MasukPagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.
Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.
Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.
Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.
“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.
Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.
“Tuan Bastian ... ini sangat indah. Terima kasih banyak atas perhatian Anda.”
Tepat pada saat itu, Max keluar dari ruangannya untuk menuju lift eksekutif. Langkahnya terhenti sejenak melihat Aruna yang sedang memeluk buket bunga besar pemberian Bastian.
Rahang Max mengeras, namun dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menekan tombol lift dengan kasar.
“Aruna, bawa berkas rapat kemarin. Kita harus ke Departemen Keuangan sekarang,” perintah Max tanpa menoleh dengan nada sedingin es.
Aruna segera meletakkan bunga itu dan meraih dokumennya. Dia sempat melirik Bastian yang memberikan kedipan penuh kemenangan kepadanya sebelum dia berlari kecil menyusul Max masuk ke dalam lift.
Pintu lift tertutup rapat. Keheningan di dalam kotak logam berlapis emas itu terasa begitu mencekam. Indikator lantai bergerak turun, namun suasana di dalamnya terasa seolah oksigen perlahan menghilang.
Max berdiri tegak di depan, sementara Aruna berdiri di pojok belakang dengan kepala tertunduk.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, tangan Max bergerak ke arah panel kontrol dan menekan tombol Emergency Stop.
JEDUG!
Lift berhenti dengan sentakan keras dan membuat Aruna hampir terjatuh. Lampu darurat menyala redup, menciptakan suasana yang remang-remang dan sangat intim.
“Tuan Max? Apa yang terjadi? Mengapa Anda menghentikan liftnya?” tanya Aruna dengan suara yang sangat kecil dan bergetar.
Max tidak menjawab. Dia berbalik perlahan, hingga aura yang terpancar dari tubuhnya bukan lagi sekadar kaku, melainkan kemarahan yang meluap-luap.’
Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga Aruna terpaksa mundur dan punggungnya menghantam dinding lift yang dingin.
Max tidak berhenti. Dia terus maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aruna. Lalu meletakkan kedua tangannya di dinding lift, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Aruna, mengunci wanita itu sepenuhnya.
“Tuan ... tolong, biarkan saya keluar,” bisik Aruna.
Dia bisa merasakan panas tubuh Max dan aroma parfumnya yang kini terasa begitu mengintimidasi.
Max merunduk seraya menatap Aruna dengan mata yang berkilat tajam. “Berapa hargamu, Aruna?” tanya Max dengan suara rendah yang menggetarkan dada Aruna.
Aruna tersentak. “Apa ... apa maksud Anda, Tuan?”
“Pertama Bastian dengan makan siangnya, lalu Reynard dengan sentuhan menjijikkannya di bawah meja, dan sekarang bunga lili sialan itu,” Max mendesis dan wajahnya semakin dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
Aruna bahkan bisa merasakan napas Max yang memburu di permukaan kulitnya.
Aruna menatap mata Max dengan air mata yang mulai menggenang. Dia terlihat sangat lemah dan rapuh di bawah kurungan lengan Max.
“Saya hanya ... saya hanya butuh bantuan, Tuan. Anda tidak pernah mau mendengarkan saya dan menganggap bantuan saya tidak penting dari semua pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
Max tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar menyakitkan.
Dia kemudian menekan tubuhnya lebih dekat hingga membuat Aruna merasa benar-benar terhimpit. Tangannya yang besar meremas bahu Aruna dengan lembut namun tegas.
“Apa kau begitu putus asa sampai menerima bunga dari semua pria di kantor ini?” bisik Max tepat di depan bibir Aruna, suaranya sarat akan kecemburuan yang dia sangkal dengan kemarahan.
“Atau kau memang sengaja menjual kelemahanmu pada mereka agar kau bisa mendapatkan apa yang kau mau?”
