LOGIN"Tuan, kita harus kembali hari ini ke London. Besok perwakilan dari kementrian luar negeri akan menemui Anda terkait pemilu yang akan datang." Namun Julian hanya diam saja sambil menyesap rokoknya berdiri di balkon. Matanya tak beralih menatap ke bangunan rumah-rumah tua di sekitar hotel kecil - hotel melati tempatnya menginap. Salah satu rumah itu mirip dengan rumah Renata, yang membuat Julian terus teringat istrinya itu. Ia membayangkan, di salah satu kamar itu. Ia sedang berada di ranjang memeluk Renata setelah berolahraga ekstrem. Membahas perencanaan soal anak, lalu bertengkar manis berapa jumlahnya. Ia ingin anak sebelas, alhasil Renata ngambek dan hal itu memicu senyum tipis di bibir Julian. "Tuan," panggil Jun sekali lagi, kali ini lebih keras karena Julian tak merespon. "Apakah aku terlalu jelek sampai Renata menolakku?" Malah Julian menyahut begini. Jun menaikkan alisnya. Sudah ia duga kalau hati bosnya tertinggal di rumah Ruth. "Tuan sangat tampan. Apalagi
"Renata," mulai Nate. Suaranya ragu, namun tegas. "Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu. Ya, aku cuma tetangga yang membantu membereskan rumput." "Aha, itu benar." Renata menatap Nate balik dengan senyum manis yang membuat pria itu semakin berdebar duduk di sampingnya. "Tapi kau juga teman masa kecilku, Nate." Kalimat Renata yang terakhir memicu tawa ringan Nate. "Oke. Aku tidak akan mengganggumu, silakan teruskan bicaramu," kata Renata sengaja menggodanya. Ia suka iseng kadang-kadang. Nate berdeham dulu karena ia merasa canggung. Gara-gara perkataannya terputus, kini ia harus mengulanginya lagi. Sebelumnya ia menarik napas lebih dulu. "Begini... Jadi aku sudah lama memperhatikanmu, Rene. Bukan sebagai putri dari seorang walikota, atau dari istri seorang politikus terkemuka," lanjut Nate yang tak disangka ketika membahas soal Julian, ekspresi wajah wanita itu langsung berubah cemberut. Tapi Nate sengaja tak menjelaskan atau minta maaf, karena menyusun keberaniannya
Hujan deras mengguyur atap rumah batu tua milik Ruth, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek kekacauan di dalam dada Renata. Udara dingin London yang menusuk tulang terasa lebih tajam di desa pegunungan terpencil ini, tempat waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun ketenangan itu hancur berantakan ketika pintu kamar Renata dibuka paksa. Ruth berdiri di ambang pintu, siluetnya tegas diterangi cahaya lampu lorong yang redup. Mata wanita tua itu tajam, menatap cucunya yang masih gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur aduk. Julian baru saja pergi meninggalkan rumah itu. Mobil hitamnya menghilang di balik kabut tebal jalanan berkelok, membawa serta pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi penjara emas bagi Renata. “Kenapa hanya mengintip sayang?” tanya Ruth dengan suara datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan saat memperhatikan tingkah kikuk Renata. “Mm, itu ….”“Harusnya kau mengantarkan dia.”Renata menelan l
