Home / Historical / Transformasi Sang Tuan Putri / Bab 3 Kunjungan Lusiana dan ramuan pencahar

Share

Bab 3 Kunjungan Lusiana dan ramuan pencahar

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-09-12 13:54:09

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lusiana datang berkunjung ke kediaman Rena. Ini adalah yang pertama kali sejak dia bangkit dari kematian.

“Adik Rena, sayang! Apa kamu sudah bangun?” panggilnya saat dia baru melangkahkan kaki di halaman kediaman Rena. Lusiana melongokan kepalanya ke sekitar, ini adalah pengalamannya yang pertama semenjak dirinya masuk ke dalam tubuh putri gendut itu. Lusiana ingin mempelajari banyak hal, terutama lingkungan di mana musuhnya tinggal.

Pelayan yang melayani Rena pun terkejut. Mereka gugup dan langsung melaporkan tentang kedatangan Lusiana.

“Nona-nona! Putri Lusiana datang, beliau sedang menuju ke sini!”

Rena masih sangat mengantuk, dia semalaman begadang karena gelisah memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membuat Lusiana celaka. Wajahnya kusut, bajunya juga sangat berantakan.

“Apa maksudmu? Matahari bahkan belum terbit, mana mungkin si jelek gendut itu bisa bangun sepagi ini, hah?! Biasanya dia baru bangun sekitar pukul sepuluh pagi, sudahlah, aku ingin tidur lagi,”

“Nona muda! Aku serius!” pelayan itu terlihat sangat gelisah.

Tanpa mengetuk pintu Lusiana masuk ke dalam ruangan. Rena yang sedang tidur langsung duduk di atas ranjangnya.

Pagi ini dia melihat kulit wajah Lusiana menjadi lebih halus dan lebih mulus dari biasanya.

“Apa aku sedang bermimpi? Itu-sungguh Lusiana yang jelek itu? Apa yang dia lakukan sepagi ini di sini? Ti-tidak mungkin, aku pasti sedang berhalusinasi!” gumam Rena seraya berniat menarik selimutnya kembali.

Akan tetapi Lusiana menggenggam selimutnya dan menatapnya dengan senyum lembut di bibirnya.

“Adikku sayang....”

“Lu-Lusi! Maksudku Kakak Lusi?”

“Ya, ini aku,” ujarnya sambil duduk di tepi ranjang Rena. Lusiana menatap kamar Rena, pengaturan dan tata letak semua barang tersusun dengan rapi. Semuanya terlihat berkelas dan elegan dibandingkan dengan ruangannya sendiri.

Rena buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan. “U-untuk apa Kakak Lusi datang ke sini pagi-pagi buta? Ayam bahkan masih belum bangun!” Keluhnya dengan nada sedikit membentak.

Lusiana tertawa sambil menutupi bibirnya. “Ya, bukankah kamu berjanji akan mengajariku untuk menjadi cantik?” tanyanya dengan santai.

Rena menggaruk kepalanya sendiri, dia masih sangat mengantuk dan otaknya sulit untuk berkonsentrasi. Dia hanya memikirkan cara cepat untuk mengusir Lusiana keluar dari dalam kamarnya. Rena tiba-tiba memiliki sebuah ide, dia berencana membuat Lusiana kelelahan dan mati karena serangan jantung. Dengan tubuhnya yang gendut pasti akan sulit untuk menyesuaikan diri.

“Kakak Lusi, kamu pergilah keluar, berlarilah memutari halaman Istana, jangan kembali kesini sebelum sampai jam sepuluh pagi, kulitmu akan menjadi bagus, dan itu juga bisa mengusir lemak-lemak di dalam tubuhmu, oke?” ujarnya dengan mata setengah mengantuk.

Lusiana sejak tadi menatap meja rias milik Rena, di sana ada beberapa kosmetik. Dia bangun dari tepi ranjang dan berjalan menuju ke sana.

Rena merasa kesal karena Lusiana tidak langsung setuju dengan idenya. “Kakak Lusi? Apa kamu mendengar saran dariku?!” keluhnya.

