Share

CHAPTER #5

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-18 01:06:42

Eleanora, kembali dengan kereta kudanya, tidak langsung menuju Kastil Villon. Ia mengarahkan kereta ke Kediaman Valois. Ia ingin memastikan Dr. Cassian Bellamont telah diterima dan memulai pekerjaannya.

Di gerbang Kediaman Valois, Ayah Elara, Count Valois, menyambutnya. Pria itu tampak lelah dan rapuh, tetapi matanya kini bersinar dengan harapan yang baru.

"Lady Eleanora! Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih!" seru Count Valois, membungkuk dalam-dalam. "Dr. Bellamont... dia luar biasa. Elara membawanya masuk dan dalam sepuluh menit, dia sudah mendiagnosis istri saya dengan akurat. Bukan demam dingin. Bukan histeria. Sindrom Koagulasi Vaskular. Nama penyakit yang belum pernah kami dengar. Dia sekarang sedang meracik ramuan. Kami tidak tahu Anda memiliki koneksi seperti itu."

Eleanora bersikap tenang. "Count Valois, saya datang bukan untuk pujian. Saya datang untuk memastikan keluarga Anda aman. Saya yakin Dr. Bellamont dapat diandalkan."

"Dia bukan hanya diandalkan, Lady. Dia adalah keajaiban," kata Count Valois, suaranya dipenuhi rasa terima kasih. "Dia bahkan menolak bayaran awal. Dia hanya meminta bahan-bahan yang sangat langka. Kami sudah mengirim utusan untuk mencarinya."

Eleanora mengangguk. Bagus. Cassian tetap setia pada ilmu, bukan uang.

Eleanora tersenyum lembut kepada Count Valois. "Count Valois, saya bisa melihat penderitaan Anda dan Lady Elara. Kita adalah keluarga yang sama-sama dihakimi oleh Ibu Kota, bukan? Saya tahu bagaimana rasanya ketika tidak ada yang mau mendengarkan." Eleanora berhenti sejenak, memberikan waktu bagi kata-katanya untuk meresap. "Saya hanya berharap... setelah Nyonya Countess pulih, kita bisa berbicara lagi. Saya percaya, keluarga yang bersatu dalam kesulitan pasti memiliki masa depan yang lebih kuat."

Count Valois, yang sangat sadar akan status politiknya yang lemah dan baru saja diselamatkan dari bencana, segera memahami maksud Eleanora. Matanya dipenuhi tekad yang baru.

"Lady Eleanora, jangan khawatir soal itu," kata Count Valois, nadanya kini tegas dan penuh martabat. "Keluarga Valois... kami berutang nyawa kepada Anda dan Villon. Kami tidak akan pernah melupakan bantuan ini. Kami akan berdiri bersama Villon. "

Eleanora tersenyum. Itu adalah pengakuan yang ia inginkan. "Terima kasih, Count. Saya menghargai ketulusan Anda."

"Sekarang, izinkan saya pulang. Jaga baik-baik Dr. Bellamont, Count. Pastikan ia memiliki semua yang ia butuhkan. Dia adalah aset yang sangat berharga."

Eleanora meninggalkan Kediaman Valois, rasa puas memenuhi hatinya. Aliansi telah terjalin dengan ikatan yang kuat: utang nyawa dan kesamaan nasib. Langkah pertama dalam membangun benteng politiknya telah berhasil.

Eleanora kembali ke Kediaman Villon dalam keadaan kelelahan, tetapi pikirannya bergerak cepat. Ia telah mendapatkan Dr. Cassian Bellamont dan aliansi Valois. Kini, tiba waktunya untuk menghadapi masalah terbesar: Duke Alistair Eiser, auditor Kerajaan yang mengancam kehormatan Villon.

Malam itu, Eleanora tidak tidur. Ia menghabiskan waktu bersama Seraphina dan satu juru tulis kepercayaan yang telah ia saring. Fokus mereka adalah memilah kertas-kertas keuangan Villon yang kacau.

"Seraphina, kita tidak perlu membenarkan semua," bisik Eleanora, matanya tajam menelusuri daftar transaksi. "Kita hanya perlu membenarkan bagian yang paling sensitif dan menyembunyikan bagian yang paling mengancam dari pandangan Duke Eiser."

Eleanora sudah tahu dari kehidupan sebelumnya, Duke Eiser tidak tertarik pada keuangan Villon yang sebenarnya. Ia hanya mencari celah hukum dan alasan moral untuk menjatuhkan Duke Villon.

"Tuan Putri," kata juru tulis itu dengan cemas. "Duke Eiser akan datang dengan auditornya besok siang. Kita tidak akan pernah selesai."

"Kita tidak perlu selesai," balas Eleanora dengan senyum dingin. "Kita hanya perlu menyiapkan umpan. Ingat, Duke Eiser mencintai permainan dan rasa puas diri. Kita akan memberinya kemenangan palsu."

Eleanora menginstruksikan mereka untuk menumpuk semua dokumen yang tampaknya rumit—utang yang tidak penting, pengeluaran amal yang dibesar-besarkan, dan sumbangan fiktif. Sementara itu, dokumen yang sangat berbahaya—bukti pembelian lahan terlarang yang dilakukan Duke Villon di masa lalu—disembunyikan di balik bingkai foto di perpustakaan.

