Share

331. (Aresh-Hana)

Penulis: Lil Seven
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-21 21:36:45

Malam itu, Aresh duduk di kursi direkturnya dengan tangan terlipat di dada. Pandangannya tidak beralih dari satu titik—Hana yang sedang sibuk membereskan berkas di meja kerjanya.

Gadis itu tersenyum kecil sambil menata dokumen. Senyum yang sama sejak tiga jam lalu, setelah Aaron pamit pulang.

Tiga jam.

Aresh menghitungnya. Tiga jam Hana tersenyum-senyum sendiri seperti orang kesurupan.

"Sudah malam," ucap Aresh tiba-tiba, memecah keheningan.

Hana menoleh. "Eh? Iya, Pak. Sebentar lagi saya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   362. Dipergoki Arsion

    Sherry sedang melihat bunga-bunga mawar di taman, saat Aaron yang baru datang, tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium lehernya. "Sherry, sedang lihat apa?" tanya Aaron, yang kini mencium pipi Sherry dan membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Lihat bunga mawar, bunganya sangat cantik," jawab Sherry, yang dibalas Aaron dengan mencium ujung hidungnya. "Tapi lebih cantikan kamu," jawab Aaron, menarik pinggang Sherry mendekat dan mulai mencium bibirnya dengan penuh gairah. "Kak, eh, itu... di sini taman..." bisik Sherry di sela ciuman. "Memangnya kenapa?" balas Aaron, kembali menyerang bibir Sherry. "Orang bisa melihat kita, Kak," jawab Sherry, tapi meski begitu ia tak menolak ciuman dari Aaron. Aaron mengangkat wajah, menatap sekeliling dengan pura-pura waspada. "Di mana? Tidak ada siapa-siapa." "Tetapi—" Sebelum Sherry selesai bicara, Aaron langsung mencium lagi sehingga protes Sherry langsung buyar. "Sudahlah, jangan pikirkan itu. Aku kangen," ucap Aaron

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   361. Buat Aku Puas

    "Percaya sama aku?" tanya Aaron tersenyum misterius. Sherry mengangguk dengan tanpa ragu. "Peur eyes?" tanya Aaron lagi. Sherry terkikik, lalu mengangguk, "Peur eyes." Aaron ikut tertawa, lalu menunduk lagi. Kali ini ia lebih fokus. Bibirnya kembali menjelajah, tapi tangannya ikut bergerak. Jemarinya menyentuh kulit Sherry dengan lembut, mengikuti alur yang sama dengan bibirnya, menambah intensitas. Sherry mulai gelisah, sebagai respon alami, tubuhnya bergerak tak menentu. Napasnya makin berat dan desahannya makin sering. "Aaron... Aaron..." "Ya, Sayang?" "Aku... aku rasanya..." Aaron mengangkat wajah. Matanya menatap Sherry dengan intens. "Rasanya bagaimana, Sherry?" "Aneh..." jawab Sherry menggigit bibir. "Seperti... ada yang... ingin..." "Biarkan saja, lepaskan perasaan itu, Sherry" bisik Aaron sambil menggigit daun telinga Sherry. "Jangan kamu tahan." Setelah mengatakan itu, Aaron kembali menunduk. Kali ini tangannya bergerak lebih berani. Bukan untuk menembus batas,

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   360. Geli Tapi Enak

    "Off course, My Princess." Aaron mengatakan itu sambil menggendong Sherry dengan hati-hati, tubuh gadis itu masih basah dan hanya terbungkus kehangatan pelukannya. Ia berjalan menuju kamar utama, menutup pintu dengan kaki, lalu menurunkan Sherry perlahan di atas ranjang. Ranjang itu masih berantakan seperti saat mereka bangun tadi pagi—seprai kusut, selimut menggantung di sisi tempat tidur, aroma tubuh mereka masih tersisa di bantal. Aaron tak peduli. Yang ada di matanya hanya Sherry yang terbaring di hadapannya, rambut basah menyebar di atas bantal, kulitnya yang masih lembap berkilau redup terkena lampu kamar. "Cantik sekali. Kamu sangat cantik, Sayangku" bisiknya lagi, seperti mantra yang tak bosan-bosan ia ucapkan. Sherry tersenyum malu, tangannya meraih Aaron, menariknya turun. "Jangan cuma lihat." Aaron menurut. Ia merebahkan diri di samping Sherry, tubuh mereka berhadapan. Tangannya terulur, menyentuh pipi Sherry dengan lembut, mengusap kulitnya yang halus. Ibu jarinya

