Share

CHAPTER #3

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-07 04:49:52

Pagi itu, Lady Eleanora menemui Ayahnya. Ia sengaja memilih gaun paling sederhana, penampilan yang menunjukkan fokus, bukan kemewahan. Di tangannya, ia membawa buku catatan kecil yang penuh coretan, dan beberapa lembar kertas yang sudah dipisah dari laporan resmi Duke Villon.

Duke Villon berada di Ruang Baca, ditemani oleh Tuan Bernard, Kepala Pelayan yang mengurus administrasi kastil. Keduanya tampak serius, menyadari urgensi pertemuan.

"Eleanora," sapa Duke Villon, nadanya tegas, tetapi ada sedikit kehati-hatian. "Kau bilang punya 'strategi baru' dan mau menunda hadiah untuk Duke Utara. Jelaskan. Jangan buang waktu, aku tahu kau tidak datang tanpa alasan yang kuat."

Eleanora berdiri tegak. "Ini adalah upaya untuk menyelamatkan kita, Ayah."

Ia menyentuh tumpukan laporan di meja. "Aku tidak akan bicara tanpa bukti. Data yang kutemukan sudah jelas, berkat pelajaran keras dari Tuan Elron."

"Kita semua berpikir kerugian Tambang Merah karena pasar melemah. Itu hanya sebagian kecil dari masalah, Ayah," jelas Eleanora.

Ia menoleh pada Tuan Bernard. "Tuan Bernard, data logistik sudah menunjukkan ini selama enam bulan. Setiap pengiriman kita harus melewati tiga pos milik Duke Alistair Eiser. Bukankah biaya di pos 'Iron Pass' naik drastis, sekitar perak per gerobak, sejak enam bulan lalu?"

Tuan Bernard, yang memang kompeten dalam mencatat, mengangguk. "Itu benar, Lady. Saya mencatatnya sebagai 'biaya tambahan' biasa, sesuai laporan dari pos."

"Itu kesalahan kita, Tuan Bernard," jelas Eleanora. "Biaya tambahan itu sengaja dibuat, Ayah. Alistair tidak langsung menyetop barang kita. Dia hanya menaikkan biaya kirim gila-gilaan sampai kita tidak untung lagi. Dengan biaya kirim setinggi itu, kita jadi tidak bisa menjual dengan harga bagus. Kita kehabisan uang sebelum pernikahanku. Ini bukan biaya, Ayah. Ini adalah taktik perang ekonomi yang diam-diam mencekik kita."

Duke Villon terdiam, matanya menyipit saat ia melihat pola yang tersembunyi. Ia bukan tidak pintar, tetapi terlalu fokus pada ancaman militer sehingga melewatkan serangan ekonomi yang diam-diam ini.

Eleanora maju selangkah. "Kita punya dua pilihan, Ayah. Pilihan pertama: kita tetap di sini, menunggu Alistair menghabiskan sisa uang kita, dan menyerah saat menikah nanti. Pilihan kedua: kita melawan, dengan data dan ketegasan."

Ia menyodorkan perkamen berisi tiga poin utama yang sudah disiapkan.

Cari Jalan Lain, "Kita harus punya jalan cadangan, Ayah. Segera bicara dengan Viscount Renwald di Timur. Jalur itu lebih jauh, tapi bebas dari cengkeraman Alistair. Begitu kita punya jalur cadangan, kita bisa bernegosiasi tanpa takut dia memutus pasokan kita."

Ganti Pemasok Senjata, "Kita terlalu bergantung pada Duke Utara untuk senjata. Kita harus segera mencari pemasok di wilayah Selatan. Kita harus memastikan musuh tidak memegang kunci gudang senjata kita."

Tunda Hadiah, "Dan ini yang paling penting: Tunda pengiriman hadiah apa pun ke Utara. Jangan terlihat memohon. Kita tunda pertunangan ini. Ini akan mengirim pesan bahwa kita sedang mempertimbangkan ulang aliansi ini karena biayanya sudah tidak masuk akal..Tujuan kita bukan menunda, Ayah, tetapi memutuskan ikatan yang sudah merugikan ini."

Duke Villon mengangguk perlahan. Tuan Bernard, di sampingnya, tampak lega karena akhirnya ada yang mengurai kejanggalan di datanya.

"Ini... ini adalah pemikiran yang sangat logis, Eleanora," kata Ayah, nada suaranya berubah menjadi pengakuan. "Kau benar. Aku dan Bernard tidak melihat kejanggalan itu sebagai serangan. Aku akan segera kirim protes dan bicara dengan Viscount Renwald."

