Share

Bab 6

Author: Kucing
Ketika Avida terbangun kembali, dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

Glenn berjaga di samping tempat tidurnya. Begitu melihat Avida membuka mata, dia segera menggenggam tangannya. "Maaf, aku terlambat datang. Aku nggak bisa melindungimu ...."

Avida menarik tangannya dan menyela dengan lembut. "Nggak apa-apa."

Selama beberapa hari berikutnya, Glenn membatalkan semua rapat dan tidak pernah beranjak dari kamar rawat Avida.

Dengan canggung, dia belajar menyisir rambutnya, mengganti perban lukanya dengan hati-hati, bahkan memasak bubur sendiri dan menyuapinya suap demi suap.

Avida memandangi sosoknya yang hilir-mudik, sejenak teringat pada masa ketika mereka saling bergantung satu sama lain.

Glenn yang masih remaja berlutut di tengah hujan, memeluknya erat-erat saat dia terguling menuruni lereng. Suaranya tercekat. "Vivi, bertahanlah sebentar lagi ...."

Saat itu, Glenn menggendongnya sejauh lima kilometer. Lututnya terluka parah hingga berdarah-darah, tapi dia tetap memastikan Avida tidak basah kuyup terkena hujan.

Hari ini, Glenn juga merawatnya seperti dulu, tapi dia sudah bukan pemuda yang dulu rela mempertaruhkan nyawa demi Avida.

Pada hari kepulangan dari rumah sakit, hanya tersisa 24 jam lagi sebelum Avida berangkat.

Avida pulang ke vila dan mulai mengemas barang-barangnya.

Dia mengeluarkan sebuah album foto lama. Jari-jarinya mengusap foto-foto yang sudah menguning itu.

Glenn umur 16 tahun berjongkok di balkon, menyiram tanaman di pot dengan hati-hati. Glenn umur 17 tahun memeluk anak kucing yang baru mereka adopsi, bernama "Snowy". Senyuman langka menghiasi sudut bibirnya. Glenn pada hari ulang tahun ke-20, memejamkan mata sambil membuat permohonan di depan kue sederhana yang dibuatkan Avida ....

Saat itu, Avida berusaha sebaik mungkin membantu Glenn yang kehilangan semangat hidup untuk kembali melihat indahnya hidup. Dia menanam tanaman di rumah dan mengadopsi anak kucing, lalu menyerahkan tugas merawat mereka kepadanya.

Akhirnya, Glenn serta tanaman dan kucing itu bisa terus hidup.

Hanya dirinya saja yang tertinggal di masa lalu.

Avida menutup album foto dan lanjut memilah barang-barang.

Daftar keinginan yang mereka tulis bersama yang menyebutkan bahwa mereka ingin berkeliling dunia ketika mereka punya uang. Lalu berbagai hadiah dari Glenn untuknya selama bertahun-tahun, yang setiap barang menyiratkan ketidakpedulian ....

Dia memasang semua barang yang bisa dijual ke situs barang bekas, sedangkan sisanya dimasukkan ke dalam kantong sampah.

Pada hari keberangkatan Avida, Glenn keluar rumah seperti biasa. Tidak sadar sedikit pun bahwa orang yang telah menjadi satu-satunya sandaran dirinya selama sepuluh tahun itu akan segera menghilang selamanya dari hidupnya.

Avida tidak berpamitan padanya. Setelah sarapan dengan tenang, dia menyeret kopernya dan pergi ke rumah kontrakan tempat mereka dulu tinggal.

Saat membuka pintu, debu beterbangan di bawah sinar matahari. Segalanya masih persis sama seperti saat mereka pergi dulu.

Dia mengusap dinding yang sudah pudar. Masih tersisa goresan yang mereka buat saat mengukur tinggi badan bersama. Di ubin dapur, ada noda minyak yang terciprat saat dia mengajari Glenn memasak. Di pagar balkon, catnya terkelupas karena Glenn memanjat keluar tengah malam saat membelikan obat untuknya ....

Setelah Glenn punya uang, hal pertama yang dia lakukan adalah membeli rumah kecil yang bobrok ini.

Namun, Glenn tidak pernah membawanya ke sini lagi.

"Maaf, Anda siapa?"

Suara asing menyela lamunannya.

Avida berbalik dan melihat agen properti berdiri di depan pintu bersama seorang pengepul barang bekas.