Pukul sepuluh pagi di Hari Keempat, kereta kuda berlambang Eiser yang mewah berhenti di gerbang Kastil Villon. Duke Alistair Eiser—pria muda yang baru berusia awal dua puluhan, elegan, dan menawan, dengan rambut cokelat muda (ash brown) yang rapi dan senyum yang terlalu sempurna—turun bersama dua auditor kepercayaannya. Meskipun muda, matanya memancarkan ketajaman dan otoritas yang melebihi usianya, sorot seorang predator yang menikmati permainan kekuasaan.

Duke Eiser disambut oleh Duke Villon, yang terlihat gugup dan tidak berdaya. Eleanora menunggu di aula utama, mengenakan gaun biru tua yang menunjukkan keseriusan dan wibawa.

"Duke Villon, lama tidak bertemu," sapa Duke Eiser dengan suara halus yang dipenuhi karisma palsu. "Saya harap kunjungan audit ini tidak terlalu mengganggu ketenangan keluarga Anda."

Duke Villon hanya tergagap. "Tidak, Duke Eiser. Silakan saja. Eleanora akan membantu Anda."

Duke Eiser menoleh ke Eleanora, senyumnya sedikit meremehkan. "Ah, Putri Eleanora. Saya dengar Anda yang mengambil alih urusan kertas-kertas ini. Ini tugas berat untuk seorang wanita muda, tetapi jangan khawatir. Auditor saya akan menunjukkan di mana letak kesalahan dan kelalaian yang tidak disengaja."

Eleanora membungkuk dengan hormat yang sempurna. "Duke Eiser, selamat datang di Kediaman Villon. Kami sangat menghargai waktu Anda. Semua dokumen sudah saya siapkan di perpustakaan. Kami tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan."

Eleanora memimpin rombongan itu ke perpustakaan yang megah, tetapi gelap. Dia telah memerintahkan agar hanya sedikit lilin yang dinyalakan.

"Silakan, Duke Eiser," kata Eleanora, menunjuk ke tumpukan besar dokumen yang dipersiapkan semalam. "Saya sudah memilahnya sesuai tanggal. Saya harap ini mempermudah Anda menemukan... kelalaian kami."

Duke Eiser dan auditornya segera mulai bekerja. Eleanora tahu Duke Eiser tidak akan membuang waktu untuk meneliti setiap angka. Dia mencari poin kunci yang memalukan.

Setelah satu jam, Eleanora mendekat. "Maaf mengganggu, Duke. Tetapi saya yakin Anda akan tertarik pada bagian ini."

Eleanora dengan sengaja menunjuk pada dokumen yang ia persiapkan: Laporan Fiktif Sumbangan Amal Villon yang Hilang.

"Laporan ini," jelas Eleanora dengan nada khawatir yang dibuat-buat, "adalah bukti bahwa Villon telah menjanjikan sumbangan besar untuk Panti Asuhan Katedral Selatan, tetapi dokumen pengirimannya hilang. Ini adalah kelalaian saya. Saya sungguh malu, Duke, karena ini melanggar Kode Etik Amal Kekaisaran."

Wajah Duke Eiser bersinar. Bukan karena uangnya, tetapi karena kerusakan reputasi yang bisa ditimbulkannya. Melanggar Kode Etik Amal jauh lebih buruk di mata publik daripada memiliki utang. Ini adalah senjata yang mematikan.

Dia menggigit umpan, pikir Eleanora puas.

Duke Eiser tersenyum puas. "Kelalaian yang sangat serius, Putri Eleanora. Saya harus menyelidiki ini lebih lanjut. Anda benar, ini lebih dari sekadar angka."

"Tentu saja, Duke. Saya akan menyiapkan kereta untuk Anda mengunjungi Katedral Selatan sore ini," balas Eleanora.

"Tidak perlu," potong Duke Eiser. "Saya akan menyerahkan temuan ini kepada Putra Mahkota Zepyr. Terima kasih, Putri. Anda telah sangat membantu."

Duke Eiser meninggalkan Kediaman Villon dengan cepat, membawa serta dokumen umpan yang Eleanora siapkan. Eleanora tahu, dia baru saja memberikan senjata api yang ia isi dengan peluru kosong.

Duke Eiser teralihkan dari audit keuangan yang sebenarnya dan kini fokus pada upaya publik untuk mempermalukan Villon—hal yang bisa dibantah Eleanora dengan mudah karena Panti Asuhan Katedral Selatan tidak pernah menerima janji sumbangan itu. Ini memberi waktu kepada Villon untuk bernapas.

Eleanora tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Duke Eiser, yang kini yakin telah menemukan kelemahan moral Villon, akan segera melapor kepada Putra Mahkota Zepyr Eterian, yang terkenal menjunjung tinggi citra dan etika kerajaan.

"Putra Mahkota Zepyr sangat membenci segala bentuk kemunafikan," jelas Eleanora kepada ayahnya malam itu, setelah Duke Eiser pergi. "Duke Eiser tidak akan fokus pada utang, Ayah, melainkan pada 'pelanggaran Kode Etik Amal' yang memalukan itu. Dia ingin membuat Putra Mahkota jijik pada Villon."

