Share

CHAPTER #53

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-11-06 17:40:13

Di hari berikutnya, Setelah Eleanora selesai mempresentasikan skema distribusi biji-bijian, Zepyr tidak langsung mengomentari data tersebut.

Putra Mahkota menghela napas yang sangat tipis, sebuah isyarat yang tidak disengaja namun cukup untuk menarik perhatian penuh Eleanora. Ia kemudian bangkit dari singgasananya. Gerakannya lambat, mengalir, tanpa suara, seolah patung marmer itu baru saja mendapatkan kehidupan yang dingin.

"Data ini baik, Lady Villon," ujar Zepyr, ia berjalan pelan menuju dinding timur, tempat Peta Kekaisaran berukuran besar, yang diukir rumit pada kulit yang mahal, tergantung. "Namun, data hanyalah bayangan dari potensi. Aku ingin melihat peta pergerakan, bukan hanya peta pendapatan."

Eleanora tidak punya pilihan selain mengikuti. Ia berdiri, merapikan lipatan gaun crêpe de chine-nya dengan gerakan otomatis, seolah menyiapkan baju besi yang tak terlihat sebelum memasuki zona bahaya baru. Ia berjalan, langkahnya dipaksa untuk tidak melebihi kecepatan Zepyr, mencipta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status