Home / Romansa / Tiga Penguasa yang Menggoda / 3. Ancaman Nyata Max

Share

3. Ancaman Nyata Max

Author: Sintiia01
last update Huling Na-update: 2026-02-01 11:19:45

Aruna melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Di dalam, Max sedang berdiri membelakangi meja tengah menatap jendela besar.

Suasana ruangan itu terasa beberapa derajat lebih dingin. Tanpa berbalik, Max melemparkan sebuah map tebal ke atas meja kerja hingga menimbulkan suara gedebuk yang keras.

“Tuan Max, saya mohon maaf atas kejadian di lorong tadi. Saya—”

“Aku tidak butuh penjelasan tentang kehidupan sosialmu yang rendah, Aruna,” potong Max lalu membalikkan tubuhnya dan menatap wanita itu dengan tatapan yang seolah menusuk kulit Aruna.

“Karena kau punya banyak waktu luang untuk bersantai dengan General Manager, artinya beban kerjamu terlalu ringan. Audit seluruh laporan keuangan tahun lalu dari anak perusahaan di distrik Utara. Aku ingin semuanya selesai besok pagi pukul tujuh.”

Aruna terbelalak mendengarnya. “Besok pagi? Tapi Tuan, itu ribuan halaman. Saya harus memeriksanya secara manual untuk validasi data—"

“Apakah aku terlihat sedang bercanda?” Max mendekat dan mengikis jarak hingga Aruna harus mendongak untuk menatap wajahnya yang kaku. “Jika kau gagal, lupakan tentang kenaikan gaji atau bonus tambahan yang kau dambakan itu!”

Aruna menelan pahitnya kenyataan. Kata 'bonus' adalah kelemahannya. Dia tidak punya pilihan selain menunduk dalam. “Baik, Tuan. Saya mengerti.”

**

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Lantai 50 sudah sunyi senyap; hanya suara detak jam dinding dan gemeretak jemari Aruna di atas keyboard yang terdengar.

Lampu ruangan hanya menyala di area meja kerjanya, menciptakan lingkaran cahaya redup di tengah kegelapan kantor yang luas.

Punggung Aruna terasa kaku, dan matanya mulai perih menatap angka-angka yang seolah menari di layar monitor.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur mendekat. Aruna menoleh kecil, mendapati Max keluar dari ruangannya tanpa mengenakan jas, lengan kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, menonjolkan urat-urat di lengan bawahnya.

Max tidak melewatinya. Pria itu justru berhenti tepat di belakang kursi Aruna.

Aruna bisa merasakan hawa panas dari tubuh Max yang berada sangat dekat di belakang punggungnya.

Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, parfum yang satu tahun ini hanya dia cium dari kejauhan kini menyerbu indra penciumannya hingga membuat fokusnya buyar seketika.

“Halaman empat puluh dua. Grafik efisiensi operasionalmu salah,” suara berat Max terdengar tepat di atas kepalanya.

“Maaf, Tuan, saya akan segera memperbaikinya,” bisik Aruna gugup.

Jemarinya yang gemetar mencoba menggerakkan mouse, namun karena kelelahan, kursornya justru bergerak liar.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar yang hangat mendarat di atas tangan Aruna yang sedang memegang mouse.

Aruna tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tangan Max begitu besar, membungkus tangan mungil Aruna sepenuhnya.

Kulit pria itu terasa kasar namun memberikan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke jantung Aruna.

Max tidak sedang menggoda, sebab gerakannya sangat teknis yang mengarahkan kursor untuk memperbaiki titik koordinat pada grafik di layar.

Namun bagi Aruna, kedekatan ini adalah siksaan. Dada Max nyaris bersentuhan dengan bahunya.

Aruna bisa mendengar helaan napas Max yang teratur di dekat telinganya. Dia merasa sangat kecil, sangat lemah di bawah bayang-bayang pria ini.

“Fokus, Aruna. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke tempat lain saat bekerja denganku,” ucap Max pelan, namun nadanya sarat akan penekanan.

Setelah grafik itu selesai diperbaiki, Max tidak langsung melepaskan tangannya. Dia justru sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke samping kepala Aruna.

Ujung hidungnya nyaris menyentuh helai rambut Aruna yang terlepas dari sanggulnya.

“Aku tahu apa yang Bastian tawarkan padamu tadi siang,” bisik Max dan suaranya kini terdengar seperti desisan yang berbahaya di telinga Aruna.

Aruna memejamkan mata, merasakan bulu kuduknya meremang. “Tuan Bastian hanya—"

“Dengar baik-baik,” potong Max. Suaranya mendingin, kembali ke nada otoriter yang biasa, namun ada sedikit getaran posesif yang tak terdefinisikan.

“Jangan biarkan Bastian mengganggumu lagi, atau kau akan kehilangan bonusmu dan mungkin juga pekerjaanmu. Kau adalah sekretarisku, Aruna. Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali atas nasibmu.”

