LOGINTrivia yang merasa simpati dengan kemalangan demi kemalangan yang menimpa pria calon tunangan yang merupakan musuhnya tersebut, menepuk lengan Kylo untuk mencoba menghiburnya. "Sabar, ya, Ky. Aku ikut prihatin sama masalah yang nimpa kamu. Aku juga minta maaf udah nuduh kamu yang enggak-enggak hanya dengan ngeliat kejadian sekilas tadi, aku tarik kembali kata-kataku, kamu nggak selingkuh sama kakak iparmu." "Nggak papa, Trivi. Aku nggak sakit hati kok," jawab Kylo, yang membuat Trivia tersenyum senang. "Huft, leganya. Kamu udah nggak salah paham lagi sekarang," ucap Kylo, menghela napas panjang dengan ekspresi rileks, seakan beban yang tertahan di pundaknya beberapa saat yang lalu, kini telah dilepaskan. "Iya, kamu nggak seburuk yang aku kira. Maaf udah buruk sangka sama kamu, Ky." "Iya, nggak papa. Kamu nggak salah paham aja aku udah lega banget, Trivi." Keduanya saling mengangguk, Trivia yang merasa senang karena dimaafkan Kylo, tiba-tiba bertanya dengan ekspresi keheran
Sayang, bukannya tersentuh dengan wajah memohon dan memelas Kylo, Trivia tetap berdiri di tempatnya dengan tangan masih menggenggam Sam, membuat Kylo merasa gerah saat melihat bagaimana mereka berpegangan tangan. Wajah Trivia menampakkan kebingungan yang nyata melihat Kylo yang biasanya tukang maksa dan menyebalkan bukan main, kini memasang wajah memelas sambil berkata butuh bbantuannya. Trivia ingin bertanya apakah CEO kaku seperti kanebo kering ini telah salah makan sehingga bersikap begitu 'lucu', tapi Trivia memutuskan untuk membungkam mulutnya sendiri dan hanya diam melihat keanehan Kylo. Sedangkan Kylo yang semakin gerah saat Trivia masih tak beranjak dari sisi Sam dan terus memegang tangan sahabatnya tersebut, memakai metode lain untuk membujuk Trivia agar mau lebih memilih pergi kepada dirinya daripada tetap di sisi Sam, dengan buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. "Trivi, tolong dengerin aku satu kali aja. Aku punya bukti kalo aku sama Vale tadi nggak nggak
Kemarin sih Trivia masih sedikit ada rasa simpati pada Kylo setelah mendengar cerita dan curhatannya, tapi sekarang... entahlah. Yang pasti Trivia merasa sangat kecewa. Beberapa saat kemudian, kelas pagi di mulai, sialnya Trivia tidak bisa fokus dengan kelasnya dan terus kepikiran Kylo. Dia merasa semakin kecewa saat Kylo tidak mengirim pesan apa pun padanya, bahkan setelah beberapa jam berlalu sejak peristiwa di rumah Kylo tadi. Padahal tadi saat mereka bertemu, Kylo tampak begitu ingin memberikan penjelasan kepada Trivia, tapi sekarang? Satu chat pun tak ada. Trivia menjadi kesal sendiri, memandang ponselnya dengan ekspresi badmood luar biasa. "Haaa, aku nggak mau diganggu Kylo hari ini. Jadi ku nonaktifkan aja hapeku. Ah, paling juga dia nggak bakalan ingat aku, kan dia udah ditemanin tuh wanita cantik," gumam Trivia dengan bibir mencibir, saat kelas pagi selesai. "Sialan, kalo kamu semudah ini luluh, harusnya kamu nggak bikin aku kesel dengan curhatan kamu kemarin!"