Duke Villon, yang masih terguncang, bertanya, "Lalu, apa yang akan kita lakukan, Nora? Kita tidak bisa membantah sumbangan fiktif itu jika kertasnya sudah di tangan Eiser."

"Kita biarkan saja," balas Eleanora, matanya berkilat dingin. "Kita tunggu. Putra Mahkota Zepyr akan memanggilku untuk memberikan klarifikasi, bukan Duke Eiser. Dia ingin melihat kebenaran dari 'korban' langsung."

Tepat seperti yang diprediksi Eleanora, keesokan paginya, utusan kekaisaran tiba di Kediaman Villon membawa segel resmi. Eleanora Villon dipanggil untuk menghadap Putra Mahkota Zepyr di Istana Utama sore itu.

Untuk pertemuan penting ini, Eleanora memilih gaun yang menunjukkan kesederhanaan, penyesalan, dan kejujuran. Ia mengenakan gaun abu-abu gelap tanpa perhiasan mencolok, hanya mutiara yang diberikan ibunya. Tujuannya adalah menciptakan kontras total dengan kemewahan palsu yang biasa ditampilkan bangsawan, memperkuat citra gadis muda yang jujur namun naif dan terbebani.

"Ingat, Nona," pesan Seraphina saat membantunya berdandan. "Anda ke sana untuk mengakui kelemahan, bukan kesalahan."

"Aku tahu, Seraphina," balas Eleanora. 

Eleanora memasuki ruang audiensi Putra Mahkota Zepyr Eterian. Putra Mahkota Zepyr—seorang pria muda yang berkarisma dan tampan, tetapi sorot matanya yang tegas tampak dingin dan kaku dalam menilai setiap situasi—duduk di singgasananya. Zepyr adalah sosok yang menjunjung tinggi keadilan dan etika, namun seringkali terlalu mudah dimanipulasi oleh citra kebenaran.

Di samping Zepyr, berdiri Duke Alistair Eiser, yang tersenyum penuh kemenangan, yakin bahwa umpan yang ia berikan telah berhasil.

Eleanora berlutut dengan sempurna, menundukkan kepalanya.

"Putri Eleanora Villon," ujar Putra Mahkota Zepyr, suaranya dipenuhi kekecewaan yang dingin. "Duke Eiser telah menyerahkan temuan dari audit Kediaman Villon. Ia melaporkan adanya kelalaian serius terkait Sumbangan Amal Fiktif untuk Panti Asuhan Katedral Selatan. Apakah Anda, sebagai penanggung jawab baru keuangan Villon, dapat memberikan klarifikasi yang jujur?"

Eleanora tetap menunduk, suaranya terdengar bergetar. "Yang Mulia, saya memohon ampun. Saya sungguh menyesal. Tidak ada klarifikasi selain pengakuan atas kebodohan dan keputusasaan saya."

Duke Eiser menyeringai tipis. Ia mengira Eleanora akan membantah.

"Jelaskan," perintah Zepyr, nadanya sedikit melunak karena penyesalan yang tampak tulus itu.

Eleanora mengangkat kepalanya, matanya sedikit berkaca-kaca (hasil dari latihan yang ia lakukan semalaman). Ia memandang Zepyr dengan ekspresi penyesalan yang tulus.

"Yang Mulia, setelah Ayah saya sakit dan urusan Villon menumpuk, saya merasa sangat tertekan untuk menunjukkan kepada Ibu Kota bahwa kami baik-baik saja," bisik Eleanora, air mata mulai mengalir di pipinya. "Saya... saya tahu ini tindakan yang memalukan. Saya menciptakan laporan fiktif tentang sumbangan amal itu hanya untuk menyenangkan mata auditor. Saya berharap Duke Eiser hanya melihat kebaikan Villon, bukan kesulitan kami. Saya takut kehormatan keluarga kami akan hilang sepenuhnya."

Zepyr tampak terkejut. Pengakuan Eleanora adalah bom yang tidak terduga. Ia tidak menyalahkan orang tuanya, tidak menyalahkan Duke Eiser, melainkan mengakui kelemahan dirinya sendiri yang naif dan putus asa.

"Jadi," sela Duke Eiser dengan tajam, berusaha merebut kembali kendali. "Anda mengakui bahwa Anda mencoba menipu tim audit Yang Mulia dengan dokumen palsu, dan melanggar etika Kerajaan?"

Eleanora mengangguk, menatap langsung ke Duke Eiser dengan tatapan yang menyiratkan rasa bersalah yang naif. "Ya, Duke Eiser. Itu adalah kesalahan saya. Saya hanya... seorang wanita muda yang takut. Tapi tolong, Yang Mulia, percayalah bahwa Villon tidak pernah memiliki niat untuk mengambil dana dari amal. Saya hanya gagal dalam mengatur kertas-kertas dan mencoba menutupi kegagalan itu dengan kebohongan yang bodoh."

Putra Mahkota Zepyr menghela napas panjang. "Putri Eleanora," katanya, suaranya kini melunak dengan sentuhan iba. "Saya menghargai kejujuran Anda. Saya melihat keputusasaan Anda, bukan niat jahat. Berdiri."

