MasukApakah ia mau membuangku? Kalau ditinggalkan di suatu tempat di kota ini, aku pasti tidak akan bisa kembali ke sini.
Ataukah dia akan membiusku, membedahku, lalu menjual organ tubuhku? Sejujurnya, postur tubuh Aaron sangat mendukung untukku berimajinasi liar. Lihatlah setelan serba hitam yang ia pakai dan wajah dingin tanpa ekspresi itu, siapa pun pasti akan mengira jika dia adalah bos penjual organ tubuh manusia. Tangan Aaron yang besar itu kemudian mendorongku masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu. “Eh, anu, Kak–eh, Pak,” ucapku buru-buru saat ia duduk di kursi pengemudi. “Tuan Aaron. Itu. Maaf. Kayaknya aku kurang pantas kalau dijadikan sasaran….” Wajah Aaron tampak mengernyit. “Bicara apa? Kita akan ke mal,” katanya. “Ayah menyuruhku mengantarmu membeli ponsel baru.” Aku berkedip, tampak bingung. “Tapi ponselku baik-baik aja, Kak. Eh–” Aaron mendengus, lalu melirik barang jadul di pangkuanku. Aku bisa merasakan kejengkelannya saat melihat ponsel tuaku. Memang, layarnya sudah retak dan bentuknya sangat menyedihkan, tapi masih berfungsi dengan baik. “Entahlah. Sepertinya wanita itu ingin menghabiskan uang ayahku lebih banyak,” ucap Aaron tidak acuh. Ia kemudian menyalakan mobil. Mendengarnya, aku jadi memahami sesuatu. Ah. Ia tidak suka dengan ibuku. "M-maaf," lirih kuucapkan kata itu, tapi Aaron, seperti biasa, tak memberikan reaksi. Aku terdiam setelahnya, tidak berani bicara lagi. Kesan pertama Aaron terhadapku memang kurang baik. Tapi memikirkan ucapannya soal ibuku tadi, sepertinya aku bisa memahami sikapnya yang tidak ramah. Meski begitu, sikapnya lebih baik dari Arsion yang tadi mengataiku dan Aresh yang mengancamku. Aaron masih cukup baik mau mengantarku begini, meski disuruh ayah baruku. Akhirnya, mobil memasuki pelataran mall yang megah. "Wahhh!" Aku tak bisa menahan untuk berteriak kagum saat melihat mall untuk pertama kalinya. Sejak kecil tinggal di desa, aku tak pernah melihat tempat sebesar dan semewah ini. Bahkan saat akhirnya kami keluar dari parkiran dan naik lift, aku terus memandang sekeliling dengan mata berbinar-binar. Aaron tak berkomentar apa pun, dia tampak sibuk dengan ponselnya sehingga seperti tak peduli dengan reaksi kampunganku. Kakak tiriku yang nomor dua itu membawaku ke toko penjualan ponsel. Kami langsung disambut oleh pegawai di sana dan dibawa masuk untuk melihat-lihat. Lebih tepatnya Aaron yang disambut. Sementara aku yang berdiri di belakangnya melihat tatapan si pegawai toko menilaiku dari atas sampai bawah terlebih dahulu sebelum tersenyum kaku seadanya. Namun, saat Aaron mengatakan kalau dia akan membelikanku ponsel, pegawai toko yang sama langsung tersenyum lebar dan menghampiriku. “Pilih salah satu. Lalu kita pulang.” Aaron bertitah. Ia tidak mengikutiku yang sedang mencoba model ponsel bersama pegawai toko. “Baik, Kak,” balasku patuh, sebelum kembali mendengarkan penjelasan kakak pegawai toko yang merekomendasikan ponsel keluaran terbaru, dengan judul ‘ponsel yang cocok digunakan oleh mahasiswi’. “Harganya berapa?” tanyaku kemudian. “Lima belas juta saja, Kak.” Si pegawai toko tersenyum ramah, sementara aku langsung terkejut. Ia lalu menunjuk ponsel lain yang tadi