Short
Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan

Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan

By:  KucingCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Nona Avida, pekerjaan sebagai penyelamat hewan liar mengharuskan perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Jarang ada kesempatan pulang ke rumah, jadi butuh dukungan dari keluarga. Anda nggak keberatan?" Avida terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Saya nggak punya keluarga." Ruang rapat hening sejenak. "Kalau ... pasangan?" Avida terdiam lagi, wajah Glenn yang dingin dan angkuh terlintas di benaknya, lalu dia menggelengkan kepala. "Nggak punya juga."

View More

Chapter 1

Bab 1

Para pewawancara saling bertukar pandang, lalu akhirnya tersenyum dan mengulurkan tangan. "Kalau begitu, selamat bergabung dengan kami. Kita akan berangkat dalam tujuh hari, tujuan pertama Afrika Selatan."

Avida mengangguk sebagai tanda terima kasih. Saat dia keluar dari gedung tempat wawancara, layar billboard LED raksasa di pusat perbelanjaan seberang jalan memutar video pengakuan cinta Louisa secara berulang-ulang.

"Glenn, aku suka kamu!"

Gadis dalam layar itu tampak ceria dan menawan, dengan senyum yang bersinar.

Para pejalan kaki yang lewat pun berhenti sejenak, seraya berseru, "Putri Keluarga Paramitha ini benar-benar pasangan yang serasi dengan Pak Direktur Glenn!"

Avida berdiri di luar kerumunan, tiba-tiba merasa sinar matahari sangat menyilaukan hingga membuatnya ingin menangis.

Memang sangat serasi.

Jauh lebih serasi ketimbang dirinya, seorang yatim piatu yang bahkan tidak tamat SMA.

Dia perlahan menutup mata, seolah-olah kembali pada suatu malam yang dingin membeku saat dia berusia 16 tahun.

Saat pertama kalinya dia bertemu Glenn.

Saat itu, dia baru selesai shift malam di minimarket, dan dari kejauhan melihat seorang pemuda berdiri di atas jembatan.

Pemuda itu sangat tampan, bahkan profil wajahnya di bawah sinar rembulan pun memukau, tetapi sedetik kemudian, dia melompat menuju air sungai yang dingin.

Tanpa berpikir panjang, Avida ikut melompat.

Air sungai terasa seperti jutaan jarum yang menusuk tulangnya. Dia mencengkeram erat baju pemuda itu, berenang sekuat tenaga menuju tepi sungai.

Avida kemudian mengetahui bahwa nama pemuda itu adalah Glenn Handoyo.

Setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil, kerabatnya merebut seluruh warisan keluarganya, bahkan mengusirnya dari rumah. Putra kesayangan yang dulu dipuja-puja itu, setelah kehilangan segalanya, memilih untuk bunuh diri.

Avida membawanya pulang ke rumah, sebuah kontrakan seluas sepuluh meter persegi, yang kini harus didesak-desak menampung mereka berdua.

"Nilaiku jelek, aku sudah berencana putus sekolah. Nanti aku akan mencari uang untuk membiayai sekolahmu," katanya sambil menghitung upahnya yang sedikit dari pekerjaannya di minimarket. "Kamu cuma perlu belajar yang giat. Biarkan aku yang menafkahimu."

Dengan mata berkaca-kaca, Glenn bertanya mengapa.

Avida tersenyum. "Karena aku paling benci melihat orang lain menyerah menjalani hidup."

Dia berbohong.

Sebenarnya, karena tangisan pemuda itu di bawah sinar rembulan tampak persis seperti dirinya dulu di panti asuhan, yang sering dibully tapi tidak berani meminta pertolongan.

Hari-hari berikutnya, dia bekerja tanpa henti seperti gasing yang berputar.

Pukul tiga dini hari menjadi kurir pengantar makanan, siang hari menjadi pelayan di restoran, dan malam hari bekerja sebagai kasir di minimarket.

Nilai Glenn semakin membaik, sementara penyakit lambung Avida semakin parah. Suatu hari, sakitnya begitu parah hingga dia muntah darah. Dia hanya menyeka mulutnya dengan lengan baju tanpa bersuara, lanjut membuatkan bahan belajar untuk Glenn.