Eleanora bangkit.

"Meskipun tindakan Anda memalukan," kata Zepyr, "Pengakuan Anda menunjukkan keberanian. Audit akan berlanjut, tetapi Duke Eiser... fokuslah pada masalah keuangan yang sebenarnya, bukan pada kelalaian moral yang disebabkan oleh keputusasaan."

Duke Eiser membeku. Eleanora tidak hanya lolos dari jebakan, tetapi ia juga membuat Zepyr mengalihkan perhatiannya dari jebakan amal yang sebenarnya tidak ada dan justru memerintahkan Eiser untuk kembali fokus pada audit keuangan.

Eleanora membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas keadilan dan belas kasihan Anda, Yang Mulia. Saya akan membereskan semua kertas-kertas Villon, dan saya berjanji tidak akan ada lagi kelalaian."

Eleanora meninggalkan Istana, meninggalkan Putra Mahkota Zepyr yang kini merenung dan Duke Eiser yang tampak sangat kesal. Ia telah memenangkan pertempuran penting itu.

Eleanora kembali ke Kediaman Villon dari Istana dengan membawa kemenangan kecil. Ia telah membeli waktu yang sangat berharga. Malam itu, ia segera memanggil kembali Seraphina dan para juru tulis.

"Putra Mahkota kini memerintahkan Duke Eiser kembali fokus pada audit keuangan, bukan pada moralitas yang ia anggap sebagai 'kelalaian bodoh'," jelas Eleanora. "Kita punya waktu paling banyak dua minggu sebelum Duke Eiser mendapatkan temuan nyata yang tidak bisa kita bantah."

Tujuan Eleanora kini adalah membersihkan kertas-kertas Villon hingga bersih sempurna dan menciptakan sumber pemasukan baru yang tersembunyi dari pandangan Duke Eiser.

"Seraphina," instruksi Eleanora, suaranya dipenuhi otoritas baru. "Kita mulai dengan melunasi semua utang kecil yang bisa kita bayar hari ini juga. Minta ayah menjual aset perhiasan keluarga yang besar namun tidak memiliki nilai sentimental—jadikan itu uang tunai. Utang kecil adalah lubang yang paling cepat menguras reputasi."

Eleanora kemudian mengambil gulungan peta Kekaisaran yang ia gambar sendiri. "Kedua, kita harus mengamankan sumber daya tersembunyi yang bisa kita kembangkan dalam kerahasiaan total."

Dia menunjuk ke wilayah terpencil di perbatasan utara, lahan yang dulunya diabaikan oleh Duke Villon. "Di sini, Ayah memiliki hak atas lahan tambang yang tidak pernah dikembangkan. Bukan emas, bukan perak, tetapi batu bara kualitas tinggi yang sangat dibutuhkan oleh pabrik militer Kekaisaran."

"Batu bara, Tuan Putri?" tanya seorang juru tulis, bingung.

"Ya. Karena nilainya tidak semewah emas, Eiser tidak akan pernah melihatnya," jawab Eleanora. "Gunakan koneksi yang Ayah tinggalkan di perbatasan. Secara diam-diam, aktifkan penambangan itu. Keuntungan awal, kita tahan dulu di brankas terpisah. Setelah Countess Valois pulih sepenuhnya, dan aliansi kita lebih matang, baru kita akan bicarakan bagaimana mengamankan dana ini bersama Count Valois."

Eleanora tersenyum. Utang nyawa adalah perjanjian yang lebih kuat daripada tinta di atas kertas. Aku akan membiarkan Valois yang secara sukarela menawarkan solusi untuk dana Villon.

Sebagaimana yang Eleanora prediksi, Duke Eiser tidak tinggal diam. Pada Hari Kesembilan, ia mulai mengirim auditornya secara tiba-tiba ke kantor-kantor kecil Villon, berharap menemukan penyimpangan mendadak.

Eleanora tahu Duke Eiser sedang menekan waktu.

Namun, Eleanora sudah siap. Ketika auditor Eiser tiba di kantor pengiriman Kediaman Villon, mereka menemukan bahwa semua utang pengiriman barang telah lunas. Ketika mereka memeriksa daftar pemasok, semua tagihan lama telah terbayar.

Laporan-laporan yang Eiser terima menjadi semakin monoton: Tidak ada penyimpangan besar yang ditemukan. Keuangan Villon mulai menunjukkan perbaikan aneh.

Di tengah ketenangan relatif ini, Eleanora masih fokus pada laporan auditnya. Ia yakin memiliki setidaknya dua bulan lagi sebelum krisis besar melanda Istana, sesuai ingatannya di masa lalu.

Saat Eleanora sedang meninjau catatan, Seraphina masuk dengan cangkir teh, tetapi matanya bersinar karena antusiasme.

"Nona, kabar dari luar sangat menarik," bisik Seraphina. "Count Valois benar-benar menepati janjinya. Mereka tidak menyebut nama Nona, tetapi mereka menyebar desas-desus tentang keajaiban medis di Kediaman Valois dengan sangat efektif."

"Ceritakan," ujar Eleanora, menyesap tehnya, tampak tenang namun fokus.

