Share

Bab 8

Author: Magnolia
Tembakan itu akhirnya berhenti.

Tubuh Sonia dipenuhi memar. Dia meringkuk di pelukan Claudia dan menangis tersedu-sedu. Jantung Claudia seakan digenggam erat dan diremas oleh sepasang tangan besar. Rasa sakit membuat seluruh tubuhnya gemetar.

"Maaf, Sonia. Ibu nggak seharusnya bawa kamu kemari ...."

Tommy berjalan mendekat dan menatapnya. "Itu cuma peluru karet. Nembak dari jarak sejauh itu nggak akan sakit. Jangan pura-pura."

Claudia menggendong Sonia dan berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya berbalik dan hendak pergi.

Tommy mengerutkan kening. "Aku akan antar kalian kembali."

Claudia melewatinya tanpa ekspresi. Jadi, Tommy maju selangkah dan menahan pergelangan tangannya. "Tempat ini terpencil. Nggak akan ada taksi."

Claudia berhenti dan memandangnya. "Kami mau pulang sekarang."

Menatap mata Claudia yang kosong, kejengkelan di hati Tommy menjadi makin hebat. Namun, dia tidak dapat menemukan alasannya. Dia hanya mengangguk, lalu berbalik dan berkata, "Ayo pulang sekarang."

Niel berseru dengan tidak puas, "Kenapa? Aku masih belum main sampai puas!"

Tommy meliriknya dengan dingin. Niel pun ketakutan hingga tak berani mengatakan apa-apa lagi.

Giselle tersenyum dan berkata, "Kebetulan, aku juga sudah capek. Ayo pulang, Tom."

Giselle merangkul lengan Tommy dengan satu tangan dan menggenggam Niel dengan tangan lainnya, seolah-olah mereka barulah satu keluarga. Tommy terlihat sedikit tidak nyaman dipeluknya. Dia mendongak dan melihat wajah tenang Claudia. Ekspresinya seketika berubah dingin dan dia membiarkan Giselle merangkul lengannya.

Mobil yang mereka naiki ketika kembali adalah kendaraan off-road militer. Niel bergegas masuk ke kursi penumpang dan menempati kursi yang biasa ditempati Tommy. Tommy tidak peduli dan duduk di belakang, sedangkan Giselle duduk dekat di sampingnya.

Sementara itu, Claudia memeluk Sonia dan duduk di belakang. Saat melihat Claudia tidak duduk di sebelahnya, raut wajah Tommy semakin jelek.

Kendaraan melaju dengan mulus. Ketika sampai di sebuah jembatan, Niel yang duduk di kursi penumpang depan tiba-tiba bertanya, "Eh, apa ini?"

Begitu Niel selesai berbicara, suara hitungan mundur tiba-tiba terdengar. Ekspresi Tommy langsung berubah. Dia membungkuk untuk memeriksa, lalu menemukan sebuah bom yang ditempatkan di bawah kursi penumpang depan. Waktu yang tersisa hanya lima menit.

"Jangan bergerak, ini bom beban. Begitu bebannya hilang, bomnya akan langsung meledak."

Giselle berseru, "Gimana dengan Niel?"

Niel mencoba bangkit dengan panik.

Tommy membentak, "Jangan bergerak!"

Niel menangis hebat. "Mama, aku nggak mau mati. Huhu ...."

Giselle juga menangis. "Tom, ini satu-satunya anak mendiang suamiku. Kamu harus selamatkan dia!"

Tommy menegangkan tangannya, lalu menoleh ke belakang. Matanya tertuju pada Sonia yang berada dalam pelukan Claudia.

Claudia memeluk Sonia erat-erat dan bertanya dengan tidak percaya, "Apa maumu?"

Tommy terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan suara serak, "Berat badan Sonia paling mirip dengan Niel ...."

Claudia menggeleng kuat-kuat. "Nggak. Sonia jauh lebih ringan dari dia ...."

Tommy menunjuk tas beban di bagasi. "Tinggal tambahkan itu."

Wajah Claudia seketika memucat. "Kamu mau Sonia mati demi orang lain?"

Tommy tidak menatap mata Claudia, hanya menahannya dengan kuat. Claudia berjuang mati-matian, tetapi dia bukanlah tandingan Tommy. Dia hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat Giselle dengan cepat merampas Sonia dari pelukannya.

Tommy menahan Claudia dalam pelukannya dan memeluknya erat. Claudia membuka mulutnya dan menggigit bahu Tommy kuat-kuat. Bau darah langsung memenuhi mulutnya.