Trivia masih ingat betul dengan kata-kata yang dilontarkan Kylo tentang Valerie, mantan kekasih yang kini menjadi kakak iparnya. "Bagiku, dia dulu seperti matahari." Saat ini, gadis itu mengingat kembali curhatan Kylo kemarin, yang menceritakan tentang pertemuan antara dirinya dengan Valerie saat pertama kali sehingga membuat pria itu jatuh cinta kepada Valerie sedalam ini. Mereka bertemu pertama kali di ruangan kantor Kayden, saat itu Kylo yang diharuskan ke kantor kakaknya untuk mengantar sebuah berkas, bertemu dengan Valerie yang merupakan bawahan Kayden. Melihat Valerie pertama kali, Kylo langsung jatuh cinta. Dia adalah tipe wanita ideal Kylo, cantik, memesona, tinggi semampai, terlihat tangguh dan percaya diri. Tidak butuh beberapa lama, mereka pun dekat karena ternyata Valerie pun merasakan hal yang sama, itulah yang diungkapkan Valerie padanya, yang dipercaya Kylo seratus persen. Hubungan cinta yang manis di antara mereka pun terjalin, sampai ketika suatu hari, V
"Aduh. Maaf, ya, Ky! Maaf, maaf banget. Aku ada kelas pagi jadi harus buru-buru pergi. Kamu enak-enakin sama kakak ipar kamu itu, ya. Aku kuliah dulu. Dadah, Ky," potong Trivia, masuk ke dalam lift sambil melambaikan tangan. Kylo yang tidak ingin gadis itu pergi dengan kesalahpahaman di kepalanya tentang hubungan Valerie dan dirinya, segera menahan pintu lift. "Trivi, kubilang dengerin aku, kamu salah paham, Trivi!" "Nggak penting juga kan aku salah paham apa enggak. Nggak usah panik gini deh. Aku nggak bakalan bilang ke nyonya Jane kok. Aku juga nggak ngerekam apa-apa pas masuk tadi. Lihat aja kalo nggak percaya." Trivia yang mulai kesal karena sikap berlebihan Kylo sampai menahan pintu lift sehingga dia tidak bisa segera pergi kuliah, mengeluarkan ponsel dari tas dan menyodorkan ponsel itu kepada Kylo. Kylo tentu saja tidak mengambil ponsel milik Trivia untuk memeriksa apakah benar-benar ada rekaman atau foto saat dia menggendong Valerie atau tidak, yang dia pikirkan sek
Valerie dengan mata lebarnya yang berkaca-kaca, menatap Kylo dengan ekspresi menghiba. Dia sudah menghabiskan waktu semalaman duduk kedinginan di sini, Valerie bertekad harus bisa mengambil hati Kylo pagi ini. Harus! Suaranya lemah dan sedikit serak, sengaja Valerie bertingkah seperti orang sakit. Keadaan Valerie saat ini benar-benar menyedihkan, untuk meluluhkan hati Kylo. Sayangnya, tidak seperti yang dia harapkan, Kylo tidak tersentuh sama sekali dengan tindakan Valerie dan menyingkirkan wanita itu dari pelukannya. "Kamu pikir aku bodoh? Jelas-jelas kemarin aku lihat gimana ekspresimu yang sangat menikmati hal itu!" tukas Kylo dengan marah, menganggap Valerie mengada-ada. "Memang, Ky. Tapi semua yang kulakukan itu bukan keinginanku!" sergah Valerie dengan putus asa. Kylo hanya tersenyum sinis mendengar itu dan bertanya dengan suara dingin. "Apa kemarin kakak memaksamu melakukan semua itu?" Dia menanyakan itu dengan tangan terkepal erat, berpikir jika seandainya Kayden
“Kabar buruk apa?” tanyaku dengan suara nyaris tak keluar. Aresh tidak langsung menjawab. Tangannya tiba-tiba meraih pergelangan tanganku, menggenggam erat seolah takut aku akan jatuh. Telapak tangannya dingin, gemetar—pertama kalinya aku melihat kakakku setegang ini. Ia menunduk sedikit, mendeka
“Tidak ada sekretaris yang memperlakukan bosnya seperti ini,” gerutu Aresh pelan sambil menatap sofa yang jelas terlalu kecil untuk tubuhnya. Nada suaranya mengandung keluhan, tapi juga kelelahan yang dalam. Hana melirik sekilas, lalu menjawab santai, hampir tanpa emosi, “Kalau begitu, pecat saja
“Iya,” jawab Hana santai.“Teman saya yang mengatur. Katanya pria itu mapan, serius, dan sedang mencari pasangan.” Ada sesuatu yang mengeras di rahang Aresh saat mendengar hal itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya tiba-tiba terasa panas. “Kamu… mau pergi?” tanyanya, nadanya menurun.
"Makan?"Aresh menatap sekretarisnya dengan ekspresi kebingungan, sedangkan Hana mengangguk dengan tanpa ragu."Iya, makan malam. Bapak terlihat sangat lemas dan tak bertenaga, apakah sudah makan?"Mungkin karena terbiasa menjadi sekretaris Aresh, di luar jam kerja seperti ini pun, Hana memikirkan