"Mereka mengatakan Dokter ibu kota kekaisaran sudah salah diagnosis sejak awal, dan Countess disembuhkan total oleh seorang Dokter genius yang dibawa dari perbatasan oleh seorang bangsawan yang sangat peduli," lapor Seraphina. "Yang menarik, Nona, desas-desus itu kini secara alami mengarah pada Villon. Orang-orang berbisik di pesta teh bahwa Putri Villon yang sedang diaudit pastilah satu-satunya yang akan mengambil risiko sebesar itu."

Eleanora tersenyum kecil, meletakkan cangkirnya. "Itu yang aku harapkan. Valois melakukan pekerjaan yang baik. Mereka menonjolkan martabat Villon secara tidak langsung, menggunakan reputasiku yang dicap nekat sebagai kredibilitas."

"Benar, Nona. Dokter Bellamont kini menjadi 'harta tersembunyi Villon' di mata publik," simpul Seraphina.

Namun, di tengah laporan itu, sebuah kereta kuda Kekaisaran tiba mendadak di gerbang Villon. Utusan itu membawa segel khusus dari Kaisar.

"Ada apa ini?" gumam Eleanora, terkejut saat membaca perintah pemanggilan itu. Perintah itu memintanya segera menghadap Kaisar karena Putri Lysandra sakit keras.

Eleanora merasakan jantungnya mencelos. "Tidak... hari ini?" bisiknya kepada Seraphina, meletakkan surat itu. Wajahnya seketika pucat. "Alur takdir telah mulai kusut. Aku mengubah satu hal, dan efeknya luar biasa. Peristiwa yang seharusnya terjadi dua bulan lagi... dipercepat."

Eleanora sadar tindakan kecilnya telah mempercepat krisis besar Keluarga Kekaisaran. Rumor Valois, yang seharusnya hanya menjadi gosip biasa, kini menjadi satu-satunya harapan saat para dokter Kekaisaran bingung.

Kaisar telah mengeluarkan perintah pemanggilan mendadak. Dua jam kemudian, Eleanora, yang harus bergerak cepat, segera mengarahkan kereta kudanya menuju Kediaman Valois.

Eleanora tiba di Kediaman Valois. Count Valois dan Lady Elara menyambutnya dengan panik dan rasa hormat yang luar biasa.

"Lady Eleanora, apa yang terjadi?" tanya Count Valois, terlihat sangat gugup. "Utusan Kekaisaran baru saja menjemput saya untuk memberikan kesaksian. Mereka sangat ingin tahu tentang 'Dokter genius' itu! Apakah rumornya sudah sampai sejauh itu?"

"Ya, Count," jawab Eleanora, tatapannya serius. "Dan itu membawa masalah yang jauh lebih besar. Putri Kekaisaran, Lady Lysandra, sakit keras. Kaisar memanggil saya, dan menuntut Dokter Bellamont untuk merawatnya."

Wajah Elara dan Count Valois memucat. Mereka mengerti implikasinya, ini adalah risiko yang luar biasa besar.

"Dr. Bellamont sudah berada di ruang kerja," ujar Count Valois, menenangkan diri. "Dia siap. Tapi Lady Eleanora, kami berutang nyawa pada Anda. Kami akan membela Dokter Bellamont di hadapan siapa pun yang meragukannya, terutama Duke Eiser."

"Saya tahu, Count. Dan saya mengandalkan kesaksian Anda," kata Eleanora, menegaskan aliansi mereka. "Sekarang, panggil Dokter Bellamont. Kita harus segera ke Istana. Tidak ada waktu."

Dr. Cassian Bellamont, seorang pria muda yang tenang dan fokus dengan sorot mata yang penuh kecerdasan, muncul.

"Dokter Bellamont," sapa Eleanora. "Kita akan ke Istana Kekaisaran. Ini adalah panggung terbesar yang pernah ada, dan nyawa seorang Putri Kekaisaran menjadi taruhannya. Keberhasilan Anda akan membersihkan nama Villon. Kegagalan... akan menjatuhkan kita semua."

Dr. Bellamont mengangguk, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Lady Villon, saya tidak takut dengan bangsawan maupun kegagalan. Saya hanya takut pada ketidaktahuan. Bawalah saya ke sana. Saya akan mendiagnosis Yang Mulia Putri Lysandra."

"Bagus," kata Eleanora. "Ayo pergi. Count Valois, Elara, tolong siapkan kesaksian Anda. Kami akan mengandalkan cerita yang Anda sebarkan."

Eleanora dan Dr. Cassian Bellamont segera menaiki kereta kuda Kekaisaran, menuju Istana.

Eleanora dan Dr. Cassian Bellamont tiba di Aula Pribadi Istana di mana Kaisar duduk, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam dan kelelahan seorang ayah. Ia didampingi oleh Putra Mahkota Zepyr yang tegang dan muram, sementara Duke Alistair Eiser berdiri di sudut ruangan dengan wajah merah.

Eleanora berlutut, dengan Dr. Cassian Bellamont berdiri di belakangnya.

"Putri Villon," kata Kaisar, suaranya parau dan terkontrol. "Akhirnya kau datang. Lysandra... putriku... Ia pingsan, dan demamnya tak turun. Dokter terbaik kami bilang, mereka belum pernah melihat yang seperti ini."