Lusiana menoleh sambil tersenyum. “Ah, itu, aku setuju jika kita melakukannya bersama-sama! Tidak masalah, kamu mandilah dulu, aku akan menunggu di sini! Sebagai guru pembimbing kamu harus memberikan contoh pada muridmu,” perintahnya balik.

Adikku yang bodoh apa kamu tidak tahu? Dengan berlari selama berjam-jam tubuh gendut ini tidak akan bisa menerimanya? Kamu ingin aku mati? Sayangnya aku sama sekali bukan Lusiana yang bodoh dan selalu patuh dengan perintahmu!

Rena melongo, tidak biasanya Lusiana akan menolaknya bahkan memiliki ide lain untuk membalasnya, meski tidak begitu jelas. Semua perkataannya barusan adalah trik untuk menyerang balik.

Lusiana duduk di kursi meja rias dan mulai membuka tutup botol dan juga kosmetik pribadi Rena, mencium aromanya lalu mengukir senyum sambil menoleh lagi padanya.

“Apa yang kamu tunggu? Ayo, lekaslah bersiap-siap!” desaknya pada Rena.

“Kakak, kondisiku sedang tidak baik hari ini, kamu melihatku layu dan kurang bertenaga, aku juga tidak perlu melakukannya karena tubuhku sudah sangat kurus-”

Lusiana langsung memotong ucapannya. “Kalau begitu tunggulah! Aku akan meminta Tabib Alex untuk membuatkan ramuan khusus untukmu! Juga meminta pelayanku agar menyiapkan hidangan khusus untuk membuat tubuhmu lebih bertenaga!” serunya dengan wajah bersemangat.

Lusiana langsung berdiri dan pergi keluar dari kediaman Rena.

Sisil yang sejak tadi menemani Lusiana menatapnya dengan heran. Lusiana pergi ke dapur Istana dan secara khusus meminta hidangan. Menu utamanya adalah daging berlemak, sayur tumis dengan kulit berlemak, semuanya mengandung lemak.

“Yang-mulia, untuk apa semua ini?” tanya Sisil.

“Adikku Rena kurang sehat, dia butuh nutrisi untuk cepat pulih.”

Lusiana juga meminta Tabib Alex untuk menyiapkan ramuan yang sangat pahit. Setelah semuanya siap dia mengantarkannya sendiri ke kediaman Rena. Pelayan pribadi yang diperintahkan Andi juga ikut pergi, dia ingin tahu apa yang Lusiana rencanakan.

Saat Lusiana datang Rena baru saja selesai mandi, wajahnya terlihat lebih segar meski tanpa riasan.

“Kakak, un-untuk apa Kakak datang lagi ke sini?”

“Untuk menepati janjiku! Adikku sayang, kamu harus makan semua hidangan ini dan obat untuk memulihkan kondisimu!” serunya dengan wajah senang.

Rena menutupi hidungnya dengan lengan bajunya. Hidangan itu sangat amis dan aromanya membuatnya ingin muntah. Perutnya mulai bergolak, dia ingin pergi ke belakang untuk muntah tapi Lusiana menarik tangannya untuk duduk di kursi dengan tenang.

“Duduklah, aku akan menyuapimu, ini sangat bagus untuk kesehatan!” ujarnya tanpa memberi kesempatan pada Rena untuk menolak.

“Kak, aku sudah makan, aku merasa sangat kenyang, makanan ini untukmu saja. Biasanya Kakak Lusi sangat suka dengan menu-menu ini, aku-”

Lusiana mengambil sepotong kulit yang paling berlemak dengan sumpitnya dan langsung menyuap ke dalam mulut Rena.

“Aaa! Buka mulutmu!” Lusiana menyuapinya dan tidak membiarkan Rena menolaknya. Rena menggelengkan kepalanya dan menolak hidangan itu tapi Lusiana terus menyuapinya. “Aku memasaknya sendiri, jadi hargailah usahaku. Adikku sayang, kamu terlalu kurus, jadi kamu harus banyak makan!” 

