Accueil / Romansa / Tiga Penguasa yang Menggoda / 5. Mulai Menunjukkan Kecemburuan?

Share

5. Mulai Menunjukkan Kecemburuan?

Auteur: Sintiia01
last update Date de publication: 2026-02-01 11:30:51

Pagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.

Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.

Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.

Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.

“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.

Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.

“Tuan Bastian ... ini sangat indah. Terima kasih banyak atas perhatian Anda.”

Tepat pada saat itu, Max keluar dari ruangannya untuk menuju lift eksekutif. Langkahnya terhenti sejenak melihat Aruna yang sedang memeluk buket bunga besar pemberian Bastian.

Rahang Max mengeras, namun dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menekan tombol lift dengan kasar.

“Aruna, bawa berkas rapat kemarin. Kita harus ke Departemen Keuangan sekarang,” perintah Max tanpa menoleh dengan nada sedingin es.

Aruna segera meletakkan bunga itu dan meraih dokumennya. Dia sempat melirik Bastian yang memberikan kedipan penuh kemenangan kepadanya sebelum dia berlari kecil menyusul Max masuk ke dalam lift.

Pintu lift tertutup rapat. Keheningan di dalam kotak logam berlapis emas itu terasa begitu mencekam. Indikator lantai bergerak turun, namun suasana di dalamnya terasa seolah oksigen perlahan menghilang.

Max berdiri tegak di depan, sementara Aruna berdiri di pojok belakang dengan kepala tertunduk.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, tangan Max bergerak ke arah panel kontrol dan menekan tombol Emergency Stop.

JEDUG!

Lift berhenti dengan sentakan keras dan membuat Aruna hampir terjatuh. Lampu darurat menyala redup, menciptakan suasana yang remang-remang dan sangat intim.

“Tuan Max? Apa yang terjadi? Mengapa Anda menghentikan liftnya?” tanya Aruna dengan suara yang sangat kecil dan bergetar.

Max tidak menjawab. Dia berbalik perlahan, hingga aura yang terpancar dari tubuhnya bukan lagi sekadar kaku, melainkan kemarahan yang meluap-luap.’

Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga Aruna terpaksa mundur dan punggungnya menghantam dinding lift yang dingin.

Max tidak berhenti. Dia terus maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aruna. Lalu meletakkan kedua tangannya di dinding lift, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Aruna, mengunci wanita itu sepenuhnya.

“Tuan ... tolong, biarkan saya keluar,” bisik Aruna.

Dia bisa merasakan panas tubuh Max dan aroma parfumnya yang kini terasa begitu mengintimidasi.

Max merunduk seraya menatap Aruna dengan mata yang berkilat tajam. “Berapa hargamu, Aruna?” tanya Max dengan suara rendah yang menggetarkan dada Aruna.

Aruna tersentak. “Apa ... apa maksud Anda, Tuan?”

“Pertama Bastian dengan makan siangnya, lalu Reynard dengan sentuhan menjijikkannya di bawah meja, dan sekarang bunga lili sialan itu,” Max mendesis dan wajahnya semakin dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

Aruna bahkan bisa merasakan napas Max yang memburu di permukaan kulitnya.

Aruna menatap mata Max dengan air mata yang mulai menggenang. Dia terlihat sangat lemah dan rapuh di bawah kurungan lengan Max.

“Saya hanya ... saya hanya butuh bantuan, Tuan. Anda tidak pernah mau mendengarkan saya dan menganggap bantuan saya tidak penting dari semua pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

Max tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar menyakitkan.

Dia kemudian menekan tubuhnya lebih dekat hingga membuat Aruna merasa benar-benar terhimpit. Tangannya yang besar meremas bahu Aruna dengan lembut namun tegas.

“Apa kau begitu putus asa sampai menerima bunga dari semua pria di kantor ini?” bisik Max tepat di depan bibir Aruna, suaranya sarat akan kecemburuan yang dia sangkal dengan kemarahan.

“Atau kau memang sengaja menjual kelemahanmu pada mereka agar kau bisa mendapatkan apa yang kau mau?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   97. Hari Bahagia

    Aula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   96. Kabar Mengejutkan

    Kesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   95. Melakukan hal yang Mengejutkan

    Malam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   94. Kebebasan Johan

    Gedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   93. Memberimu Kepuasan

    “Max... ahh, pelan sedikit,” rintih Aruna saat tangan kasar Max meremas payudaranya dengan tenaga yang tidak main-main.“Tidak ada kata pelan untuk malam ini. Tekanan di kepalaku harus keluar, dan hanya kau yang bisa menampungnya,” sahut Max.Ia menunduk, melahap puting Aruna yang sudah menegang keras, menyesapnya dengan isapan yang sangat kuat hingga suara cecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu.“Akhh! Ssshh... pelan, Max! Itu sakit!” Aruna memekik, kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya melengkung indah saat rasa perih dan nikmat menyatu di dadanya.Max tidak memedulikan protes itu. Ia justru menggigit kecil puncak payudara Aruna, membuat wanita itu mengerang semakin keras. Tangan Max bergerak turun, membelah pangkal paha Aruna dengan paksa. Ia tidak butuh pemanasan yang lembut; baginya, Aruna adalah medan pertempuran yang harus ia taklukkan setiap malam.“Kau sudah sangat basah, Aruna. Jangan berpura-pura kau tidak menginginkan kebrutalanku,” bisik Max serak.Ia membebas

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   92. Max yang Tidak Pernah Puas

    “Tonny, siapkan draf gugatan balik. Begitu hakim mengetok palu bahwa Johan tidak bersalah, aku ingin surat perintah penangkapan untuk Surya dan Robert langsung keluar di jam yang sama. Aku ingin mereka keluar dari ruang sidang dengan tangan terborgol.”Tonny mengangguk mantap. “Instruksi diterima, Tuan. Semua dokumen sudah siap diserahkan ke pengadilan besok pagi.”Rapat itu berlanjut selama dua jam berikutnya, membahas setiap detail teknis hukum yang membuat kepala Aruna pening. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Max menunjukkan bahwa pria ini telah memikirkan setiap kemungkinan. Ia bukan sekadar pengusaha kaya; ia adalah jenderal perang yang sedang menyusun strategi pemusnahan musuh-musuhnya.Setelah keluar dari kantor Tonny, Max membawa Aruna kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini ada ketegangan yang berbeda—ketegangan penantian.“Max,” panggil Aruna saat mobil mulai bergerak.“Hmm?”“Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau mempertaruhka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status