Zepyr mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya yang berkarisma dan kaku kini tampak hancur oleh kesedihan yang terkendali. Mata Zepyr basah, dan setetes air mata mengalir cepat di pipinya sebelum ia dengan sigap menepisnya. Wibawanya tidak runtuh, tetapi Eleanora tahu seberapa besar rasa sakit yang ia rasakan.

"Eleanora," panggil Zepyr, nadanya mendesak, hampir berbisik. "Kami mendengar tentang keajaiban di Valois. Kami mendengar doktermu... dia berani menjamin. Dan kami tidak ingin kehilangan dia."

Eleanora menatap Zepyr. Rasa iba yang tulus menyeruak di hatinya. Di kehidupan sebelumnya, Zepyr memang sangat mencintai adik perempuannya. Melihat gejolak emosi di balik topeng wajah itu adalah pemandangan yang menyentuh.

"Yang Mulia Putra Mahkota," jawab Eleanora lembut. "Saya tidak menjamin. Saya menawarkan kepastian. Dr. Bellamont telah membuktikan kejeniusannya. Izinkan dia memeriksanya. Dr. Bellamont, jelaskan situasinya."

Dr. Cassian Bellamont maju selangkah. "Yang Mulia Kaisar, Countess Valois membutuhkan waktu hampir sebulan untuk pemulihan total. Putri Kekaisaran masih sangat muda, reaksinya mungkin lebih cepat atau lebih lambat. Saya akan membutuhkan kontrol penuh atas lingkungan dan pengobatannya, dan saya harus tinggal di sini."

Duke Eiser segera maju selangkah, menutupi kemarahannya dengan ekspresi prihatin yang sempurna. "Yang Mulia Kaisar, saya sangat menghargai pengorbanan Putri Villon. Namun, Dokter Bellamont ini berasal dari perbatasan, dan ini adalah urusan Istana yang paling sensitif. Demi keamanan dan kerahasiaan pengobatan Putri Lysandra, saya rasa adalah tindakan yang bijaksana jika Putri Villon dan Dokternya tinggal di Istana Tamu selama masa pengobatan ini. Ini akan memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi dengan cepat, dan yang terpenting, kita dapat memastikan bahwa seluruh proses berjalan transparan dan tanpa gangguan pihak luar."

Kaisar mengangguk setuju pada ide itu. "Putri Villon," perintah Kaisar dengan suara yang lebih tenang, tetapi penuh beban. "Kau dan Dokermu akan tinggal di Istana Tamu Kekaisaran. Kau akan mengawasi perawatannya. Ini adalah tanggung jawabmu."

Eleanora tahu maksud Kaisar: Aku ingin melihat apakah rumor Valois itu nyata, atau apakah kau sengaja menyebarkannya untuk membuat kesepakatan denganku.

Eleanora menggeleng halus. "Yang Mulia Kaisar, saya sungguh tersanjung dengan perintah ini. Namun, saya khawatir saya tidak bisa. Saya sangat ingin tinggal di sini, tetapi saya harus menyelesaikan audit Villon. Saya takut saya tidak dapat berkonsentrasi pada kertas-kertas Kediaman Villon dari jarak jauh, dan saya khawatir akan melakukan kesalahan fatal lagi nantinya."

Zepyr mendesak, nadanya penuh ketulusan. "Eleanora, tinggallah sebentar saja. Hanya sampai kami melihat kemajuan pada Lysandra. Aku mohon." Permohonan yang datang dari pria sekaku Zepyr membuat Eleanora luluh.

Eleanora menghela napas, berpura-pura menyerah pada permohonan tulus Zepyr. "Baiklah, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya akan tinggal. Saya akan mengurus Dokter Bellamont, demi keselamatan Putri Lysandra. Tetapi saya harus meminta syarat ini."

Eleanora kembali menghadap Kaisar. "Saya hanya meminta satu hal. Jika saya harus tinggal, saya akan bekerja. Izinkan saya membawa kertas-kertas Villon ke kamar tamu kekaisaran. Dan jika Dr. Bellamont berhasil, audit Villon selesai, Duke Eiser tidak lagi memiliki wewenang untuk mencampuri kami."

Kaisar. "Setuju. Villon dibebaskan dari audit dan intervensi Eiser jika Putri Lysandra pulih. Kau boleh menggunakan kamar tamu kekaisaran sebagai kantormu. Sekarang, secepatnya, mulailah bekerja."

Eleanora tersenyum, kemenangan penuh yang tersembunyi. "Tentu, Yang Mulia."

Kaisar, Zepyr, Eleanora, dan Dr. Bellamont segera menuju kamar tidur Putri Kekaisaran. Di ambang pintu, Kaisar berhenti, wajahnya semakin keruh.

"Kau harus melihatnya dulu, Putri Villon. Kau harus mengerti betapa besarnya harapan yang kau bawa," bisik Kaisar, seolah memberi Eleanora kesempatan terakhir untuk mundur.

Eleanora masuk lebih dulu, mengabaikan tatapan tajam Duke Eiser yang mengikuti dari belakang.