Tepat setelah menutup pintu dengan sikunya, Julian baru menurunkan Renata di kamar. Renata langsung waspada, langkahnya terus mundur karena hanya ia berdua di kamar itu dengan Julian. “Apakah kau sudah tahu kabar terakhir soal Henry?” Julian menarik tangan Renata, menariknya hingga tubuh wanita itu membentur tubuhnya yang ia peluk dengan erat. Renata mendongak. “Kabar soal Henry yang dinyatakan bersalah atas dakwaan kejahatannya itu?”“Kau sudah tahu rupanya?” Julian mengerutkan kening. Ia menunduk, semakin menyelami kedua mata Renata-mencari kesungguhan perkataan wanita itu.Tiga bulan telah berlalu sejak malam ledakan di pulau pribadi Julian. Renata yang kini tinggal di rumah kayu bersama Ruth, memang hidupnya jauh berbeda saat bersama pria itu. Lebih sederhana, tapi jauh dari mimpi buruk.Namun kenyataan tidak membiarkannya begitu saja. Setiap pagi, sebelum Ruth terbangun. Renata selalu memeriksa berita internasional di laptop kecilnya melalui jaringan satelit rahasia. Henry
Sesaat Julian terdiam mendengar pengakuan Ruth soal itu. Ia tak menyangka, ternyata wanita tua yang terlihat polos dan tak tahu apa-apa selama ini justru menjadi pengamat hubungannya dengan Renata.Julian mendesahkan napas, tidak panjang. Melihat Ruth yang kemudian duduk di kursi goyang model klasik dari anyaman, wanita itu memejamkan mata, tenang. Seperti memang sedang menunggu kesiapan dirinya untuk menjawab. "Renata itu punya Ayah kandung, tapi seperti yatim. Untung waktu itu, setelah ibunya tiada. Aku langsung mengambil alih dia, jika tidak? Dia bisa berakhir di panti asuhan."Tanpa sadar, kedua tangan Julian yang berada di sisi tubuhnya itu mengepal kuat. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak merah padam mengingat kejahatan yang dilakukan Henry. Hewan saja masih sayang pada anaknya, tapi Henry justru mencampakkan Renata dan hanya mengambil keuntungan darinya saat dia butuh.Seketika Julian terkenang masa kecilnya yang tak jauh berbeda dengan Renata. Jika Renata punya Ibu ya
Julian masih belum mendapatkan jawaban dari Renata yang tampak syok. Tubuhnya membeku, diam dengan perasaan campur aduk ketika dia berusaha mencerna pengakuan Julian yang seperti hujan meteor jatuh menembus ke jantungnya begitu cepat. Antara mimpi dan kenyataan membaur ke otaknya, ia masih tak percaya apa yang pria itu ucapkan karena selama ini seorang Julian anti dengan wanita.“Rene….”“Ha … ha … ha,” tawa wanita itu dicicil, tersenyum saat menoleh pada Julian yang mengangkat sebelah alisnya. “Apanya yang lucu?” tanya Julian saat pandangannya dan Renata bertemu.“Kau.”“Aku serius soal perasaanku.” Julian keukuh. "Aku sama sekali tidak berbohong. Demi Tuhan, percayalah."“Oh, ya?” sahut Renata enteng kendati dia masih ragu. Dia bahkan sangat percaya diri dengan apa yang dia pikirkan. “Mana mungkin seorang Julian mencintai wanita? Bukankah katamu lebih baik, aku menganggapmu sebagai gay daripada sampai aku tertarik?”Julian mengatupkan mulut. Namun Renata dapat merasakan aura kema
"Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti
Renata berdiri di dermaga yang hancur, memegang botol bening milik ibunya di satu tangan dan pistol di tangan lainnya. Ia harus selalu waspada dengan kejutan dari Henry. Namun deru mesin helikopter terdengar membelah kegelapan menyentaknya dari lamunan sesaat. Dia menyipitkan matanya, melihat seb
Detik merah pada panel digital di dinding itu berkedip dengan ritme yang menyiksa. 00:29... 00:28... Waktu itu terus berjalan seiring tugas malaikat maut yang menunggu hitungan pasti kapan mencabut nyawa. Di sela-selanya, Suara tawa Henry Doe bergema melalui pengeras suara vila yang terdengar
Dua jam kemudian, kapal itu bersandar di sebuah dermaga kayu yang sunyi. Sebuah vila modern berdiri megah di tengah pulau kecil yang dikelilingi pasir putih. Renata tersenyum menatap sekeliling pemandangan itu, sangat indah dan mengagumkan. Ia merasa tempat itu cocok untuk menenangkan diri. Sepi,