"Rumah ini ... mau dijual?" Suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

"Ya." Agen properti mengangguk cepat. "Pak Glenn menandatangani kontraknya minggu lalu. Katanya sudah nggak peduli barang-barang di dalam, jadi suruh kami membuangnya saja."

Avida berdiri diam, lalu tiba-tiba tersenyum.

Ternyata, Glenn memang sudah ingin menghapus masa lalu ini.

Wajar saja, siapa yang mau mengingat masa-masa paling berantakan dalam hidupnya?

"Silakan dibersihkan." Dia menyingkir dan menyaksikan saat orang-orang itu melemparkan barang-barang itu ke dalam karung dengan kasar.

Lampu meja yang digunakan Glenn untuk begadang belajar. Setelan jas pertama yang dia belikan dengan bekerja paruh waktu selama tiga bulan. Penanak nasi bekas yang mereka beli dengan menabung bersama. Bahkan mangkuk pasangan dengan motif kartun ....

Satu per satu, benda-benda yang menyimpan kenangan itu diseret pergi sebagai sampah.

Sama seperti pengorbanannya selama sepuluh tahun ini, ringan tak bernilai, tidak berarti apa-apa.

Setelah agen properti dan pengepul barang rongsokan itu pergi, Avida mengeluarkan ponsel, mengetik perlahan, dan mengirim pesan terakhirnya.

[Glenn, Louisa gadis baik, bahagialah bersamanya. Aku pergi, kudoakan yang terbaik untuk kalian.]

Setelah mengirim pesan itu, dia mematikan ponsel dan menuju bandara tanpa menoleh ke belakang.

Saat pesawat melambung ke langit, Avida menatap kota yang semakin mengecil di luar jendela, dan perlahan menutup matanya.

Pada usia 16 tahun, dia menyelamatkan seorang pemuda yang melompat ke sungai.

Pada usia 26 tahun, dia akhirnya melepas sisi dirinya yang keras kepala itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 24

    Kepala pelayan berjalan ke kamar tidur. Kamar itu sebelumnya terkunci, jadi Avida tidak masuk. Setelah kepala pelayan membukanya, Avida melihat seperti apa keadaan di dalam kamar itu.Seandainya tidak terjadi begitu banyak peristiwa di antaranya, Avida mungkin akan mengira mereka masih berada di masa lalu.Glenn berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat dan tampak jelas. Namun, begitu melihat Avida datang, dia tetap berusaha keras untuk duduk, sambil mengulas senyuman di wajahnya."Vivi, kamu datang."Untunglah, Glenn baik-baik saja. Jika Glenn meninggal karena menyelamatkannya, Avida akan merasa bersalah. Dia tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan menukar nyawa.Dia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Glenn.Sinar matahari menyinari ruangan melalui jendela, terasa hangat. Kepala pelayan sudah pergi entah sejak kapan, hanya tersisa mereka berdua di sudut masa lalu ini."Lihat, Vivi, aku sudah mengembalikan semuanya seperti semula. Tempat ini persis sama seperti sepulu

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 23

    Dengan kepala linglung, Avida perlahan tersadar dan terbatuk-batuk memuntahkan air. Dia ingat saat menyelamatkan sekelompok anjing liar, dirinya terdorong dan terjatuh ke danau. Jadi, apakah dia sekarang sudah mati?Dia membuka mata dan melihat dirinya masih berada di dalam air, hanya hidung dan mulutnya yang sedikit menonjol di permukaan. Di tepi danau, ada orang-orang yang mengenakan perlengkapan penyelamatan. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu, tetapi Avida tidak bisa mendengar apa-apa. Dia hanya mendengar seseorang menangis, suara yang sangat mirip dengan yang dia dengar sepuluh tahun lalu."Vivi ....""Vivi ...."Ada yang memanggil namanya. Avida tiba-tiba menyadari bahwa itu suara Glenn. Dia langsung menoleh ke bawah dan melihat Glenn memeganginya. Itulah sebabnya dia tidak tenggelam meskipun dalam keadaan pingsan. Namun, mata Glenn sudah tertutup, seperti sudah tidak bernyawa.Avida mulai panik. Dia tahu, Glenn takut pada air karena trauma masa lalu. Meski begitu, pri