Duke Villon menatap putrinya lama, kehati-hatian bercampur dengan rasa bangga yang tersembunyi.

"Keputusanmu untuk menunda hadiah sudah benar," kata Duke Villon. Ia kemudian menghela napas, suaranya kembali kaku. "Baiklah. Aku tidak akan memberimu gelar, Eleanora. Tapi aku akan memberimu otoritas penuh atas pengawasan logistik Tambang Merah. Tugasmu adalah mengawasi Tuan Bernard dan memastikan semua tiga usulanmu dijalankan dengan benar. Tuan Bernard, untuk sementara, Lady Eleanora adalah penasihat utama dan supervisor Anda. Laporkan semua perkembangannya padanya. Tunjukkan padaku bahwa kau pantas mendapatkan kepercayaan ini, Eleanora."

Eleanora mengangguk. Kemenangan pertama telah diresmikan. Otoritas sementara ini adalah pijakan yang ideal untuk memulai perang dingin melawan Duke Alistair dan akhirnya, memutuskan pertunangan.

Pagi berikutnya, Eleanora kembali ke ruang kelas. Tuan Elron sudah ada di sana, menulis di papan tulis seperti biasa, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menjadi saksi kunci atas perubahan Castle Villon.

"Selamat pagi, Lady Eleanora," sapanya tanpa melihat. "Kita akan kembali ke defisit itu. Aku ingin kau mencari..."

"Tuan Elron," potong Eleanora.

Tuan Elron mengangkat kepala, ekspresi bingung dan sedikit kesal mewarnai wajahnya. "Ada apa, Lady? Kau punya pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Aku sudah menyelesaikannya," kata Eleanora. Ia berjalan ke papan tulis, mengambil kapur, dan menulis deretan angka besar yang sudah Ayahnya dan Tuan Bernard akui.

"Anda pernah bertanya padaku," katanya, membalikkan badan, menatap Tuan Elron lurus. 'Apakah penderitaanmu yang luar biasa selama dua minggu ini akan sepadan, Lady Eleanora?'

Eleanora menunjuk angka di papan tulis. perak.

"Angka itu, Tuan Elron, adalah total kerugian yang berhasil saya identifikasi, berdasarkan studi kasus yang saya modifikasi dari soal Anda." Eleanora tersenyum tenang. "Soal defisit $10.000 Tambang Batu Giok 'Sungai Utara' sangat mirip dengan laporan mengenai pasar yang melemah di wilayah Duke Villon. Karena itu, saya menggunakan data dari sana untuk mencari jawaban yang sebenarnya."

Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Anda mengira defisit itu hanya disebabkan oleh kenaikan biaya buruh. Saya menemukan bahwa lonjakan biaya kirim $120 perak per gerobak adalah pencurian tersembunyi. Dengan data logistik yang benar, defisit yang terlihat kecil itu ternyata adalah serangan terstruktur senilai $230.400 yang mencekik secara diam-diam."

Tuan Elron menatap angka tersebut, lalu menatap Eleanora. Kapur di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi klik yang tajam.

Dia terdiam lama, matanya terbuka lebar karena terkejut—kali ini bukan karena perhitungan, tetapi karena konsekuensi kekuasaannya.

"Lady Eleanora," bisiknya, suaranya dipenuhi rasa hormat yang tak terduga. "Saya akui, Anda tidak hanya memecahkan soal itu, Anda mengubah takdir Kekuasaan Villon dengan Statistika. Itu adalah pemikiran yang brilian." Ucapnya, tapi seperti raut yang menunjukan hal biasa saja.

Tuan Elron menarik napas dalam, wajahnya kembali ke ekspresi dingin yang familiar. "Nah, karena soal ini selesai dan terpecahkan, dan walau ini hanyalah Aritmatika Tingkat Dasar Pertama, aku akui memang hebat. Ilmu Statistika Perdagangan yang sesungguhnya? Itu adalah seni memprediksi ekonomi Kekaisaran, bukan hanya memecahkan penipuan."

Tuan Elron menunjuk papan tulis. "Jadi, setelah ini, kita masuk 'Ekonomi Prediktif Tingkat Lanjut'. Pelajaran ini jauh lebih sulit dan panjang dari yang Anda bayangkan. Bersiaplah, Lady Eleanora."

