LOGINJulian tidak bertanya lagi pada Renata. Diamnya pria itu jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarahnya. Rahangnya yang mengeras dan deru mesin mobil adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang kabin. Mobil mewah yang dikendarainya itu membelah kesunyian malam London dengan kecepatan yang nyaris membahayakan. Di kursi penumpang, Renata meringkuk. Ia membungkus tubuhnya dengan jas milik Julian yang aromanya biasanya menenangkan. Namun kini justru terasa seperti beban berat yang mengingatkannya pada kepemilikan tanda merah di tubuhnya. ‘Aku jijik melihatnya! Aku menyesal. Seandainya saja, waktu itu bisa terulang. Aku tidak akan pernah pergi ke toilet sendirian.’Renata menahan sesak dalam dadanya. Ingin merobek kulitnya sendiri ketika isak tangisnya telah reda, berganti dengan tatapan kosong saat ia terpaku pada lampu-lampu jalan di luar jendela kaca mobil. ‘Siapa sebenarnya bajingan yang telah menyentuh Renata?’ Julian menatap Renata sesaat dengan miris. Dalam benak Julian, kep
Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancuran di dalam dirinya. Tangisannya telah habis, menyisakan isak tertahan yang menyayat hati. Devan berdiri di atasnya, menatap ke bawah dengan tatapan yang campuran antara kepuasan gelap sekaligus kemarahan yang belum sepenuhnya padam. Ia merapikan pakaiannya sendiri dengan tenang, seolah-olah tindakannya barusan hanyalah sebuah aktivitas biasa layaknya berolahraga. “Akhirnya, aku yang menjadi pertama buatmu baby girl.” Tidak ada yang dapat Renata dapat katakan untuk menyahuti bajingan tengik itu, kini tenggorokannya terasa kering dan perih. Ia seperti tubuh yang kehilangan jiwanya semenjak Devan merenggut apa yang ia jaga dengan paksa. "Ingat ini, Renata," suara pria itu kembali menginter
"Siapa di sana?" tanyanya dengan degup jantung cepat.Tidak ada jawaban, bulu kuduk Renata meremang dan ia seketika merasa cemas seolah suatu hal buruk akan terjadi. Ia lalu berbalik dengan cepat dan seketika itu juga, seluruh keberaniannya runtuh.Mata Renata membelalak, napasnya tertahan. Di sana, bersandar pada pintu yang baru saja ia kunci, berdiri Devan dengan senyum membahayakan. Pria itu masih mengenakan setelan hitamnya, namun dasinya sudah longgar. Matanya merah, bukan karena alkohol, melainkan karena obsesi yang sudah mencapai titik didih."Kau!" sebut Renata seolah melihat hantu yang menyeramkan. Tubuhnya kaku, suaranya tertahan di tenggorokan ketika ingin berteriak. Bahkan untuk lari dari sana, mendadak kemampuan itu lenyap, kakinya tak dapat digerakkan dan menancap di lantai dengan kuat. "Kau pikir kau bisa lari ke Kensington dan menghilang begitu saja dariku dengan mudah, Renata?" suara Devan rendah, serak dan penuh ancaman.Renata mundur hingga punggungnya menabrak
"Aku tidak akan lupa kalau hari ini adalah Rabu." Renata mengatakan itu dengan gelisah, wajahnya tampak kusut, rambut hitamnya yang terurai panjang seperti tinta tumpah di atas ranjang. Pagi itu tak terasa sejuk seperti biasanya, awal dari semangat hari justru kini membuatnya malas beranjak ke manapun. Julian mungkin sedang menunggunya di meja makan. Tapi pria kasar itu tidak akan peduli juga padanya kalau tak datang. Keberadaannya tak dianggap sama sekali, namun jika Renata melakukan sesuatu yang tidak tahu salahnya di mana. Pria itu akan memperingatinya dengan keras seperti narapidana. Tok, tok! "Kau sudah bangun?" suara bariton Julian di luar pintu menarik tubuh Renata yang terlentang menjadi duduk tegak. "Ah, iya. Sebentar aku keluar." Renata sampai terseok-seok jalan karena terburu membuka pintu, setiap hari ia mengunci kamarnya agar siapapun tidak bisa masuk. "Pagi," sapanya begitu melihat Julian yang telah rapi seperti biasa. Ya, mana pernah Renata melihat Julia
“Renata, kita sudah sampai di rumah pinggir kota.”Tidak ada sahutan, Arthur yang memegang kemudi lalu menoleh ke jok sebelah. Namun ia justru mendapati wanita di sebelahnya itu masih bergeming dengan pandangan kosong lurus ke depan jalanan. Arthur mencengkeram setir. “Renata jadi seperti ini pasti karena Julian! Apa yang sebenarnya dikatakan pria itu saat menelepon tadi?!” Lalu ia mencoba memanggil Renata kembali. Ia mengulurkan tangan kirinya yang berhenti di bahu wanita itu lalu membuat usapan ringan yang tak disangka punya efek seperti kejut listrik. “Sayang.”Tubuh Renata tak hanya berjengit sebagai respon yang refleks. Wanita itu bahkan menghindar dengan gerakan menyamping, hingga jari Arthur di bahunya terlepas.Renata membulatkan manik-manik coklatnya. “A-apa yang kau lakukan Paman?” tanyanya sebagai bentuk perlindungan diri sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tangannya yang menggantung di udara lalu ditarik, Arthur kembali duduk di kemudi dengan bersikap tenang. “A
Renata menggeliat lepas dari pelukan Arthur begitu ia merasa hal yang dilakukannya adalah salah. Sadar, Renata. Arthur itu paman tirimu. Kau sudah menikah, walau pernikahanmu hanya sebatas bisnis politik. Jangan terlalu jauh melangkah."Kenapa?" Arthur merasakan batasan yang dibuat Renata untuknya. "Aku ingin pulang saja sekarang." Renata dengan cepat membelakangi pria itu. Sebelum mengayunkan kakinya meninggalkan Arthur di dekat bangku taman. Namun Arthur menyusulnya lebih cepat, menghadang kepergian Renata dengan tatapan kecewa yang membuat wanita itu menyadarinya."Paman ... biarkan aku pergi."Arthur mengerutkan dahinya mendengar nada sopan yang Renata ucapkan. "Aku sudah bilang padamu untuk memanggil namaku saja.""Tapi itu tidak pantas, Paman. Kau ... saudaranya Sandra, Ibu tiriku." Kalimat itu seperti pagar teralis yang dipasang tinggi. Sekaligus mempertegas status Renata, bahwa ia tidak mau diganggu lagi olehnya atau dia juga kecewa padanya karena pengakuan Julian waktu it







