Share

Bab 5

Author: Kucing
Angin malam berembus, membawa aroma segar tumbuh-tumbuhan. Tiba-tiba, Avida teringat pada suatu malam penuh hujan bertahun-tahun yang lalu.

Demi menyediakan makanan bergizi untuk Glenn, dia pergi ke gunung untuk memetik jamur. Namun, dia terjatuh dari lereng dan dua tulang ekornya patah. Begitu Glenn sangat khawatir ketika mengetahuinya, dan menggendongnya sejauh lima kilometer ke rumah sakit.

Di sepanjang perjalanan, hujan dan angin bertiup kencang, tapi punggung remaja itu terasa hangat seperti tungku api.

"Vivi, bertahanlah." Suaranya bergetar. "Kalau kamu sembuh nanti, aku ajak kamu melihat bintang. Jadi ... jangan tinggalkan aku."

Kemudian, Glenn benar-benar membawanya ke sana.

Di sebuah gunung terpencil di pinggiran kota, mereka membungkus diri dengan satu jaket tua yang sama, menggigil kedinginan. Namun, sambil menengadah memandangi langit penuh bintang, mereka tertawa lepas.

"Glenn," tanyanya saat itu. "Kalau kamu kaya nanti, apa kita masih bisa lihat bintang bersama?"

Pada saat itu, pemuda itu memandang ke kejauhan, mengangkat sudut bibirnya dengan lembut. "Tentu saja. Nanti aku akan membelikanmu teleskop terbaik, dan membawamu ke puncak gunung tertinggi."

"Vivi." Glenn tiba-tiba mendongak. "Ambilkan pasaknya."

Avida masih agak melamun. Saat dia akan mengulurkan tangan, Louisa sudah lebih cepat. "Ini, Glenn."

Dia mengedipkan mata kepada Avida dengan ekspresi bercanda. "Kak Avida, kamu istirahat saja. Biar kami tangani yang berat-berat."

Glenn menerima pasak tenda itu, tersenyum memanjakan.

Avida memandang mereka yang bekerja sama dengan serasi, matanya terasa perih.

Setelah tenda selesai dipasang, mata Louisa berbinar, lalu dia mengusulkan, "Waktunya masih lama, ayo kita piknik?"

Glenn tentu saja tidak akan menolak. "Oke, aku beli bahan-bahannya."

"Kalau begitu, aku dan Kak Avida akan cari kayu bakar di sekitar sini." Louisa menggandeng lengan Avida dengan mesra, lalu menariknya ke dalam hutan.

Di jalan setapak di tengah hutan, Louisa membungkuk memungut ranting, terus berceloteh. "Glenn kemarin mengajakku ke pameran lukisan. Dia bahkan menjelaskan sendiri latar belakang setiap lukisan itu."

Avida mendengarkan dalam diam, tanpa menyadari bahwa jarinya tergores ranting kasar hingga berdarah.

"Dua hari lalu aku flu. Dia sampai mengantarkan obat ke rumahku tengah malam, menjagaku sepanjang malam." Pipi Louisa sedikit memerah. "Kak Avida, Glenn sebenarnya sangat baik padaku, tapi dia tetap nggak mau menerimaku ...."

Avida memandang pegunungan yang membentang di kejauhan, berbisik, "Sebentar lagi."

Begitu dia pergi, Glenn tidak perlu lagi terikat oleh rasa terima kasih dan dapat secara terbuka bersama orang yang disukainya.

Mendengar itu, Louisa tersipu dan berkata, "Semoga."

Sebelum dia selesai berbicara, dia tiba-tiba terpeleset dan menjerit jatuh menuruni lereng bukit. Avida refleks mengulurkan tangan untuk menariknya, tetapi malah ikut terseret jatuh bersamanya.

Batu-batu tajam menggores kulitnya. Darah bercampur air hujan meresap ke dalam tanah. Avida merasakan sakit yang begitu hebat hingga pandangannya gelap.

Louisa terkilir pergelangan kakinya dan menangis kesakitan.

Hujan semakin deras, kesadaran Avida mulai kabur.