Eleanora mengangguk, menerima tantangan itu. Kemenangan pribadi atas tutor yang keras ini terasa manis, tetapi ia mengerti, ilmu Tuan Elron tidak ada habisnya. Ia telah membuktikan nilainya, dan sebagai imbalannya, ia diberi beban pelajaran yang jauh lebih berat.

Tuan Elron berjalan ke samping papan tulis, mengambil lap, dan mulai menghapus angka $230.400 yang ditulis Eleanora.

"Kelas hari ini selesai, Lady Eleanora," ujar Tuan Elron, suaranya kembali datar dan profesional. "Gunakan waktu luangmu untuk meninjau data pengiriman yang kau gunakan. Kerangka berpikirmu sudah benar, sekarang yang kau butuhkan adalah konsistensi."

"Baik, Tuan Elron," jawab Eleanora. Ia membungkuk hormat.

Saat Eleanora berbalik menuju pintu, Tuan Elron berhenti sejenak menghapus papan tulis.

"Lady Eleanora," panggilnya lagi.

Eleanora menoleh.

Tuan Elron tidak menoleh ke arahnya, hanya menatap sisa-sisa kapur di papan tulis. "Aku tidak pernah meragukan kau bisa menghitung. Aku meragukan kau mau berusaha. Sekarang, aku hanya meragukan kau bisa bertahan dalam jangka panjang."

Eleanora tersenyum, senyum yang tenang dan penuh tekad. "Jangan khawatir, Tuan Elron. Penderitaan saya baru saja dimulai. Dan saya tidak akan membiarkannya sia-sia."

Ia pun meninggalkan ruangan. Pintu tertutup, meninggalkan Tuan Elron sendirian di ruangan itu. Ia hanya menggeleng kecil, lalu kembali menghapus papan tulis, wajahnya menunjukkan sedikit kepuasan yang tersembunyi.

Sore itu, setelah kelas Tuan Elron selesai, desas-desus mengenai kedatangan mendadak Putra Mahkota Zepyr menyebar cepat ke seluruh Kediaman Villon.

Putra Mahkota Zepyr telah tiba tanpa pemberitahuan dan sedang menunggu di Ruang Tamu Utama untuk urusan yang sangat mendesak. Putra Mahkota adalah sosok yang selalu menarik perhatian. Ia menjulang tinggi dengan rambut kuning keemasan yang berkilau dan mata emas kemerahan yang tajam. Tulang rahangnya tegas, alisnya tebal. Ia memancarkan aura dingin dan berwibawa—tipikal pria yang karismatik, tetapi sangat tertutup.

Di Lobi Utama Besar, tempat kereta kuda baru saja berhenti, Duke Villon telah menunggu dengan raut wajah tegang. Di sampingnya, berdiri Duchess Villon yang anggun. Di dekatnya, Elias yang polos, digandeng pengasuhnya.

Eleanora, mengenakan gaun sederhana yang tadi ia gunakan untuk kelas, bergegas menuju Ruang Tamu Utama. Ia mengambil napas dalam, merapikan dirinya, dan melangkah masuk.

Putra Mahkota Zepyr melangkah masuk, ditemani ajudannya, Sir Kael.

Duchess membungkuk dalam. "Selamat datang di Kediaman Villon, Yang Mulia Putra Mahkota. Suatu kehormatan," sapa Duchess dengan kehangatan yang terkontrol. Elias, yang polos, ikut membungkuk, dibantu pengasuhnya.

Putra Mahkota Zepyr hanya mengangguk formal tanpa senyum, mengakui formalitas tersebut, dan segera beralih kepada Duke Villon.

"Duke," ujar Putra Mahkota Zepyr, nadanya dingin dan formal. "Saya datang untuk urusan yang sangat mendesak. Kita harus berdiskusi mengenai administrasi wilayah Anda dan beberapa temuan mengenai aktivitas Duke Alistair Eiser di perbatasan."

Duke Villon segera mengangguk. "Tentu, Yang Mulia. Silakan ikuti saya ke Ruang Tamu. Kami telah menyiapkan penyegaran."

Eleanora bergegas masuk ke Lobi Utama. Ia telah mengganti gaunnya dengan gaun sore yang bersopan dan sederhana namun tetap elegan.

Eleanora mendekat dan melakukan curtsey ala bangsawan yang sempurna, menggerakkan gaunnya dengan anggun. "Selamat datang di Kediaman Villon, Yang Mulia. Suatu kehormatan," ucap Eleanora, suaranya jernih dan sangat sopan.

