LOGINPagi harinya, Ruang Baca Duke Villon kembali menjadi sarang aktivitas. Duke Villon, dengan mimik wajah yang jauh lebih ringan, menerima laporan dari Tuan Bernard, yang kini diawasi langsung oleh Eleanora.
"Yang Mulia Duke, berkat Lady Eleanora, komunikasi kami dengan Viscount Renwald di Timur sudah terjalin. Jalur logistik cadangan akan dibuka minggu depan," lapor Tuan Bernard, nadanya penuh rasa hormat.
Duke Villon mengangguk, melirik Eleanora yang sedang duduk tenang di sampingnya, membaca laporan Tambang Merah. "Kau dengar, Eleanora? Langkahmu telah memberi kita napas. Putra Mahkota Zepyr kemarin datang membahas Alistair Eiser. Rupanya, bukan hanya kita yang dirugikan. Dia sedang diselidiki Kekaisaran."
Eleanora menutup laporan itu dengan bunyi klak yang tegas. "Itu bagus, Ayah. Tapi kita tidak bisa mengandalkan penyelidikan Kekaisaran. Kita harus bertindak lebih jauh."
"Apa lagi yang harus dilakukan?" tanya Duke Villon, sedikit lelah.
"Pembatalan pertunangan," jawab Eleanora dingin. "Kita sudah menghentikan kerugian keuangan. Sekarang kita punya waktu. Duke Alistair Eiser akan menuntut ganti rugi jika kita membatalkan. Tapi jika kita bisa menunjukkan bahwa dialah pihak yang merusak perjanjian—bahwa dia secara diam-diam mencekik kita—maka Kerajaan tidak akan membiarkannya menuntut."
Duke Villon menatap putrinya lama. "Kau ingin kita membalas dengan publikasi?"
"Tidak perlu publikasi resmi, Ayah. Cukup gosip yang terarah," senyum Eleanora muncul. "Saya dengar, desas-desus tentang saya yang 'baru' sudah menyebar ke luar kastil. Gunakan itu. Biarkan rakyat melihat bahwa Eleanora Villon yang cerdik ini sedang berjuang menyelamatkan Ducy Villon, sementara Duke Alistair Eiser adalah penghalang. Kita menekan Duke Utara dengan opini publik sebelum dia sempat menuntut kita."
Duke Villon mengangguk pelan. "Hanya strategi bertahan hidup, Ayah," balas Eleanora. "Saya tidak akan menikah dengannya."
Di Kediamannya di Utara, Duke Alistair Eiser duduk di mejanya. Ia adalah pria yang sangat tampan, dengan rambut cokelat muda yang selalu dihiasi senyum tulus dan hangat—citra malaikat yang diakui masyarakat.
Namun, saat Jendralnya menyampaikan laporan, senyum itu sedikit menipis. Matanya yang biru tajam berkilat dingin.
"Biarkan Eleanora Villon bermain sebagai penyelamat. Jika dia membuat satu kesalahan pun dalam mengelola dana tunangannya, aku yang akan memenangkan pertarungan citra ini."
Alistair memandang ke luar jendela, tempat matahari bersinar cerah di Utara. Ia sudah tahu bahwa Putra Mahkota Zepyr curiga padanya.
Zepyr mungkin sedang mengendus di Villon.Permainan Eleanora telah menyelamatkanku dari pengawasan langsung Zepyr, secara tidak terduga.
Dua hari setelah perjumpaan tegang di ruang itu, ketegangan di Kediaman Villon terasa seperti kabut. 50.000 Perak Murni dari Duke Alistair Eiser tiba bersama utusannya. Duke Villon dan Duchess duduk di Ruang Baca bersama Eleanora, wajah mereka tegang saat meninjau dokumen pinjaman.
"Ayah, Ibu, dengarkan aku," kata Eleanora, suaranya tenang meskipun tangan Duchess gemetar. "Duke Alistair memberikan pinjaman ini dengan syarat bahwa aku yang mengelola. Ini bukan hanya formalitas. Ini adalah perangkap."
"Kami tahu, Sayang," ujar Duchess, suaranya sarat kecemasan. "Di mata publik, Alistair adalah tunangan yang murah hati. Jika kamu membuat satu kesalahan—satu koin pun hilang—dia akan menuduhmu menggelapkan dana tunangan dan menghancurkan reputasimu. Dia akan membatalkan pertunangan, dan kita akan tetap terlilit utang!"
Duke Villon menatap kontrak itu. "Memang. Syaratnya sangat mengikat. Mengapa kau bersikeras menerima, Eleanora?"
Eleanora tersenyum, senyum yang kali ini penuh perhitungan dingin. "Karena ini adalah satu-satunya cara kita bisa melihat kelemahan Alistair. Jika aku mengelola dana ini, aku bisa melacak ke mana saja uang itu mengalir. Pinjaman ini adalah pemicu yang akan memaksa Alistair bergerak dan mengungkapkan jaringan sabotase logistiknya."
