Share

Bab 08 <> Rencana meracuni Agam

"Lihatlah, asap yang mengepul itu!" Agam mengangkat sebelah tangannya kedepan.

Tampak kepulan asap dengan bau yang menyengat berasal dari aroma daging panggang menusuk tajam ke dalam indera penciuman. Kembali Inara mempercepat langkahnya yang terseret, ketika tangannya ditarik dengan keras oleh Agam. Kakinya yang putih bersih melangkah melewati batu kerikil yang berdebu hingga separuh kakinya diselimuti debu jalanan yang kotor.

Seonggok daging yang telah hangus terbakar, menjadi sumber asalnya bau menyengat itu. Inara menatap heran seraya melemparkan pandangannya ke sekeliling. Ia merasa tidak asing lagi dengan tempat itu, tetapi ia juga merasa ada yang berbeda. Namun, saat pandanganya melihat jelas rel kereta api yang hampir membuat nyawanya melayang, ia teringat akan peristiwa penyerangan Kiev yang dilakukan semalam.

"Kau tahu daging yang hangus terbakar itu?" Agam bertanya dengan menatap intens ke arah wanita cantik di sampingnya, yang kemudian mendapatkan gelengan kepala sebagai jawabannya.

"Dia kekasihmu, dia Kiev!" Suara Agam membahana di tempat itu.

Sontak Inara melompat secepat kilat, menghampiri onggokan daging itu. Antara percaya dan tidak, nyata ataukah mimpi, sungguh tidak mudah bagi Inara untuk menerima kenyataan ini. Mantan kekasih di masa lalunya telah menikahinya dengan paksa, bahkan dengan kejamnya telah membakar orang yang dicintainya hidup-hidup. Kini Inara merasa telah benar-benar kehilangan orang yang sangat dicintainya, seorang pria itu rela mati hanya demi untuknya.

Ingin rasanya Inara mengumpat dan mencaci maki, serta mencakar mencabik-cabik tubuh Agam dengan kukunya yang runcing. Ia marah, kecewa dan sakit hati dengan perbuatan Agam yang tidak manusiawi. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh Inara? Seorang wanita cantik yang tidak berdaya, yang hanya berasal dari masa lalu Agam. Ia juga tidak tahu apakah Agam masih mencintainya seperti dulu, ataukah hanya sekedar obsesi saja?

<><><><><><><><><><><><>

Beberapa bulan kemudian.

Semenjak kenyataan pahit yang diterimanya, sebuah kenyataan yang membuatnya seolah melupakan keindahan dunia dan seluruh isinya. Inara menjalani hari dengan pasrah tanpa adanya cinta, karena ia merasa percuma mencintai ataupun dicintai jika akhirnya harus sama-sama terluka. Dengan segenap asa, Inara bertekad untuk menutup hati.

Siang itu, cahaya matahari bersinar lebih panas dari biasanya. Cahayanya yang keemasan siap memanggang apapun yang berada dimuka bumi. Hari itu, adalah hari pertama Inara memberanikan diri untuk keluar dari mansion mewah itu, setelah keterpurukan yang selama ini melanda hatinya.

Dengan menenteng sebuah rantang makanan, Inara pergi menemui Agam yang saat itu sedang sibuk mengurus segala sesuatu di kantornya. Terkadang, Agam menyadari jika dirinya membutuhkan orang seperti Kiev, yang mampu menghandle seluruh pekerjaannya. Namun, apalah daya, ego dan kecemburuan telah merasuki hatinya hingga menghancurkan tali persahabatan yang terjalin erat selama ini.

Di dalam sebuah lift, Hampir saja tubuh Inara terhuyung dan membentur dinding lift ketika lantai yang dipijaknya bergerak naik.

Beruntung, seorang pria berpakaian seragam Office Boy, segera menangkap tubuh Inara dan mendekapnya. Terasa di hati Inara sebuah rasa kedamaian ketika bola mata mereka saling menatap. Inara merasa ada sesuatu yang membuatnya agar tidak berpaling dari mata elang itu.

"M-maaf," ucap pria itu kemudian melepas tubuh Inara ketika telah kembali berdiri tegak.