Di tengah ranjang mewah, terbaringlah Putri Lysandra Eterian. Usianya baru enam tahun, dan tubuh mungilnya terlihat begitu lemah di bawah selimut sutra tebal. Wajahnya yang pucat terlihat kontras dengan rambutnya yang indah, berwarna merah muda lembut (soft pink), tergerai di atas bantal. Matanya yang biasanya memancarkan cahaya riang kini tertutup, meninggalkan kesan bulu mata panjang di atas lingkaran abu-abu yang pudar. Perawakannya secara alami lemah lembut, bahkan dalam tidurnya. Dia adalah anak yang pemalu dan pendiam di depan umum, tetapi menjadi sumber kehangatan bagi Zepyr dan Kaisar.

Melihat gambaran kerentanan ini, Eleanora merasakan beban yang lebih berat. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah melihat sisi ini. Anak sekecil ini... anak perempuan Kaisar. Begitu rapuh, dan aku menggunakan nyawanya sebagai alat negosiasi.

Zepyr berdiri di samping ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh dahi adiknya. Demamnya begitu tinggi. Ia menoleh ke Eleanora dengan mata penuh permohonan.

"Eleanora," suara Zepyr tercekat. "Jika kau tahu apa pun yang bisa dilakukan, tolong..."

"Saya mengerti, Yang Mulia," balas Eleanora pelan, memberi Zepyr tatapan meyakinkan. Ia mundur sedikit, memberi ruang kepada Dr. Bellamont. "Dokter Bellamont, tugas Anda."

Dr. Cassian Bellamont maju dengan langkah tenang. Eleanora mengawasi. Kaisar, Zepyr, dan Duke Eiser—tiga kekuatan politik terbesar di Kekaisaran—berdiri dalam diam, menunggu vonis seorang dokter yang asal-usulnya mereka ragukan.

Bellamont memeriksa denyut nadi Putri Lysandra, memeriksa mata abu-abunya yang pudar, dan merasakan suhu tubuhnya. Setelah beberapa menit, ia berdiri tegak, memecah keheningan.

"Yang Mulia Kaisar," kata Bellamont, suaranya mantap. "Ini adalah kasus Sindrom Koagulasi Vaskular tahap awal, diperparah dengan demam tinggi. Persis dengan yang diderita Nyonya Countess Valois, tetapi manifestasinya berbeda pada anak-anak. Dokter Kekaisaran hanya mendiagnosis gejala, bukan sumber penyakitnya."

Raut wajah Kaisar dan Zepyr berubah. Itu adalah nama penyakit yang sama yang menyelamatkan Countess Valois. Harapan memenuhi ruangan.

Duke Eiser, yang selama ini terdiam, tidak dapat menahan diri. "Omong kosong," desis Eiser, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Kau mencoba menerapkan diagnosis yang sama pada setiap pasienmu. Ini adalah upaya untuk menipu kami dan Putri Villon adalah kaki tangannya."

"Eiser, diam," desis Zepyr, matanya kini terfokus pada Bellamont.

Bellamont mengabaikan Eiser sepenuhnya. "Saya bisa merawatnya, Yang Mulia. Namun, saya butuh ruangan steril untuk meracik obat dan saya butuh semua bahan yang saya minta, secepatnya. Pengobatan akan memakan waktu, dan kami harus bertindak sekarang."

Kaisar segera memberikan perintah, suaranya dipenuhi otoritas yang baru ditemukan, memudar oleh keputusasaan. "Beri Dokter Bellamont apa pun yang ia minta. Putri Villon, pastikan ini berhasil. Pilihlah kamar tamu terbaikmu. Jangan sampai ada yang mengganggu mereka."

"Tentu, Yang Mulia," jawab Eleanora. Ia kini memiliki kantor di Istana, jaminan dari Kaisar, dan musuhnya terpojok. Langkah pertama untuk menyelamatkan Villon telah sukses besar.

Malam itu, Eleanora ditempatkan di Istana Tamu Sayap Timur, sebuah suite mewah yang kini berfungsi ganda sebagai kantor darurat untuk kertas-kertas Villon. Setelah memastikan Dr. Bellamont memiliki semua yang ia butuhkan dan mulai bekerja, Seraphina tiba membawa keranjang berisi kebutuhan Eleanora—dan setumpuk surat.

"Nona, ini datang mendesak dari Kediaman Villon," bisik Seraphina, matanya penuh simpati. "Mereka sangat khawatir karena Nona dipanggil tiba-tiba ke Istana. Duke Villon mengirimkannya segera."

Eleanora mengambil surat-surat itu. Surat pertama adalah dari ayahnya, Duke Villon, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan formal, meskipun sedikit lebih panjang dari biasanya:

Kepada Putri Eleanora Villon,

Ayah telah menerima pemberitahuan resmi mengenai penugasanmu di Istana Kekaisaran. Ini adalah keputusan yang sangat sensitif terkait tanggung jawab yang kamu ambil atas Dokter Bellamont.

