Share

Bab 3

Author: Magnolia
Tommy dan Giselle mendarat dengan selamat di atas bantalan udara penyelamat, tanpa terluka sedikit pun.

Mencium adanya berita besar, media yang gagal mendapatkan informasi rinci mengenai Tommy pun berbondong-bondong mewawancarai Giselle. Selama wawancara, mata Giselle terlihat berkaca-kaca. Plakat penghargaan untuk keluarga pahlawan yang gugur tergantung di dinding di belakangnya dan terlihat sangat mencolok.

"Aku nggak jaga Sonia dengan baik. Ini semua salahku ...."

Anas memeluknya dengan erat sembari menyeka air matanya. "Ini bukan salahmu. Adikmu yang terlalu kejam. Ibu yang salah karena nggak mendidiknya dengan baik."

Kisah tentang janda seorang pahlawan gugur yang membesarkan anak seorang diri sangat menggugah simpati warganet. Pada akhirnya, mereka mulai mengecam Claudia.

[ Suaminya sudah korbankan nyawanya demi negara, tapi adiknya malah pojokkan dia sampai dia nekat melompat dari gedung. Adik sekejam itu pantas ditembak mati! ]

[ Entah seberapa parah adik itu menindas Giselle biasanya .... ]

[ Dengar-dengar, putrinya sudah cacat. Mampus dia! ]

Saat membaca komentar-komentar tersebut, Claudia mencengkeram erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menutup halaman web dengan ekspresi kosong.

"Mama, kamu kenapa?"

Sonia berbaring meringkuk di tempat tidur dengan wajah pucat. Dia mengerjap sambil menatap ibunya dengan khawatir.

Claudia tersenyum lembut. Dia duduk di samping Sonia, menyuapinya sedikit air hangat, dan mengelus rambutnya perlahan. "Sonia, Mama baik-baik saja."

Sonia mengangguk dengan lega. Namun, setelah ragu sejenak, dia mendongak dan berbisik, "Mama, kenapa Papa belum datang jenguk Sonia? Apa karena ... karena Sonia sudah jadi begini, Papa nggak sayang lagi sama Sonia?"

Claudia merasa tenggorokannya tercekat, sedangkan matanya mulai berkaca-kaca. Dia menunduk dan memeluk putrinya dengan lembut. "Nggak, bukan begitu. Apa pun yang terjadi padamu, kamu akan selalu jadi putri yang paling disayangi Mama dan Papa. Papa cuma terlalu sibuk ...."

Sonia menggunakan tangannya yang masih utuh dan dipasangi jarum infus untuk menyeka air mata ibunya dengan lembut. Dia menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya dan berkata, "Jangan nangis, Ma. Sonia juga nggak begitu rindu sama Papa kok. Ada Mama saja sudah cukup."

Claudia tak kuasa menahan air matanya. Sejak sadar, Sonia tidak pernah sekali pun mengeluh kesakitan dan menanggung semuanya dalam diam. Satu-satunya harapannya hanyalah Tommy bisa datang menjenguknya.

Claudia memejamkan mata sejenak, lalu berbalik dan melangkah ke koridor untuk menelepon. Mengingat sifat pekerjaan Tommy yang khusus, setiap panggilannya harus melalui kantor Tommy terlebih dahulu. Panggilan itu baru bisa disambungkan ke nomor pribadi Tommy setelah dipastikan dia sedang tidak sibuk. Hampir setiap kali, panggilannya akan ditolak.

Hanya saja, begitu tahu bahwa Giselle bisa langsung menghubungi nomor ponsel Tommy, Claudia pun tidak pernah meneleponnya lagi.

Sambungan telepon terhubung dengan cepat. Suara dingin Tommy terdengar di ujung sana. "Ada apa?"

Terkejut, Claudia mengatupkan bibirnya, lalu bertanya, "Kapan kamu bisa datang jenguk Sonia?"

Tommy tidak terbiasa mendengar nada bicara Claudia yang seperti ini. Dulu, Claudia selalu suka bersikap manja dan berbicara dengan nada yang manis nan lembut. Tidak seperti sekarang, begitu dingin dan berjarak.

Tommy mengatupkan bibirnya. "Aku akan pergi hari ini."