kucoba. “Kalau yang ini lebih murah. Sembilan juta sembilan ratus ribu saja. Tapi kameranya tidak sebagus yang tadi. Yang lima juta juga ada, Kak. Tapi modelnya begini….” Kenapa harga ponsel mahal-mahal sekali? Punyaku saja dulu kubeli tidak sampai satu juta. Bagaimana kalau Aaron berpikir aku ingin memanfaatkan hartanya cuma gara-gara ponsel? Lagipula, memang kamera bagus-bagus untuk apa? Toh aku jarang berfoto. “Apa nggak ada yang lebih murah, Kak?” tanyaku pada pegawai toko. “Yang satu jutaan saja.” Ekspresi si pegawai toko langsung tampak masam. “Zaman sekarang mana ada ponsel harga satu juta, Kak. Kecuali Kakak beli yang bekas.” Wajahku langsung memerah mendengarnya. Apalagi ia mengucapkannya dengan suara cukup keras. Sampai aku bisa mendengar orang-orang menggunjingku di belakang. “Kalo nggak mampu, jangan ke sini nggak sih?” “Kamu lihat deh pakaiannya. Norak banget. Dia beneran mau beli apa cuma iseng lihat-lihat?” Aku meremas rok longgar yang kukenakan sembari menunduk dalam-dalam. “Kalau begitu … yang ini saja, Kak,” bisikku kemudian, sembari menunjuk ponsel paling murah yang disodorkan. Ponsel itu tampak cukup manis, berwarna merah muda. “Baik. Silakan pembayarannya di sebelah sini.” Aku menoleh untuk melapor pada Aaron. Namun, pria itu tidak ada. “Kak Aaron?” Sontak, jantungku berdebar lebih cepat. Di mana dia? Kenapa dia meninggalkanku di sini? Apakah aku dikerjai? Disuruh membayar sendiri. "Kak, silakan pembayarannya–” "S-sebentar, saya mencari kakak saya dulu, permisi." Wajah pegawai toko tadi langsung jadi masam lagi saat aku berbalik dan melangkah keluar dari toko ponsel. Mal ini begitu luas dan besar. Serta ramai. Aku sama sekali tidak tahu harus mencari Aaron mulai dari mana. Apakah aku harus ke mobilnya? Tadi kalau naik lift, ke lantai berapa ya? Lalu … parkirnya di mana? Aku benar-benar hilang arah. Mau pulang pun, aku tidak tahu alamat rumah baruku karena kemarin aku pun dijemput oleh ayah tiri dan ibuku. Apalagi aku sekarang tak memegang uang sepeser pun! Panik, aku berlari mengelilingi mal, mencari sosok Aaron dengan jantung berdegup kencang. "Aaron, kamu di mana?" bisikku dengan gelisah. “Kak….” Mal yang tadinya terlihat mewah dan megah, kini menjadi sangat menakutkan, perutku mual karena tadi tidak jadi sarapan dan aku mulai berkeringat dingin. Aku sudah nyaris menangis saat tiba-tiba sebuah tangan besar mencekal lenganku dan menarikku ke arahnya. Tubuhku sontak membentur sebuah dada bidang seorang pria. “Ah!” Saat aku mendongak, kulihat wajah Aaron tepat di atasku. Rambut hitamnya yang tadinya rapi kini tampak berantakan. Sementara napasnya terengah, seperti baru saja berlari. “Kak–” “Dasar bodoh! Kalau memang sudah bosan hidup enak, bilang! Kutinggalkan kamu di jalan.” Dibentak seperti itu, aku gemetar. Namun, di sisi lain, aku lega. Rupanya dia tidak meninggalkanku dengan sengaja. “Maaf … tadi kamu tidak ada,” bisikku. Pastilah kini mataku sudah berkaca-kaca. “Aku coba mencari.” Aaron berdecak, lalu membuang muka. Ia memperbaiki bajunya yang juga tampak berantakan, dengan salah satu kancing. “Merepotkan. Kita pulang saja,” katanya kemudian. Ia meraih tanganku lalu menarikku agar mengikuti langkahnya yang panjang. Aku tidak berani memprotes meski kesulitan mengikuti langkahnya. Namun, ia benar-benar membawaku kembali ke mobil dan mendorongku masuk, sama seperti ketika kami berangkat tadi. Diia marah. Aku tahu itu. