LOGINCoretan boneka kecil dengan leher tergorok yang sengaja ia buat untuk menakut-nakuti Tabib Alex. Rencananya sangat sederhana, mempermainkan dan menguasai ketakutan orang adalah hal remeh baginya, Lusiana ingin memancing mereka datang membawa apa yang ia butuhkan. Di pikirannya yang masih setengah modern, trik kecil seperti ini adalah permainan psikologis yang mudah dimenangkan.
Tidak lama setelah Sisil berlari dan pergi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong. Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki bertubuh gemuk dengan janggut tipis masuk sambil tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak pucat. “Tabib Alex!” Lusiana menyambut dengan senyuman manis. Suaranya terdengar berbeda, asing di tenggorokan tubuh barunya, dia berusaha bicara semanis mungkin. “Anda sudah datang.” Tabib itu menunduk, suaranya serak. “Yang-mulia, tadi aku melihat... gambar menakutkan itu di kertas surat yang Anda kirimkan. Aku... aku khawatir roh jahat masih mengganggu kamar ini. Aku membawa ramuan-ramuan pembersih, serta beberapa ekstrak jamur langka. Tapi yang lebih penting, aku juga membawa salep baru dari ibukota. I-ini untuk Yang-mulia!” Lusiana menahan tawa sampai perutnya terasa sakit. “Bagus, letakkan semua di meja, cepat!” Lusiana menatap Tabib Alex, dia sengaja bersandiwara. Lusiana menunjukkan wajah polos, sedikit bingung, seperti gadis yang baru bangun dari kematian. Sementara tabib sibuk menata ramuan di meja, Lusiana mengambil salah satu botol kecil. Ia mempelajari labelnya, mencium aromanya. Banyak ramuan di situ tidak asing bagi Lusiana, sebelumnya di zaman modern dia pernah membaca tentang ekstrak-ekstrak ramuan obat tradisional dalam artikel kecantikan dan juga catatan kesehatan di dunianya. Dengan teliti, Lusiana mulai bekerja dan mencampur beberapa tetes ekstrak itu dengan minyak dasar, menambahkan sedikit pati beras yang ada di sudut meja rias — resep “rumahan” sederhana yang bisa mempercepat perbaikan kulit. Di zaman modern dirinya adalah seorang artis terkenal dan karena kejadian aneh itu dia secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh Lusiana di zaman kuno yang sudah mati karena bunuh diri. Membuat putri gendut dan jelek itu menjadi hidup kembali secara ajaib. “Oleskan ini di wajah Anda malam ini, Yang-mulia!” bisik Tabib Alex, ekspresinya terlihat sangat naif dan percaya bahwa dirinya saat ini sedang ia melakukan hal-hal terbaik di depannya. Menurut pemikiran Lusiana ramuan yang dikatakan oleh Tabib Alex sama sekali tidak sama dengan pemikiran Lusiana, ilmunya masih terlalu jauh dengan pengetahuan Lusiana yang sekarang. Lusiana pura-pura mengangguk, lalu menahan diri agar tidak tertawa keras saat tabib membungkuk dan pergi, tampak lega karena berhasil menenangkan “roh” yang mengganggu Lusiana. Begitu pintu tertutup, Lusiana segera mengoleskan ramuan campurannya ke wajah. Sensasinya aneh, kulit wajahnya terasa hangat, sedikit bergetar, dan anehnya membuat pori-pori terasa tenang. Dua hari dengan perawatan sederhana itu tidak akan membuatnya berubah menjadi bidadari, tapi cukup untuk mengurangi kemerahan, menipiskan beberapa noda hitam, dan membuat wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibandingkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasa ada hal yang bisa dia kuasai. *** Sore itu, kabar tentang kondisinya yang sudah hampir pulih sampai ke telinga Andi, pria itu belum pulang ke negara asalnya dan memilih tinggal di penginapan yang tidak terlalu jauh untuk terus memantau situasi. Andi dan Rena ingin datang melihat kondisi Lusiana. Lusiana mengatur napas, menyisir rambutnya seadanya, lalu turun ke aula sambil melangkah seperti putri yang baru sembuh, sedikit anggun, sedikit acuh. Di dalam, suasana tegang. Banyak mata menatap, ada yang penuh simpati palsu, ada yang penuh hinaan. Rena muncul lebih dulu. Wajahnya bersinar, lengkap dengan busana tipis yang menampilkan lekuk tubuhnya. Rena melangkah seperti ratu kecil yang baru mendapatkan kemenangan. Andi mengikutinya, tapi matanya terus berkedip, perasaannya sangat tidak nyaman ketika melewati Lusiana. Ada rasa bersalah, dan kecemasan yang sulit untuk dia sembunyikan di depannya. Lusiana menatap keduanya dengan dingin. “Pangeran Andi, adik Rena,” sapanya, suaranya terdengar dalam dan tetap terkendali. “Terima kasih sudah datang.” Andi membungkuk. “Yang-mulia sembuh, itu adalah anugerah kerajaan. Kami datang untuk... menunjukkan penghormatan.” Rena menyunggingkan senyum manis, namun Lusiana melihat ada gelisah dalam sudut bibirnya. Lusiana