MasukPada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lusiana datang berkunjung ke kediaman Rena. Ini adalah yang pertama kali sejak dia bangkit dari kematian.
“Adik Rena, sayang! Apa kamu sudah bangun?” panggilnya saat dia baru melangkahkan kaki di halaman kediaman Rena. Lusiana melongokan kepalanya ke sekitar, ini adalah pengalamannya yang pertama semenjak dirinya masuk ke dalam tubuh putri gendut itu. Lusiana ingin mempelajari banyak hal, terutama lingkungan di mana musuhnya tinggal. Pelayan yang melayani Rena pun terkejut. Mereka gugup dan langsung melaporkan tentang kedatangan Lusiana. “Nona-nona! Putri Lusiana datang, beliau sedang menuju ke sini!” Rena masih sangat mengantuk, dia semalaman begadang karena gelisah memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membuat Lusiana celaka. Wajahnya kusut, bajunya juga sangat berantakan. “Apa maksudmu? Matahari bahkan belum terbit, mana mungkin si jelek gendut itu bisa bangun sepagi ini, hah?! Biasanya dia baru bangun sekitar pukul sepuluh pagi, sudahlah, aku ingin tidur lagi,” “Nona muda! Aku serius!” pelayan itu terlihat sangat gelisah. Tanpa mengetuk pintu Lusiana masuk ke dalam ruangan. Rena yang sedang tidur langsung duduk di atas ranjangnya. Pagi ini dia melihat kulit wajah Lusiana menjadi lebih halus dan lebih mulus dari biasanya. “Apa aku sedang bermimpi? Itu-sungguh Lusiana yang jelek itu? Apa yang dia lakukan sepagi ini di sini? Ti-tidak mungkin, aku pasti sedang berhalusinasi!” gumam Rena seraya berniat menarik selimutnya kembali. Akan tetapi Lusiana menggenggam selimutnya dan menatapnya dengan senyum lembut di bibirnya. “Adikku sayang....” “Lu-Lusi! Maksudku Kakak Lusi?” “Ya, ini aku,” ujarnya sambil duduk di tepi ranjang Rena. Lusiana menatap kamar Rena, pengaturan dan tata letak semua barang tersusun dengan rapi. Semuanya terlihat berkelas dan elegan dibandingkan dengan ruangannya sendiri. Rena buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan. “U-untuk apa Kakak Lusi datang ke sini pagi-pagi buta? Ayam bahkan masih belum bangun!” Keluhnya dengan nada sedikit membentak. Lusiana tertawa sambil menutupi bibirnya. “Ya, bukankah kamu berjanji akan mengajariku untuk menjadi cantik?” tanyanya dengan santai. Rena menggaruk kepalanya sendiri, dia masih sangat mengantuk dan otaknya sulit untuk berkonsentrasi. Dia hanya memikirkan cara cepat untuk mengusir Lusiana keluar dari dalam kamarnya. Rena tiba-tiba memiliki sebuah ide, dia berencana membuat Lusiana kelelahan dan mati karena serangan jantung. Dengan tubuhnya yang gendut pasti akan sulit untuk menyesuaikan diri. “Kakak Lusi, kamu pergilah keluar, berlarilah memutari halaman Istana, jangan kembali kesini sebelum sampai jam sepuluh pagi, kulitmu akan menjadi bagus, dan itu juga bisa mengusir lemak-lemak di dalam tubuhmu, oke?” ujarnya dengan mata setengah mengantuk. Lusiana sejak tadi menatap meja rias milik Rena, di sana ada beberapa kosmetik. Dia bangun dari tepi ranjang dan berjalan menuju ke sana. Rena merasa kesal karena Lusiana tidak langsung setuju dengan idenya. “Kakak Lusi? Apa kamu mendengar saran dariku?!” keluhnya. Lusiana menoleh sambil tersenyum. “Ah, itu, aku setuju jika kita melakukannya bersama-sama! Tidak masalah, kamu mandilah dulu, aku akan menunggu di sini! Sebagai guru pembimbing kamu harus memberikan contoh pada muridmu,” perintahnya balik. Adikku yang bodoh apa kamu tidak tahu? Dengan berlari selama berjam-jam