Tommy mengerang dan berbisik, "Ini yang terakhir kali."

Tommy mengikat tangan dan kaki Claudia dengan ikat pinggang, lalu menahannya di tempat duduk dengan sabuk pengaman. Dia berbalik dan membiarkan Sonia yang memegang tas beban menggantikan Niel duduk di kursi penumpang depan.

Sonia menahan air matanya dan memeluk tas itu dengan patuh. "Kalau aku mati, Mama akan selamat, 'kan?"

Gerakan Tommy membeku. Untuk pertama kalinya, dia berkata dengan lembut, "Sonia nggak akan mati. Papa akan datangkan bantuan."

Sonia tidak berbicara, hanya menatap ibunya dengan serius. "Mama, di kehidupan berikutnya, Mama bisa jadi mama Sonia lagi?"

Claudia menangis begitu hebat hingga kesulitan bernapas.

Saat ini, Giselle telah membawa Niel keluar dari mobil dan berlari jauh. Tommy melepaskan sabuk pengaman Claudia, lalu menggendongnya dan membawanya pergi dengan paksa.

Entah sejak kapan, Claudia telah melepaskan ikat pinggang yang mengikat tangannya. Setelah melepaskan diri dari kekangan Tommy, dia berlari kembali dengan cepat. Dia mendengar Tommy berteriak tak terkendali, "Claudia, kembali!"

Claudia bergegas masuk ke mobil, lalu menggendong Sonia dan dengan cepat menerjang keluar dari pintu mobil lain. Mereka jatuh ke sungai di bawah jembatan. Ledakan besar terjadi di belakang mereka.

Claudia tidak tahu sudah berapa lama dia berenang dari tengah sungai ke tepian. Dia memaksakan dirinya untuk berdiri dan ingin mencari seseorang untuk meminta bantuan.

Pada saat ini, sebuah Porsche melaju kencang melewati Claudia, lalu mundur dan berhenti di depannya. Seorang pria tampan dan berkelas keluar dari mobil. Ekspresinya dipenuhi kekhawatiran.

Claudia tidak tahan lagi dan jatuh ke pelukannya. "Sonia .... Selamatkan ... Sonia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 20

    Hanya dalam tiga tahun bekerja di perusahaan Yansen, Claudia berhasil mencetak rekor baru dalam kinerja perusahaan dan menduduki posisi yang semakin tinggi.Yansen terus berada di sekitar Claudia dan Sonia. Selama tiga tahun ini, Yansen tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.Semua orang di perusahaan tahu bahwa perempuan yang dicintai Yansen adalah Claudia. Bahkan, mulai beredar gosip entah kapan dia baru berhasil mendapatkan hati Claudia.Claudia sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, kemampuan adalah bukti terbaik. Selama dia mampu membuktikan dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa meragukannya.Ketika mendengar adanya penelitian baru mengenai kaki palsu di luar negeri, Claudia sengaja mengambil cuti untuk membawa Sonia ke sana.Yansen sudah terlanjur menerima undangan menghadiri sebuah acara bisnis, jadi tidak bisa menemani mereka. Dia pun sangat menyesal melewatkan kesempatan itu.Claudia hanya bisa tersenyum pasrah. "Kami akan pulang dalam waktu kurang dari sem

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 19

    Saat Claudia tiba di rumah, ternyata Anas sudah menunggunya di depan pintu. Rambut Anas telah memutih. Wajahnya tampak jauh lebih tua.Claudia mengernyitkan keningnya. "Tolong tinggalkan tempat ini."Begitu melihat putrinya, mata Anas langsung memerah, air mata pun mengalir."Putriku .…"Claudia mundur dua langkah dan berkata dengan tenang, "Putrimu itu Giselle, bukan aku."Anas menggeleng sambil menangis. "Claudia, Mama benar-benar nggak tahu kalau dia malah melakukan semua itu .…"Anas mengeluarkan buku harian itu dari belakang tubuhnya. "Mama sudah membacanya. Mama sudah tahu semuanya. Mama yang membuatmu menderita selama ini .…"Wajah Claudia tetap tanpa ekspresi. "Semuanya sudah berlalu. Tolong pergi dan jangan mengganggu kehidupanku."Tiba-tiba, Anas berlutut. Dia berkali-kali menampar pipinya sendiri. "Semua ini salah Mama. Mama yang salah menilai orang dan selalu pilih kasih .… Semua ini karena Mama sudah mengecewakanmu dan Sonia …."Entah sejak kapan, Yansen sudah berdiri di d

