kuku-kukunya mencengkeram punggung pria itu. Bunyi basah dari pertautan kulit mereka menggema menjijikkan di ruangan berpendingin udara tersebut. Map kulit di tangan Kiara terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dengan suara brakk yang memecah gairah buta di ruangan itu. Gerakan Rendy terhenti seketika. Ia menoleh dengan napas terengah-engah. Wajahnya langsung pucat pasi, sepucat kertas, saat melihat siapa yang mematung di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. "Ki... Kiara?" Suara Rendy bergetar hebat. Ia buru-buru menarik diri, memungut kemejanya dengan panik dan menutupi tubuh bagian bawahnya. "Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku... aku bisa jelaskan!" Namun, wanita bergaun merah itu sama sekali tidak terlihat panik. Vanya, putri tunggal pemilik perusahaan tempat Kiara mengabdi hingga sering kurang tidur itu justru tertawa kecil. Dengan gerakan santai dan tanpa rasa malu sedikit pun, Vanya membenarkan letak pakaian dalamnya, merapikan gaunnya, lalu merosot turun dari meja. Ia menatap Kiara dengan senyum miring penuh kemenangan, memamerkan lipstiknya yang berantakan sebagai trofi pengkhianatan. "Berhenti bersandiwara seperti orang bodoh, Rendy," ucap Vanya ringan. Ia berjalan mendekati Rendy dan merangkulkan lengannya dengan posesif ke lengan pria itu yang masih gemetar. "Beri tahu saja wanita ini yang sebenarnya. Bukankah kau sendiri yang bilang padaku semalam kalau kau sudah muak menyentuhnya?" Dada Kiara naik turun dengan cepat. Rasa mual mengocok perutnya hingga ia nyaris muntah. Lima tahun. Lima tahun ia menyerahkan seluruh waktunya, dedikasinya, dan cintanya. Ia rela makan mi instan agar Rendy bisa membeli jas mahal. Ia rela lembur berminggu-minggu demi bonus yang ia masukkan ke tabungan pernikahan mereka bulan depan. Dan balasan yang ia dapatkan? Rendy menidurinya bosnya sendiri di atas meja kantor. "Jelaskan," desis Kiara. Suaranya sangat pelan, nyaris seperti bisikan, namun getaran kemarahan dan luka di dalamnya begitu kentara. "Jelaskan apa yang baru saja kulihat, Rendy Syahputra!" Rendy menelan ludah. Ia menatap Vanya sejenak, lalu kembali menatap Kiara. Perlahan, kepanikannya hilang. Wajahnya berubah menjadi lebih kaku dan dingin, seolah belas kasihnya telah menguap. "Maafkan aku, Kiara," ucap Rendy, nadanya kini terdengar seperti orang asing yang tak punya hati. "Tapi kau harus bersikap realistis. Cinta saja tidak bisa membuatku duduk di kursi Direktur Utama. Vanya... dia bisa memberiku segalanya. Posisi, kekuasaan, masa depan. Apa yang bisa kau berikan? Gajimu sebagai kepala desainer bahkan tidak cukup untuk membeli satu roda mobil sport yang akan Vanya hadiahkan padaku." Kiara mematung. Air mata yang nyaris jatuh berhasil ia tahan sekuat tenaga. "Jadi, kau menjual harga dirimu untuk menjadi pelacur pria bagi wanita ini? Pernikahan kita bulan depan... apa ini gak ada artinya bagimu?!" "Anggap saja rencana itu tidak pernah ada," jawab Rendy tanpa beban. "Kita selesai." Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kiara sebelum ia sempat berkedip. Bunyi nyaringnya menggema di seluruh sudut ruangan eksklusif tersebut. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat telinganya berdenging hebat. Itu bukan tamparan dari Rendy. Vanya yang melangkah maju, matanya menyalang penuh kesombongan. "Jaga mulut kotormu, wanita murahan!" bentak Vanya, mendagukan wajahnya. "Rendy pantas mendapatkan yang terbaik. Dia pria yang brilian, dan dia butuh panggung yang besar. Panggung itu ada padaku, bukan pada wanita yatim piatu sepertimu!" Kiara menyentuh pipinya yang memerah. Ia menatap Vanya, lalu beralih menatap Rendy. Pria itu hanya diam membatu. Tidak ada niat sedikit pun dari Rendy untuk membelanya. "Oh, dan ada satu hal lagi," Vanya melipat tangan di depan dada, menginjak map draf desain milik Kiara dengan ujung sepatu hak tingginya. "Kau dipecat, Kiara. Dan soal draf desain musim gugur ini, serta semua desainmu yang memenangkan penghargaan itu? Mulai hari ini, semuanya dipatenkan atas namaku. Karyamu adalah milik perusahaan." Mata Kiara membelalak. "Kau gila! Itu hasil jerih payahku! Kau tidak bisa merampoknya begitu saja!" "Aku bisa, dan aku sudah melakukannya," balas Vanya telak. "Kau dipecat dengan tidak hormat atas tuduhan pembangkangan. Kau tidak memiliki hak cipta apa pun. Coba saja gugat ke pengadilan kalau kau punya uang untuk menyewa pengacara." Rendy akhirnya kembali bersuara, nadanya terdengar memuakkan. "Kiara, pergilah dengan tenang. Jangan membuat keributan di sini. Aku akan mentransfer pesangon pribadiku untukmu agar kau bisa bertahan hidup satu atau dua bulan ke depan." Mendengar itu, bukannya menangis meraung-raung memohon belas kasihan, Kiara justru tertawa. Tawa yang