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   359. Lanjut Ke Kamar

    "Kak...." Sherry memanggil nama Aaron dengan lemah saat handuk yang ia pakai akhirnya benar-benar melorot. Aaron mengangkat wajah, menatap Sherry dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kekaguman, hasrat, dan kelembutan yang dalam. Ia mengecup bibir Sherry lembut, lalu berbisik di bibirnya. "Cantik sekali, Sayang. Kamu sangat cantik." Wajah Sherry makin memerah mendengar pujian Aaron. Ia tak tahu harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menarik Aaron kembali ke dalam ciuman. "Uhh, Kak Aaron...." Aaron membalas erangan Sherry dengan tindakan penuh gairah, tangannya bergerak meraip pinggang Sherry, membawanya mundur perlahan hingga punggung Sherry menyentuh dinding lorong. Tubuh mereka merapat tanpa sisa ruang. Dada Sherry yang telanjang menekan kemeja Aaron yang masih rapi—kontras yang membuat sensasi semakin membakar. Tangan Sherry bergerak gelisah di punggung Aaron, meremas kemejanya, frustrasi karena kain itu masih menghalangi. Ia menarik-narik ujung kemeja

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   358. Aku Hanya Pakai Handuk

    Pagi itu, Aaron terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Panas yang kemarin membuatnya limbung kini hanya tinggal sisa-sisa lelah yang tak berarti. Ia menoleh ke samping, menemukan Sherry masih terlelap dengan rambut berantakan dan bibir sedikit mengembang, entah mimpi apa."Pagi, Kesayangan." Dengan hati-hati, ia mengecup puncak kepala Sherry dan mengucapkan selamat pagi. Gadis itu hanya bergumam tak jelas, bergerak memeluk bantal lebih erat. Aaron tersenyum, lalu beranjak mandi dengan semangat yang menggebu-gebu. Di kantor, semua orang melihatnya dengan tatapan aneh, tapi yang dipikirkan Aaron hanya ingin pulang lebih cepat. Dan ia benar-benar pulang cepat. Bahkan sebelum jam kantor resmi berakhir, ia sudah melesat meninggalkan gedung. Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya satu: Sherry. **** Sesampainya di rumah, suasana hening. Mungkin Sherry sedang di kamar. Atau di ruang tengah. Tanpa pikir panjang, Aaron berjalan menuju kamar utama. Ia membuka pintu, koso

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   357. Jangan Berhenti

    Ciuman mereka semakin membara dan panas, membuat keduanya saling berkeringat. Aaron bergerak turun, meninggalkan jejak bibir hangat dari sudut mulut Sherry, ke rahang, lalu ke leher. Sherry menoleh reflex, memberi lebih banyak ruang, dan Aaron menyambutnya dengan kecupan-kecupan kecil yang membuat bulu kuduknya meremang. "Aaron..." desahnya setengah berbisik. Tangannya meremas rambut Aaron dengan lembut, jemarinya menyusup di sela helai hitam itu. Ia merasakan bibir Aaron bergerak naik turun di lehernya, kadang hanya menyentuh lembut, kadang mengisap pelan hingga menimbulkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Pipi Sherry memanas. Dadanya naik turun cepat. Aaron mengangkat wajahnya, menatap Sherry dengan mata yang gelap oleh hasrat. Meski demam masih membuat wajahnya pucat, sorot matanya kini berbeda... intens, dalam, seperti lautan yang siap menenggelamkan. "Kamu sangat cantik malam ini, Sherry," bisiknya serak. Sherry tersenyum malu, tapi belum sempat menjaw

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status