"Vivi! Louisa!"

Suara Glenn terdengar dari kejauhan.

Hal pertama yang dilakukannya saat berlari mendekat adalah memeriksa keadaan Louisa. "Mana yang luka? Masih bisa berdiri?"

"Glenn …" Louisa terisak di dadanya. "Sakit ...."

Glenn menyeka air matanya dengan lembut, baru kemudian menatap Avida yang berlumuran darah. "Aku antar Louisa ke tenda dulu, nanti ke sini lagi."

Avida bersandar pada batu yang dingin, menatap punggung Glenn yang membawa Louisa pergi. Air hujan bercampur darah mengaburkan pandangannya.

Dia menunggu lama. Sangat lama hingga air hujan meresap ke dalam lukanya. Sangat lama hingga rasa sakitnya pun menjadi mati rasa.

Sebelum kesadaran terakhirnya menghilang, Avida teringat janji di malam penuh hujan itu.

"Kalau kamu kaya nanti, apa kita masih bisa lihat bintang-bintang bersama?"

Ternyata, ada janji-janji yang seperti bintang jatuh, berlalu dalam sekejap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 24

    Kepala pelayan berjalan ke kamar tidur. Kamar itu sebelumnya terkunci, jadi Avida tidak masuk. Setelah kepala pelayan membukanya, Avida melihat seperti apa keadaan di dalam kamar itu.Seandainya tidak terjadi begitu banyak peristiwa di antaranya, Avida mungkin akan mengira mereka masih berada di masa lalu.Glenn berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat dan tampak jelas. Namun, begitu melihat Avida datang, dia tetap berusaha keras untuk duduk, sambil mengulas senyuman di wajahnya."Vivi, kamu datang."Untunglah, Glenn baik-baik saja. Jika Glenn meninggal karena menyelamatkannya, Avida akan merasa bersalah. Dia tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan menukar nyawa.Dia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Glenn.Sinar matahari menyinari ruangan melalui jendela, terasa hangat. Kepala pelayan sudah pergi entah sejak kapan, hanya tersisa mereka berdua di sudut masa lalu ini."Lihat, Vivi, aku sudah mengembalikan semuanya seperti semula. Tempat ini persis sama seperti sepulu

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 23

    Dengan kepala linglung, Avida perlahan tersadar dan terbatuk-batuk memuntahkan air. Dia ingat saat menyelamatkan sekelompok anjing liar, dirinya terdorong dan terjatuh ke danau. Jadi, apakah dia sekarang sudah mati?Dia membuka mata dan melihat dirinya masih berada di dalam air, hanya hidung dan mulutnya yang sedikit menonjol di permukaan. Di tepi danau, ada orang-orang yang mengenakan perlengkapan penyelamatan. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu, tetapi Avida tidak bisa mendengar apa-apa. Dia hanya mendengar seseorang menangis, suara yang sangat mirip dengan yang dia dengar sepuluh tahun lalu."Vivi ....""Vivi ...."Ada yang memanggil namanya. Avida tiba-tiba menyadari bahwa itu suara Glenn. Dia langsung menoleh ke bawah dan melihat Glenn memeganginya. Itulah sebabnya dia tidak tenggelam meskipun dalam keadaan pingsan. Namun, mata Glenn sudah tertutup, seperti sudah tidak bernyawa.Avida mulai panik. Dia tahu, Glenn takut pada air karena trauma masa lalu. Meski begitu, pri

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 22

    Dia meninju pintu, dan pramugari mengingatkannya, "Pak, pesawat sebentar lagi lepas landas, mohon kembali ke tempat duduk."Glenn berbalik dan turun dari pesawat, tanpa menghiraukan suara pramugari yang memanggilnya dari belakang.Dia kembali ke lobi dan pergi mencari petugas."Avida! Namanya Avida, apa dia sudah beli tiket penerbangan di waktu lain?"Petugas itu terkejut. Namun, setelah Glenn dapat menyebutkan semua informasi tentang Avida, dia membantu memeriksanya melalui sistem. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Nona Avida ini sebelumnya memang membeli tiket penerbangan ini, tapi dia membatalkan tiketnya satu jam yang lalu."Mendengar informasi itu, Glenn menghela napas lega. Selama belum pergi, itu berarti Avida masih di Selandia Baru, dan dia masih bisa menemukannya.Dia tidak berani membayangkan betapa hancur dirinya jika harus kehilangan Avida lagi.Glenn berjalan perlahan keluar dari bandara. Ponselnya berdering, panggilan dari kepala pelayan. Sebelum berangkat ke bandara,

