LOGINAroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di depan cermin besar, namun fokusnya terpecah saat perutnya meronta minta diisi."Pasti Renata sengaja membuat sarapan sandwich untukku," gumamnya dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.Julian melangkah keluar, menuju ruang makan yang bersinggungan langsung dengan dapur. Ia mengambil posisi duduk di kursi makan yang menghadap area pantry. Di sana, Renata tampak sibuk membelakanginya, bergerak lincah di antara peralatan masak tanpa menyadari kehadiran sang suami yang tengah memperhatikannya.Namun, ada sesuatu yang menghentikan napas Julian sejenak. Ada yang berbeda.Wanita itu bukan lagi Renata yang ia kenal di awal pernikahan mereka. Renata yang pemalu, pendiam dan bersahaja. Pagi ini,
Renata terbangun sebelum alarm weeker berbunyi. Ia hendak beranjak, tapi perhatiannya terpusat pada Julian. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika ia menatap Julian yang masih terlelap di sampingnya. Dalam kondisi tidur, wajah suaminya itu tampak lebih manusiawi. Garis-garis keras di rahangnya sedikit melunak. Sehingga wanita manapun akan tertipu dengan sisi iblisnya yang tersembunyi dibalik wajahnya yang tampan. Renata lalu bangkit dari ranjang dengan gerakan seringan bulu, akan tetapi pergelangan tangannya tertahan. Ia menoleh dengan alis terangkat. “Julian?” Pria itu menatapnya dengan sesuatu yang Renata sendiri tidak dapar membaca maksudnya dan biasanya Renata akan merasa kecil di hadapannya. Namun kali ini tidak, setelah ia tahu bahwa Julian juga termasuk menjadi penyebab kematian ibunya. “Kau terus memandangiku sejak tadi,” ucap Julian dengan terus menatap Renata sangat intens.“Percaya diri sekali kau. Jadi … memang kau sudah bangun sejak tadi dan hanya pura-pura tidur?” Ren
Perlahan seperti maling, Renata masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia menyalakan keran air agar suaranya tersamar, lalu mulai memasukkan kode rekening yang diberikan Arthur.090944…Layar ponsel itu berkedip, menampilkan sebuah angka yang membuat napas Renata tercekat. Sembilan digit dollar Amerika. Itu bukan sekadar uang korupsi. Tapi itu adalah dana gelap yang dikumpulkan selama tiga dekade. Namun, ada sesuatu yang lebih menarik di dalam menu transaksi terakhir.Ada sebuah transfer besar yang dilakukan dua minggu lalu tepat sebelum pernikahan mereka—ke sebuah yayasan medis di Swiss. Nama pengirimnya bukan Henry. Bukan pula Arthur.Nama pengirimnya adalah Julian Cooper. Deg! Jantung Renata seolah berhenti. Julian telah memindahkan uang dari rekening rahasia ayahnya jauh sebelum pernikahan ini terjadi. "Jahanam kau, Julian! Selama ini kau justru membohongiku, seolah kau pihak paling benar dan yang lain salah!" Berarti, Julian sudah memiliki kendali atas harta Henry sejak la
Sirine polisi kini meraung tepat di bawah gedung, lampu biru dan merahnya memantul di kaca-kaca jendela kantor Arthur, menciptakan ilusi visual yang kacau.Di dalam ruangan, bau mesiu masih menggantung, namun kini bercampur dengan aroma amis darah yang segar. Renata tetap dalam pelukan Julian, kepalanya bersandar di dada pria itu, mendengarkan detak jantung Julian yang sangat stabil. Bahkan terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja melepaskan tembakan.Julian memang ahlinya bersandiwara. Seseorang terdekat pun atau keluarga, bahkan tidak akan menyadari kalau pria itu banyak menyimpan rahasia besar karena ia terlalu rapi menyembunyikan sesuatu. Pantas saja dia menjadi Politikus, memang kelicikan diperlukan untuk profesi itu. Namun satu hal yang membuat Renata tidak bisa sepenuhnya tulus pada suaminya itu. Pesan morse dari Arthur, soal Julian yang berencana menjatuhkan Henry Doe itu masih terngiang-ngiang di kepalanya seperti dengung yang menyakitkan. Jika itu benar, maka pernikah
"Apa ini?" Di tangan kiri Renata, botol kecil berisi cairan bening itu berkilauan tertimpa cahaya lampu yang berpijar. Ia menatap Julian, lalu menatap Devan yang tampak gemetar karena amarah dan syok, dan terakhir pada Arthur yang kini tersenyum sinis meski wajahnya pucat karena kehilangan darah.Julian kemudian menatap Renata. "Buku itu... ibumu menulisnya karena dia tahu Doe adalah monster. Ayahku dibunuh karena dia menolak membantu ayahmu mencuci uang hasil korupsi yang kau baca di laporan itu. Aku tidak datang untuk membunuhmu, Renata. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku, dan itu termasuk dirimu!" "Dengan menjadikanku umpan?" Renata tertawa, sebuah tawa pahit yang menyayat hati. "Kau membiarkan Ayah membawaku, kau membiarkan Devan menculikku, kau membiarkan Arthur menyentuhku..."Hanya agar mereka semua keluar dari lubang persembunyiannya? Kau menggunakan tubuhku sebagai umpan pancing, Julian!""Aku melindungimu dari jauh!" Julian membela di
Suara tembakan itu merobek kesunyian ruangan penthouse Devan yang mewah, memantul di antara dinding kaca dan marmer, lalu berakhir dengan denting selongsong peluru yang jatuh ke lantai. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Bau mesiu yang menyengat memenuhi indra penciuman ketiga pria itu. Terasa amat mencekik paru-paru yang sudah sesak oleh ketakutan.Bukan Julian yang tertembak. Bukan pula Devan. Lalu siapa? Arthur berdiri mematung dengan pistol di tangan, namun bahu kanannya bersimbah darah. Julian telah bergerak lebih cepat. Refleks seorang pria yang terbiasa hidup di antara bayang-bayang maut telah menyelamatkannya. Julian melepaskan tembakan presisi yang melumpuhkan lengan Arthur sebelum pria itu sempat menarik pelatuk ke arahnya."Kau pikir aku tidak tahu kau menyembunyikan senjata cadangan di balik jasmu, Arthur?" suara Julian terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman singa sambil ia tidak menurunkan senjatanya. Moncong pistolnya kini beralih dari Devan ke arah Arthur
Julian tidak bertanya lagi pada Renata. Diamnya pria itu jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarahnya. Rahangnya yang mengeras dan deru mesin mobil adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang kabin. Mobil mewah yang dikendarainya itu membelah kesunyian malam London dengan kecepatan yang nyari
Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancur
"Siapa di sana?" tanyanya dengan degup jantung cepat.Tidak ada jawaban, bulu kuduk Renata meremang dan ia seketika merasa cemas seolah suatu hal buruk akan terjadi. Ia lalu berbalik dengan cepat dan seketika itu juga, seluruh keberaniannya runtuh.Mata Renata membelalak, napasnya tertahan. Di sana
"Aku tidak akan lupa kalau hari ini adalah Rabu." Renata mengatakan itu dengan gelisah, wajahnya tampak kusut, rambut hitamnya yang terurai panjang seperti tinta tumpah di atas ranjang. Pagi itu tak terasa sejuk seperti biasanya, awal dari semangat hari justru kini membuatnya malas beranjak ke ma