Tatapan Putra Mahkota Zepyr yang acuh tak acuh beralih kepada Eleanora. Ia mengangguk kaku. Penampilan Eleanora hari itu begitu anggun dan cantik, jauh berbeda dari citra gragas yang ia ingat. Namun, yang paling mengejutkan Zepyr adalah ketenangan dan kekosongan ekspresi Eleanora—benar-benar acuh tak acuh terhadap kehadirannya.

Tidak seperti raut wajah Wanita yang menggilai seorang Pria.

Duke Villon memberi isyarat agar Putra Mahkota Zepyr mengikutinya. Mereka berdua, diikuti Sir Kael, melangkah menuju Ruang Tamu.

Setelah rombongan politik itu berlalu, Duchess, Elias, dan Eleanora ditinggalkan di Lobi Utama yang luas.

Duchess menghela napas lega, ketegangannya mereda. "Syukurlah. Dia tidak tinggal lama di sini," bisiknya pada Eleanora, kemudian melirik lembut Elias. "Elias, kau sudah sangat sopan, Sayang. Kau boleh kembali ke kamarmu sekarang."

"Kakak!" Elias, yang selalu mengagumi Eleanora, berlari dan memeluk pinggang Eleanora. "Putra Mahkota itu tinggi sekali! Kenapa dia tidak tersenyum?"

Eleanora tersenyum hangat, mengelus rambut adiknya. "Orang penting seperti Yang Mulia punya banyak hal di pikiran mereka, Elias. Kau mau jalan-jalan denganku sebentar di taman? Kakak perlu udara segar."

"Tidak perlu, Nak. Jangan ganggu dirimu," sela Duchess Villon, nadanya sedikit cemas. "Kau tahu, mereka sedang membahas hal yang serius, yang melibatkan..." Duchess menggantung kalimatnya, tidak ingin menyebut nama Alistair di depan Elias.

"Saya tahu, Ibu," potong Eleanora dengan tenang. "Mereka sedang membahas Duke Alistair Eiser. Dan karena urgensi masalah itu, saya tidak berhak berada di Ruang Tamu sekarang. Lebih baik saya pergi dan menenangkan diri. Saya tidak akan buang waktu Ayah."

Duchess menatap Eleanora dengan ekspresi terkejut. Putriku tahu apa yang sedang dibicarakan? Ia tidak bertanya lebih lanjut, tetapi rasa hormat di matanya jelas terlihat.

"Baiklah, pergilah ke taman," kata Duchess, mengizinkan. "Elias, kita kembali ke kamarmu."

Eleanora mengangguk, melepaskan pelukan Elias, dan mencari Seraphine. Ia meninggalkan lobi, menuju taman.

Eleanora menuju taman utama. Setelah berhari-hari terkunci di Ruang Baca, ia butuh pandangan yang menyegarkan di antara hamparan bunga. Itu adalah caranya mencari ketenangan di tengah tekanan politik yang baru ia hadapi.

Langkah elegan Eleanora terhenti. Matanya yang tajam melihat Seamus, pengurus kebun tua yang terkenal, berjalan tertatih-tatih, tampak berusaha menyembunyikan diri di balik semak.

"Seamus? Ada apa denganmu?" tanya Eleanora, dengan kebingungan dan khawatir.

Seamus membungkuk canggung. "Mohon maaf, Lady Eleanora. Saya hanya perlu istirahat sebentar, lalu akan kembali bekerja. Saya hanya... agak lelah." Ia menahan lengannya, tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya.

Eleanora mendekat. Ia melihat ruam aneh di lengan Seamus

"Seraphine, tolong dudukkan Tuan Seamus di gazebo, dengan hati-hati. Dan ambilkan teh panas tawar dari dapur. Cepat," perintah Eleanora pada pelayannya.

Ia berbalik kepada Seamus. "Duduk sekarang. Kesehatanmu lebih penting." katanya dengan ketenangan yang elegan.

"Saya tahu Anda bukan cuma lelah," kata Eleanora. 

"Saya tidak apa-apa, Lady." ucapnya, Eleanora melihat raut wajah kesakitan itu.

Eleanora menyentuh area yang sedikit bengkak di lengan Seamus.

Seamus meringis. "Apanya yang tidak apa-apa? Rasa sakit itu tidak akan hilang cuma dengan pura-pura kuat. Saya bukan dokter, tapi saya tahu penyakit yang disembunyikan itu lebih bahaya."

Saat itu, beberapa pelayan wanita melewati jalur taman. Mereka berhenti, saling berbisik, penasaran melihat Eleanora, tapi tidak ada yang berani mendekat.

