เข้าสู่ระบบAruna melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Di dalam, Max sedang berdiri membelakangi meja tengah menatap jendela besar.
Suasana ruangan itu terasa beberapa derajat lebih dingin. Tanpa berbalik, Max melemparkan sebuah map tebal ke atas meja kerja hingga menimbulkan suara gedebuk yang keras.
“Tuan Max, saya mohon maaf atas kejadian di lorong tadi. Saya—”
“Aku tidak butuh penjelasan tentang kehidupan sosialmu yang rendah, Aruna,” potong Max lalu membalikkan tubuhnya dan menatap wanita itu dengan tatapan yang seolah menusuk kulit Aruna.
“Karena kau punya banyak waktu luang untuk bersantai dengan General Manager, artinya beban kerjamu terlalu ringan. Audit seluruh laporan keuangan tahun lalu dari anak perusahaan di distrik Utara. Aku ingin semuanya selesai besok pagi pukul tujuh.”
Aruna terbelalak mendengarnya. “Besok pagi? Tapi Tuan, itu ribuan halaman. Saya harus memeriksanya secara manual untuk validasi data—"
“Apakah aku terlihat sedang bercanda?” Max mendekat dan mengikis jarak hingga Aruna harus mendongak untuk menatap wajahnya yang kaku. “Jika kau gagal, lupakan tentang kenaikan gaji atau bonus tambahan yang kau dambakan itu!”
Aruna menelan pahitnya kenyataan. Kata 'bonus' adalah kelemahannya. Dia tidak punya pilihan selain menunduk dalam. “Baik, Tuan. Saya mengerti.”
**
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Lantai 50 sudah sunyi senyap; hanya suara detak jam dinding dan gemeretak jemari Aruna di atas keyboard yang terdengar.
Lampu ruangan hanya menyala di area meja kerjanya, menciptakan lingkaran cahaya redup di tengah kegelapan kantor yang luas.
Punggung Aruna terasa kaku, dan matanya mulai perih menatap angka-angka yang seolah menari di layar monitor.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur mendekat. Aruna menoleh kecil, mendapati Max keluar dari ruangannya tanpa mengenakan jas, lengan kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, menonjolkan urat-urat di lengan bawahnya.
Max tidak melewatinya. Pria itu justru berhenti tepat di belakang kursi Aruna.
Aruna bisa merasakan hawa panas dari tubuh Max yang berada sangat dekat di belakang punggungnya.
Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, parfum yang satu tahun ini hanya dia cium dari kejauhan kini menyerbu indra penciumannya hingga membuat fokusnya buyar seketika.
“Halaman empat puluh dua. Grafik efisiensi operasionalmu salah,” suara berat Max terdengar tepat di atas kepalanya.
“Maaf, Tuan, saya akan segera memperbaikinya,” bisik Aruna gugup.
Jemarinya yang gemetar mencoba menggerakkan mouse, namun karena kelelahan, kursornya justru bergerak liar.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar yang hangat mendarat di atas tangan Aruna yang sedang memegang mouse.
Aruna tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tangan Max begitu besar, membungkus tangan mungil Aruna sepenuhnya.
Kulit pria itu terasa kasar namun memberikan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke jantung Aruna.
Max tidak sedang menggoda, sebab gerakannya sangat teknis yang mengarahkan kursor untuk memperbaiki titik koordinat pada grafik di layar.
Namun bagi Aruna, kedekatan ini adalah siksaan. Dada Max nyaris bersentuhan dengan bahunya.
Aruna bisa mendengar helaan napas Max yang teratur di dekat telinganya. Dia merasa sangat kecil, sangat lemah di bawah bayang-bayang pria ini.
“Fokus, Aruna. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke tempat lain saat bekerja denganku,” ucap Max pelan, namun nadanya sarat akan penekanan.
Setelah grafik itu selesai diperbaiki, Max tidak langsung melepaskan tangannya. Dia justru sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke samping kepala Aruna.
Ujung hidungnya nyaris menyentuh helai rambut Aruna yang terlepas dari sanggulnya.
“Aku tahu apa yang Bastian tawarkan padamu tadi siang,” bisik Max dan suaranya kini terdengar seperti desisan yang berbahaya di telinga Aruna.
Aruna memejamkan mata, merasakan bulu kuduknya meremang. “Tuan Bastian hanya—"
“Dengar baik-baik,” potong Max. Suaranya mendingin, kembali ke nada otoriter yang biasa, namun ada sedikit getaran posesif yang tak terdefinisikan.
“Jangan biarkan Bastian mengganggumu lagi, atau kau akan kehilangan bonusmu dan mungkin juga pekerjaanmu. Kau adalah sekretarisku, Aruna. Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali atas nasibmu.”
Max melepaskan tangannya dan berdiri tegak kembali, meninggalkan Aruna yang terduduk lemas dengan jantung yang berdegup kencang.
Pria itu melangkah pergi menuju lift tanpa menoleh lagi, membiarkan Aruna tenggelam dalam keheningan malam yang mendadak terasa lebih mencekam dari sebelumnya.
“Apa itu ancaman untukku? Atau dia hanya sedang … ah, lupakan saja! Mana mungkin singa itu cemburu pada Bastian.”
Aula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara
Kesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi
Malam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s
Gedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu
“Max... ahh, pelan sedikit,” rintih Aruna saat tangan kasar Max meremas payudaranya dengan tenaga yang tidak main-main.“Tidak ada kata pelan untuk malam ini. Tekanan di kepalaku harus keluar, dan hanya kau yang bisa menampungnya,” sahut Max.Ia menunduk, melahap puting Aruna yang sudah menegang keras, menyesapnya dengan isapan yang sangat kuat hingga suara cecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu.“Akhh! Ssshh... pelan, Max! Itu sakit!” Aruna memekik, kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya melengkung indah saat rasa perih dan nikmat menyatu di dadanya.Max tidak memedulikan protes itu. Ia justru menggigit kecil puncak payudara Aruna, membuat wanita itu mengerang semakin keras. Tangan Max bergerak turun, membelah pangkal paha Aruna dengan paksa. Ia tidak butuh pemanasan yang lembut; baginya, Aruna adalah medan pertempuran yang harus ia taklukkan setiap malam.“Kau sudah sangat basah, Aruna. Jangan berpura-pura kau tidak menginginkan kebrutalanku,” bisik Max serak.Ia membebas
“Tonny, siapkan draf gugatan balik. Begitu hakim mengetok palu bahwa Johan tidak bersalah, aku ingin surat perintah penangkapan untuk Surya dan Robert langsung keluar di jam yang sama. Aku ingin mereka keluar dari ruang sidang dengan tangan terborgol.”Tonny mengangguk mantap. “Instruksi diterima, Tuan. Semua dokumen sudah siap diserahkan ke pengadilan besok pagi.”Rapat itu berlanjut selama dua jam berikutnya, membahas setiap detail teknis hukum yang membuat kepala Aruna pening. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Max menunjukkan bahwa pria ini telah memikirkan setiap kemungkinan. Ia bukan sekadar pengusaha kaya; ia adalah jenderal perang yang sedang menyusun strategi pemusnahan musuh-musuhnya.Setelah keluar dari kantor Tonny, Max membawa Aruna kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini ada ketegangan yang berbeda—ketegangan penantian.“Max,” panggil Aruna saat mobil mulai bergerak.“Hmm?”“Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau mempertaruhka







