공유

Bab 10. Digilir

last update 게시일: 2026-03-07 15:01:56
"Aku punya tawaran yang lebih menarik darimu, Tuan Cooper," ucap Renata, suaranya kini tenang, hampir menggoda ketika turun sejenak ke bahunya yang masih dicengkeram oleh Julian.

"Katakan."

Julian melepas tangannya sambil memperhatikan posisi duduk Renata yang menyamping, menyilangkan kaki dengan santai. Sangat menyimpang dengan ketakutannya tadi.

Detik berikutnya, Julian malah mengangkat alisnya melihat Renata tiba-tiba meletakkan tangannya di dadanya—merasakan detak jantung pria itu ya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   59.

    "Tuan, kita harus kembali hari ini ke London. Besok perwakilan dari kementrian luar negeri akan menemui Anda terkait pemilu yang akan datang." Namun Julian hanya diam saja sambil menyesap rokoknya berdiri di balkon. Matanya tak beralih menatap ke bangunan rumah-rumah tua di sekitar hotel kecil - hotel melati tempatnya menginap. Salah satu rumah itu mirip dengan rumah Renata, yang membuat Julian terus teringat istrinya itu. Ia membayangkan, di salah satu kamar itu. Ia sedang berada di ranjang memeluk Renata setelah berolahraga ekstrem. Membahas perencanaan soal anak, lalu bertengkar manis berapa jumlahnya. Ia ingin anak sebelas, alhasil Renata ngambek dan hal itu memicu senyum tipis di bibir Julian. "Tuan," panggil Jun sekali lagi, kali ini lebih keras karena Julian tak merespon. "Apakah aku terlalu jelek sampai Renata menolakku?" Malah Julian menyahut begini. Jun menaikkan alisnya. Sudah ia duga kalau hati bosnya tertinggal di rumah Ruth. "Tuan sangat tampan. Apalagi

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   58.

    "Renata," mulai Nate. Suaranya ragu, namun tegas. "Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu. Ya, aku cuma tetangga yang membantu membereskan rumput." "Aha, itu benar." Renata menatap Nate balik dengan senyum manis yang membuat pria itu semakin berdebar duduk di sampingnya. "Tapi kau juga teman masa kecilku, Nate." Kalimat Renata yang terakhir memicu tawa ringan Nate. "Oke. Aku tidak akan mengganggumu, silakan teruskan bicaramu," kata Renata sengaja menggodanya. Ia suka iseng kadang-kadang. Nate berdeham dulu karena ia merasa canggung. Gara-gara perkataannya terputus, kini ia harus mengulanginya lagi. Sebelumnya ia menarik napas lebih dulu. "Begini... Jadi aku sudah lama memperhatikanmu, Rene. Bukan sebagai putri dari seorang walikota, atau dari istri seorang politikus terkemuka," lanjut Nate yang tak disangka ketika membahas soal Julian, ekspresi wajah wanita itu langsung berubah cemberut. Tapi Nate sengaja tak menjelaskan atau minta maaf, karena menyusun keberaniannya

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   57.

    Hujan deras mengguyur atap rumah batu tua milik Ruth, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek kekacauan di dalam dada Renata. Udara dingin London yang menusuk tulang terasa lebih tajam di desa pegunungan terpencil ini, tempat waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun ketenangan itu hancur berantakan ketika pintu kamar Renata dibuka paksa. Ruth berdiri di ambang pintu, siluetnya tegas diterangi cahaya lampu lorong yang redup. Mata wanita tua itu tajam, menatap cucunya yang masih gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur aduk. Julian baru saja pergi meninggalkan rumah itu. Mobil hitamnya menghilang di balik kabut tebal jalanan berkelok, membawa serta pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi penjara emas bagi Renata. “Kenapa hanya mengintip sayang?” tanya Ruth dengan suara datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan saat memperhatikan tingkah kikuk Renata. “Mm, itu ….”“Harusnya kau mengantarkan dia.”Renata menelan l