hambar, dingin, dan penuh dengan ironi. Ia pantang menangis di depan dua lintah darat ini. Kiara menegakkan punggungnya. Ia mengangkat tangan kirinya, meloloskan cincin pertunangan bertahtakan berlian kecil yang dulu dibeli Rendy dengan cara mencicil. Tring! Kiara menjatuhkan cincin itu ke lantai marmer hingga bergelinding ke bawah sepatu Rendy. Lalu, ia menarik kartu identitas perusahaannya, melepaskannya dari leher, dan melemparkannya tepat ke dada telanjang Rendy. "Ambil saja semuanya," ucap Kiara. Suaranya kini luar biasa tenang, stabil, dan mematikan. "Ambil pria pengkhianat ini, Vanya. Dan ambil desain-desain itu. Jadikan itu pijakan untuk menutupi ketololanmu dalam memimpin!"Baskara menggeram, memukul lengan kursi rodanya. "Wanita jalang itu benar-benar mencari mati. Bawa dia ke hadapanku sekarang, Hasbi. Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya.""Aku akan membawanya padamu. Tapi sebelum itu..." Hasbi menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara. "Ada rahasia lain yang kutemukan semalam, Bas. Rahasia yang selama dua tahun ini menghancurkan kewarasanmu."Baskara mematung. Sesuatu dari nada bicara Hasbi membuat darah di dalam nadinya terasa berhenti mengalir."Dua tahun lalu," Hasbi memulai penjelasannya dengan suara pelan yang menyayat keheningan, "saat kau mengejar Helena ke bandara di tengah badai... kau pikir kau menabrak Haris Anindita karena kau kehilangan kendali akibat hujan dan kecepatan tinggi, bukan?"Napas Baskara mulai tersengal. Kenangan malam jahanam itu kembali berputar di otaknya bak kaset rusak. "Kenapa kau membahas itu sekarang, Hasbi...""Karena kau tidak membunuh pria itu, Baskara!
Sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse DSG Group, menciptakan pendar keemasan di atas lantai marmer. Pintu utama penthouse terbuka dengan suara klik yang pelan. Baskara meluncur masuk dengan kursi rodanya, wajahnya tampak kelelahan setelah penerbangan pagi buta dari Singapura, namun matanya memancarkan urgensi yang luar biasa. "Kiara?" panggil Baskara pelan, suaranya sedikit serak. Ia tidak melihat Kiara di ruang tamu. Ia meluncur menuju kamar utama, kosong. Kepanikannya mulai naik sebelum akhirnya telinganya menangkap suara alunan musik klasik yang sangat pelan dari arah studio desain. Baskara memutar kursi rodanya mendekat. Di balik pintu kaca yang tidak dikunci, ia melihat Kiara sedang tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas lipatan lengannya di atas meja kerja. Kertas-kertas sketsa berserakan di sekitarnya. Di layar monitor, sebuah desain mahakarya kalung berlian yang nyaris selesai tampak begitu memukau. Istrinya begadang semalaman demi membuktikan
Pukul dua dini hari, koridor apartemen mewah tempat Hasbi tinggal terlihat sepi bak kuburan. Lampu-lampu kristal yang menempel di dinding berlapis wallpaper emas memancarkan cahaya temaram.Sesosok bayangan berbalut jaket kulit hitam bergerak tanpa suara, menyusuri dinding, menghindari jangkauan kamera pengawas yang ia pikir telah ia retas sepuluh menit yang lalu. Pria itu adalah Anton 'Kidal'. Preman bayaran kelas menengah yang merasa dirinya adalah pembunuh bayaran profesional hanya karena pernah menghabisi beberapa target kelas teri.Anton berhenti tepat di depan pintu unit milik Hasbi. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan alat pencungkil elektronik. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik hingga terdengar bunyi klik pelan. Pintu kayu mahoni itu terbuka.Anton menyeringai di balik masker hitamnya. Terlalu mudah, batinnya. Nona Helena membayar terlalu mahal untuk nyawa seorang pesuruh korporat yang bahkan tidak memiliki alarm pintu lapis kedua.Ia melangkah masuk, menutup pintu t
"Tenang saja, Bos. Kalau harganya cocok, nyawa siapa pun bisa kubuat melayang tanpa jejak," tawa parau pria di ujung telepon itu terdengar mengerikan, berpadu dengan suara bising kendaraan dari tempatnya berada. "Kirimkan datanya sekarang. Aku akan mengurusnya malam ini juga.""Pastikan dia mati," desis Helena, suaranya bergetar antara ketakutan dan ambisi yang mematikan. "Dan yang paling penting... hancurkan semua barang elektroniknya. Ponsel, tablet, laptop... bakar semuanya sampai menjadi abu. Aku tidak mau ada satu pun data yang tersisa dari pria itu. Jika kau berhasil, bayaranmu akan kuliplangandakan dari harga biasa.""Sesuai pesananmu, Nona cantik."Klik. Sambungan diputus.Helena melemparkan ponselnya ke atas kasur empuknya, lalu menjatuhkan diri di sebelahnya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa adrenalin. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tertawa sumbang. Tawa itu perlahan mengeras, menggema di dalam ruangan yang sunyi, memancarkan kegilaan se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.