LOGINPagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa berbeda. Suara tawa yang keras dan aroma cerutu mahal yang samar mulai menyeruak di lorong-lorong kaku Kendrick Corp.
Aruna, dengan mata yang sedikit sembap karena hanya tidur tiga jam, berusaha tetap tegap saat menyusun materi presentasi untuk rapat dewan direksi.
Pintu lift terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu terang tanpa dasi melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir provokatif.
Reynard “Rey” Mackenzie, sang Direktur yang baru saja kembali dari ekspedisi bisnisnya di Eropa, berjalan melewati meja Aruna.
Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Wah, wah. Max benar-benar menyembunyikan mawar kecil yang sangat cantik di sini selama aku pergi,” gumam Rey dengan seringai nakal yang tidak disembunyikan.
Aruna segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Reynard. Selamat datang kembali. Saya Aruna, sekretaris pribadi Tuan Max.”
“Terima kasih, Manis. Tapi tolong, jangan terlalu kaku begitu. Kau membuatku merasa seperti kakek-kakek seperti Max.”
Rey mengedipkan mata sebelum melenggang masuk ke ruang rapat, meninggalkan Aruna yang hanya bisa menelan ludah dalam kecemasan baru.
Rapat besar dimulai sepuluh menit kemudian. Max berdiri di depan layar proyektor, memaparkan data audit yang telah dikerjakan Aruna semalaman dengan suara yang dingin dan berwibawa.
Aruna duduk di barisan pendamping, tepat di sebelah kursi Reynard.
Sepanjang presentasi, Aruna berusaha fokus mencatat notulensi. Namun, konsentrasinya buyar saat dia merasakan sesuatu menyentuh jemarinya di bawah meja rapat yang tertutup taplak beludru panjang.
Rey, dengan wajah yang tampak serius menatap Max, sebenarnya sedang memainkan pena mahal milik Aruna di antara jari-jari wanita itu. Ujung pena itu menari-nari di sela jemari Aruna, sesekali kulit mereka bersentuhan.
“Tuan, fokus,” bisik Aruna hampir tak terdengar, dengan wajah yang memucat karena takut ketahuan.
Rey tidak berhenti. Dia justru memberikan senyum miring yang tipis. Di depan sana, Max sedang menjelaskan grafik pertumbuhan, namun Aruna menyadari sesuatu yang mengerikan.
Tatapan Max tidak lagi terfokus pada layar. Mata tajamnya tertuju lurus ke arah mereka, lebih tepatnya, ke bawah meja.
Ketegangan di ruangan itu meningkat drastis. Max berhenti bicara selama beberapa detik, dan membuat seluruh direktur lain menoleh bingung.
Rahang Max mengeras. Dari sudut matanya, Max melihat tangan Rey mulai bergerak lebih jauh, bergeser dari jemari Aruna menuju pangkal paha sekretarisnya itu dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur.
“Direktur Reynard,” suara Max memecah keheningan, terdengar seperti dentuman es yang retak. “Apakah ada sesuatu di bawah meja yang lebih menarik daripada laporan efisiensi yang sedang kusampaikan?”
Rey terkekeh pelan lalu menarik tangannya dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Hanya memeriksa apakah sekretarismu merasa kedinginan, Max. AC di ruangan ini terlalu ekstrem, bukan begitu, Aruna?”
Aruna hanya bisa menunduk dalam, tengah merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.
Rasanya dia ingin menghilang saja dari ruangan itu saat itu juga. Max menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, penuh dengan amarah yang tertahan dan rasa tidak suka yang mendalam.
Rapat akhirnya ditutup dengan suasana yang sangat canggung. Para direktur mulai meninggalkan ruangan satu per satu.
Aruna segera membereskan berkas-berkasnya dengan terburu-buru, ingin segera melarikan diri ke meja kerjanya yang aman.
Namun, saat dia sampai di ambang pintu, sebuah tangan kekar menahan pintu tersebut, menghalangi jalan Aruna. Reynard berdiri di sana, menjulang tinggi di depan Aruna, menutup akses keluar bagi wanita itu.
Di dalam ruangan, Max masih berdiri di belakang meja rapat, mengawasi mereka dengan aura yang sangat gelap.
“Tuan Rey, permisi, saya harus segera kembali bekerja,” bisik Aruna dengan suara yang sangat kecil, tidak berani menatap mata pria di depannya.
Rey merunduk dan mendekatkan wajahnya hingga Aruna bisa mencium aroma parfumnya yang kuat dan menantang.
Dia meletakkan satu tangannya di bingkai pintu, seolah tengah memenjarakan Aruna dalam ruang sempit di antara tubuhnya.