Eleanora menyentuh dokumen itu dengan ujung jarinya. "Aku akan menandatangani kontrak ini. Tapi aku akan menambah klausul balasan."
"Klausul balasan?" Duke Villon terkejut.
"Ya. Dalam kontrak ini, aku akan mencantumkan bahwa sebagai pengelola dana pinjaman, aku memiliki wewenang penuh untuk melakukan audit internal dan eksternal mendadak terhadap semua kontrak yang melibatkan Villon selama enam bulan terakhir. Termasuk... kontrak pengiriman barang ke wilayah Utara."
Duke Villon terkesiap. Jika Duke Alistair benar-benar yang mencekik Villon melalui biaya logistik, klausul audit ini akan menjadi ancaman langsung baginya.
"Tapi... apakah Alistair akan menyetujuinya?" tanya Duchess ragu.
"Dia harus menyetujuinya, atau dia akan dicap munafik di mata Kekaisaran," jawab Eleanora dengan keyakinan penuh. "Dia ingin publik melihatnya sebagai tunangan yang 'dermawan' dan 'percaya' padaku. Jika dia menolak klausul auditku, itu akan merusak citra 'malaikat'nya."
Di sisi lain Kediaman Villon, Putra Mahkota Zepyr masih menetap. Secara resmi, ia menggunakan fasilitas Ruang Kerja Duke Villon untuk menindaklanjuti penyelidikan Kekaisaran terhadap Duke Alistair Eiser. Ia tampak fokus di antara tumpukan dokumen.
Namun, perhatian Zepyr tidak sepenuhnya tertuju pada kertas-kertas di depannya.
"Yang Mulia," bisik Sir Kael, melaporkan. "Lady Eleanora telah menerima pinjaman 50.000 Perak Murni dari Duke Alistair Eiser. Dan yang lebih menarik, ia mengirimkan kembali kontrak dengan klausul audit yang sangat agresif ke Utara."
Zepyr menghentikan gerakan pena bulunya. Ia meletakkan pena itu dengan suara tap yang tegas. Dia menerimanya? Dan sekarang dia menyerang balik?
Dia tidak berkomentar tentang kontrak itu. Ia hanya teringat ketenangan Eleanora. Dua hari ini, Eleanora sama sekali tidak menunjukkan diri di hadapannya. Tidak ada upaya mendekat, tidak ada undangan canggung, tidak ada tatapan memuja. Hal ini menciptakan kekosongan yang tak terduga dalam rutinitas Zepyr.
"Aku ingin tahu apa yang ia kerjakan," ujar Zepyr pada Sir Kael, nadanya terdengar seperti sebuah pernyataan logis, bukan keingintahuan pribadi. "Seorang wanita yang siap mengambil risiko politik sebesar itu perlu diawasi. Aku ingin melihat bagaimana dia menangani perak kotor itu."
Zepyr berdiri. "Aku akan memeriksa peta di Aula Logistik. Siapkan kudaku untuk sore hari, Kael. Aku harus melanjutkan perjalanan ke perbatasan besok."
Eleanora duduk di Ruang Bacanya. Jemarinya yang ramping mengetuk pelan meja kayu mahoni. Di hadapannya, tumpukan buku besar dan kontrak-kontrak pinjaman Alistair terbuka, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat daripada pena mana pun. Ia membutuhkan perisai dan sekutu, bukan hanya angka.
Pelayan pribadinya, Seraphina, masuk dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar.
"Nona, teh Earl Grey yang hangat dan biskuit madu yang baru dipanggang," kata Seraphina lembut, menata baki perak. Di samping baki itu, ada beberapa kotak kartu mewah berenda, lambang kesopanan yang tajam. "Dan ini, kiriman undangan dari Ibu Kota. Semuanya datang pagi ini."
Eleanora menggeser tumpukan kartu itu dengan ujung jarinya. "Medan perang sosial, Seraphina. Mereka tidak mengundangku untuk berbagi teh, melainkan untuk mengamati seberapa dalam kami tenggelam. Mereka ingin melihat apakah Putri Duke Villon yang malang ini masih bisa tersenyum di tengah desas-desus kehancuran."
"Nona tidak terikat untuk memenuhi undangan yang jelas-jelas berniat buruk," bisik Seraphina penuh kekhawatiran.
"Aku tahu." Eleanora menarik napas, matanya memancarkan perhitungan dingin yang jauh dari kehangatan teh di depannya. Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada lambang burung merak di salah satu kotak kartu yang paling sederhana, milik keluarga Countess Rosamund.
Rosamund.
