Share

Bab 03 <> Dipaksa menikah

Inara menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya bersamaan, ketika tubuhnya kembali di gendong oleh Agam. Ia meronta. Suara jeritannya menghiasi derap langkah pria itu, tetapi seakan tidak pernah terdengar sama sekali di telinganya. Sepuluh pasang mata menatap mereka dengan penuh tanda tanya, dengan berbagai pikiran di dalam kepalanya masing-masing.

"Turunkan aku …!" pekik Inara dengan suara yang melengking tinggi.

Bersamaan dengan tubuhnya yang melayang, kemudian terjatuh tepat diatas sebuah ranjang. Senyum tipis terpancar dari wajah pria itu, dengan tatapan mata yang penuh nafsu. Inara membalas dengan sorot mata penuh kebencian, ia merasa tidak terima atas perlakuan pria itu terhadap dirinya.

"Mengapa kau membawaku kemari? Asal kau tahu, besok aku akan menikah!" Suara penuh emosi Inara disertai tangisannya, dengan kedua mata yang digenangi airmata menatap Agam dengan penuh kebencian.

Inara mengumpulkan seluruh kekuatannya yang melemah, karena meronta-ronta sejak tadi. Perlahan ia mengangkat kepala dan dadanya, berusaha bangkit dan pergi dari kamar itu. Sontak ia merasakan sebelah kakinya di cekal dengan kuat, dan tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang untuk yang kedua kalinya.

Di tengah rasa terkejutnya ia melihat Agam merendahkan tubuh mendekatkan bibirnya pada telinga Inara kemudian berbisik, "Kau memang akan menikah tapi tidak dengan Kiev, melainkan denganku!"

Bagaikan suara petir disiang hari, suara pria itu menggema di telinga Inara. Susah dipercaya dengan apa yang didengarnya, dengan tatapan penuh linangan airmata Inara membalas memandang pria sengit itu. Tanpa rasa takut, meskipun Agam telah menatapnya bagaikan seekor singa yang sedang lapar siap menerkam dirinya.

"Tidak akan pernah pria brengsek! Lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari tempat ini!" teriak Inara dengan suara yang tak kalah geramnya. Memberanikan diri untuk melawan.

Ia tidak akan pernah rela, jika sampai dinikahi oleh pria tak berperasaan itu. Dadanya seakan sesak ketika indera pendengarannya menangkap suara pria itu, sedang menghubungi seseorang di luar sana. Suara tawanya membuat Inara muak, ingin rasanya Ia memuntahkan seluruh isi perutnya pada wajah pria itu.

"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Inara terbata-bata ketika pria itu meletakkan ponselnya dan kembali mendekati dirinya.

Inara dapat melihat dengan jelas sebuah seringai menakutkan dari bibir tebal Agam, sebuah senyuman yang mengundang berbagai pertanyaan dihatinya. Perlahan teringat di benak Inara bayangan wajah tampan Kiev, yang selalu meneduhkan hatinya. Pancaran cinta yang memberinya ketenangan.

"Bersiaplah! Sebentar lagi kita akan menikah!" Pria itu melemparkan sebuah gaun berwarna putih salju tepat pada pangkuan Inara.

"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, hanya Kiev yang akan menikahiku. Bukan dirimu pria arogan!" Inara kembali berteriak penuh emosi.

Namun, pada detik berikutnya ia terpaksa membungkam mulutnya sendiri, karena beberapa orang tim MUA telah memasuki kamar itu. Seberapa kuat Inara memberontak, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan tenaga dua orang MUA yang kini sedang memegang kedua tangan dan kakinya. Sedangkan yang lainnya memaksanya memakai gaun itu dan mulai meriasnya sebagaimana seorang pengantin.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk merubah penampilan Inara, wanita muda itu kini telah disulap bak boneka barbie. Rambut panjangnya yang diikat menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus, serta sebuah mahkota berkilauan menghiasi rambutnya. Membuat semua orang yang hadir disana takjub melihatnya.

Dibalik kecantikannya airmata terus mengalir, membentuk anak sungai di kedua belah pipinya. Pandangannya kosong, seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sebuah ikrar janji suci, yang tak seharusnya terucap dari bibir pria yang tak dikenalnya.

