MasukDingin. Itu hal pertama yang Renata rasakan saat tubuhnya menghantam air di Pelabuhan. Airnya pekat, berminyak, dan berbau solar menyengat. Telinganya masih berdenging oleh suara letusan pistol peredam milik Sandra, meski kini suara itu kalah oleh desis air yang memaksa masuk ke telinganya. Bahu kirinya terasa seperti dibakar. Peluru tadi sempat menembus bagian tubuhnya sebelum tubuh Renata tersungkur jatuh ke dalam pelukan dingin laut yang gelap. Di bawah sana, dunia berubah jadi biru tua yang mencekam. Renata mencoba menggerakkan tangan, tapi rasa sakit yang tajam membuatnya lumpuh seketika. Dari kejauhan, cahaya lampu pelabuhan tampak berpendar samar di permukaan, kian lama kian kecil, seolah mengejek tubuhnya yang terus tenggelam. Blazer tebal dan sepatu hak tingginya menariknya makin dalam. 'Apakah ini akhirnya? batin Renata. Saat kesadaran mulai kabur. Setelah semua intrik gila, setelah berlari sana-sini menghindari bahaya, dia malah mati di tangan wanita yang paling ia
"Renata, menjauh dari sana!" teriak Julian, moncong senapannya terkunci tepat di kepala Devan. "Dev, dengar aku! Lepaskan Renata, maka aku akan membujuk Julian untuk mengampunimu!" seru Arthur, berdiri di samping Julian dengan posisi yang ambigu. Devan menyadari dirinya terjebak dalam sandiwara maut. Dengan refleks gila, ia menarik Renata, menempelkan pisau tajam ke leher wanita itu hingga darah menetes. "Jangan mendekat! Aku akan membunuhnya! Aku bersumpah!" Suasana membeku. Tiga pria paling berpengaruh dan berbahaya dalam hidup Renata kini saling mengarahkan senjata, menciptakan segitiga kematian dengan Renata sebagai pusat pusaran badai. "Cukup!" Teriakan Renata menggelegar, menghentikan segala kebisingan. Dengan kekuatan yang tak terduga, ia meronta dari cengkeraman Devan, mendorong pria gila itu hingga terhuyung ke belakang, lalu berdiri tegak di tengah-tengah mereka. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin kekuasaan yang baru saja ia ambil alih. "Kalian
Ujung pisau lipat itu menggores kulit rahang Renata, meninggalkan garis merah tipis yang kontras dengan pucatnya wajah wanita itu. Namun, Renata sama sekali tidak berkedip. Tidak ada getaran ketakutan, tidak ada air mata yang jatuh. Ketenangannya justru membuat Devan merasa tindakannya sia-sia, seperti mengancam patung es yang tak tersentuh api. "Kenapa kau tidak panik? Kenapa kau tidak takut saat besi dingin ini menyentuh kulitmu, Baby?" tanya Devan, suaranya serak oleh kebingungan yang mulai berubah menjadi kemarahan. Renata menatap lurus ke depan, matanya kosong namun tajam bagai silet. "Karena kau... tidak akan berani merusak wajahku." Devan membelalak. Tawa getir meledak dari tenggorokannya, terdengar menjijikkan di dinding gudang yang lembap itu. Renata sudah berubah. Bukan lagi wanita polos yang dulu ia culik dari kediaman Doe, yang gemetar ketakutan dan butuh perlindungan. Wanita di hadapannya kini memiliki aura dingin yang mampu membekukan darah lawan-lawannya. "Benar!
Ponsel milik Julian berdering, suaranya membelah keheningan ruang tamu yang masih menyisakan aroma gairah mereka. Tanpa melepas pandangannya yang tajam dari Renata, tangan pria itu meraih perangkat dari saku celana dan menempelkannya ke telinga."Anda sudah di pengadilan?"Suara Julian datar, namun matanya masih mengunci Renata, seolah memastikan wanita itu tetap miliknya. Namun, detik berikutnya, tatapan itu terputus. Julian berbalik, meninggalkan Renata yang masih terduduk lemas di atas meja, gaunnya tersingkap tak senonoh, napasnya belum sepenuhnya teratur.Mata Renata mendelik. Apa? Dirinya dicampakkan begitu saja setelah dibuatnya terus mendesah dan basah kuyup oleh sentuhan pria itu?"Brengsek kau, Julian!!" Renata mengumpat kesal, menatap langkah lebar pria itu yang menjauh seolah tak pernah terjadi sesuatu yang intim antara mereka berdua. Dingin. Seolah Renata hanya alat pemuas sesaat, bukan mitra dalam permainan berbahaya ini.Renata bangkit dari meja dengan raut masam. Kakin
Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, realitas menampar Renata dengan keras. Saat tangan Julian meremas bokongnya dengan posesif, mata kecokelatannya membelalak. Renata sadar. Ia tidak seharusnya tenggelam dalam cinta atau gairah sesaat ini. Fokusnya haruslah pada tujuan besar, pada permainan politik yang sedang dimainkan, bukan pada kelembutan suami sendiri. Dengan sisa kesadaran yang ada, ia menggigit bibir bawahnya, cukup kuat untuk menghentikan segalanya."Argh!" erang tertahan lolos dari bibir Julian.Ciuman itu terlepas seketika. Renata mendorong dada bidang Julian sekuat tenaga, menciptakan jarak. Tubuh Julian sedikit terpental, kakinya bergeser mundur selangkah. Namun, saat Julian menaikkan pandangan sambil mengusap sudut
Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di depan cermin besar, namun fokusnya terpecah saat perutnya meronta minta diisi."Pasti Renata sengaja membuat sarapan sandwich untukku," gumamnya dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.Julian melangkah keluar, menuju ruang makan yang bersinggungan langsung dengan dapur. Ia mengambil posisi duduk di kursi makan yang menghadap area pantry. Di sana, Renata tampak sibuk membelakanginya, bergerak lincah di antara peralatan masak tanpa menyadari kehadiran sang suami yang tengah memperhatikannya.Namun, ada sesuatu yang menghentikan napas Julian sejenak. Ada yang berbeda.Wanita itu bukan lagi Renata yang ia kenal di awal pernikahan mereka. Renata yang pemalu, pendiam dan bersahaja. Pagi ini,
"Kau mau apa? Membunuhku?"Suara Renata pecah, benar-benar rapuh saat ini karena Ayah yang seharusnya menjadi sandaran justru membencinya. Cairan bening menggantung di pelupuk matanya—sebuah bendungan emosi yang ia tahan mati-matian agar tidak luruh di hadapan pria ini.Ada kesiapan yang mengerikan
"Tuan, Nona pertama sudah tiba."Pria yang duduk di kursi membelakangi meja itu langsung memutar kursinya menghadap anak buahnya dengan wajah mengeras."Ralat ucapanmu itu, Oscar! Putriku hanya Alice!"Oscar, tangan kanan Henry itu menunduk karena merasa bersalah. "Iya, Tuan. Maafkan saya."Henry t
"Itu soal nenekmu," ucap Julian pendek.Renata mengernyit. “Nenekku kenapa?”“Dia menghilang dari rumah sakit, Renata. Seseorang menjemputnya sepuluh menit yang lalu," jelas Julian. Sesaat Renata bergeming, ekspresinya datar. Ia merasa raga wanita itu saja yang di sini, namun jiwanya melayang enta
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua