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 18

    Claudia duduk di depan meja kerjanya dan terdiam cukup lama. Dia berusaha memusatkan pikirannya, tetapi isi dokumen proyek itu tak kunjung bisa dia pahami.Saat itu, Sonia meneleponnya. Sonia berkata dengan nada ceria, "Mama, hari ini Bibi membuatkan kue yang enak untukku. Aku mau menunggu Mama pulang supaya kita bisa makan bersama."Kening Claudia yang sejak tadi berkerut tanpa sadar mengendur.Dia tersenyum. "Sonia makan dulu saja. Mama masih sedikit sibuk, mungkin pulangnya agak malam."Sonia menurut dan mengiyakan dengan patuh.Melihat kekecewaan di mata putrinya, hati Claudia menjadi luluh. Dia lalu berkata, "Tapi Mama sebenarnya ingin makan kue itu. Jadi Mama berubah pikiran. Tunggu kepulangan Mama ya."Sonia langsung tersenyum lebar. "Oke!"Setelah menutup telepon, Claudia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.Namun, seseorang sudah menunggunya di depan pintu kantor. Orang itu adalah Tommy.Tommy berdiri diam di sana seperti patung, entah sudah berapa lama dia menunggu. Beg

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 17

    Tommy berdiri diam, menatapnya tanpa ekspresi.Cahaya lampu kekuningan di atas kepala menerangi sisi wajah Tommy yang tegas, membuat aura membunuh di matanya semakin jelas.Giselle memegangi lututnya yang terluka akibat benturan dan bertanya dengan suara ketakutan, "Tommy, apa yang ingin kamu lakukan?"Tommy perlahan membuka mulut. Suaranya yang rendah menggema di dalam gudang, terdengar dingin dan mengancam seperti suara maut yang mendekat. "Kamu yang mengutus para perampok untuk menyandera Sonia. Kenapa?"Bahu Giselle bergetar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bukan aku. Aku nggak melakukannya .…"Sepertinya kesabaran Tommy sudah habis. Dia memberi isyarat kepada orang di sampingnya. Mulut Giselle langsung dibekap, lalu tangan kanannya dipukul dengan tongkat bisbol hingga patah.Jeritan Giselle tertahan di tenggorokannya. Dia terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit.Beberapa saat kemudian, kain yang menyumbat mulut Giselle dilepas.Tommy kembali bertanya, "Kenapa?

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 16

    Alih-alih memapah, Claudia justru mendorong Yansen masuk ke dalam mobil.Yansen didorong masuk ke dalam mobil dengan kasar. Dia pun mengomel, "Aduh, sakit ... sakit ...."Claudia memasang wajah dingin dan menyuruh sopir menjalankan mobil.Melihat suasana hati Claudia yang sedang buruk, Yansen pun tidak berani banyak bicara. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tommy masih berdiri di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan muram, sementara tatapannya terus mengikuti mobil mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.Yansen mengatupkan bibir, lalu kembali menoleh ke depan.Tiba-tiba Claudia berkata, "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku nggak akan bekerja di perusahaanmu."Yansen merasa kaget. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa?"Claudia menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku juga bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi Tommy."Yansen membuka mulut, tetapi tidak mampu berkata apa-apa. Dia merasa sedikit bersalah setel

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 15

    Tommy bangkit dari lantai dengan susah payah. Saat hendak mengejar Claudia, langkah Tommy terhalang oleh seseorang.Raut wajah Yansen tampak sangat muram. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan ganggu Claudia!"Wajah Tommy ikut muram. "Apa kamu masih ingin bersama Claudia?"Tommy mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah. "Jangan terus mengusik Claudia. Jauhi dia!"Yansen mencibir. "Jadi tentara sampai otakmu ikut rusak ya? Justru kamu yang seharusnya menjauhinya! Kalau saja aku tahu kamu akan memperlakukannya seperti ini, aku seharusnya membawanya pergi sejak tiga tahun lalu!"Tommy langsung mencengkeram kerah baju Yansen erat-erat. Wajah Tommy kelihatan gusar. "Apa katamu!"Tiga tahun lalu, setelah Claudia menyelamatkan Yansen, pria itu langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama dan terus mengusiknya setiap hari.Pada akhirnya, Tommy menghajarnya sampai menyerah dan mengusirnya dari kesatuan militer.Yansen melepaskan cengkeraman Tommy, lalu melepas jasnya dan meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status