Tommy menyetujuinya dengan cepat dan tanpa ragu. Kembali merasa terkejut, Claudia terdiam sejenak sebelum mengakhiri panggilan. Dia berbalik dan mendapati Sonia sedang menatapnya dengan mata berbinar.

Begitu Claudia mengangguk pelan, Sonia langsung bersorak kegirangan.

Menahan air matanya, Claudia memaksakan diri untuk tersenyum. Mereka berdua menunggu dari siang hingga hari gelap, tetapi Tommy tak kunjung muncul. Sebaliknya, staf rumah sakit meminta mereka keluar dari kamar VIP tersebut.

"Kami menerima perintah dari atasan bahwa kamar ini harus dikosongkan dan dibersihkan."

Kamar VIP ini merupakan fasilitas yang disiapkan Tommy. Perawatan medis dan obat-obatan yang disediakan juga merupakan yang terbaik di dalam negeri. Sonia membutuhkan semua ini.

Claudia buru-buru menghubungi Tommy, tetapi panggilannya tidak diangkat. Di tengah hiruk pikuk orang yang berlalu-lalang di koridor, ujung-ujung jari Claudia terlihat gemetar karena cemas.

Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang cepat dan familier. Tommy yang menggendong Niel melangkah masuk ke kamar dengan raut cemas. Dia sepenuhnya mengabaikan Claudia dan Sonia yang berada di koridor.

Giselle mengikuti tepat di belakang Tommy dengan mengenakan sepatu hak tinggi. Saat melewati Claudia dan Sonia, dia mengangkat alisnya dan menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

Claudia seketika mematung. Darahnya terasa membeku. Jadi, kamar itu dikosongkan untuk putra Giselle.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 20

    Hanya dalam tiga tahun bekerja di perusahaan Yansen, Claudia berhasil mencetak rekor baru dalam kinerja perusahaan dan menduduki posisi yang semakin tinggi.Yansen terus berada di sekitar Claudia dan Sonia. Selama tiga tahun ini, Yansen tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.Semua orang di perusahaan tahu bahwa perempuan yang dicintai Yansen adalah Claudia. Bahkan, mulai beredar gosip entah kapan dia baru berhasil mendapatkan hati Claudia.Claudia sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, kemampuan adalah bukti terbaik. Selama dia mampu membuktikan dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa meragukannya.Ketika mendengar adanya penelitian baru mengenai kaki palsu di luar negeri, Claudia sengaja mengambil cuti untuk membawa Sonia ke sana.Yansen sudah terlanjur menerima undangan menghadiri sebuah acara bisnis, jadi tidak bisa menemani mereka. Dia pun sangat menyesal melewatkan kesempatan itu.Claudia hanya bisa tersenyum pasrah. "Kami akan pulang dalam waktu kurang dari sem

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 19

    Saat Claudia tiba di rumah, ternyata Anas sudah menunggunya di depan pintu. Rambut Anas telah memutih. Wajahnya tampak jauh lebih tua.Claudia mengernyitkan keningnya. "Tolong tinggalkan tempat ini."Begitu melihat putrinya, mata Anas langsung memerah, air mata pun mengalir."Putriku .…"Claudia mundur dua langkah dan berkata dengan tenang, "Putrimu itu Giselle, bukan aku."Anas menggeleng sambil menangis. "Claudia, Mama benar-benar nggak tahu kalau dia malah melakukan semua itu .…"Anas mengeluarkan buku harian itu dari belakang tubuhnya. "Mama sudah membacanya. Mama sudah tahu semuanya. Mama yang membuatmu menderita selama ini .…"Wajah Claudia tetap tanpa ekspresi. "Semuanya sudah berlalu. Tolong pergi dan jangan mengganggu kehidupanku."Tiba-tiba, Anas berlutut. Dia berkali-kali menampar pipinya sendiri. "Semua ini salah Mama. Mama yang salah menilai orang dan selalu pilih kasih .… Semua ini karena Mama sudah mengecewakanmu dan Sonia …."Entah sejak kapan, Yansen sudah berdiri di d