Di kehidupan sebelumnya, Pesta Teh Countess Rosamund adalah pertemuan terakhir yang dihadiri oleh bangsawan pemalu, bernama Lady Elara Valois, sebelum ibunya sakit parah.
Kabar pesta itu dimuat di koran dan menjadi perbincangan panas karena Elara, dari keluarga bangsawan bersejarah yang sangat disegani, muncul di depan publik sesaat sebelum tragedi kematian ibunya dan penarikan diri ayahnya dari kancah politik.
Eleanora ingat Elara tampak rapuh saat itu. Kemudian, saat Count Valois sakit parah, Elara yang tanpa gelar resmi mengambil alih, membeli tambang yang diabaikan dan, yang paling mengejutkan, menemukan batu sihir langka di sana—sumber daya vital yang menggerakkan teknologi canggih bangsawan tinggi (seperti lampu dan komunikasi).
Dukungan Valois bukan hanya tentang politik, itu adalah tentang sumber daya masa depan. Eleanora tersenyum tipis. Waktu yang tipis, tetapi cukup untuk mengubah takdir.
"Seraphina, ambil surat undangan dari Countess Rosamund. Dan kapan acaranya?" tanya Eleanora, nadanya berubah menjadi perintah yang tajam.
Seraphina mencari. "Ini, Nona. Tertulis: Tiga hari lagi, pukul tiga sore."
"Bagus. Aku akan datang," putus Eleanora, mengambil pena dan selembar perkamen berharga.
"Apa?! Nona, mengapa harus ke sana?" Seraphina benar-benar terkejut. "Keluarga Rosamund dan Anda... tidak pernah akur."
"Justru itu." Eleanora mulai menulis balasan, gerakannya tenang dan anggun. "Mereka berharap aku menolak, memperkuat citra Villon yang menyedihkan. Kedatanganku akan menunjukkan bahwa aku tidak terpengaruh oleh permainan mereka. Aku punya waktu tiga hari. Sebelum aku muncul di pesta itu, aku akan mengamankan aset yang lebih berharga daripada semua piring perak mereka."
Eleanora segera menghentikan urusan keuangannya. Misi barunya adalah mencari seseorang yang dapat membantu tujuan ini, ia ingat ada seorang pria yang akan menjadi Dokter Kekaisaran jenius yang menyelamatkan Putri Kaisar di kehidupan sebelumnya.
Seorang jenius tidak pernah mudah ditemukan, pikir Eleanora.
Eleanora mengganti gaun mewahnya dengan pakaian pelayan yang buram dan usang—sebuah penyamaran yang sederhana namun efektif. Ditemani oleh dua ksatria Villon yang kini terlihat seperti pengawal pedagang, ia meninggalkan Kediaman, menyelami wilayah pinggiran Kekaisaran yang jarang disentuh bangsawan.
Pencarian Eleanora dimulai dari klinik-klinik publik dan rumah sakit umum di distrik terluar—tempat di mana kemegahan aristokrasi hanya menjadi dongeng usang. Ia harus menanggalkan setiap helai wibawa bangsawan; penyamaran adalah satu-satunya perisai. Udara di sana berbeda, sangat kental dengan aroma tajam karbol, pahitnya rebusan ramuan yang gagal, dan bisikan keputusasaan yang tak terobati.
Eleanora, yang terbiasa melangkah di atas karpet Persia dan lantai marmer yang dipoles, kini harus menginjak tanah berbatu dan jalanan yang becek. Ia berjalan dengan kesabaran yang luar biasa, mengajukan pertanyaan dengan suara seramah mungkin, seolah-olah ia seorang wanita malang yang mencari kerabat yang hilang, bukan seorang jenius yang ingin merekrut.
"Tuan," sapa Eleanora dengan kepala sedikit tertunduk kepada seorang apoteker tua dengan tangan yang keriput seperti kulit pohon, di depan deretan toples kaca berisi bahan-bahan yang mencurigakan. "Maaf mengganggu. Apakah Tuan mengenal seorang dokter muda, yang mungkin lebih banyak menghabiskan malam di laboratorium daripada di tempat tidur? Seseorang yang terobsesi pada ilmu yang baru, Tuan, bukan pada kekayaan."
Si apoteker tersenyum sinis, senyum yang menunjukkan betapa duniawi pandangannya. Ia mengusap hidungnya yang berdebu. "Semua dokter di sini terobsesi, Nona. Terobsesi mencari upah untuk tetap hidup. Yang muda, ya, banyak, tapi mereka hanya meniru resep lama. Kejeniusan? Itu hanya ada di Ibu Kota, di bawah payung emas para Duke."
Eleanora hanya bisa menarik napas, menyimpan kekecewaan itu di balik wajahnya yang tenang. Setiap petunjuk yang didapat selalu berakhir di jalan buntu; nama Cassian terlalu umum, dan kejeniusannya terlalu tersembunyi.
