Share

Bab 6

Author: Magnolia
Di tengah perjalanan, Anas tiba-tiba menelepon. "Pergi jemput Niel dari sekolah."

Claudia mendengar suara ubin mahyong beradu di latar belakang dan menyahut dengan singkat, "Nggak."

Anas meninggikan suaranya. "Dasar anak nggak tahu berterima kasih! Kalau bukan karena suamimu, hidup kakakmu sekarang mana mungkin begitu menderita ...."

Claudia sudah mendengar kata-kata ini berkali-kali. Setiap kali, dia selalu bersabar dan berkompromi. Namun, yang diterimanya adalah perlakuan mereka yang makin menjadi-jadi.

Claudia tidak ingin mendengar ucapan ibunya lagi. Ketika dia hendak menutup telepon, Anas berkata, "Kalau kamu nggak pergi, aku akan pergi cari kamu besok."

Claudia tidak ingin Sonia diganggu. Jadi, dia menghela napas dan berkata, "Aku akan pergi."

Claudia mengalah karena merasa ini adalah yang terakhir kalinya. Dia pergi ke gerbang sekolah dan menunggu Niel keluar.

Setelah bel berbunyi, Niel keluar dari gerbang sambil memegang permen lolipop. Ketika melihat Claudia, matanya seketika berbinar. Dia merentangkan tangannya dan berkata, "Beri aku 200 ribu untuk beli makanan. Aku juga mau konsol game terbaru."

Dulu, Claudia selalu memuaskan permintaan Niel. Sekarang, dia hanya berkata dengan dingin, "Pulang."

Niel hendak merengek. Namun, tiba-tiba ada orang yang membekap mulutnya dari belakang.

Seorang lelaki tua bungkuk menodongkan pisau ke leher Niel dan menatap Claudia dengan sepasang mata keruh. "Kamu nggak boleh pergi. Kalau nggak, aku akan membunuhnya!"

Orang-orang di sekitar seketika berteriak dan melarikan diri. Dalam waktu singkat, terbentuk area kosong di sekeliling pria tua itu. Tak lama kemudian, polisi pun tiba dan mengepung mereka.

Claudia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri. "Apa tujuanmu? Aku walinya. Kalau kamu beri tahu aku, aku akan penuhi permintaanmu."

Pria tua itu tiba-tiba mengamuk. "Dia selalu tindas cucu perempuanku, sampai cucu yang baik kena depresi dan melompat dari gedung!"

Pisau di tangan pria tua itu melukai leher Niel. Niel pun berteriak kesakitan.

Ponsel di saku Claudia tiba-tiba bergetar. Dia diam-diam menjawabnya dan mendengar suara tenang Tommy melalui earphone di telinga kirinya. "Hati-hati, jangan sampai dia marah."

Kemudian, Tommy menambahkan dengan suara yang lebih rendah dan menghibur, "Jangan takut, ada aku."

Untuk sesaat, ujung jari Claudia bergetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap pria tua putus asa di depannya. "Membunuh orang adalah pilihan yang paling nggak sepadan. Pikirkan tentang keluargamu ...."

Pria tua itu menggeleng. "Kami nggak punya keluarga. Cucuku sudah meninggal. Aku juga nggak ingin hidup lagi ...."

Wajahnya yang penuh kerutan dibasahi air mata. "Kamu nggak didik anakmu dengan baik, jadi kamu juga pantas mati. Aku akan habisi kamu setelah membunuhnya ...."

Seusai berbicara, pria tua itu hendak langsung mengambil tindakan. Tanpa pikir panjang, Claudia menyerbu ke arahnya dan merebut pisaunya.

Angin dingin tiba-tiba melewati telinga Claudia. Dia tertegun sejenak dan melihat darah mengalir dari pelipis pria tua itu. Dengan tatapan kosong, pria tua itu ambruk ke lantai.

Claudia seketika membeku di tempat. Dia menyentuh telinganya dengan ujung jari. Darah hangat mengalir dari telinganya. Hanya sedikit lagi, peluru itu akan menembus kepalanya.

Demi Giselle, Tommy membuat putri mereka menjadi cacat. Sekarang, Tommy hampir membunuhnya demi putra Giselle.