Baru saja Inara ingin menjawab, bersamaan dengan itu, pintu lift mulai terbuka. Pria itupun mengangkat kakinya kemudian melangkah pergi dengan cepat. Inara berniat mengejarnya, tetapi ia kehilangan jejak pria itu yang tiba-tiba menghilang di kerumunan para karyawan. Inara hanya ingin mengucapkan terima kasihnya kepada pria itu. Berkat pertolongan darinya, ia selamat.

Entah mengapa Inara merasa sangat familiar dengan wajah pria itu, sedikit terlintas bayangan wajah Kiev pada wajahnya. Oleh karena itu, ia tidak ingin menyerah untuk mencari keberadaan pria itu. Inara menerobos segerombolan karyawan yang sedang bercakap-cakap dalam suasana pagi yang menenangkan.

"Tunggu!" panggil Inara dengan suara lantang, seolah menekan suasana sekitar.

Sosok seorang pria bertubuh kekar dan tegap, dengan pakaian berwarna putih orange bertuliskan OB di bagian punggung bajunya, menghentikan langkah dengan tetap membelakangi Inara. Sebuah senyum yang tersembunyi terukir indah di bibir pria itu. Inara menatap dari jarak yang begitu dekat, ia menelisik seluruh bentuk tubuh pria itu dari belakang, sontak ia merasakan debaran yang sangat kuat di dalam dadanya.

Pria yang berdiri membelakanginya, memang sangat mirip dengan Kiev. Namun, sekali lagi Inara menepis dugaan itu dan segera mengucapkan terimakasih. Ia tidak ingin lagi membuka luka yang belum sepenuhnya mengering, cukup ia tersiksa dalam setiap malamnya ketika ingatan tentang Kiev kembali menggoda pikirannya, membangkitkan kenangan mereka yang telah berlalu dan tak mungkin disemai lagi.

Dada bidang pria itu kembang-kempis, begitu mendengar suara lembut yang selama ini dirindukannya. Ingin rasanya ia berbalik arah dan memeluk wanita cantik di belakangnya, tetapi tidak akan pernah bisa. Pria itu telah berjanji pada Tuhan dan pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan menunjukkan jati diri yang sebenarnya sebelum rencananya berhasil.

"Maafkan aku, Inara. Meskipun ingin tapi aku tidak bisa memelukmu, sebelum aku hancurkan Agam dan kekuasaannya!" bisik Pria itu setelah Inara pergi dengan langkah gontai karena tidak mendapatkan respon apapun dari pria itu.

Sementara di dalam ruangannya, Agam sedang duduk di meja kerjanya. Ia terlihat begitu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang menggunung di depannya. Berkali-kali Agam memijat keningnya yang tidak sakit, seluruh isi kepalanya seakan hendak meloncat keluar, berlarian dari tempatnya.

Agam melirik dengan ekor matanya ketika mendengar suara daun pintu diketuk dari luar. Wajah yang sebelumnya ditekuk berubah bersinar, serta sudut bibirnya ditarik membuat sebuah senyuman. Baru pertama kalinya, selama beberapa bulan mereka menikah, Inara menyusulnya ke kantor dan membawakan makanan. Kebetulan saat itu, perut Agam telah berbunyi minta diisi.

Setelah berbasa-basi sebentar, Inara menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang dipaksakan. Jika dilihat dengan seksama, maka terlihatlah air mata yang sengaja disembunyikan olehnya. Kedua tangan mulus wanita itu membuka rantang makanan itu dengan sangat hati-hati. Ia tidak boleh merusak momen yang telah terencana sejak jauh-jauh hari.

Inara memasang senyum yang memabukkan, seraya mengangkat sendok yang telah terisi penuh dan hendak menyuapi Agam. Ia terpaksa melakukan itu hanya demi melihat Agam menikmati hidangan yang telah tercampur racun yang mematikan.

"Biarkan aku menjadi istri yang baik, agar aku dapat menyemai kembali cinta yang pernah pudar diantara kita," rayu Inara dengan nada suara yang meyakinkan.

Baru pertama kalinya Inara berbicara dengan sangat ramah terhadap Agam, karena selama ini ia selalu menghindar. Dengan perlahan dan hati yang penuh was-was, Inara segera menyuapkan sesendok nasi beracun itu kepada Agam yang telah siap membuka mulutnya lebar-lebar.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status