“Kau tahu, Aruna?” suara Rey terdengar serak dan provokatif. “Max itu terlalu membosankan untuk wanita secantik dan selembut dirimu. Dia hanya akan menghabiskan tenagamu dengan tumpukan kertas sialan ini.”
Aruna menggeleng lemah sambil mencoba menyamping namun Rey tetap menghalanginya.
“Bagaimana kalau malam ini bersamaku?” lanjut Rey dengan nada menggoda yang sangat terang-terangan.
“Aku berjanji akan memberikan 'bonus' yang jauh lebih memuaskan daripada yang biasa diberikan oleh bosmu yang kaku itu.”
Kemarahan Max di ruangan Rey berbuntut pada keputusan tirani yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Kendrick Corp.Atmosfer di lantai eksekutif mendadak membeku, seolah oksigen ditarik paksa dari udara.Sore itu juga, tanpa memedulikan tatapan bingung para staf yang berbisik di balik kubikel, Max memerintahkan petugas keamanan untuk memindahkan meja kerja Aruna.Bukan ke sudut ruangan lain, melainkan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas, megah, dan kedap suara.Suara geseran meja kayu ek itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi privasi Aruna.“Mulai detik ini, meja kerjamu ada di sini,” ucap Max dingin. Suaranya rendah, namun menggelegar di rungu Aruna.Dia menunjuk ke sebuah sudut yang tepat menghadap langsung ke arah meja kebesarannya. Posisi itu strategis; Max hanya perlu mendongak sedikit untuk memantau setiap gerak-gerik, setiap helaan napas, dan setiap huruf yang diketikkan Aruna.“Aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauanku, di mana pria-pria
Cek kosong dari Max masih tergeletak di atas meja, namun ketenangan yang Aruna harapkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, atmosfer di kantor pusat Kendrick Corp berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam.Aruna kini bukan lagi sekadar sekretaris; ia telah menjadi poros di mana tiga pria paling berkuasa di gedung itu saling berbenturan.Akhir pekan itu, perusahaan mengadakan pertemuan informal di sebuah klub olahraga elit di pinggiran Astraea.Aruna diwajibkan hadir untuk mencatat poin-poin kesepakatan bisnis di sela-sela permainan bilyar pribadi antara Max, Bastian, dan Rey.Di dalam ruangan bilyar yang beraroma cerutu dan kayu ek, suasana terasa sangat berat. Max berdiri tegak dengan stik bilyar di tangannya, sementara Rey bersandar santai di tepi meja dengan senyum miringnya.Bastian duduk di sofa kulit, mengamati Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.“Bagaimana kalau kita buat permainan ini lebih menarik?” Rey memecah keheningan sembari menyodok bola putih.“Pemenang se
Musik waltz mengalun lembut di seluruh penjuru ballroom, namun bagi Aruna, melodi itu terasa seperti dengungan yang jauh.Rey menuntunnya ke tengah lantai dansa, meletakkan tangannya dengan posesif di pinggang bawah Aruna, tepat di batas gaun backless-nya yang terbuka.Sentuhan Rey terasa asing, namun Aruna memaksakan diri untuk tetap tegak. Dia ingin Max melihat bahwa dia bukan sekadar properti kantor yang bisa diabaikan.Dari sudut matanya, Aruna melihat Max. Pria itu berdiri kaku bahkan mengabaikan teman kencannya yang sedang berbicara. Tatapan Max menghunus tajam ke arah tangan Rey yang mengusap punggung mulus Aruna.Kesabaran Max mencapai batasnya saat Rey menunduk dan membisikkan sesuatu yang membuat Aruna sedikit tersipu. Tanpa memedulikan etika sosial, Max melangkah lebar membelah kerumunan.Set!Sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangan Aruna dengan kasar, memutuskan kontak antara Aruna dan Rey.“Cukup dansanya,” suara Max terdengar seperti geraman rendah.Rey mengerut
Di dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.“Berapa banyak wanita matre
Pagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.“Tuan Bastian
Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa berbeda. Suara tawa yang keras dan aroma cerutu mahal yang samar mulai menyeruak di lorong-lorong kaku Kendrick Corp.Aruna, dengan mata yang sedikit sembap karena hanya tidur tiga jam, berusaha tetap tegap saat menyusun materi presentasi untuk rapat dewan direksi.Pintu lift terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu terang tanpa dasi melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir provokatif.Reynard “Rey” Mackenzie, sang Direktur yang baru saja kembali dari ekspedisi bisnisnya di Eropa, berjalan melewati meja Aruna.Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala.“Wah, wah. Max benar-benar menyembunyikan mawar kecil yang sangat cantik di sini selama aku pergi,” gumam Rey dengan seringai nakal yang tidak disembunyikan.Aruna segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Reynard. Selamat datang kembali. Saya Aruna, sekretaris pribadi Tuan Max.”“Terima kasih, M