Ia menghabiskan sisa hari itu dengan berjalan, mendengarkan, dan mengamati, kakinya terasa kaku dan sepatu kulitnya menjadi berat karena debu yang menempel. Pencarian ini adalah sebuah keheningan yang melelahkan, terasa benar-benar seperti upaya putus asa memilah jarum di tumpukan jerami. Sore menjelang malam, dengan bahu yang terasa pegal karena menanggung berat penyamaran dan kelelahan, ia kembali ke Kediaman tanpa membawa hasil. Namun, ia tidak gentar; kegagalan hari ini hanya mempersempit kemungkinan untuk esok hari.
Eleanora tidak beristirahat. Setelah sarapan, ia melanjutkan pencarian. Kali ini, ia memfokuskan pencarian di gudang-gudang apotek dan area kumuh yang ia ingat sebagai tempat para peneliti amatir bekerja, mengandalkan aroma ramuan unik yang mungkin bocor dari jendela.
Ia menyusuri gang-gang sempit, mengintip ke setiap jendela yang mengeluarkan uap beraroma aneh. Setiap langkahnya terasa semakin berat; kontras antara kehidupannya yang lalu dan perjuangan fisiknya saat ini begitu mencolok.
"Nona, kita sudah memeriksa puluhan tempat. Mungkin dia sudah pindah, atau nama yang Nona ingat salah," bisik salah satu pengawal, di tengah terik matahari sore.
"Tidak. Dia ada di sini. Aku yakin," balas Eleanora, suaranya pelan namun penuh tekad. Aku tidak boleh gagal di sini. Ini bukan hanya tentang Elara Valois, ini tentang membuka jalan bagi masa depanku.
Tepat ketika matahari mulai terbenam dan bayangan memanjang, mereka tiba di sebuah klinik kecil yang suram, diselimuti tanaman merambat, nyaris terlihat seperti bangunan yang ditinggalkan.
Di dalamnya, seorang perawat tua yang tampak sabar menunjuk ke belakang. "Tuan Dokter Cassian? Ah, Tuan Elias ada di gudang belakang. Dia sedang meracik sesuatu. Dia bilang, ramuan itu bisa mengatasi masalah pengentalan darah yang fatal. Gila, bukan? Dia hanya mau bicara dengan orang yang tahu betul apa itu 'Koagulasi Vaskular'."
Koagulasi Vaskular. Eleanora merasakan lonjakan energi. Inilah yang dia cari.
Eleanora bergegas ke gudang belakang. Ia menemukan Cassian, pria muda berkacamata tebal, di tengah asap ramuan dan tumpukan botol. Ia tampak lelah dan sedikit frustrasi.
"Permisi, Tuan," sapa Eleanora, suaranya diatur agar terdengar lembut namun memiliki intonasi berwibawa.
Cassian mendongak. "Saya sedang sibuk, Nona. Kecuali Anda ingin menyumbang beberapa botol Atropus Vira murni, saya tidak punya waktu untuk obrolan ringan."
Eleanora melangkah mendekat. "Saya tidak datang untuk menyumbang, Tuan. Saya datang untuk menawarkan Anda laboratorium, kebebasan, dan sumber daya yang tak terbatas—sesuatu yang tidak bisa Anda temukan di sudut gudang yang pengap ini."
Cassian terkekeh sinis. "Penawaran standar bangsawan kaya."
Eleanora mengabaikan penghinaan itu. "Bagaimana jika saya mengatakan bahwa saya tahu Anda sedang meneliti penyakit yang di kalangan medis umum dikenal sebagai 'demam dingin' atau 'kekuningan', tetapi yang sebenarnya merupakan Sindrom Koagulasi Vaskular—sebuah kondisi yang menyebabkan pembekuan cairan vital di organ dalam?"
Gerakan Cassian berhenti total. Sendok adukan ramuan itu membentur bibir gelas kimianya dengan bunyi kling yang nyaring. Dia menoleh, matanya kini penuh kecurigaan.
"Siapa Anda?" tanyanya, suaranya pelan dan mengancam. "Hanya orang terdekat saya yang tahu istilah itu."
"Saya hanyalah wanita yang mengagumi penelitian yang brilian, Tuan Dokter," jawab Eleanora, menjaga nada suaranya tetap tenang dan profesional. "Saya juga tahu Anda membutuhkan Tumbuhan Felsium Merah dari Pegunungan Utara untuk menstabilkan formula Anda. Tumbuhan itu sulit didapat, bukan? Dan Anda harus menyelesaikannya dalam dua hari ke depan, sebelum ramuan Anda kehilangan potensinya."
Mata Dr. Cassian melebar karena terkejut. Tumbuhan Felsium Merah adalah rahasia pribadinya yang vital. Wanita ini tahu tentang Felsium...