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 22

    Dia meninju pintu, dan pramugari mengingatkannya, "Pak, pesawat sebentar lagi lepas landas, mohon kembali ke tempat duduk."Glenn berbalik dan turun dari pesawat, tanpa menghiraukan suara pramugari yang memanggilnya dari belakang.Dia kembali ke lobi dan pergi mencari petugas."Avida! Namanya Avida, apa dia sudah beli tiket penerbangan di waktu lain?"Petugas itu terkejut. Namun, setelah Glenn dapat menyebutkan semua informasi tentang Avida, dia membantu memeriksanya melalui sistem. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Nona Avida ini sebelumnya memang membeli tiket penerbangan ini, tapi dia membatalkan tiketnya satu jam yang lalu."Mendengar informasi itu, Glenn menghela napas lega. Selama belum pergi, itu berarti Avida masih di Selandia Baru, dan dia masih bisa menemukannya.Dia tidak berani membayangkan betapa hancur dirinya jika harus kehilangan Avida lagi.Glenn berjalan perlahan keluar dari bandara. Ponselnya berdering, panggilan dari kepala pelayan. Sebelum berangkat ke bandara,

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 21

    Glenn memandangi pintu yang tertutup di hadapannya dengan tidak percaya. Kucing itu masih mengeong di telapak tangannya, tetapi dia tidak bisa mendengar apa-apa. Mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya sangat berbeda dari yang dia bayangkan?Dia berdiri di depan pintu Avida. Dia tidak percaya Avida benar-benar meninggalkannya.Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Avida menemaninya dari tidak punya apa-apa hingga memiliki segalanya. Sekarang saatnya mereka menikmati hidup yang bahagia. Semua masalah sudah selesai, tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Avida pasti hanya sedang marah saja.Dia memasukkan kucing itu kembali ke dalam saku, lalu bersandar di pintu.Tiga jam berlalu, dia menghubungi kepala pelayan untuk membawa kucing itu pulang dan merawatnya dengan baik.Setengah hari berlalu, dia kepanasan hingga pusing dan haus, tetapi tidak beranjak sedikit pun.Tengah malam, terdengar suara gemuruh. Hujan lebat tiba-tiba turun di luar. Glenn basah kuyup, tetapi tetap tidak pe

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 20

    Di dalam pesawat, tujuan Glenn adalah Selandia Baru. Setelah kepala pelayan menemukan jejak Avida, dia mulai menyelidiki kehidupan Avida belakangan ini dan akhirnya berhasil mengumpulkan informasi.Setelah meninggalkannya, Avida bergabung dengan organisasi penyelamat hewan liar yang mengharuskannya berkeliling ke berbagai penjuru dunia. Pantas saja Avida tidak bisa ditemukan lagi setelah pertemuan mereka di New York. Ternyata, Avida langsung berangkat ke lokasi penyelamatan berikutnya.Selama penerbangan yang memakan waktu belasan jam itu, Glenn tidak punya keinginan untuk beristirahat. Dia asyik menelusuri informasi tentang kehidupan Avida sekarang.Tiba-tiba, dia teringat sesuatu dan mengirim pesan kepada kepala pelayan.[Masih ingat Snowy? Carikan kucing yang persis sama, aku ingin memberikannya kepada Vivi. Dia pasti senang.][Baik, Pak Glenn.]Glenn merasa, Avida pasti memilih bergabung dengan organisasi penyelamatan hewan karena Snowy. Kematian Snowy karena kesalahan Louisa yang

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 19

    Glenn mengurung diri di rumah itu lagi, menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan. Sambil melepaskan diri pada khayalan bahwa dia masih berusia 16 tahun dan Avida belum pergi meninggalkannya.Dia tidak perlu mencari kebenaran di balik kecelakaan orang tuanya, tidak perlu berhubungan dengan Louisa demi kerja sama. Bahkan jika dia tidak punya uang sepeser pun, itu tidak masalah, asalkan Avida ada di sisinya.Dia mabuk berat. Kepala pelayan yang berkali-kali gagal menasihatinya. Glenn seolah telah kehilangan jiwanya seluruhnya, menaruh seluruh harapannya pada rumah ini.Mata Glenn baru kembali jernih ketika kepala pelayan membawa kabar bahwa orang yang menyebabkan keributan di lelang telah ditemukan, dan ternyata adalah kerabat dari Keluarga Handoyo.Ini berarti, dia akan segera menemukan pembunuh orang tuanya.Dia kembali bersemangat dan pergi ke kantor. Asistennya sudah menunggu sejak lama. Begitu melihatnya datang, asistennya langsung melaporkan semua yang terjadi selama beberapa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status