Pada hari Glenn diterima di universitas ternama, Avida diam-diam menjual darah untuk membelikan setelan jas pertama bagi Glenn.

Di acara penghargaan itu, Glenn berdiri bersinar di bawah sorotan lampu, sementara Avida menangis seperti orang bodoh di sudut barisan paling belakang.

Kemudian, Glenn sukses membangun bisnis, dan perusahaannya masuk bursa saham.

Avida berdiri di sebuah sudut di depan gedung perusahaan, memandangi Glenn yang dikelilingi wartawan. Glenn mengenakan setelan jas rapi, berbicara dengan penuh wibawa. Sama sekali berbeda dari pemuda yang melompat ke sungai karena putus asa bertahun-tahun yang lalu.

Pada saat itu, Avida tiba-tiba menyadari bahwa jarak di antara mereka sudah terlampau jauh hingga mereka tidak bisa melihat satu sama lain lagi.

Louisa muncul sekitar waktu itu.

Louisa Paramitha berasal dari keluarga kaya, berparas cantik, dan terlihat sangat serasi di samping Glenn hingga rasanya menyilaukan.

Dia melihat Glenn membukakan pintu mobil untuknya. Melihat hadiah pemberian Louisa diletakkan dengan penuh hati-hati di atas meja kerjanya. Bahkan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Glenn melamun menatap foto Louisa ....

Malam itu, dia tidak tidur sepanjang malam. Di ruang kerja, dia menemukan catatan yang ditulis Glenn untuknya ketika dia masih pemuda umur 16 tahun.

[Vivi, tunggu aku dewasa. Aku janji akan memberimu hidup yang bahagia.]

Catatan itu sudah menguning, tapi tulisan di atasnya masih jelas.

Dia meletakkannya kembali ke dalam laci, bagaikan sedang menggembok masa-masa ketika mereka saling bergantung satu sama lain selamanya dalam ingatan.

Dia tahu, dia harus pergi.

Sebelum pergi, dia bahkan tidak akan mengucapkan kalimat yang telah disimpannya di dalam hati selama sepuluh tahun.

"Glenn, aku suka kamu."

Dulu, dia tidak berani mengatakannya karena takut mengganggu. Sekarang pun dia tidak bisa mengatakannya karena mereka sudah bukan dari dunia yang sama lagi.

Nada dering ponselnya tiba-tiba berbunyi, memotong pikirannya.

"Kamu di mana?" Suara Glenn terdengar dari telepon. Tenang, tapi dengan kelembutan yang langka. "Kamu pernah bilang ingin pergi ke restoran makanan Barat, 'kan? Aku punya waktu hari ini, nanti kujemput."

Jari-jari Avida memegang ponselnya sedikit lebih erat.

Dia ingin menolak, tetapi mengingat ini mungkin terakhir kalinya mereka bisa berdua, akhirnya dia menjawab pelan, "Oke."

Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil Maybach hitam berhenti perlahan di tepi jalan.

Kaca jendela mobil diturunkan, memperlihatkan wajah tegas Glenn.

Hari ini, dia mengenakan setelan abu-abu gelap, dan matanya di balik kacamata berbingkai emas tampak dingin seperti es, tetapi tatapannya sedikit melembut ketika melihatnya.

Avida hendak membuka pintu mobil, tetapi dia kemudian melihat Louisa duduk di kursi penumpang depan.

Wanita itu mengenakan gaun berwarna kuning pucat, memiringkan kepalanya dan tersenyum kepadanya. "Kak Avida, halo."

"Restorannya kebetulan milik Keluarga Paramitha," jelas Glenn dengan suara datar tanpa emosi. "Jadi sekalian ikut."

Avida terdiam sebentar, tapi akhirnya tidak mengatakan apa-apa dan duduk dengan tenang di kursi belakang.

Aroma parfum Louisa memenuhi mobil. Avida menyaksikan pemandangan di luar jendela yang berlalu cepat, lalu tiba-tiba teringat beberapa tahun yang lalu. Dia juga duduk seperti ini di boncengan sepeda Glenn, memandangi punggung kurusnya yang memancarkan bayangan panjang di bawah sinar matahari terbenam.