*Perlu dipastikan bahwa kamu telah membawa semua dokumen audit penting. Kinerja harian mu dalam pekerjaan administrasi harus dijaga agar tidak menurun. Jangan sampai pengawasan medis ini mengganggu tugas utama kita. Jika ada masalah dengan kelengkapan dokumen, segera laporkan. *

*Duchess dan Elias berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil sejak pemanggilan mendadakmu. Elias terus menanyakan apakah 'audit itu jahat'. Ayah telah meminta Duchess untuk menenangkan dirinya. Pastikan pula standar hidup yang kamu terima di Istana tamu sudah sesuai dengan martabat Villon. Laporkan segera jika ada kekurangan nutrisi, terutama pada jam makan malam. Ayah telah menginstruksikan pengurus untuk mengirimkan kebutuhan khusus jika diperlukan. Jaga diri. *

Ayahmu, Duke Villon.

Eleanora menahan napasnya sebentar, kemudian terkekeh kecil. "Ini bukan surat dari Ayah, Seraphina," gumamnya. "Ini seperti surat kontrak atau memorandum. Sangat formal."

Namun, di balik kekakuan dan fokus pada "kinerja harian," "kelengkapan dokumen," dan "standar nutrisi," Eleanora tahu bahwa ayahnya, yang sejak kecil dididik untuk menyembunyikan emosi, sedang menunjukkan kepeduliannya yang besar. Frasa tentang Duchess yang tidak stabil dan pesan terakhir untuk 'menjaga diri' adalah celah langka kekhawatiran sang Duke.

Setelah membaca surat dari Ayahnya, Eleanora membuka surat singkat dari kakak laki-lakinya, Alexandros Villon (Alex).

Untuk Eleanora Villon yang terlalu dramatis,

Ayah mengabarkan kau berada di Istana. Sudah kuduga. Perubahan kecil yang kau buat di perbatasan pasti akan menciptakan gangguan energi yang besar di Ibu Kota. (Catatan: Istana Kekaisaran adalah pusat energi politik terpadat.)

Dengar baik-baik. Selama kau berada di Istana, pastikan kau menjaga jarak aman dari semua cermin dan artefak kuno. Kau tahu betapa kau menarik kutukan. Lebih penting, jangan pernah sekali-kali menerima minuman atau makanan dari orang yang tidak kau kenal. Jaga kesehatanmu dengan cermat.

Ini saran paling logis. Jangan kehilangan kendali. Jika kau butuh sumber daya yang sulit diakses oleh Duke Eiser, segera cari kontak lama Ayah, 'Kode Hexen.' Aku sudah meninggalkan catatan kecil di buku harian lamamu. Gunakan itu jika ada yang mencoba memaksamu mengambil keputusan di bawah tekanan. Dan jangan lupa, ini bukan waktunya untuk bertingkah bodoh di balik punggung Ayah. Kau di sana sebagai Putri Villon.

Cepat selesaikan. Aku ingin ketenangan untuk penelitianku. Jangan repotkan.

—A.

Eleanora tersenyum geli. Itu benar-benar Alex. Kekhawatiran Alex sangat tersirat di balik intruksi yang mendetail dan kaku, serta peringatan tentang racun dan kode rahasia.

Setelah menyimpan surat-surat itu, Eleanora mengambil tumpukan dokumen ke mejanya. Saat ia berjalan keluar dari kamar menuju kamar Dokter Bellamont, ia berpapasan dengan Duke Alistair Eiser di koridor yang sepi.

Setelah menyimpan surat-surat itu, Eleanora duduk di mejanya, berhadapan dengan tumpukan dokumen audit Villon. Setelah bekerja selama kurang lebih satu jam, ia meregangkan tubuh.

"Seraphina," panggil Eleanora, memegang dahinya. "Aku merasa sedikit pusing. Udara di dalam kamar ini terasa terlalu pengap. Aku ingin menghirup udara segar sebentar di koridor."

"Oh, Nona. Biar saya temani," balas Seraphina sigap, mulai melangkah.

Eleanora menggeleng lembut. "Tidak perlu, Seraphina. Aku juga ingin sekalian memeriksa ruang kerja Dr. Bellamont. Aku harus tahu sejauh mana ia bekerja dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Kau tetap di sini, awasi kertas-kertas ini. Aku akan kembali sebentar lagi."

Seraphina mengangguk, sedikit enggan. "Baik, Nona. Tapi tolong jangan terlalu lama. Koridor Istana itu sangat sepi di malam hari."

"Aku tahu," kata Eleanora. Ia mengambil jubah tipis, melangkah keluar, dan berjalan menuju sisi lain Sayap Timur, di mana ruang kerja sementara Dokter Bellamont berada.

Koridor Istana Tamu memang sepi di jam larut, hanya diterangi oleh kristal-kristal sihir bercahaya yang terpasang rapi di dinding, memancarkan cahaya lembut keemasan. Eleanora berjalan perlahan, menikmati kesunyian dan udara malam yang sejuk, sambil memikirkan solusi untuk "Kode Hexen" yang disebut Alex.

Saat ia berjalan kembali dari kamar Dokter Bellamont—ia memastikan sang Dokter sudah fokus penuh pada ramuannya—ia berpapasan dengan Duke Alistair Eiser.

Eiser berhenti, senyum menawannya kini benar-benar hilang, digantikan oleh tatapan dingin dan menusuk.

"Putri Eleanora Villon," sapa Eiser dengan suara pelan yang menakutkan. "Aku harus memberikan selamat..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status