"Siapa Anda sebenarnya?" ulangnya, kini terdengar lebih mendesak, semua kecurigaannya bercampur dengan rasa takjub.
Eleanora melangkah maju, membiarkan sedikit aura bangsawan menembus penyamarannya. "Saya Eleanora Villon. Saya bukan mata-mata, melainkan sponsor Anda. Tuan Elias, tetapi waktu seorang jenius terlalu berharga untuk dihabiskan di gudang ini."
Dia segera mengarahkan fokus ke sasaran. "Saat ini, ada tugas yang jauh lebih mendesak. Seorang bangsawan tinggi di Ibu Kota sakit parah, Tuan. Dokter-dokter terbaik di sana menyerah, mendiagnosisnya dengan 'demam dingin'. Hanya Anda yang tahu itu adalah 'Sindrom Koagulasi Vaskular'. Saya tidak berbohong. Anda punya waktu besok lusa. Saya akan membawa Anda ke Kediaman pasien itu, menjamin akses dan keamanan Anda, pada hari pesta teh. Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan teori Anda di hadapan mata publik."
Eleanora menurunkan suaranya. "Ini adalah pertaruhan, Tuan Elias. Buktikan kejeniusan Anda dengan menyelamatkan nyawa bangsawan itu, dan saya akan memberikan Anda kebebasan abadi, laboratorium terbaik, serta sumber daya untuk setiap penelitian yang Anda inginkan. Tolak, dan kejeniusan Anda akan terkubur di gudang ini selamanya."
Dr. Cassian menelan ludah. Ini adalah kesempatan ilmiah yang takkan datang dua kali. "Saya ikut, Lady Eleanora. Kapan kita pergi?"
"Sekarang," putus Eleanora. "Kita akan bergerak. Saya harus menghadiri pesta teh dalam waktu kurang dari 48 jam."
Matahari baru saja naik di atas Kastil Villon. Di kamar Eleanora yang mewah, tirai beludru tebal masih tertutup rapat, menciptakan kegelapan yang tenang. Eleanora terbaring di tempat tidur, merasakan kelelahan yang luar biasa dari dua hari pencarian di wilayah pinggiran Kekaisaran. Setiap ototnya terasa protes.
Pelayan pribadinya, Seraphina, masuk dengan langkah tegas yang tidak biasa bagi seorang pelayan. Ia membuka tirai lebar-lebar, membiarkan cahaya pagi menampar wajah Eleanora.
"Nona!" Seraphina berseru, nadanya terdengar seperti gabungan kekhawatiran dan teguran. "Bangun! Anda tidak boleh tidur sampai larut begini! Ini adalah hari Pesta Teh Countess Rosamund!"
Eleanora mengerang pelan dan membalikkan badan, membenamkan wajahnya ke bantal sutra. "Aku tahu, Seraphina. Lima menit lagi. Tubuhku terasa seperti baru saja menarik gerobak besi sepanjang jalan kembali dari perbatasan."
"Itu karena Anda menghabiskan dua hari menyusup di gudang kumuh! Lihat wajah Anda!" Seraphina segera meraih kaca rias dan meletakkannya di depan wajah Eleanora.
"Bahkan krim rosalyn terbaik pun tidak bisa menyembunyikan lingkaran hitam ini! Nona, Anda adalah Putri Duke Villon! Anda pergi ke medan pertempuran hari ini! Apakah Anda ingin para bangsawan itu berbisik bahwa Putri Villon terlalu lemah untuk mempertahankan kecantikannya?"
Eleanora menghela napas panjang. Dia tahu Seraphina benar. Penampilan adalah senjata di Ibu Kota. "Baiklah, Seraphina. Maafkan aku. Aku akan bangun."
Seraphina segera memerintahkan pelayan lain untuk menyiapkan mandi air hangat yang dicampur minyak esensial, berharap dapat merilekskan ketegangan di tubuh Eleanora.
Dua jam kemudian, Eleanora berdiri di depan cermin. Ia telah melewati ritual perawatan yang menyakitkan untuk mengusir sisa kelelahan.
Seraphina dan dua pelayan lainnya dengan hati-hati memakaikannya gaun yang telah dipilih: Gaun sutra murni berwarna dusty rose—warna yang lembut, tetapi memancarkan kemewahan yang tak perlu berteriak. Gaun itu memiliki potongan minimalis namun anggun yang menyuarakan ketenangan dan kepercayaan diri yang tidak bergantung pada perhiasan mencolok.
"Anda akan memakai kalung mutiara yang diberikan Nyonya Villon, Nona," ujar Seraphina, menyematkan rangkaian mutiara putih gading di leher Eleanora. "Itu menunjukkan kesetiaan dan kesederhanaan. Hari ini, biarkan otak Anda yang menjadi pusat perhatian, bukan berlian Anda."