dengan sengaja mengibaskan tangan, seolah menyingkirkan debu tak terlihat. “Kamu tampak… letih, Pangeran. Mungkin istirahat akan membantu.” Ucapannya terdengar seperti setengah ejekan juga setengah menggoda. Andi tersentak. “Yang-mulia, apakah-” “Aku tidak menyangka kalian akan datang mengunjungiku, kepedulian kalian sangat berharga bagiku,” Lusiana mengukir senyum ramah dan berpura-pura tidak ada sesuatu yang terjadi. Dia harus melihat dengan cermat dan mengambil langkah-langkah mengejutkan untuk pembalasan di masa depan. Lusiana tidak ingin musuh menjadi waspada karena kesalahan kecilnya. Lusiana sengaja berkata demikian dan membiarkan dua orang itu merasa cemas karena khawatir Lusiana akan membahasnya. Ekspresi wajah Rena langsung memucat mendengar kata-kata lembut dan sapaan yang begitu ramah, tapi dia sangat pandai memainkan peran di depan semua orang, Rena cepat menutupinya dengan senyum. Dia maju mendekat untuk mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Melihat sikap Lusiana yang begitu tenang malah membuat perasaan Rena merasa was-was. “Kakak Lusi, tentang yang terjadi sebelumnya. Aku-” Lusiana langsung memotong ucapannya. Dia tersenyum lebih lebar, lebih bersemangat dari sebelumnya. “Kamu adalah saudariku, kamu terlahir dengan penampilan sempurna! Wajahmu sangat cantik, aku harus belajar banyak darimu bagaimana cara merawat tubuh!” Lusiana berseru dengan penuh semangat. Rena merasa aneh dengan sikap Lusiana yang seperti sekarang. Lusiana tidak ingat dengan kejadian sebelumnya? Dia bahkan tidak terlihat marah lagi? Apakah setelah bangun dari kematian otaknya ikut terkilir? Jika dia benar-benar hilang ingatan setelah meminum racun maka ini adalah anugerah! “Rena, kenapa? Apa kamu tidak bersedia mengajari Kakakmu?” Lusiana mengukir senyum manis sambil menggenggam jemari Rena. Berpura-pura memohon padanya. “A? Tentu aku bersedia! Kakak Lusi sudah sembuh sekarang, tentu saja aku sangat senang kalau Kakak Lusi memiliki semangat untuk belajar merawat diri!” Rena menyembunyikan senyum licik di bibirnya, dia berencana mengajari Lusiana tentang cara merawat tubuh tapi tidak sepenuhnya mengajarinya, melainkan dia ingin merusak wajah Lusiana agar menjadi semakin jelek lagi hingga Andi menjadi lebih jijik padanya. Karena sudah tahu kondisi Lusiana, Rena dan Andi berniat untuk undur diri dari hadapannya. “Kakak Lusi, karena sudah melihat kondisi Kakak baik-baik saja, aku mohon undur diri dulu, Kakak lebih banyak beristirahat agar lebih cepat pulih,” “Rena benar, maafkan kedatanganku karena sudah mengganggu jam istirahat Yang-mulia, saya mohon undur diri,” Lusiana mengangkat tangan menahan. “Tunggu,” Dua orang yang terlanjur memutar badan langsung terkejut. “Ya?” spontan mereka menjawab bersamaan dengan ekspresi wajah pucat. Banyak hal terlukis di dalam benak mereka, dan kecemasan tentang kejadian waktu itu kembali muncul. Rena menahan nafasnya sampai kulit wajahnya terlihat membiru, sementara Andi menelan ludahnya dengan pelipis berkeringat. “Hati-hati di jalan, hari sudah gelap!” ujar Lusiana dengan senyum lembut dan sopan. “Ya-ya tentu!” Setelah pertemuan hari itu, ketika mereka pergi, Lusiana tersenyum sendiri. Ia telah menanam benih kegelisahan. Tak perlu membongkar semuanya sekarang. Politik dan dendam lebih efektif jika dibangun perlahan, seperti medan laga yang hanya menunggu satu aksi, satu momen untuk menebas keduanya sekaligus. Tidak lama setelahnya, dua orang pelayan baru muncul di kediamannya dan memperkenalkan diri padanya. Lusiana tidak tahu dua orang itu dari mana berasal, Andi mengutus mereka untuk mencari kesalahan dan kelemahannya. Pikir Andi dengan dia perlu mencari tahu apakah Lusiana sungguh-sungguh hilang ingatan atau hanya berpura-pura. Dia seorang pangeran tampan dan sangat terkenal, dia akan melakukan apa pun untuk menutupi kesalahannya. Di penginapan tempat Andi menginap, pria itu menuang teh ke dalam cangkir, senyum licik terlukis di bibirnya. “Alangkah baiknya jika dia benar-benar hilang ingatan, tapi jika tidak maka tidak ada ruginya membuat gadis jelek itu minum racun sekali lagi! Semua orang tahu dia wanita bodoh dan jelek, mati dua kali pun tidak akan ada yang curiga! Hahahaha!”Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild
“Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert
“Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang
Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj
***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers
Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da