Tiba-tiba, Giselle bergegas mendekat. Dia menekan Claudia ke lantai dan memukulinya seperti orang gila.

"Kamu pasti sudah ngomong sesuatu yang buat penjahat itu ngamuk, 'kan? Kamu pasti mau anakku dibunuhnya, 'kan?"

Setelah beberapa saat, polisi baru berhasil menarik Giselle pergi. Rambut Claudia acak-acakan dan wajahnya dipenuhi cakaran. Ada banyak orang di sekitar lokasi kejadian yang mengenalinya.

"Ya ampun, dia pasti sengaja balas dendam ke kakaknya."

"Dia bahkan tega celakai seorang anak. Kejam banget dia ...."

"Kurasa, dia yang rencanakan penculikan ini."

Semua orang memfitnah dan memaki Claudia. Beberapa orang bahkan melempar batu ke arahnya. Yang terluka tubuhnya, tetapi yang terasa sakit adalah hatinya.

Berhubung jaraknya jauh, hanya Tommy yang mendengar percakapan Claudia dengan penjahat tersebut. Claudia memandangi sosok tinggi yang berdiri diam di belakang mobil polisi.

Para polisi mengelilingi Tommy, memuji dan mengaguminya. Ekspresi Tommy terlihat acuh tak acuh. Dia hanya melirik Claudia, seolah Claudia adalah orang asing.

Claudia pun menertawakan dirinya sendiri. Mana mungkin Tommy mengatakannya? Dia tidak akan membiarkan putra Giselle ternoda.

Tommy mengatakan mau melindunginya? Itu hanyalah lelucon ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 20

    Hanya dalam tiga tahun bekerja di perusahaan Yansen, Claudia berhasil mencetak rekor baru dalam kinerja perusahaan dan menduduki posisi yang semakin tinggi.Yansen terus berada di sekitar Claudia dan Sonia. Selama tiga tahun ini, Yansen tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.Semua orang di perusahaan tahu bahwa perempuan yang dicintai Yansen adalah Claudia. Bahkan, mulai beredar gosip entah kapan dia baru berhasil mendapatkan hati Claudia.Claudia sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, kemampuan adalah bukti terbaik. Selama dia mampu membuktikan dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa meragukannya.Ketika mendengar adanya penelitian baru mengenai kaki palsu di luar negeri, Claudia sengaja mengambil cuti untuk membawa Sonia ke sana.Yansen sudah terlanjur menerima undangan menghadiri sebuah acara bisnis, jadi tidak bisa menemani mereka. Dia pun sangat menyesal melewatkan kesempatan itu.Claudia hanya bisa tersenyum pasrah. "Kami akan pulang dalam waktu kurang dari sem

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 19

    Saat Claudia tiba di rumah, ternyata Anas sudah menunggunya di depan pintu. Rambut Anas telah memutih. Wajahnya tampak jauh lebih tua.Claudia mengernyitkan keningnya. "Tolong tinggalkan tempat ini."Begitu melihat putrinya, mata Anas langsung memerah, air mata pun mengalir."Putriku .…"Claudia mundur dua langkah dan berkata dengan tenang, "Putrimu itu Giselle, bukan aku."Anas menggeleng sambil menangis. "Claudia, Mama benar-benar nggak tahu kalau dia malah melakukan semua itu .…"Anas mengeluarkan buku harian itu dari belakang tubuhnya. "Mama sudah membacanya. Mama sudah tahu semuanya. Mama yang membuatmu menderita selama ini .…"Wajah Claudia tetap tanpa ekspresi. "Semuanya sudah berlalu. Tolong pergi dan jangan mengganggu kehidupanku."Tiba-tiba, Anas berlutut. Dia berkali-kali menampar pipinya sendiri. "Semua ini salah Mama. Mama yang salah menilai orang dan selalu pilih kasih .… Semua ini karena Mama sudah mengecewakanmu dan Sonia …."Entah sejak kapan, Yansen sudah berdiri di d