tubuh gendut ini tidak akan bisa menerimanya? Kamu ingin aku mati? Sayangnya aku sama sekali bukan Lusiana yang bodoh dan selalu patuh dengan perintahmu! Rena melongo, tidak biasanya Lusiana akan menolaknya bahkan memiliki ide lain untuk membalasnya, meski tidak begitu jelas. Semua perkataannya barusan adalah trik untuk menyerang balik. Lusiana duduk di kursi meja rias dan mulai membuka tutup botol dan juga kosmetik pribadi Rena, mencium aromanya lalu mengukir senyum sambil menoleh lagi padanya. “Apa yang kamu tunggu? Ayo, lekaslah bersiap-siap!” desaknya pada Rena. “Kakak, kondisiku sedang tidak baik hari ini, kamu melihatku layu dan kurang bertenaga, aku juga tidak perlu melakukannya karena tubuhku sudah sangat kurus-” Lusiana langsung memotong ucapannya. “Kalau begitu tunggulah! Aku akan meminta Tabib Alex untuk membuatkan ramuan khusus untukmu! Juga meminta pelayanku agar menyiapkan hidangan khusus untuk membuat tubuhmu lebih bertenaga!” serunya dengan wajah bersemangat. Lusiana langsung berdiri dan pergi keluar dari kediaman Rena. Sisil yang sejak tadi menemani Lusiana menatapnya dengan heran. Lusiana pergi ke dapur Istana dan secara khusus meminta hidangan. Menu utamanya adalah daging berlemak, sayur tumis dengan kulit berlemak, semuanya mengandung lemak. “Yang-mulia, untuk apa semua ini?” tanya Sisil. “Adikku Rena kurang sehat, dia butuh nutrisi untuk cepat pulih.” Lusiana juga meminta Tabib Alex untuk menyiapkan ramuan yang sangat pahit. Setelah semuanya siap dia mengantarkannya sendiri ke kediaman Rena. Pelayan pribadi yang diperintahkan Andi juga ikut pergi, dia ingin tahu apa yang Lusiana rencanakan. Saat Lusiana datang Rena baru saja selesai mandi, wajahnya terlihat lebih segar meski tanpa riasan. “Kakak, un-untuk apa Kakak datang lagi ke sini?” “Untuk menepati janjiku! Adikku sayang, kamu harus makan semua hidangan ini dan obat untuk memulihkan kondisimu!” serunya dengan wajah senang. Rena menutupi hidungnya dengan lengan bajunya. Hidangan itu sangat amis dan aromanya membuatnya ingin muntah. Perutnya mulai bergolak, dia ingin pergi ke belakang untuk muntah tapi Lusiana menarik tangannya untuk duduk di kursi dengan tenang. “Duduklah, aku akan menyuapimu, ini sangat bagus untuk kesehatan!” ujarnya tanpa memberi kesempatan pada Rena untuk menolak. “Kak, aku sudah makan, aku merasa sangat kenyang, makanan ini untukmu saja. Biasanya Kakak Lusi sangat suka dengan menu-menu ini, aku-” Lusiana mengambil sepotong kulit yang paling berlemak dengan sumpitnya dan langsung menyuap ke dalam mulut Rena. “Aaa! Buka mulutmu!” Lusiana menyuapinya dan tidak membiarkan Rena menolaknya. Rena menggelengkan kepalanya dan menolak hidangan itu tapi Lusiana terus menyuapinya. “Aku memasaknya sendiri, jadi hargailah usahaku. Adikku sayang, kamu terlalu kurus, jadi kamu harus banyak makan!” Kali ini Rena benar-benar tidak tahan lagi, wajahnya sudah sangat pucat, dia langsung berlari keluar dan memuntahkan semuanya. “Hoeek! Hoeek!” Rena menyeka bibirnya. “Lusiana sialan! Apa kamu sengaja melakukan ini untuk membalasku? Lihat saja aku akan membalasmu!” gumamnya. Lusiana pura-pura tidak mendengar, dia datang dengan semangkuk obat yang sudah disiapkan. “Adikku Rena, kamu benar-benar sakit? Aku menyiapkan ramuan ini sendiri, kamu harus meminumnya agar lebih cepat pulih, ini juga bagus untuk perut mual,” ujarnya sambil menarik tangannya untuk duduk di kursi lalu menyuapkan