Beranda / Romansa / Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda / 4. Otot-Otot yang Sempurna

Share

4. Otot-Otot yang Sempurna

Penulis: Lil Seven
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-07 12:16:20

"Nona, ini ponsel untuk Anda dari Tuan Aaron."

Malam harinya, seorang pria muda dengan jas rapi menyodorkan sebuah tas bertuliskan merk ponsel yang tadi pagi kulihat.

"Ah, terima kasih banyak," jawabku sambil menerima kotak ponsel itu dengan canggung. Saat kubuka, di dalamnya berisi ponsel seharga lima belas juta yang tadi direkomendasikan oleh kakak pegawai toko.

Sontak saja aku terkejut.

“Eh–ini.” Aku menatap sang asisten yang mengantarkan ponsel. “Dari Kak Aaron?”

Sang asisten mengangguk. “Beliau memerintahkan saya untuk membelikan ponsel yang diinginkan oleh Nona Sherry. Pegawai toko yang Nona kunjungi tadi pagi menginformasikan bahwa ponsel inilah yang Nona sukai.”

Tidak! Bukan ponsel ini yang kumaksud tadi. Pegawai itu berbohong!

Aduh, bagaimana jika Aaron benar-benar berpikir bahwa aku memanfaatkan uangnya? Apakah ia makin membenciku?

Aku harus segera minta maaf!

“Kak Aaron sekarang di mana?” tanyaku kemudian.

“Beliau sedang menuju rumah, Nona. Mungkin sebentar lagi sampai.”

Tepat saat itu, aku mendengar suara mobil memasuki pekarangan.

Dari jendela, aku melihat kakak keduaku itu keluar dari mobil. Dia tampak sangat lelah, dasinya yang rapi sedikit melorot dan Aaron tampak berjalan sambil mengacak pelan rambutnya.

“Hm, sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan,” batinku.

Buru-buru aku ke dapur untuk membuatkan cokelat hangat. Minuman itu adalah yang terbaik untuk mengatasi lelah. Kujamin Aaron akan tidur nyenyak malam ini dan merasa segar saat bangun besok pagi.

Ini bisa jadi permintaan maaf sekaligus rasa terima kasihku. Sekalian aku akan menjelaskan soal kesalahpahaman ponsel ini.

“Kak?”

Aku mengetuk pintu saat sudah berdiri di depan kamarnya. Di tanganku sudah ada secangkir cokelat hangat–resepku sendiri.

Namun, tidak ada jawaban dari dalam, meski kulihat pintu kamar Aaron sedikit terbuka.

"Ehm, Kak Aaron," panggilku. “Tuan Aaron? Bapak Aaron yang terhormat?”

Mungkin dia masih tidak suka kupanggil ‘Kak’, makanya coba kupanggil begitu.

Tapi tetap tidak ada jawaban.

Sedikit demi sedikit, aku mendorong pintu kamarnya untuk mengintip ke dalam.

Kosong.

Apakah Aaron belum masuk ke kamar? Ke mana dia kalau begitu?

Hmm … mungkin cokelat panasnya kutaruh di meja saja.

Aku melangkah masuk–lalu terbelalak saat melihat ke salah satu sisi kamar dan mendapati sebuah etalase kaca memamerkan berbagai jenis senjata, mulai dari pisau, tongkat pukul, kapak, bahkan pajangan senjata api yang tidak aku tahu jenis dan namanya.

Kenapa kakak tiriku memiliki barang-barang ini!?

Cklek.

Aku menoleh ke pintu lain di ruangan tersebut–yang ternyata merupakan pintu kamar mandi dan mendapati Aaron keluar dari sana–

–tanpa mengenakan apa pun selain handuk putih yang melilit pinggangnya.

Gerakannya yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk kecil sontak terhenti saat melihatku. Meski begitu, aku sempat menyaksikan urat halus di lengannya–serta otot keras yang menyertai penampilan menggoda Aaron.

Apalagi dari jarak yang tidak terlalu jauh ini, aku bisa melihat butiran air masih menetes dari rambutnya yang basah, menetes ke bahu dan dadanya yang bidang, lalu turun ke otot perutnya yang jelas terbentuk.

Detak jantungku menggila, seiring indra penciumanku meraup aroma sabun maskulin segar yang memenuhi udara.

Oh, tidak. Ini berbahaya.

“Makin tidak tahu diri rupanya,” ucap Aaron dingin, membuat tanganku yang memegang cangkir cokelat hangat gemetar. Aku melihat rahang kakak tiriku itu mengeras dan mata gelapnya menyorot tajam.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?”

"A-ah, Kak. Aku ke sini untuk–ini."

Aku sedikit mengangkat cangkir cokelat di tangan. “Aku cuma berniat meletakkan ini di meja, lalu keluar, Kak. Tadi aku ketuk tidak ada jawaban.”

“Lalu, kamu pikir, kamu bisa seenaknya masuk ke kamarku?”

Ucapan tajamnya membuatku terdiam.

Tanpa sadar, aku mundur ke belakang.

“Maaf, Kak,” bisikku. “Aku … mau menjelaskan soal ponsel yang barusan kuterima. Aku khawatir Kakak salah paham.”

Aaron tidak mengatakan apa pun, jadi aku melanjutkan, “Apakah ponselnya bisa dikembalikan saja?”

Aku pikir itu adalah keputusan terbaik. Jadi Aaron dan dua kakakku yang lain tidak akan salah paham soal keberadaanku di sini.

Sungguh, aku hanya ingin hidup dengan tenang. Tidak bergelimang harta pun tidak apa-apa.

“Kalau kamu tidak menyukainya, buang saja.”

Aku mendongak. “Bukan begitu, Kak!” sanggahku. “Aku berterima kasih karena Kakak sudah repot-repot, tapi bukankah–”

“Berterima kasih?”

Aaron menyeringai tipis. Perlahan, ia melangkah mendekatiku, membuatku terus mengambil langkah mundur. “Ucapanmu banyak yang bertolak belakang.”

“Bukan begitu!” sanggahku gugup, bingung menjelaskan seperti apa maksudku, tapi gagal.

Apalagi penampilan Aaron sama sekali tidak membantu dan makin lama, aku justru merasakan sesuatu yang aneh di dasar perutku.

“Jadi mau berterima kasih atau tidak?”

Buru-buru aku mengangguk. “Aku berterima kasih pada Kak Aaron–”

“Kalau begitu, seharusnya tidak pakai cokelat panas.”

Tanpa bisa kucegah, Aaron mengambil cangkir cokelat di tanganku dan menyingkirkannya. Punggungku sudah membentur dinding di belakang sementara Aaron menghadangku dengan tubuhnya yang kokoh.

Tamatlah riwayatku.

Kurasakan tangan Aaron menyentuh daguku, membuatku otomatis mendongak dan memandang sepasang mata gelapnya yang tampak tajam. Ada seringai tipis di bibirnya yang tipis, membuat wajahnya makin terlihat tampan.

“Biar kutunjukkan bagaimana caranya berterima kasih, Adik Kecil?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Anisa Putri
panas dan menggoda
goodnovel comment avatar
Marni Limid
waduh ..udah mulai yang panas panas ini
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
sherry ini tipe gadis desa yg kolot ya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   370.

    Kabar tentang kedatangan Sherry menyebar di seluruh kantor dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan hanya karena ia tiba-tiba muncul sebagai investor baru. Namun karena semua orang di perusahaan tahu satu hal. Aaron membencinya. Benar-benar membencinya. Dan ketika Aaron membenci seseorang, biasanya orang itu tidak akan bertahan lama di perusahaan ini. Sherry sedang berdiri di depan meja HR ketika pintu ruang rapat di lantai atas terbuka. Aaron keluar bersama beberapa manajer departemen. Langkahnya tenang, ekspresinya tetap dingin seperti biasa. Namun ketika ia melihat Sherry di ujung koridor, matanya langsung menyempit. Ia berhenti berjalan. Semua orang yang mengikutinya ikut berhenti. Keheningan langsung turun di koridor. Aaron menatap Sherry beberapa detik. Lalu ia menoleh pada pria dari HR yang berdiri di dekatnya. “Dia sudah mendapat ID karyawan?” Pria itu langsung mengangguk gugup. “Se-sebentar lagi, Presiden Aaron.” Aaron mengangguk tipis. Tatapannya kembali ke

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   369.

    Sherry tidak langsung pergi setelah pintu apartemen itu tertutup. Ia berdiri cukup lama di lorong yang sunyi. Lampu koridor menyala pucat di atas kepalanya, memantulkan bayangan tubuhnya yang terlihat kecil dan rapuh. Tangannya masih gemetar. Kata-kata Aaron tadi terus berputar di kepalanya. Pengingat hidup dari semua yang dilakukan keluarga itu padaku. Sherry menutup matanya sebentar. Lalu menarik napas panjang. Jika ia pergi sekarang, Aaron tidak akan pernah mengizinkannya mendekati hidupnya lagi. Dan entah kenapa, pikiran itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan yang baru saja ia terima. Sherry akhirnya berbalik. Ia tidak mengetuk pintu Aaron lagi. Tidak memohon lagi. Ia hanya berjalan menuju lift dengan langkah pelan. Namun sorot matanya sudah berubah. Lebih tenang. Lebih keras kepala. --- Dua hari kemudian. Pagi di gedung perusahaan baru Aaron terasa sibuk. Gedung itu belum terlalu besar dibandingkan perusahaan keluarga mereka, tetapi semua orang di d

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   368.