Eleanora menatap bayangannya. Rambutnya disanggul tinggi dengan elegan. Wajahnya telah kembali pucat merona. Meskipun kelelahan masih mengintai, ia kini memancarkan ketenangan seorang pemimpin. Ia siap. Waktunya bermain.
Eleanora tiba di Countess Rosamund tepat pada waktunya, gaun sutra dusty rose miliknya tampak seperti oase ketenangan di antara kemewahan yang berlebihan. Kehadirannya seketika menciptakan keheningan yang tebal.
Countess Rosamund, nyonya rumah yang terkenal licik, segera menyambutnya.
"Oh, Eleanora! Senang sekali kau mau datang. Kami semua sudah khawatir," sapa Rosamund, senyumnya seperti topeng porselen yang kaku. "Gaunmu indah, sungguh. Warna dusty rose itu sungguh pilihan yang sangat bijak, Nona. Ia memancarkan kesahajaan yang menawan, terutama di tengah laporan yang sedang memerlukan banyak perhatian ketat."
Seorang bangsawan lain, Lady Cornelia, menimpali dengan keanggunan yang kejam. "Gaun yang anggun, Lady Eleanora. Kami hanya berharap ketenangan hati Anda seperti mutiara di leher Anda itu. Kami semua mendoakan agar urusan Villon segera kembali ke pangkuan Duke, dan tidak membebani Anda sebagai seorang wanita muda terlalu jauh."
Eleanora menyesap tehnya, tindakannya sangat tenang dan terkontrol. Ia memandang kedua wanita itu dengan tatapan lembut, tanpa emosi yang terlihat.
"Terima kasih atas pujian yang sangat peduli itu, Countess Rosamund, Lady Cornelia," jawab Eleanora, suaranya sehalus beludru. "Justru karena saya mengurus itu, saya punya waktu luang. Angka-angka itu kini begitu rapi, sehingga saya hanya perlu memastikan tidak ada pihak asing yang mencoba mengintip atau mengganggu meja makan saya," katanya, pandangannya sekilas tajam menyentuh Lady Cornelia. "Lagipula, saya tidak khawatir. Saya tahu betul bagaimana cara menjaga agar orang lain tidak mengganggu urusan kediaman saya."
Respon Eleanora yang santun namun tersirat peringatan keras membuat Rosamund dan Cornelia hanya bisa tersenyum kaku.
Saat Eleanora baru saja hendak meminum teh lagi, Lady Beatrice, seorang bangsawan yang terkenal cerewet dan belum menikah, maju dengan ekspresi pura-pura iba.
"Eleanora, kau harus beristirahat. Kau terlihat begitu lelah. Kami mengerti, mengurus masalah yang begitu sensitif pasti sangat menguras," kata Beatrice dengan nada simpati palsu. "Kami hanya cemas... fokusmu pada kertas-kertas itu akan menghilangkan kilau masa mudamu. Kami berharap kau tidak melupakan tujuan utama seorang wanita bangsawan."
Lady Cornelia segera menimpali, "Benar. Kami berharap Villon segera menemukan aliansi pernikahan. Jika terlalu lama, kharisma Eleanora mungkin sudah terlalu kusam untuk menarik calon yang layak."
Eleanora tersenyum simpul. Ia mengangkat cangkir tehnya ke udara, seolah memberi hormat pada sindiran mereka.
"Lady Cornelia, Lady Beatrice, betapa baiknya hati Anda berdua memikirkan masa depanku," balas Eleanora, suaranya tetap sehalus sutra. "Aku harus meyakinkan Anda. Saya tidak sedang mencari 'kilau masa muda' yang cepat memudar."
Eleanora menaruh cangkirnya. Pandangannya tenang, namun menyiratkan standar yang jauh lebih tinggi. "Adapun calon yang 'layak', aku tidak terburu-buru. Aku hanya akan memilih pendamping yang tidak memerlukan waktu saya untuk mengurus kertas-kertas mereka sendiri. Saya hanya menerima pria yang fokusnya adalah kekuatan politik dan martabat, bukan pria yang harus diselamatkan oleh kasing yang rapi."
Wajah Beatrice dan Cornelia menegang. Mereka mengerti arti tersirat: Eleanora menganggap calon-calon yang terburu-buru (termasuk yang mereka kenal) tidak cukup kuat untuknya dan hanya mencari uang. Eleanora telah menempatkan dirinya di atas semua spekulasi mereka.
Saat Eleanora menyimak perbincangan dangkal para bangsawan lain, ia mengarahkan perhatiannya pada Lady Elara Valois. Elara duduk sendirian, tampak pucat dan sangat gelisah. Tangan rampingnya menggenggam cangkir teh dengan erat, dan matanya terus melirik jam dinding dengan cemas yang semakin terlihat jelas.