Kemarahan Max di ruangan Rey berbuntut pada keputusan tirani yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Kendrick Corp.Atmosfer di lantai eksekutif mendadak membeku, seolah oksigen ditarik paksa dari udara.Sore itu juga, tanpa memedulikan tatapan bingung para staf yang berbisik di balik kubikel, Max memerintahkan petugas keamanan untuk memindahkan meja kerja Aruna.Bukan ke sudut ruangan lain, melainkan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas, megah, dan kedap suara.Suara geseran meja kayu ek itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi privasi Aruna.“Mulai detik ini, meja kerjamu ada di sini,” ucap Max dingin. Suaranya rendah, namun menggelegar di rungu Aruna.Dia menunjuk ke sebuah sudut yang tepat menghadap langsung ke arah meja kebesarannya. Posisi itu strategis; Max hanya perlu mendongak sedikit untuk memantau setiap gerak-gerik, setiap helaan napas, dan setiap huruf yang diketikkan Aruna.“Aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauanku, di mana pria-pria
Cek kosong dari Max masih tergeletak di atas meja, namun ketenangan yang Aruna harapkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, atmosfer di kantor pusat Kendrick Corp berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam.Aruna kini bukan lagi sekadar sekretaris; ia telah menjadi poros di mana tiga pria paling berkuasa di gedung itu saling berbenturan.Akhir pekan itu, perusahaan mengadakan pertemuan informal di sebuah klub olahraga elit di pinggiran Astraea.Aruna diwajibkan hadir untuk mencatat poin-poin kesepakatan bisnis di sela-sela permainan bilyar pribadi antara Max, Bastian, dan Rey.Di dalam ruangan bilyar yang beraroma cerutu dan kayu ek, suasana terasa sangat berat. Max berdiri tegak dengan stik bilyar di tangannya, sementara Rey bersandar santai di tepi meja dengan senyum miringnya.Bastian duduk di sofa kulit, mengamati Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.“Bagaimana kalau kita buat permainan ini lebih menarik?” Rey memecah keheningan sembari menyodok bola putih.“Pemenang se
Musik waltz mengalun lembut di seluruh penjuru ballroom, namun bagi Aruna, melodi itu terasa seperti dengungan yang jauh.Rey menuntunnya ke tengah lantai dansa, meletakkan tangannya dengan posesif di pinggang bawah Aruna, tepat di batas gaun backless-nya yang terbuka.Sentuhan Rey terasa asing, namun Aruna memaksakan diri untuk tetap tegak. Dia ingin Max melihat bahwa dia bukan sekadar properti kantor yang bisa diabaikan.Dari sudut matanya, Aruna melihat Max. Pria itu berdiri kaku bahkan mengabaikan teman kencannya yang sedang berbicara. Tatapan Max menghunus tajam ke arah tangan Rey yang mengusap punggung mulus Aruna.Kesabaran Max mencapai batasnya saat Rey menunduk dan membisikkan sesuatu yang membuat Aruna sedikit tersipu. Tanpa memedulikan etika sosial, Max melangkah lebar membelah kerumunan.Set!Sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangan Aruna dengan kasar, memutuskan kontak antara Aruna dan Rey.“Cukup dansanya,” suara Max terdengar seperti geraman rendah.Rey mengerut
Di dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.“Berapa banyak wanita matre
Pagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.“Tuan Bastian
Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa berbeda. Suara tawa yang keras dan aroma cerutu mahal yang samar mulai menyeruak di lorong-lorong kaku Kendrick Corp.Aruna, dengan mata yang sedikit sembap karena hanya tidur tiga jam, berusaha tetap tegap saat menyusun materi presentasi untuk rapat dewan direksi.Pintu lift terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu terang tanpa dasi melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir provokatif.Reynard “Rey” Mackenzie, sang Direktur yang baru saja kembali dari ekspedisi bisnisnya di Eropa, berjalan melewati meja Aruna.Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala.“Wah, wah. Max benar-benar menyembunyikan mawar kecil yang sangat cantik di sini selama aku pergi,” gumam Rey dengan seringai nakal yang tidak disembunyikan.Aruna segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Reynard. Selamat datang kembali. Saya Aruna, sekretaris pribadi Tuan Max.”“Terima kasih, M