Eleanora, tanpa menoleh, menunjuk salah satu pelayan. "Kamu! Segera panggil Dokter Keluarga. Bilang Dokter, Seamus kena ruam parah dan harus datang sekarang juga!" Perintah itu efektif dan membuat pelayan itu lari tanpa bertanya.

Dokter Keluarga tiba tak lama kemudian. Setelah memeriksa ruam, Dokter tampak khawatir. "Ini adalah ruam kontak yang kuat, Tuan Seamus. Kami harus cepat mencari penyebabnya. Coba ingat, apakah Anda menyentuh tanaman aneh, atau pupuk kimia baru?"

Seamus mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Tidak ada, Dokter. Saya merawat mawar, krisan, dan anggrek seperti biasa. Tidak ada yang aneh..." Ia tampak frustrasi karena tidak bisa mengingat, maklum usianya sudah tua.

Saat Seamus kebingungan, seorang pelayan muda yang berdiri di dekat sana tiba-tiba maju, tampak gelisah.

"Mohon maaf, Tuan Dokter, Lady Eleanora," kata pelayan muda itu, suaranya sedikit gemetar.

Ia menunjukkan tangannya yang terdapat ruam samar. "Tadi, Dokter tanya soal pupuk baru. Saya ingat... kemarin saya membantu Tuan Seamus memindahkan karung-karung pupuk khusus anggrek dari gudang. Setelah itu, tangan saya mulai gatal, dan ruamnya persis seperti yang dialami Tuan Seamus, hanya lebih ringan."

Eleanora menatap ruam di tangan kedua orang itu, pandangannya tenang dan penuh pertimbangan. Ia menyentuh dagunya dengan gerakan elegan, fokus pada fakta, bukan emosi. "Pupuk baru. Dokter, itu titik terangnya," ujar Eleanora, suaranya pelan dan serius. "Penyebabnya sudah kita temukan. Sekarang, bagaimana perawatannya?"

Dokter mengangguk lega. "Tuan Seamus, Anda harus segera menghentikan semua kegiatan dan beristirahat total. Racun itu harus dikeluarkan dari kulit Anda. Anda tidak boleh bekerja."

Eleanora segera mengambil inisiatif logistik. "Baik. Dokter, periksa pelayan ini dan segera tangani ruamnya."

Eleanora beralih ke Ksatria yang berpatroli di dekat situ. "Pengawal" panggil Eleanora dengan wibawa seorang pewaris. "Papah Tuan Seamus menuju gedung para pekerja. Pastikan ia mendapatkan ranjang yang bersih dan nyaman. Kamu bertanggung jawab penuh atas kenyamanannya. Seamus tidak bisa berjalan sendiri."

Seamus menolak, merasa tak enak. "Lady, sungguh, tidak perlu merepotkan..."

"Ini perintah, Seamus," potong Eleanora dengan senyum hangat, penuh iba. "Dan saya tahu Anda tinggal di desa timur, di perbatasan wilayah Ksatria ini, betul? Saya pastikan Anda aman. Ksatria ini memiliki catatan pengabdian yang baik. Percayalah." Ksatria itu terkejut.

Setelah Seamus dipapah pergi, para pelayan yang tadi mengintip kini benar-benar penasaran. Mereka berbisik, bertanya-tanya mengapa Eleanora tahu begitu banyak hal kecil di kastil. Mereka masih takut bertanya langsung.

Eleanora, yang telah menyelesaikan krisisnya, berbalik pada mereka. Ia tahu saatnya membangun jembatan.

"Ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Eleanora, suaranya lembut dan mengundang, sambil mengulas senyum kecil.

Para pelayan saling pandang. Keheningan sempat menggantung, penuh keraguan. Akhirnya, salah satu pelayan wanita memberanikan diri.

"Lady Eleanora," kata pelayan itu hati-hati. "Kami... kami penasaran mengapa Anda tahu soal pupuk dan bagaimana Anda bisa tahu begitu cepat tentang Tuan Seamus. Dan kami juga dengar... Anda memarahi Kepala Juru Masak?"

Eleanora tersenyum anggun, membiarkan pertanyaan itu terjawab secara perlahan.

"Oh, ya, itu benar," Eleanora menjawab dengan tawa kecil yang alami dan menyenangkan. "Kepala juru masak menyembunyikan laporan bahan makanan. Konyol, kan? Aku harus memastikan semua berjalan lurus, jadi aku mengajarinya pelajaran tentang kejujuran."