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 21

    Glenn memandangi pintu yang tertutup di hadapannya dengan tidak percaya. Kucing itu masih mengeong di telapak tangannya, tetapi dia tidak bisa mendengar apa-apa. Mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya sangat berbeda dari yang dia bayangkan?Dia berdiri di depan pintu Avida. Dia tidak percaya Avida benar-benar meninggalkannya.Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Avida menemaninya dari tidak punya apa-apa hingga memiliki segalanya. Sekarang saatnya mereka menikmati hidup yang bahagia. Semua masalah sudah selesai, tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Avida pasti hanya sedang marah saja.Dia memasukkan kucing itu kembali ke dalam saku, lalu bersandar di pintu.Tiga jam berlalu, dia menghubungi kepala pelayan untuk membawa kucing itu pulang dan merawatnya dengan baik.Setengah hari berlalu, dia kepanasan hingga pusing dan haus, tetapi tidak beranjak sedikit pun.Tengah malam, terdengar suara gemuruh. Hujan lebat tiba-tiba turun di luar. Glenn basah kuyup, tetapi tetap tidak pe

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 20

    Di dalam pesawat, tujuan Glenn adalah Selandia Baru. Setelah kepala pelayan menemukan jejak Avida, dia mulai menyelidiki kehidupan Avida belakangan ini dan akhirnya berhasil mengumpulkan informasi.Setelah meninggalkannya, Avida bergabung dengan organisasi penyelamat hewan liar yang mengharuskannya berkeliling ke berbagai penjuru dunia. Pantas saja Avida tidak bisa ditemukan lagi setelah pertemuan mereka di New York. Ternyata, Avida langsung berangkat ke lokasi penyelamatan berikutnya.Selama penerbangan yang memakan waktu belasan jam itu, Glenn tidak punya keinginan untuk beristirahat. Dia asyik menelusuri informasi tentang kehidupan Avida sekarang.Tiba-tiba, dia teringat sesuatu dan mengirim pesan kepada kepala pelayan.[Masih ingat Snowy? Carikan kucing yang persis sama, aku ingin memberikannya kepada Vivi. Dia pasti senang.][Baik, Pak Glenn.]Glenn merasa, Avida pasti memilih bergabung dengan organisasi penyelamatan hewan karena Snowy. Kematian Snowy karena kesalahan Louisa yang

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 19

    Glenn mengurung diri di rumah itu lagi, menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan. Sambil melepaskan diri pada khayalan bahwa dia masih berusia 16 tahun dan Avida belum pergi meninggalkannya.Dia tidak perlu mencari kebenaran di balik kecelakaan orang tuanya, tidak perlu berhubungan dengan Louisa demi kerja sama. Bahkan jika dia tidak punya uang sepeser pun, itu tidak masalah, asalkan Avida ada di sisinya.Dia mabuk berat. Kepala pelayan yang berkali-kali gagal menasihatinya. Glenn seolah telah kehilangan jiwanya seluruhnya, menaruh seluruh harapannya pada rumah ini.Mata Glenn baru kembali jernih ketika kepala pelayan membawa kabar bahwa orang yang menyebabkan keributan di lelang telah ditemukan, dan ternyata adalah kerabat dari Keluarga Handoyo.Ini berarti, dia akan segera menemukan pembunuh orang tuanya.Dia kembali bersemangat dan pergi ke kantor. Asistennya sudah menunggu sejak lama. Begitu melihatnya datang, asistennya langsung melaporkan semua yang terjadi selama beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status