cairan obat dari mangkuk langsung ke dalam mulutnya. Rena melotot ketika bibirnya menyentuh mangkuk. Dia langsung mendorong mangkuk itu menjauh. Ini-ini, aroma-aroma tai kuda! Lusiana, kamu ingin aku meminumnya? Wanita kurang ajar! “Kakak, obat ini lebih baik Kakak yang minum sendiri, aku-aku sudah baikkan, hanya masuk angin saja!” tolaknya dengan senyum kaku. “Aku? Oh aku baru saja meminumnya lima mangkuk, ini sangat bagus untuk muka bopeng!” jawabnya dengan senyum cerah. “Aku lihat wajahmu sedikit keriput, pagi tadi ada lingkar hitam di bawah matamu, apa kamu ingin disebut seekor panda di Istana?” Rena menelan ludahnya sendiri, dia meraba pipinya dan bawah matanya. Dia buru-buru pergi untuk bercermin, penampilan sangat penting baginya. Semua ucapan Lusiana benar, ada lingkar hitam dan kulitnya menjadi agak keriput. Sebenarnya itu adalah efek dari muntah dan kurang tidur. “Adikku sayang, aku akan pergi, ramuan berharga ini aku tinggalkan di meja, kamu tidak perlu meminumnya dan kamu boleh membuangnya kalau tidak percaya padaku!” serunya sambil melambaikan tangan dan pergi. Lusiana keluar dari dalam ruangan, Sisil mengerutkan keningnya sambil menggeleng bingung. “Apakah Nona Rena akan meminumnya?” tanya Sisil. “Dia pasti akan meminumnya!” senyum licik terukir di sudut bibir Lusiana. Setelah Lusiana pergi, Rena segera bertanya pada pelayan yang diperintahkan untuk memata-matainya. “Apa kalian melihat si gendut jelek itu minum ramuan obat pagi ini?” tanyanya. “Ya, bahkan sebelum tidur dia minum dua mangkuk sekaligus! Pagi tadi saat bangun tidur dia juga minum tiga mangkuk!” jawab mereka dengan yakin. Lusiana memang mengonsumsi obat untuk kecantikan kulitnya, tapi bukan ramuan yang sama dengan yang dia berikan untuk diminum Rena pagi ini. “Apakah ramuan ini sungguh manjur?” tanyanya dengan perasaan bimbang. “Nona juga melihatnya sendiri, efeknya wajah Putri Lusiana sekarang lebih kencang dan lebih bersinar,” Rena pun langsung meminum ramuan itu sampai habis, dan hasilnya perutnya melilit karena dia belum makan apa pun. Lagi pula ramuan itu adalah campuran obat sembelit dan tai kuda. Wajah Rena mulai berkeringat, dia merasa ada yang tidak beres dengan pencernaannya. “Perutku, sa-sakit sekali, aku harus buang air! Aku tidak bisa menahannya,”Pada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan. Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membuatnya kesulitan. “Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya. Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam. “Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,” Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi. Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana. “Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin maka
Di sisi lain, Andi sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Lusiana. Salah satu pelayan yang dia tugaskan datang ke penginapan untuk melaporkan semua yang terjadi baru-baru ini.“Yang-mulia, baru-baru ini Putri Lusiana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meracik obat-obatan, dia juga mengirimkan ramuan untuk Nona Rena. Menurutnya ramuan itu sangat bagus untuk kesehatan, belakangan ini hanya itu saja yang terjadi.”“Selain itu, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih tidak ingat tentang masa lalunya?”“Ya, Putri Lusiana hanya fokus untuk memulihkan diri, dia juga mempelajari beberapa bahan untuk membuat krim,”Andi mengernyitkan keningnya. “Si jelek gendut itu ingin membuat krim?”“Ya, benar, itu untuk mengobati iritasi di kulit wajahnya,” lanjut pelayan itu.Andi menyunggingkan senyum licik, dia tahu sejenis racun. Dan dia bisa menggunakan racun itu dengan dicampur krim milik Lusiana, dengan begitu efeknya akan lebih mudah. Racun itu tidak sungguh-sungguh akan membunuhnya secar