Dia ingin pulang, pikir Eleanora. Ibunya memanggilnya. Jika dia pergi sekarang, itu akan merusak reputasi ayahnya.
Eleanora segera beranjak dari kursinya, bergerak anggun mendekati Elara, sebelum gadis itu sempat membuat kesalahan fatal.
"Lady Elara," sapa Eleanora, suaranya hangat dan simpatik. "Betapa senangnya melihatmu di sini. Ah, Udara di aula ini terasa agak menyesakkan, bukan? Aku ingin mendiskusikan penjahit gaun kita. Maukah kamu menemaniku ke luar sebentar, ke teras atau ruang ganti? Aku butuh saran ahli darimu."
Elara, yang sudah kelabakan dan cemas karena takut membuat kesalahan etiket, terkejut namun lega karena Eleanora Villon, Putri Duke Villon, menawarkan jalan keluar yang sopan.
"Oh, Tentu, Lady Eleanora," jawab Elara dengan suara nyaris berbisik, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Ia segera bangkit, gemetar karena tekanan emosi dan tatapan para bangsawan yang mungkin melihat interaksi mereka.
Eleanora memimpin Elara keluar dari aula, menjauhi kerumunan yang kini kembali bergosip. Ia membimbing Elara menuju area gerbang belakang, dekat tempat kereta kuda Kediaman Valois.
Begitu mereka berada di tempat yang sepi—di samping kereta kuda Valois—rasa aman dan kelelahan Elara seketika meledak.
"Lady Eleanora, terima kasih," bisik Elara, tubuhnya sedikit membungkuk. Namun, kalimat itu tersendat di tenggorokannya. Air mata Elara tiba-tiba tumpah, bukan tangisan histeris, melainkan isakan pelan yang menyakitkan.
Semua kecemasan yang ia pendam, kegagalan mencari bantuan, dan rasa bersalah karena meninggalkan ibunya, meledak di hadapan satu-satunya bangsawan yang bersikap tulus. Elara, yang pemalu dan rapuh, mencengkeram lipatan roknya.
"Maafkan saya," isak Elara, suaranya tercekat dan nyaris tak terdengar. "Saya... saya tahu saya tidak pantas berada di pesta ini. Tapi saya hanya harus pulang. Ibu saya..." Ia tidak bisa melanjutkan, hanya terisak lagi. "Ibu saya semakin parah, dan saya di sini, minum teh! Tidak ada yang mau membantu kami! Mereka bilang penyakitnya hanya histeria! Ayah saya lumpuh karena kesedihan, dan saya... saya gagal mencari dokter yang bisa mengerti! Saya sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi."
Air mata Elara membasahi sarung tangan berendanya, mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Eleanora mendengarkan dengan sabar, hatinya mengeras melihat kepolosan gadis ini yang tersiksa. Lady Elara ini benar-benar polos. Dia lemah secara koneksi dan pengetahuan, makanya dia begitu pemalu dan rentan.
Eleanora membungkuk sedikit, suaranya menjadi bisikan yang mendesak, penuh empati yang dipaksakan. "Tenanglah, Elara. Jangan terisak di sini. Aku mengerti penderitaanmu. Aku tahu kau mencari bantuan. Aku sudah mengerti situasinya."
"Apa maksud Anda, Lady Eleanora?" tanya Elara, suaranya tercekat.
Eleanora menatap mata Elara, ekspresinya tegas dan meyakinkan. "Aku sudah mencari informasi secara rahasia. Aku tahu dokter-dokter Ibu Kota telah mendiagnosis Ibumu salah. Mereka mengabaikan gejala-gejala spesifik yang Ibumu tunjukkan, gejala yang hanya diketahui oleh peneliti paling fokus."
Eleanora melanjutkan, menurunkan suaranya lagi. "Aku sudah menemukan seorang dokter yang sangat jenius. Ia bukan bagian dari lingkaran Ibu Kota, tetapi ia adalah satu-satunya yang sedang meneliti penyakit yang menyebabkan 'kekakuan darah' itu."
Elara tampak ragu, tetapi Eleanora segera memberikan tawaran yang tak tertolak. "Apakah kau bersedia aku membawanya ke Kediaman Valois dan merawat Ibumu? Aku akan menanggung semua biaya pengobatan awal, dan aku akan mengizinkannya tinggal di Kediaman Valois untuk memastikan penanganan Ibumu sempurna dan beliau benar-benar pulih."
Elara mendongak, matanya yang basah penuh dengan rasa tak percaya, berubah menjadi harapan yang luar biasa. Tawaran ini terlalu besar untuk ditolak.
"Ya! Ya, Lady Eleanora, saya mohon!" Elara mengangguk cepat, isakannya sedikit mereda.