"Sudah sampai." Suara Glenn membawanya kembali ke kenyataan.

Restoran itu dihias dengan dekorasi mewah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya yang menyilaukan.

Glenn dengan terampil memesan berbagai hidangan untuk satu meja, semuanya sesuai selera Louisa.

"Glenn, bisa tolong kupas udangnya?" pinta Louisa dengan nada manja.

Jari-jari ramping Glenn mengambil pisau, mengupas kulit udang dengan gerakan anggun, lalu meletakkan daging udangnya ke piring Louisa.

Dia melakukannya dengan tenang, tetapi hal itu mengingatkan Avida pada saat dia berusia 16 tahun dan Glenn mengupaskan seekor udang untuknya juga.

Saat itu, mereka sangat miskin hingga hanya bisa makan satu bungkus mi instan untuk berdua. Suatu hari, ketika Avida demam tinggi, Glenn diam-diam pergi ke pasar ikan dan membeli seekor udang dengan uang saku yang dia tabung selama sebulan.

"Vivi, buka mulutmu." Mata pemuda itu berkaca-kaca, mengupas udang untuknya dengan tangan gemetar. Kulit udang itu melukai ujung jarinya, tapi dia tidak menyadarinya sedikit pun. Hanya bersikeras menyuapkan daging udang satu-satunya itu ke mulut Avida. "Nanti kalau kamu sudah sembuh, aku akan mengupaskan udang untukmu setiap hari."

Avida ingat saat menelan udang itu dengan air mata berlinang. Air mata yang asin dan pahit bercampur dengan rasa manis dan gurih udang, menjadi rasa yang paling tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Dan kini, tangan yang dulu mengupas udang untuknya itu, melayani wanita lain dengan penuh kelembutan.

Saat mengantarkan tagihan, pelayan tersenyum dan berkata, "Hari ini ada promo, pasangan yang mengunggah sembilan foto di dinding foto bisa mendapatkan cincin pasangan edisi terbatas dari restoran kami."

Mata Louisa berbinar dan dia menarik lengan Glen. "Glenn, ayo kita foto? Aku mau cincin itu!"

Glenn melirik Avida, dan Avida memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat.

"Oke." Akhirnya dia setuju.

Avida tetap duduk, menyaksikan mereka berjalan ke dinding foto.

Foto pertama, Louisa menggandeng lengan Glenn dan bersandar di bahunya.

Foto kedua, Glenn memeluk pinggangnya dengan satu tangan.

Foto ketiga, Louisa berjinjit, mendekatkan wajahnya kepada Glenn ....

Avida mencengkeram serbet di tangannya, dadanya terasa sesak.

Dia pikir dia bisa menerimanya dengan tenang. Akan tetapi, melihat kedekatan mereka dengan mata kepala sendiri, hatinya terasa sedikit demi sedikit diiris oleh pisau tumpul. Rasa sakitnya hampir membuatnya sulit bernapas.

Foto terakhir harus berciuman.

Avida tidak sanggup lagi melihatnya. Dia bangkit ingin pergi, tapi tiba-tiba mendengar suara "Bruk!"

Dinding foto itu runtuh tanpa peringatan!

Sebelum dia sempat menghindar, dinding dekorasi yang berat itu menghantamnya. Rasa sakit yang hebat menjalar dari dahinya, dan cairan hangat mengalir di pipinya.

Di tengah kabut berwarna darah yang samar, dia melihat Glenn tanpa ragu melindungi Louisa dalam pelukannya, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghalau semua bahaya.

Louisa berada dalam pelukannya tanpa cedera, seolah-olah dia harta yang tak ternilai.

Avida terbaring di lantai yang dingin, darah menyebar di bawah tubuhnya.

Glenn benar-benar ... jatuh cinta pada Louisa ....

Begini pun tidak masalah.

Setidaknya, Glenn punya seseorang di sisinya setelah dia pergi nanti.

Tidak akan merasa putus asa dan kesepian seperti saat berusia 16 tahun.

Dan dia pun akhirnya bisa melepaskan Glenn sepenuhnya.

Satu detik sebelum tenggelam dalam kegelapan, Avida menutup matanya perlahan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status