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lusiana datang berkunjung ke kediaman Rena. Ini adalah yang pertama kali sejak dia bangkit dari kematian.“Adik Rena, sayang! Apa kamu sudah bangun?” panggilnya saat dia baru melangkahkan kaki di halaman kediaman Rena. Lusiana melongokan kepalanya ke sekitar, ini adalah pengalamannya yang pertama semenjak dirinya masuk ke dalam tubuh putri gendut itu. Lusiana ingin mempelajari banyak hal, terutama lingkungan di mana musuhnya tinggal.Pelayan yang melayani Rena pun terkejut. Mereka gugup dan langsung melaporkan tentang kedatangan Lusiana.“Nona-nona! Putri Lusiana datang, beliau sedang menuju ke sini!”Rena masih sangat mengantuk, dia semalaman begadang karena gelisah memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membuat Lusiana celaka. Wajahnya kusut, bajunya juga sangat berantakan.“Apa maksudmu? Matahari bahkan belum terbit, mana mungkin si jelek gendut itu bisa bangun sepagi ini, hah?! Biasanya dia baru bangun sekitar pukul sepuluh pagi, sudah
Coretan boneka kecil dengan leher tergorok yang sengaja ia buat untuk menakut-nakuti Tabib Alex. Rencananya sangat sederhana, mempermainkan dan menguasai ketakutan orang adalah hal remeh baginya, Lusiana ingin memancing mereka datang membawa apa yang ia butuhkan. Di pikirannya yang masih setengah modern, trik kecil seperti ini adalah permainan psikologis yang mudah dimenangkan.Tidak lama setelah Sisil berlari dan pergi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong. Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki bertubuh gemuk dengan janggut tipis masuk sambil tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak pucat.“Tabib Alex!” Lusiana menyambut dengan senyuman manis. Suaranya terdengar berbeda, asing di tenggorokan tubuh barunya, dia berusaha bicara semanis mungkin. “Anda sudah datang.”Tabib itu menunduk, suaranya serak. “Yang-mulia, tadi aku melihat... gambar menakutkan itu di kertas surat yang Anda kirimkan. Aku... aku khawatir roh jahat masih mengganggu kamar ini. Aku membawa ramuan-ramuan pember
Pada pagi hari dia bangun dengan tubuh yang sama seperti yang dia lihat semalam. Lusiana duduk termenung di tepi ranjang, dia mencoba memahami semua yang baru saja terjadi padanya. Pertama-tama dia meraba pipinya, kulitnya terasa sangat jauh berbeda. Saat melihat ke pantulan cermin yang diletakkan di sudut ruangan, matanya spontan melotot. “I-ini... siapa wanita yang ada di dalam cermin? Itu bukan aku!” ujarnya dengan ekspresi terkejut. Yang dilihatnya bukan wajah cantik artis modern Lusiana, melainkan wajah bulat dengan pipi tembam, kulit kusam, dan bekas jerawat yang memenuhi seluruh permukaan kulit wajahnya. Rambutnya terasa kusut-kering, acak-acakan, berantakan, jauh dari gaya mewah artis papan atas. Lusiana melangkah mundur dari depan cermin dengan wajah pucat. “Apa maksudnya semua ini? Aku... Kenapa-kenapa wajahku jadi jelek sekali?!” dia masih tidak percaya dengan semuanya. Kemarin dia berpikir semua ini hanya mimpi dan dia akan bangun dengan parasnya yang cantik. Satu p