Eleanora memberi jeda sejenak, beralih dari cerita tentang pekerjaan ke arah mereka, membuat mereka merasa setara.

"Aku senang sudah bisa mengobrol dengan kalian. Sekarang, aku ingin tahu dari kalian. Ada kejadian apa di sekitar sini? Atau, adakah keluhan yang belum sampai ke telingaku?"

Eleanora duduk di bangku batu dan memberi isyarat agar mereka juga duduk. Para pelayan, yang kini merasa lebih nyaman dan diakui, mulai membuka diri. Mereka bercerita tentang gosip lucu di dapur, kesulitan kecil sehari-hari, dan hal-hal sepele yang membuat pekerjaan mereka stres. Eleanora mendengarkan dengan penuh perhatian dan sesekali terlibat dalam dialog yang ringan dan mengalir.

Para pelayan yang mendengarkan menjadi terhibur dan terkesan. Mereka menyadari Eleanora sudah berubah. Kepemimpinan Eleanora kini terasa hangat, lembut, namun cerdik, dan kecantikannya terpancar alami tanpa riasan berlebihan.

Tak lama kemudian, pintu Ruang Tamu terbuka. Putra Mahkota Zepyr keluar bersama Sir Kael. Kepalanya terasa penat setelah diskusi panjang dan tegang dengan Duke Villon. Ia berniat mencari udara segar.

Duke Villon melangkah ke samping pintu, mengamati punggung Putra Mahkota. Ia sempat berpikir, Putriku... dia benar-benar tahu apa yang terjadi. Dia tidak salah masuk ruangan. Duke Villon menghela napas, rasa bangga dan penyesalan karena harus mempertahankannya dalam pertunangan yang mengerikan itu beradu di dadanya.

Langkah Putra Mahkota Zepyr terhenti begitu ia mencapai koridor yang menghadap taman.

Dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang sama sekali tidak terduga.

Lady Eleanora, yang baru saja memimpin krisis medis, kini tertawa lepas bersama sekelompok pelayan. Eleanora tampak begitu ramah dan senang bergaul dengan mereka.

Dia bahkan tidak melihatku dan mencariku lagi, ya.

Putra Mahkota Zepyr merasa kebingungan itu semakin tajam. Eleanora yang dikenalnya adalah sosok yang gragas dan mengganggu.

Tapi, gadis itu baru - baru ini bersikap tenang dan sopan.—dan yang paling penting, sama sekali tidak gila dulu pada dirinya.

"Yang Mulia?" bisik Sir Kael, berusaha mengingatkan Putra Mahkota Zepyr tentang jadwal mereka.

Mata Putra Mahkota Zepyr mengikuti Eleanora lebih lama dari yang seharusnya. Eleanora, yang merasakan tatapan tajam, mendongak.

Mata mereka bertemu. Eleanora segera bangkit dari duduknya. Para pelayan yang bersamanya, yang menyadari tatapan Putra Mahkota Zepyr, ikut berdiri dengan cepat dan menunduk hormat.

Eleanora melakukan curtsey formal yang sempurna kepada Putra Mahkota Zepyr dan Sir Kael. "Yang Mulia Putra Mahkota, Sir Kael. Selamat sore," ucapnya dengan suara tenang dan hormat.

Putra Mahkota Zepyr hanya mengangguk kaku, masih terkejut dengan pemandangan yang disaksikannya.

Setelah memberi hormat, Eleanora kembali duduk di bangku batu, mengisyaratkan para pelayan untuk melanjutkan kegiatan mereka, dan beralih kembali kepada pelayan yang tadi berbicara. Dia tidak menunggu Putra Mahkota Zepyr merespons lebih jauh atau mengajaknya bicara.

Putra Mahkota Zepyr terdiam. Dia dihormati, tetapi diabaikan. Penghormatan Eleanora hanyalah etika belaka, perhatiannya yang sesungguhnya berada di tempat lain.

"Yang Mulia, kita harus segera menuju ruang kerja..." bisik Sir Kael lagi, kali ini lebih mendesak.

Putra Mahkota Zepyr baru tersentak dan mengalihkan pandangannya, raut wajahnya kembali dingin. "Ya. Mari kita pergi, Kael," jawabnya singkat, masih memproses tindakan Eleanora yang terlalu sopan hingga terasa seperti penolakan halus.

Ini adalah Eleanora yang benar-benar berbeda. Apa yang sedang dimainkan oleh putri Duke Villon ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status