Max melepaskan tangannya dan berdiri tegak kembali, meninggalkan Aruna yang terduduk lemas dengan jantung yang berdegup kencang.

Pria itu melangkah pergi menuju lift tanpa menoleh lagi, membiarkan Aruna tenggelam dalam keheningan malam yang mendadak terasa lebih mencekam dari sebelumnya.

“Apa itu ancaman untukku? Atau dia hanya sedang … ah, lupakan saja! Mana mungkin singa itu cemburu pada Bastian.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   9. Sangkar di Lantai 50

    Kemarahan Max di ruangan Rey berbuntut pada keputusan tirani yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Kendrick Corp.Atmosfer di lantai eksekutif mendadak membeku, seolah oksigen ditarik paksa dari udara.Sore itu juga, tanpa memedulikan tatapan bingung para staf yang berbisik di balik kubikel, Max memerintahkan petugas keamanan untuk memindahkan meja kerja Aruna.Bukan ke sudut ruangan lain, melainkan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas, megah, dan kedap suara.Suara geseran meja kayu ek itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi privasi Aruna.“Mulai detik ini, meja kerjamu ada di sini,” ucap Max dingin. Suaranya rendah, namun menggelegar di rungu Aruna.Dia menunjuk ke sebuah sudut yang tepat menghadap langsung ke arah meja kebesarannya. Posisi itu strategis; Max hanya perlu mendongak sedikit untuk memantau setiap gerak-gerik, setiap helaan napas, dan setiap huruf yang diketikkan Aruna.“Aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauanku, di mana pria-pria

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   8. Tidak Peduli apa Motifmu

    Cek kosong dari Max masih tergeletak di atas meja, namun ketenangan yang Aruna harapkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, atmosfer di kantor pusat Kendrick Corp berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam.Aruna kini bukan lagi sekadar sekretaris; ia telah menjadi poros di mana tiga pria paling berkuasa di gedung itu saling berbenturan.Akhir pekan itu, perusahaan mengadakan pertemuan informal di sebuah klub olahraga elit di pinggiran Astraea.Aruna diwajibkan hadir untuk mencatat poin-poin kesepakatan bisnis di sela-sela permainan bilyar pribadi antara Max, Bastian, dan Rey.Di dalam ruangan bilyar yang beraroma cerutu dan kayu ek, suasana terasa sangat berat. Max berdiri tegak dengan stik bilyar di tangannya, sementara Rey bersandar santai di tepi meja dengan senyum miringnya.Bastian duduk di sofa kulit, mengamati Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.“Bagaimana kalau kita buat permainan ini lebih menarik?” Rey memecah keheningan sembari menyodok bola putih.“Pemenang se

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   7. Kau adalah Milikku

    Musik waltz mengalun lembut di seluruh penjuru ballroom, namun bagi Aruna, melodi itu terasa seperti dengungan yang jauh.Rey menuntunnya ke tengah lantai dansa, meletakkan tangannya dengan posesif di pinggang bawah Aruna, tepat di batas gaun backless-nya yang terbuka.Sentuhan Rey terasa asing, namun Aruna memaksakan diri untuk tetap tegak. Dia ingin Max melihat bahwa dia bukan sekadar properti kantor yang bisa diabaikan.Dari sudut matanya, Aruna melihat Max. Pria itu berdiri kaku bahkan mengabaikan teman kencannya yang sedang berbicara. Tatapan Max menghunus tajam ke arah tangan Rey yang mengusap punggung mulus Aruna.Kesabaran Max mencapai batasnya saat Rey menunduk dan membisikkan sesuatu yang membuat Aruna sedikit tersipu. Tanpa memedulikan etika sosial, Max melangkah lebar membelah kerumunan.Set!Sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangan Aruna dengan kasar, memutuskan kontak antara Aruna dan Rey.“Cukup dansanya,” suara Max terdengar seperti geraman rendah.Rey mengerut

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   6. Api Cemburu sang CEO

    Di dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.“Berapa banyak wanita matre

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   5. Mulai Menunjukkan Kecemburuan?

    Pagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.“Tuan Bastian

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   4. Masuknya sang Direktur Nakal

    Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa berbeda. Suara tawa yang keras dan aroma cerutu mahal yang samar mulai menyeruak di lorong-lorong kaku Kendrick Corp.Aruna, dengan mata yang sedikit sembap karena hanya tidur tiga jam, berusaha tetap tegap saat menyusun materi presentasi untuk rapat dewan direksi.Pintu lift terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu terang tanpa dasi melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir provokatif.Reynard “Rey” Mackenzie, sang Direktur yang baru saja kembali dari ekspedisi bisnisnya di Eropa, berjalan melewati meja Aruna.Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala.“Wah, wah. Max benar-benar menyembunyikan mawar kecil yang sangat cantik di sini selama aku pergi,” gumam Rey dengan seringai nakal yang tidak disembunyikan.Aruna segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Reynard. Selamat datang kembali. Saya Aruna, sekretaris pribadi Tuan Max.”“Terima kasih, M

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status