MasukHanya dalam tiga tahun bekerja di perusahaan Yansen, Claudia berhasil mencetak rekor baru dalam kinerja perusahaan dan menduduki posisi yang semakin tinggi.Yansen terus berada di sekitar Claudia dan Sonia. Selama tiga tahun ini, Yansen tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.Semua orang di perusahaan tahu bahwa perempuan yang dicintai Yansen adalah Claudia. Bahkan, mulai beredar gosip entah kapan dia baru berhasil mendapatkan hati Claudia.Claudia sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, kemampuan adalah bukti terbaik. Selama dia mampu membuktikan dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa meragukannya.Ketika mendengar adanya penelitian baru mengenai kaki palsu di luar negeri, Claudia sengaja mengambil cuti untuk membawa Sonia ke sana.Yansen sudah terlanjur menerima undangan menghadiri sebuah acara bisnis, jadi tidak bisa menemani mereka. Dia pun sangat menyesal melewatkan kesempatan itu.Claudia hanya bisa tersenyum pasrah. "Kami akan pulang dalam waktu kurang dari sem
Saat Claudia tiba di rumah, ternyata Anas sudah menunggunya di depan pintu. Rambut Anas telah memutih. Wajahnya tampak jauh lebih tua.Claudia mengernyitkan keningnya. "Tolong tinggalkan tempat ini."Begitu melihat putrinya, mata Anas langsung memerah, air mata pun mengalir."Putriku .…"Claudia mundur dua langkah dan berkata dengan tenang, "Putrimu itu Giselle, bukan aku."Anas menggeleng sambil menangis. "Claudia, Mama benar-benar nggak tahu kalau dia malah melakukan semua itu .…"Anas mengeluarkan buku harian itu dari belakang tubuhnya. "Mama sudah membacanya. Mama sudah tahu semuanya. Mama yang membuatmu menderita selama ini .…"Wajah Claudia tetap tanpa ekspresi. "Semuanya sudah berlalu. Tolong pergi dan jangan mengganggu kehidupanku."Tiba-tiba, Anas berlutut. Dia berkali-kali menampar pipinya sendiri. "Semua ini salah Mama. Mama yang salah menilai orang dan selalu pilih kasih .… Semua ini karena Mama sudah mengecewakanmu dan Sonia …."Entah sejak kapan, Yansen sudah berdiri di d
Claudia duduk di depan meja kerjanya dan terdiam cukup lama. Dia berusaha memusatkan pikirannya, tetapi isi dokumen proyek itu tak kunjung bisa dia pahami.Saat itu, Sonia meneleponnya. Sonia berkata dengan nada ceria, "Mama, hari ini Bibi membuatkan kue yang enak untukku. Aku mau menunggu Mama pulang supaya kita bisa makan bersama."Kening Claudia yang sejak tadi berkerut tanpa sadar mengendur.Dia tersenyum. "Sonia makan dulu saja. Mama masih sedikit sibuk, mungkin pulangnya agak malam."Sonia menurut dan mengiyakan dengan patuh.Melihat kekecewaan di mata putrinya, hati Claudia menjadi luluh. Dia lalu berkata, "Tapi Mama sebenarnya ingin makan kue itu. Jadi Mama berubah pikiran. Tunggu kepulangan Mama ya."Sonia langsung tersenyum lebar. "Oke!"Setelah menutup telepon, Claudia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.Namun, seseorang sudah menunggunya di depan pintu kantor. Orang itu adalah Tommy.Tommy berdiri diam di sana seperti patung, entah sudah berapa lama dia menunggu. Beg
Tommy berdiri diam, menatapnya tanpa ekspresi.Cahaya lampu kekuningan di atas kepala menerangi sisi wajah Tommy yang tegas, membuat aura membunuh di matanya semakin jelas.Giselle memegangi lututnya yang terluka akibat benturan dan bertanya dengan suara ketakutan, "Tommy, apa yang ingin kamu lakukan?"Tommy perlahan membuka mulut. Suaranya yang rendah menggema di dalam gudang, terdengar dingin dan mengancam seperti suara maut yang mendekat. "Kamu yang mengutus para perampok untuk menyandera Sonia. Kenapa?"Bahu Giselle bergetar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bukan aku. Aku nggak melakukannya .…"Sepertinya kesabaran Tommy sudah habis. Dia memberi isyarat kepada orang di sampingnya. Mulut Giselle langsung dibekap, lalu tangan kanannya dipukul dengan tongkat bisbol hingga patah.Jeritan Giselle tertahan di tenggorokannya. Dia terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit.Beberapa saat kemudian, kain yang menyumbat mulut Giselle dilepas.Tommy kembali bertanya, "Kenapa?
Alih-alih memapah, Claudia justru mendorong Yansen masuk ke dalam mobil.Yansen didorong masuk ke dalam mobil dengan kasar. Dia pun mengomel, "Aduh, sakit ... sakit ...."Claudia memasang wajah dingin dan menyuruh sopir menjalankan mobil.Melihat suasana hati Claudia yang sedang buruk, Yansen pun tidak berani banyak bicara. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tommy masih berdiri di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan muram, sementara tatapannya terus mengikuti mobil mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.Yansen mengatupkan bibir, lalu kembali menoleh ke depan.Tiba-tiba Claudia berkata, "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku nggak akan bekerja di perusahaanmu."Yansen merasa kaget. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa?"Claudia menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku juga bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi Tommy."Yansen membuka mulut, tetapi tidak mampu berkata apa-apa. Dia merasa sedikit bersalah setel
Tommy bangkit dari lantai dengan susah payah. Saat hendak mengejar Claudia, langkah Tommy terhalang oleh seseorang.Raut wajah Yansen tampak sangat muram. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan ganggu Claudia!"Wajah Tommy ikut muram. "Apa kamu masih ingin bersama Claudia?"Tommy mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah. "Jangan terus mengusik Claudia. Jauhi dia!"Yansen mencibir. "Jadi tentara sampai otakmu ikut rusak ya? Justru kamu yang seharusnya menjauhinya! Kalau saja aku tahu kamu akan memperlakukannya seperti ini, aku seharusnya membawanya pergi sejak tiga tahun lalu!"Tommy langsung mencengkeram kerah baju Yansen erat-erat. Wajah Tommy kelihatan gusar. "Apa katamu!"Tiga tahun lalu, setelah Claudia menyelamatkan Yansen, pria itu langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama dan terus mengusiknya setiap hari.Pada akhirnya, Tommy menghajarnya sampai menyerah dan mengusirnya dari kesatuan militer.Yansen melepaskan cengkeraman Tommy, lalu melepas jasnya dan meng