"Tidak sah!" Sebuah suara menggelegar dari arah depan ballroom, seolah menggetarkan sekitarnya.

Sontak semua mata dari orang-orang yang menghadiri pernikahan paksa itu, tertuju pada seseorang yang baru saja mengucapkan kata 'Tidak sah' tak terkecuali Agam dan Inara. Tatapan nyalang menghunus bagaikan mata pedang yang siap menghujam tubuh pria yang kini sedang berdiri dengan penuh kemarahan. Manik matanya hanya tertuju pada pengantin wanita yang juga menatapnya dengan airmata berderai.

"Kiev, akhirnya kau datang," lirih Inara dengan napas yang naik-turun.

Harapan kebahagiaan mulai terbayang kembali dibenaknya, menikah dengan orang yang begitu mencintainya, mengarungi indahnya bahtera cinta bersama. Namun, seketika raut wajahnya berubah ketika teringat bahwa dirinya kini telah menjadi istri sah dari pria lain.

Kiev melangkahkan kakinya menerobos kerumunan orang-orang, dan segera menghampiri Inara tanpa memperdulikan tatapan Agam yang bagaikan kilatan api menyala-nyala.

"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Kiev seraya mengusap airmata dipipi kekasihnya, "Mari kita pulang!"

Bagaikan setetes embun di siang hari, sedikit menyejukkan dihati Inara. Ungkapan sayang yang keluar dari bibir seksi Kiev seakan menghangatkan relung hatinya yang membeku. Dengan ketulusan cinta dan kasih sayang Kiev merentangkan kedua tangannya, meminta Inara agar masuk dalam dekapannya.

"Sudahlah, jangan menangis. Sayang." Kiev menenangkan hati kekasihnya, mengusap-usap punggungnya dengan lembut.

Kiev memahami apa yang sedang dirasakan oleh Inara, sebisa mungkin mencoba menenangkannya. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu, yang akan berakibat fatal. Walau bagaimana pun Inara masih terlalu lemah, untuk menghadapi kenyataan pahit itu.

"Jangan pernah menyebutnya dengan panggilan sayang, dia hanya milikku!" Agam tidak rela Kiev memanggil Inara dengan sebutan 'Sayang'.

Kedua matanya membelalak, rahangnya mengeras dan otot-otot kasar menghiasi wajahnya. Emosi semakin merasuk ke dalam jiwanya, membuat Agam terlihat begitu murka.

Akan tetapi, itu semua tidak membuat Kiev gentar, dan tetap bertekat akan membawa Inara.

"Apa yang kau katakan! Jelas-jelas dia calon istriku dan kau telah merampasnya dariku! Tindakan kriminal ini bisa aku laporkan ke polisi dengan tuduhan penculikan calon istri orang lain!" ancam Kiev tidak kalah sengitnya setelah terlebih dahulu melerai pelukannya.

Dengan menarik sebelah sudut bibirnya ke atas Kiev melanjutkan, "Tidak aku sangka, ternyata sahabat yang selama ini aku hormati adalah seorang pecundang."

Usai berkata demikian, secarik kertas bertuliskan nominal angka yang sangat tinggi melayang di udara. Beberapa angka yang tidak pernah terpikirkan sama sekali diotak Kiev, terpampang nyata ketika kertas itu mendarat tepat dikakinya. Sebuah cek yang akan merubah kehidupannya, menjadi bergelimang harta.

"Ambil dan belilah apapun yang kau mau! Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih dariku, karena kau telah merawatnya selama ini!" perintah Agam dengan sombongnya.

Kiev tersenyum sinis, ia tidak pernah menyangka jika persahabatan yang selama ini terjalin dengan begitu harmonis, harus hancur begitu saja hanya karena keegoisan. Dadanya terasa sesak karena pengorbanan yang selama ini ia lakukan tidak pernah dianggap oleh Agam. Dengan tatapan tajam Kiev memandangi cek itu yang masih tergeletak di lantai, sementara Inara yang berdiri disampingnya menatapnya dengan penuh harap, seolah ingin berkata 'Jangan ambil' sedangkan Agam tersenyum penuh kesombongan karena yakin Kiev akan mengambilnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status