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   56. Pergi

    Tepat setelah menutup pintu dengan sikunya, Julian baru menurunkan Renata di kamar. Renata langsung waspada, langkahnya terus mundur karena hanya ia berdua di kamar itu dengan Julian. “Apakah kau sudah tahu kabar terakhir soal Henry?” Julian menarik tangan Renata, menariknya hingga tubuh wanita itu membentur tubuhnya yang ia peluk dengan erat. Renata mendongak. “Kabar soal Henry yang dinyatakan bersalah atas dakwaan kejahatannya itu?”“Kau sudah tahu rupanya?” Julian mengerutkan kening. Ia menunduk, semakin menyelami kedua mata Renata-mencari kesungguhan perkataan wanita itu.Tiga bulan telah berlalu sejak malam ledakan di pulau pribadi Julian. Renata yang kini tinggal di rumah kayu bersama Ruth, memang hidupnya jauh berbeda saat bersama pria itu. Lebih sederhana, tapi jauh dari mimpi buruk.Namun kenyataan tidak membiarkannya begitu saja. Setiap pagi, sebelum Ruth terbangun. Renata selalu memeriksa berita internasional di laptop kecilnya melalui jaringan satelit rahasia. Henry

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   55. Mencuri Perhatian

    Sesaat Julian terdiam mendengar pengakuan Ruth soal itu. Ia tak menyangka, ternyata wanita tua yang terlihat polos dan tak tahu apa-apa selama ini justru menjadi pengamat hubungannya dengan Renata.Julian mendesahkan napas, tidak panjang. Melihat Ruth yang kemudian duduk di kursi goyang model klasik dari anyaman, wanita itu memejamkan mata, tenang. Seperti memang sedang menunggu kesiapan dirinya untuk menjawab. "Renata itu punya Ayah kandung, tapi seperti yatim. Untung waktu itu, setelah ibunya tiada. Aku langsung mengambil alih dia, jika tidak? Dia bisa berakhir di panti asuhan."Tanpa sadar, kedua tangan Julian yang berada di sisi tubuhnya itu mengepal kuat. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak merah padam mengingat kejahatan yang dilakukan Henry. Hewan saja masih sayang pada anaknya, tapi Henry justru mencampakkan Renata dan hanya mengambil keuntungan darinya saat dia butuh.Seketika Julian terkenang masa kecilnya yang tak jauh berbeda dengan Renata. Jika Renata punya Ibu ya

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   54. Sisi Rahasia

    Julian masih belum mendapatkan jawaban dari Renata yang tampak syok. Tubuhnya membeku, diam dengan perasaan campur aduk ketika dia berusaha mencerna pengakuan Julian yang seperti hujan meteor jatuh menembus ke jantungnya begitu cepat. Antara mimpi dan kenyataan membaur ke otaknya, ia masih tak percaya apa yang pria itu ucapkan karena selama ini seorang Julian anti dengan wanita.“Rene….”“Ha … ha … ha,” tawa wanita itu dicicil, tersenyum saat menoleh pada Julian yang mengangkat sebelah alisnya. “Apanya yang lucu?” tanya Julian saat pandangannya dan Renata bertemu.“Kau.”“Aku serius soal perasaanku.” Julian keukuh. "Aku sama sekali tidak berbohong. Demi Tuhan, percayalah."“Oh, ya?” sahut Renata enteng kendati dia masih ragu. Dia bahkan sangat percaya diri dengan apa yang dia pikirkan. “Mana mungkin seorang Julian mencintai wanita? Bukankah katamu lebih baik, aku menganggapmu sebagai gay daripada sampai aku tertarik?”Julian mengatupkan mulut. Namun Renata dapat merasakan aura kema

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 36. Sarapan Berbahaya

    Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, real

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 35. Lebih Manis Bibirmu

    Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 28. Putus Asa

    Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancur

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 17. Keberanian Renata

    "Tuan, Nona pertama sudah tiba."Pria yang duduk di kursi membelakangi meja itu langsung memutar kursinya menghadap anak buahnya dengan wajah mengeras."Ralat ucapanmu itu, Oscar! Putriku hanya Alice!"Oscar, tangan kanan Henry itu menunduk karena merasa bersalah. "Iya, Tuan. Maafkan saya."Henry t

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status