Masuk“Itu yang dari awal membuatku tidak tenang,” sahut ibu cepat. “Naluri seorang ibu tidak pernah salah.”Maureen mengangguk pelan dan menjawab dengan nada yang terdengar sangat alami.“Aku dulu juga menutup mata. Sampai akhirnya aku sadar… dia punya ketertarikan yang tidak sehat.”Kata-kata itu seperti pisau tipis, aku menatap ibu dan ibu… tidak membantah.Tidak sekali pun.Di kepalaku, potongan-potongan mulai menyatu.Kebencian ibu kepada Aaron yang terlalu tiba-tiba, serta semua tuduhan tanpa bukti dan ketakutan yang dibesarkan berlebihan.Semua itu bukan lahir begitu saja, tapi seseorang dengan sengaja menanamnya... dan pelakunya adalah Maureen.“Ibu,” pangggilku dengan suara bergetar, “dia pernah memfitnah aku.”Maureen terkesiap kecil, memainkan perannya dengan sempurna.“Astaga, Sherry,” katanya lembut. “Aku tidak pernah memfitnah. Aku hanya… khawatir.”"Tidak, Maureen! Kamu dulu benar-benar memfitnah aku mencuri dan—"“Cukup,” potong ibu tajam, menatapku. “Kamu tidak sopan, Sherr
Semuanya berubah sejak Aaron datang ke rumah, ibu memang tidak mengomel tapi dia semakin protektif dengan caranya sendiri. Pagi-pagi, ponselku sudah ada di meja makan, sebelum aku bertanya kenapa, ibu sudah bicara dengan nada tegas. “Mulai sekarang, ponsel ditinggal di rumah,” ucapnya sambil menuang teh, suaranya datar. “Tidak ada alasan.” “Tapi, Bu, aku perlu—” “Tidak,” potongnya singkat. “Kamu tidak perlu apa pun selain pulang tepat waktu, Sherry.” Ibu semakin ekstrem mengawasiku, jam pulang ditulis di papan kecil dekat kulkas. Nama Kaiser dicoret, diganti dengan jadwal ibu sendiri. Aku tidak diantar lagi, tapi aku dijemput. Aku benar benar harus berangkat dan pulang kuliah tepat waktu. Di dalam rumah, pintu kamarku tidak pernah benar-benar tertutup, bahkan tidurku tidak lagi privat. Suatu malam aku terbangun dan mendapati pintu kamarku terbuka sedikit, dan aku melihat bayangan ibu berdiri di sana, mengawasi. Aku menarik selimut sampai ke leher, jantungku berdegup liar.
Aaron masuk rumah besar itu tanpa mengetuk.Bukan karena lupa sopan santun, melainkan karena ia tidak lagi menganggap rumah itu wilayah orang lain.Ibu tirinya berdiri di ruang tengah. Sejak awal, perempuan itu sudah bersiaga, seolah memang menunggu momen ini.“Berani sekali kamu ke sini?” tanyanya tajam. “Keluar. Sekarang.”Ibu tirinya menunjuk pintu keluar dengan wajah garang, sedangkan Aaron berhenti beberapa langkah darinya. Tidak mendekat, tidak pula menunjukkan niat pergi.“Kalau saya datang untuk ribut,” katanya tenang, “saya tidak akan berdiri sejauh ini, Bu."Perempuan itu mendengus dan menyilangkan tangan di dada dengan sikap defensif.“Jangan sok dewasa, kamu sudah cukup membuat masalah, Aaron ”Aaron mengangguk kecil, seakan mempertimbangkan, lalu tersenyum santai.“Masalah versi Anda,” katanya. “Atau versi kenyataan?”Sherry muncul di ujung tangga. Wajahnya tegang, tubuhnya kaku, seperti sangat terkejut melihat kedatangan Aaron yang tiba-tiba.Ibu Sherry langsung menoleh
Entah bagaimana caranya karena saking paniknya, tapi aku berhasil kembali ke kamar. Begitu berbaring di ranjang, dadaku naik turun. Jantungku rasanya mau bisa copot kalau terus-terusan seperti ini dengan Aaron.Nafasku akhirnya mulai tenang saja mulai sadar ibu sepertinya tak memergoki kamu, tapi baru saja aku bernapas lega....“Sherry?” Suara Ibu terdengar memanggil dari luar kamar.“I-iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat, sehingga jantungku berdebar-debar lagi.Ibu membuka pintu sedikit, menatapku. Terus menatap seakan-akan sedang meneliti rambutku dan napasku.“Kamu kenapa?” tanyanya, penuh selidik.“Panas,” jawabku, mengipasi leher dengan tangan.Ibu menatap lama, terlalu lama. Tatapan yang membuat aku gelisah.“Kamu mulai sering gugup,” ucapnya pelan.Aku menunduk. “Maaf.”Dia mendekat lalu meengusap pundakku.“Aku hanya ingin melindungimu, Sherry.”Ucapan ibu membuat aku hampir tertawa.Karena aku tahu—perlindungannya justru membuat Aaron semakin berani.***Arsion masuk ke kanto
Hari-hari berikutnya setelah mengantarku pulang naik motor, Aaron semakin nekat. Hari ini, dengan alasan yang sama di mana tiba-tiba Kaiser berhalangan menjemput, Aaron menyamar menjadi taksi online dan mengantar aku ke kampus. “Kak, kamu gila,” desisku, melihat ke belakang di mana ibuku mengantar sampai gerbang, dengan gelisah. Aaron hanya tersenyum kecil dan menjawab sambil mengendikkan bahu, “Dan kamu tidak menghentikanku, kan? Toh ibumu tidak sadar bahwa sopirnya aku." Aku memegang pintu, hendak keluar dari mobil, tapi Aaron memegang tanganku dengan lembut. "Mau kemana? Apakah kamu tidak merindukan aku?" tanyanya dengan tatapan menggoda, padahal mobil kami belum jauh meninggalkan rumah, aku bahkan masih melihat ibu yang tetap berdiri di gerbang seakan sedang mengawasi sampai aku benar-benar jauh dari rumah. "Kak, ibu ... ibu bisa melihat kita," ujarku panik, menyingkirkan tangannya. "Nyatanya dia bahkan tak tahu kalau sopir taksi online ini aku, kan? Kenapa kamu sangat kha
Setelah beberapa detik, akhirnya Aaron membalas.[ Aku sebenarnya marah. ] [ Tapi lebih menarik melihat bagaimana dia semakin kehilangan kendali setiap kali namaku muncul. ]Ada sesuatu yang dingin dalam kalimat itu. Bukan kejam, melainkan sebuah keyakinan.Beberapa saat kemudian, Aaron mengirim pesan lagi [ Sherry, dengarkan aku baik-baik. ] [ Dia bisa mengatur jam pulangmu. Ponselmu. Orang yang mengantarmu. ] [ Tapi dia tidak bisa mengatur apa yang kamu rasakan. ]Dadaku berdegup kencang saat membaca 3 chat Aaron tersebut, merasa ucapannya benar [ Dan itu yang paling ibumu takuti. ]Tanpa menjawab pesan dari Aaron, aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit gelap.Untuk pertama kalinya, aku menyadari kebenaran yang membuatku gemetar sekaligus merasa anehnya kuat—Aaron tidak sedang merebutku dari ibu.Dia sedang menungguku menyadari bahwa aku bisa melangkah sendiri.Dan ibu… mungkin sudah terlalu lama mengira kunci hidupku ada di tangannya.Saat aku tak juga menjawab,