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 18

    Claudia duduk di depan meja kerjanya dan terdiam cukup lama. Dia berusaha memusatkan pikirannya, tetapi isi dokumen proyek itu tak kunjung bisa dia pahami.Saat itu, Sonia meneleponnya. Sonia berkata dengan nada ceria, "Mama, hari ini Bibi membuatkan kue yang enak untukku. Aku mau menunggu Mama pulang supaya kita bisa makan bersama."Kening Claudia yang sejak tadi berkerut tanpa sadar mengendur.Dia tersenyum. "Sonia makan dulu saja. Mama masih sedikit sibuk, mungkin pulangnya agak malam."Sonia menurut dan mengiyakan dengan patuh.Melihat kekecewaan di mata putrinya, hati Claudia menjadi luluh. Dia lalu berkata, "Tapi Mama sebenarnya ingin makan kue itu. Jadi Mama berubah pikiran. Tunggu kepulangan Mama ya."Sonia langsung tersenyum lebar. "Oke!"Setelah menutup telepon, Claudia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.Namun, seseorang sudah menunggunya di depan pintu kantor. Orang itu adalah Tommy.Tommy berdiri diam di sana seperti patung, entah sudah berapa lama dia menunggu. Beg

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 17

    Tommy berdiri diam, menatapnya tanpa ekspresi.Cahaya lampu kekuningan di atas kepala menerangi sisi wajah Tommy yang tegas, membuat aura membunuh di matanya semakin jelas.Giselle memegangi lututnya yang terluka akibat benturan dan bertanya dengan suara ketakutan, "Tommy, apa yang ingin kamu lakukan?"Tommy perlahan membuka mulut. Suaranya yang rendah menggema di dalam gudang, terdengar dingin dan mengancam seperti suara maut yang mendekat. "Kamu yang mengutus para perampok untuk menyandera Sonia. Kenapa?"Bahu Giselle bergetar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bukan aku. Aku nggak melakukannya .…"Sepertinya kesabaran Tommy sudah habis. Dia memberi isyarat kepada orang di sampingnya. Mulut Giselle langsung dibekap, lalu tangan kanannya dipukul dengan tongkat bisbol hingga patah.Jeritan Giselle tertahan di tenggorokannya. Dia terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit.Beberapa saat kemudian, kain yang menyumbat mulut Giselle dilepas.Tommy kembali bertanya, "Kenapa?

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 16

    Alih-alih memapah, Claudia justru mendorong Yansen masuk ke dalam mobil.Yansen didorong masuk ke dalam mobil dengan kasar. Dia pun mengomel, "Aduh, sakit ... sakit ...."Claudia memasang wajah dingin dan menyuruh sopir menjalankan mobil.Melihat suasana hati Claudia yang sedang buruk, Yansen pun tidak berani banyak bicara. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tommy masih berdiri di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan muram, sementara tatapannya terus mengikuti mobil mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.Yansen mengatupkan bibir, lalu kembali menoleh ke depan.Tiba-tiba Claudia berkata, "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku nggak akan bekerja di perusahaanmu."Yansen merasa kaget. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa?"Claudia menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku juga bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi Tommy."Yansen membuka mulut, tetapi tidak mampu berkata apa-apa. Dia merasa sedikit bersalah setel

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 15

    Tommy bangkit dari lantai dengan susah payah. Saat hendak mengejar Claudia, langkah Tommy terhalang oleh seseorang.Raut wajah Yansen tampak sangat muram. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan ganggu Claudia!"Wajah Tommy ikut muram. "Apa kamu masih ingin bersama Claudia?"Tommy mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah. "Jangan terus mengusik Claudia. Jauhi dia!"Yansen mencibir. "Jadi tentara sampai otakmu ikut rusak ya? Justru kamu yang seharusnya menjauhinya! Kalau saja aku tahu kamu akan memperlakukannya seperti ini, aku seharusnya membawanya pergi sejak tiga tahun lalu!"Tommy langsung mencengkeram kerah baju Yansen erat-erat. Wajah Tommy kelihatan gusar. "Apa katamu!"Tiga tahun lalu, setelah Claudia menyelamatkan Yansen, pria itu langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama dan terus mengusiknya setiap hari.Pada akhirnya, Tommy menghajarnya sampai menyerah dan mengusirnya dari kesatuan militer.Yansen melepaskan cengkeraman Tommy, lalu melepas jasnya dan meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status