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 18

    Claudia duduk di depan meja kerjanya dan terdiam cukup lama. Dia berusaha memusatkan pikirannya, tetapi isi dokumen proyek itu tak kunjung bisa dia pahami.Saat itu, Sonia meneleponnya. Sonia berkata dengan nada ceria, "Mama, hari ini Bibi membuatkan kue yang enak untukku. Aku mau menunggu Mama pulang supaya kita bisa makan bersama."Kening Claudia yang sejak tadi berkerut tanpa sadar mengendur.Dia tersenyum. "Sonia makan dulu saja. Mama masih sedikit sibuk, mungkin pulangnya agak malam."Sonia menurut dan mengiyakan dengan patuh.Melihat kekecewaan di mata putrinya, hati Claudia menjadi luluh. Dia lalu berkata, "Tapi Mama sebenarnya ingin makan kue itu. Jadi Mama berubah pikiran. Tunggu kepulangan Mama ya."Sonia langsung tersenyum lebar. "Oke!"Setelah menutup telepon, Claudia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.Namun, seseorang sudah menunggunya di depan pintu kantor. Orang itu adalah Tommy.Tommy berdiri diam di sana seperti patung, entah sudah berapa lama dia menunggu. Beg

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 17

    Tommy berdiri diam, menatapnya tanpa ekspresi.Cahaya lampu kekuningan di atas kepala menerangi sisi wajah Tommy yang tegas, membuat aura membunuh di matanya semakin jelas.Giselle memegangi lututnya yang terluka akibat benturan dan bertanya dengan suara ketakutan, "Tommy, apa yang ingin kamu lakukan?"Tommy perlahan membuka mulut. Suaranya yang rendah menggema di dalam gudang, terdengar dingin dan mengancam seperti suara maut yang mendekat. "Kamu yang mengutus para perampok untuk menyandera Sonia. Kenapa?"Bahu Giselle bergetar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bukan aku. Aku nggak melakukannya .…"Sepertinya kesabaran Tommy sudah habis. Dia memberi isyarat kepada orang di sampingnya. Mulut Giselle langsung dibekap, lalu tangan kanannya dipukul dengan tongkat bisbol hingga patah.Jeritan Giselle tertahan di tenggorokannya. Dia terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit.Beberapa saat kemudian, kain yang menyumbat mulut Giselle dilepas.Tommy kembali bertanya, "Kenapa?

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 16

    Alih-alih memapah, Claudia justru mendorong Yansen masuk ke dalam mobil.Yansen didorong masuk ke dalam mobil dengan kasar. Dia pun mengomel, "Aduh, sakit ... sakit ...."Claudia memasang wajah dingin dan menyuruh sopir menjalankan mobil.Melihat suasana hati Claudia yang sedang buruk, Yansen pun tidak berani banyak bicara. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tommy masih berdiri di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan muram, sementara tatapannya terus mengikuti mobil mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.Yansen mengatupkan bibir, lalu kembali menoleh ke depan.Tiba-tiba Claudia berkata, "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku nggak akan bekerja di perusahaanmu."Yansen merasa kaget. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa?"Claudia menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku juga bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi Tommy."Yansen membuka mulut, tetapi tidak mampu berkata apa-apa. Dia merasa sedikit bersalah setel

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 15

    Tommy bangkit dari lantai dengan susah payah. Saat hendak mengejar Claudia, langkah Tommy terhalang oleh seseorang.Raut wajah Yansen tampak sangat muram. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan ganggu Claudia!"Wajah Tommy ikut muram. "Apa kamu masih ingin bersama Claudia?"Tommy mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah. "Jangan terus mengusik Claudia. Jauhi dia!"Yansen mencibir. "Jadi tentara sampai otakmu ikut rusak ya? Justru kamu yang seharusnya menjauhinya! Kalau saja aku tahu kamu akan memperlakukannya seperti ini, aku seharusnya membawanya pergi sejak tiga tahun lalu!"Tommy langsung mencengkeram kerah baju Yansen erat-erat. Wajah Tommy kelihatan gusar. "Apa katamu!"Tiga tahun lalu, setelah Claudia menyelamatkan Yansen, pria itu langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama dan terus mengusiknya setiap hari.Pada akhirnya, Tommy menghajarnya sampai menyerah dan mengusirnya dari kesatuan militer.Yansen melepaskan cengkeraman Tommy, lalu melepas jasnya dan meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status