Kali ini Rena benar-benar tidak tahan lagi, wajahnya sudah sangat pucat, dia langsung berlari keluar dan memuntahkan semuanya.

“Hoeek! Hoeek!” Rena menyeka bibirnya. “Lusiana sialan! Apa kamu sengaja melakukan ini untuk membalasku? Lihat saja aku akan membalasmu!” gumamnya.

Lusiana pura-pura tidak mendengar, dia datang dengan semangkuk obat yang sudah disiapkan.

“Adikku Rena, kamu benar-benar sakit? Aku menyiapkan ramuan ini sendiri, kamu harus meminumnya agar lebih cepat pulih, ini juga bagus untuk perut mual,” ujarnya sambil menarik tangannya untuk duduk di kursi lalu menyuapkan cairan obat dari mangkuk langsung ke dalam mulutnya.

Rena melotot ketika bibirnya menyentuh mangkuk. Dia langsung mendorong mangkuk itu menjauh.

Ini-ini, aroma-aroma tai kuda! Lusiana, kamu ingin aku meminumnya? Wanita kurang ajar!

“Kakak, obat ini lebih baik Kakak yang minum sendiri, aku-aku sudah baikkan, hanya masuk angin saja!” tolaknya dengan senyum kaku.

“Aku? Oh aku baru saja meminumnya lima mangkuk, ini sangat bagus untuk muka bopeng!” jawabnya dengan senyum cerah. “Aku lihat wajahmu sedikit keriput, pagi tadi ada lingkar hitam di bawah matamu, apa kamu ingin disebut seekor panda di Istana?”

Rena menelan ludahnya sendiri, dia meraba pipinya dan bawah matanya. Dia buru-buru pergi untuk bercermin, penampilan sangat penting baginya. Semua ucapan Lusiana benar, ada lingkar hitam dan kulitnya menjadi agak keriput. Sebenarnya itu adalah efek dari muntah dan kurang tidur.

“Adikku sayang, aku akan pergi, ramuan berharga ini aku tinggalkan di meja, kamu tidak perlu meminumnya dan kamu boleh membuangnya kalau tidak percaya padaku!” serunya sambil melambaikan tangan dan pergi.

Lusiana keluar dari dalam ruangan, Sisil mengerutkan keningnya sambil menggeleng bingung.

“Apakah Nona Rena akan meminumnya?” tanya Sisil.

“Dia pasti akan meminumnya!” senyum licik terukir di sudut bibir Lusiana.

Setelah Lusiana pergi, Rena segera bertanya pada pelayan yang diperintahkan untuk memata-matainya. “Apa kalian melihat si gendut jelek itu minum ramuan obat pagi ini?” tanyanya.

“Ya, bahkan sebelum tidur dia minum dua mangkuk sekaligus! Pagi tadi saat bangun tidur dia juga minum tiga mangkuk!” jawab mereka dengan yakin.

Lusiana memang mengonsumsi obat untuk kecantikan kulitnya, tapi bukan ramuan yang sama dengan yang dia berikan untuk diminum Rena pagi ini.

“Apakah ramuan ini sungguh manjur?” tanyanya dengan perasaan bimbang.

“Nona juga melihatnya sendiri, efeknya wajah Putri Lusiana sekarang lebih kencang dan lebih bersinar,”

Rena pun langsung meminum ramuan itu sampai habis, dan hasilnya perutnya melilit karena dia belum makan apa pun. Lagi pula ramuan itu adalah campuran obat sembelit dan tai kuda. Wajah Rena mulai berkeringat, dia merasa ada yang tidak beres dengan pencernaannya.

“Perutku, sa-sakit sekali, aku harus buang air! Aku tidak bisa menahannya,”

 

 

 

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 48 Anggap saja aku tidak ada

    Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 47 Mengejar Lusiana

    “Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 46 Menolak mengakui

    “Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 45 Desakan Andi

    Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 44 Kita pulang berdua saja

    ***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 43 Untuk membalas dendam

    Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status