"Bagus," jawab Eleanora tegas, dengan nada yang kini beralih menjadi janji. "Pergilah sekarang. Dokter itu, Dr. Cassian Bellamont, sedang menunggumu di Kediaman Valois. Aku akan mengurus alasanmu meninggalkan pesta ini."
Eleanora meraih tangan Elara dan menggenggamnya dengan tulus. "Pulihkan Ibumu, Elara. Setelah ini semua selesai, aku ingin kita berbicara lagi. Aku percaya, keluarga kita memiliki tujuan yang sama di Ibu Kota ini."
Elara bangkit, rasa terharu yang luar biasa membuat seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak peduli dengan etiket lagi. "Terima kasih, Lady Eleanora. Saya tidak akan pernah melupakan ini." Elara bergegas menaiki kereta kudanya.
Elara bergegas menaiki kereta kudanya.
Eleanora kembali ke aula. Ia tidak langsung kembali ke tempat duduknya, melainkan memanggil pelayan utama Countess Rosamund.
"Pelayan," panggil Eleanora, suaranya tenang namun memiliki nada mendesak yang tidak bisa dibantah. "Lady Elara Valois mendadak sakit kepala yang sangat parah. Tadi dia nyaris pingsan. Tolong siapkan segera obat sakit kepala terkuat yang Nyonya Countess miliki, dan pesankan kereta kuda yang paling cepat untuk mengantarnya pulang ke Kediaman Valois. Sampaikan pada Nyonya Countess, saya yang akan bertanggung jawab penuh atas kepergian mendadaknya."
Pelayan itu, bingung dengan otoritas Eleanora yang tiba-tiba, hanya bisa mengangguk dan bergegas menyampaikan pesan itu ke dapur dan kepada nyonya rumah. Eleanora memastikan kepergian Elara ditutupi dengan alasan kesehatan yang mendesak, bukan penghinaan sosial.
Eleanora kembali ke meja perbincangan. Tentu saja, Countess Rosamund dan Lady Cornelia kini fokus pada kepergian Elara.
Countess Rosamund menatap Eleanora dengan mata menyipit. "Oh, kasihan sekali Lady Elara. Sangat tidak terbiasa dengan keramaian, rupanya. Dan Lady Eleanora, sungguh murah hati. Apakah kamu harus repot-repot mengurus pelayananku seperti itu?"
"Sama sekali tidak merepotkan, Countess," jawab Eleanora, menyesap tehnya yang dingin. "Lady Elara adalah tamu, dan tanggung jawab kita sebagai bangsawan adalah memastikan tamu kita nyaman. Saya juga tidak ingin kebetulan yang tidak mengenakkan ini menodai reputasi keramahan Anda sebagai nyonya rumah."
Lady Cornelia, selalu mencari celah, menyela. "Tadi dia terlihat menangis. Apakah dia meminta bantuan terkait urusan ibunya? Kudengar penyakitnya semakin... aneh. Dokter-dokter Ibu Kota sudah angkat tangan."
Eleanora tersenyum, senyum yang menunjukkan batas yang tidak boleh dilintasi. "Lady Cornelia, saya yakin Anda menghargai privasi keluarga. Lady Elara menangis karena rasa malu yang luar biasa akibat harus meninggalkan acara secantik ini begitu cepat," jelas Eleanora. "Mengenai kondisi ibunya... itu adalah urusan Kediaman Valois dan dokter yang mereka percaya. Saya hanya menyarankannya untuk segera beristirahat. Bukankah lebih baik kita kembali membahas manik-manik yang sedang tren tahun ini, daripada nasib buruk seseorang?"
Seketika, topik perbincangan berputar. Eleanora telah menancapkan bendera batas. Tidak ada lagi yang berani mengusik urusan Valois. Pesta teh itu akhirnya kembali ke suasana riang palsu para bangsawan.
Eleanora menghabiskan setengah jam berikutnya dengan anggun, menerima pujian dan menangkis sisa-sisa sindiran dengan keahlian diplomatik yang kini ia kuasai. Tepat pada waktu yang pantas, ia meminta izin pulang.
"Countess Rosamund, saya harus bergegas. Ada urusan mendesak di Kediaman," ujar Eleanora, membungkuk sedikit.
"Urusan kertas-kertas lagi, Eleanora?" tanya Rosamund, kali ini tanpa sindiran, lebih pada keheranan akan kegigihan Putri Duke Villon ini.
"Tentu saja, Countess," jawab Eleanora dengan senyum misterius. "Saya harus memastikan semuanya rapi sebelum besok pagi. Salam hormat saya untuk Anda."
Eleanora meninggalkan pesta itu, meninggalkan kebingungan dan gosip. Ia tidak hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga telah mengamankan aliansi Valois dan menempatkan Dr. Cassian Bellamont tepat di posisi yang ia butuhkan.
Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota
Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai
Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng
Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me
Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan
Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den