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku pun tidak menyalahkannya. Namun, ia sudah baik mengantarku ke sini. Bahkan tampak mengkhawatirkanku. Bukankah ini berarti, aku harus memohon maaf padanya? Tapi dengan cara apa?Kabar tentang kedatangan Sherry menyebar di seluruh kantor dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan hanya karena ia tiba-tiba muncul sebagai investor baru. Namun karena semua orang di perusahaan tahu satu hal. Aaron membencinya. Benar-benar membencinya. Dan ketika Aaron membenci seseorang, biasanya orang itu tidak akan bertahan lama di perusahaan ini. Sherry sedang berdiri di depan meja HR ketika pintu ruang rapat di lantai atas terbuka. Aaron keluar bersama beberapa manajer departemen. Langkahnya tenang, ekspresinya tetap dingin seperti biasa. Namun ketika ia melihat Sherry di ujung koridor, matanya langsung menyempit. Ia berhenti berjalan. Semua orang yang mengikutinya ikut berhenti. Keheningan langsung turun di koridor. Aaron menatap Sherry beberapa detik. Lalu ia menoleh pada pria dari HR yang berdiri di dekatnya. “Dia sudah mendapat ID karyawan?” Pria itu langsung mengangguk gugup. “Se-sebentar lagi, Presiden Aaron.” Aaron mengangguk tipis. Tatapannya kembali ke
Sherry tidak langsung pergi setelah pintu apartemen itu tertutup. Ia berdiri cukup lama di lorong yang sunyi. Lampu koridor menyala pucat di atas kepalanya, memantulkan bayangan tubuhnya yang terlihat kecil dan rapuh. Tangannya masih gemetar. Kata-kata Aaron tadi terus berputar di kepalanya. Pengingat hidup dari semua yang dilakukan keluarga itu padaku. Sherry menutup matanya sebentar. Lalu menarik napas panjang. Jika ia pergi sekarang, Aaron tidak akan pernah mengizinkannya mendekati hidupnya lagi. Dan entah kenapa, pikiran itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan yang baru saja ia terima. Sherry akhirnya berbalik. Ia tidak mengetuk pintu Aaron lagi. Tidak memohon lagi. Ia hanya berjalan menuju lift dengan langkah pelan. Namun sorot matanya sudah berubah. Lebih tenang. Lebih keras kepala. --- Dua hari kemudian. Pagi di gedung perusahaan baru Aaron terasa sibuk. Gedung itu belum terlalu besar dibandingkan perusahaan keluarga mereka, tetapi semua orang di d
Tanpa menoleh lagi, Aaron tetap berjalan meninggalkan perjamuan itu.***Esoknya.... Aaron yang baru saja keluar dari kamar mandi berhenti sejenak. Rambutnya masih basah, kemeja putihnya belum dikancingkan sepenuhnya. Ia melirik jam di dinding. Terlalu pagi untuk tamu. Bel pintu berbunyi lagi. Lebih lama kali ini. Aaron berjalan menuju pintu dengan langkah malas. Ketika layar interkom menyala, wajah yang muncul di sana membuat ekspresinya langsung berubah dingin. Sherry. Wanita itu berdiri di depan pintunya dengan wajah pucat. Rambutnya sedikit berantakan seolah ia datang terburu-buru. Aaron menatap layar itu beberapa detik tanpa emosi. Lalu ia menekan tombol pembuka pintu. Beberapa menit kemudian, pintu apartemen terbuka. Sherry berdiri di sana. Gaunnya sederhana, berbeda dari pakaian mahal yang biasa ia kenakan saat berada di rumah keluarga mereka. Matanya terlihat sembab. Aaron bersandar di kusen pintu. Tidak mempersilakan masuk. Tidak juga bertanya kenapa ia datan