    Tanpa menoleh lagi, Aaron tetap berjalan meninggalkan perjamuan itu.***Esoknya.... Aaron yang baru saja keluar dari kamar mandi berhenti sejenak. Rambutnya masih basah, kemeja putihnya belum dikancingkan sepenuhnya. Ia melirik jam di dinding. Terlalu pagi untuk tamu. Bel pintu berbunyi lagi. Lebih lama kali ini. Aaron berjalan menuju pintu dengan langkah malas. Ketika layar interkom menyala, wajah yang muncul di sana membuat ekspresinya langsung berubah dingin. Sherry. Wanita itu berdiri di depan pintunya dengan wajah pucat. Rambutnya sedikit berantakan seolah ia datang terburu-buru. Aaron menatap layar itu beberapa detik tanpa emosi. Lalu ia menekan tombol pembuka pintu. Beberapa menit kemudian, pintu apartemen terbuka. Sherry berdiri di sana. Gaunnya sederhana, berbeda dari pakaian mahal yang biasa ia kenakan saat berada di rumah keluarga mereka. Matanya terlihat sembab. Aaron bersandar di kusen pintu. Tidak mempersilakan masuk. Tidak juga bertanya kenapa ia datan

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   367.

    Drake membeku di tempatnya saat mendengar keputusan yang dibuat Aaron. Gelas di tangannya akhirnya benar-benar terjatuh ke lantai marmer dengan suara pecah yang nyaring. Namun tidak ada seorang pun yang memedulikannya. Semua orang menatap Aaron. Ruangan besar itu terasa seperti kehilangan udara. “Aaron, kamu tidak bisa sembarangan mengambil keputusan seperti itu,” kata sang ayah dengan suara yang mulai menegang. Aaron bahkan tidak menoleh, ekspresinya tegas dan dingin. Ia hanya berdiri dengan tangan di saku celana, bahunya tegak, seolah semua yang baru saja ia katakan hanyalah hal sepele. “Kenapa tidak?” balasnya datar. Tampak sangat muak dengan ayahnya. “Aku yang membangun perusahaan itu dari nol. Aku yang menjalankannya selama ini. Kalau aku ingin keluar, itu urusanku.” Sang ayah menatapnya tajam. “Itu bukan hanya perusahaanmu. Itu perusahaan keluarga.” Aaron tertawa pendek. Namun tidak ada sedikit pun humor dalam suara itu. “Perusahaan keluarga?” ulangnya pelan. Ia ak

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   366. Datang Ke Pesta

    Aaron dan ayahnya berpandangan dalam diam. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi. Hubungan mereka sudah lama melewati tahap itu, hal itu membuat beberapa orang di ruangan tampak tidak nyaman. Namun ayah Aaron hanya tersenyum tipis. “Kamu selalu terburu-buru, Aaron." “Aku sibuk," jawab Aaron, membuang muka dengan malas, seakan-akan tak Sudi berlama-lama di rumah besar ini. “Kamu selalu begitu sejak dulu," ucap sang ayah, menarik napas panjang. Aaron tidak menjawab, hanya menatap ruangan itu sekali lagi, Sherry masih tidak terlihat. “Di mana dia?” tanya Aaron akhirnya. Ayahnya mengangkat alis. “Kamu datang untuknya?” “Tidak.” Jawaban itu keluar terlalu cepat, dengan ekspresi kebencian yang tidak Aaron tutupi sama sekali. Beberapa detik berlalu, lalu terdengar suara langkah dari lantai atas. Semua orang di ruangan itu menoleh hampir bersamaan, Aaron tidak tahu kenapa, tapi tubuhnya ikut berbalik. Langkah itu semakin mendekat, dan sepasang sepatu hak tinggi muncul

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   365. Sherry Kembali

    Beberapa tahun kemudian.... “Aku tidak tertarik menghadiri pesta keluarga.” Suara Aaron terdengar dingin di ujung telepon. Di sisi lain, Drake terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata hati-hati, “Tuan… ini bukan sekadar pesta keluarga.” Aaron berdiri di depan jendela kantornya yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan miliknya. Dari sana, seluruh kota terlihat kecil di bawah kakinya. Perusahaan itu berdiri megah dengan namanya sendiri di puncak gedung. Bukan perusahaan keluarga, bukan juga warisan. Semuanya ia bangun sendiri dari awal, tanpa campur tangan ayah atau keluarga lainnya, benar-benar milik Aaron seorang. “Ayah Anda secara pribadi yang meminta,” lanjut Drake, masih dengan nada hati-hati.Sebagai asisten pribadinya, Drake tahu betul bagaimana hubungan Aaron dengan keluarganya beberapa tahun terakhir, semua itu sejak hari di mana Sherry berangkat ke luar negeri dan Aaron secara sengaja dipaksa ayahnya bertugas ke tempat yang jauh.Sejak saat itu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status