Drake membeku di tempatnya saat mendengar keputusan yang dibuat Aaron. Gelas di tangannya akhirnya benar-benar terjatuh ke lantai marmer dengan suara pecah yang nyaring. Namun tidak ada seorang pun yang memedulikannya. Semua orang menatap Aaron. Ruangan besar itu terasa seperti kehilangan udara. “Aaron, kamu tidak bisa sembarangan mengambil keputusan seperti itu,” kata sang ayah dengan suara yang mulai menegang. Aaron bahkan tidak menoleh, ekspresinya tegas dan dingin. Ia hanya berdiri dengan tangan di saku celana, bahunya tegak, seolah semua yang baru saja ia katakan hanyalah hal sepele. “Kenapa tidak?” balasnya datar. Tampak sangat muak dengan ayahnya. “Aku yang membangun perusahaan itu dari nol. Aku yang menjalankannya selama ini. Kalau aku ingin keluar, itu urusanku.” Sang ayah menatapnya tajam. “Itu bukan hanya perusahaanmu. Itu perusahaan keluarga.” Aaron tertawa pendek. Namun tidak ada sedikit pun humor dalam suara itu. “Perusahaan keluarga?” ulangnya pelan. Ia ak
Aaron dan ayahnya berpandangan dalam diam. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi. Hubungan mereka sudah lama melewati tahap itu, hal itu membuat beberapa orang di ruangan tampak tidak nyaman. Namun ayah Aaron hanya tersenyum tipis. “Kamu selalu terburu-buru, Aaron." “Aku sibuk," jawab Aaron, membuang muka dengan malas, seakan-akan tak Sudi berlama-lama di rumah besar ini. “Kamu selalu begitu sejak dulu," ucap sang ayah, menarik napas panjang. Aaron tidak menjawab, hanya menatap ruangan itu sekali lagi, Sherry masih tidak terlihat. “Di mana dia?” tanya Aaron akhirnya. Ayahnya mengangkat alis. “Kamu datang untuknya?” “Tidak.” Jawaban itu keluar terlalu cepat, dengan ekspresi kebencian yang tidak Aaron tutupi sama sekali. Beberapa detik berlalu, lalu terdengar suara langkah dari lantai atas. Semua orang di ruangan itu menoleh hampir bersamaan, Aaron tidak tahu kenapa, tapi tubuhnya ikut berbalik. Langkah itu semakin mendekat, dan sepasang sepatu hak tinggi muncul
Beberapa tahun kemudian.... “Aku tidak tertarik menghadiri pesta keluarga.” Suara Aaron terdengar dingin di ujung telepon. Di sisi lain, Drake terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata hati-hati, “Tuan… ini bukan sekadar pesta keluarga.” Aaron berdiri di depan jendela kantornya yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan miliknya. Dari sana, seluruh kota terlihat kecil di bawah kakinya. Perusahaan itu berdiri megah dengan namanya sendiri di puncak gedung. Bukan perusahaan keluarga, bukan juga warisan. Semuanya ia bangun sendiri dari awal, tanpa campur tangan ayah atau keluarga lainnya, benar-benar milik Aaron seorang. “Ayah Anda secara pribadi yang meminta,” lanjut Drake, masih dengan nada hati-hati.Sebagai asisten pribadinya, Drake tahu betul bagaimana hubungan Aaron dengan keluarganya beberapa tahun terakhir, semua itu sejak hari di mana Sherry berangkat ke luar negeri dan Aaron secara sengaja dipaksa ayahnya bertugas ke tempat yang jauh.Sejak saat itu







