Share

Bab 4 Racun cacar

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-12-06 13:07:05

Di sisi lain, Andi sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Lusiana. Salah satu pelayan yang dia tugaskan datang ke penginapan untuk melaporkan semua yang terjadi baru-baru ini.

“Yang-mulia, baru-baru ini Putri Lusiana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meracik obat-obatan, dia juga mengirimkan ramuan untuk Nona Rena. Menurutnya ramuan itu sangat bagus untuk kesehatan, belakangan ini hanya itu saja yang terjadi.”

“Selain itu, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih tidak ingat tentang masa lalunya?”

“Ya, Putri Lusiana hanya fokus untuk memulihkan diri, dia juga mempelajari beberapa bahan untuk membuat krim,”

Andi mengernyitkan keningnya. “Si jelek gendut itu ingin membuat krim?”

“Ya, benar, itu untuk mengobati iritasi di kulit wajahnya,” lanjut pelayan itu.

Andi menyunggingkan senyum licik, dia tahu sejenis racun. Dan dia bisa menggunakan racun itu dengan dicampur krim milik Lusiana, dengan begitu efeknya akan lebih mudah. Racun itu tidak sungguh-sungguh akan membunuhnya secara instan tapi bekerja secara perlahan. Setelah rutin menggunakan krim baru efeknya akan bisa dirasakan.

Andi sudah menyiapkannya, malam tadi penjaga yang dia perintahkan untuk membelinya sudah mengantarkan barang itu. Andi mengambil botol racikan racun lalu dia serahkan pada pelayan yang dia tempatkan di sisi Lusiana untuk terus mengawasinya.

“Kamu campurkan obat dari Barat ini pada krim yang dibuat Lusiana. Setelah satu minggu memakainya tubuhnya akan menjadi lemas dan tidak bertenaga! Racun ini memiliki efek lambat tapi menyerang sel-sel di dalam tubuh. Tidak hanya wajahnya yang akan memiliki ruam-ruam merah seperti cacar kulit! Dia juga tidak akan pernah bisa punya anak! Lakukan perintahku, jangan menunda lagi!” perintahnya dengan senyum licik. Dia pikir dengan begini dia tidak akan merasa cemas lagi.

Pelayan itu segera meninggalkan penginapan dengan patuh untuk melakukan perintah Andi.

Andi terlihat sangat senang, dia memesan beberapa menu di restoran dekat penginapan. Pria itu menuang anggur ke dalam gelas, dia ingin merayakannya.

“Setelah wajahnya menjadi sangat jelek dan tubuhnya menjadi lemas maka dia tidak akan memiliki alasan lagi untuk menolak pernikahanku dengan Rena! Hahahaha! Raja Yudistira juga pasti akan memberikan restu pada aku dan Rena! Karena Lusiana juga akan mandul setelah menggunakan krim beracun itu! Hahahaha!”

Di luar restoran, Lusiana bersama Sisil sedang membeli beberapa barang yang dia butuhkan. Dia melihat Andi sedang duduk sendiri di meja restoran. Pengawal yang menemani pria itu berdiri agak jauh.

“Sisil, bukankah itu Andi?”

“Ya, benar, itu Pangeran Andi,”

“Menurutmu haruskah aku pergi menyapanya?” tanyanya.

“Belakangan ini yang saya dengar dari para pelayan beliau beberapa kali bertemu dengan Nona Rena, lebih baik kita kembali saja ke Istana,” bujuknya.

Semua orang sebenarnya sudah tahu kalau Andi sangat tertarik pada Rena bukan Lusiana. Melihat Lusiana selalu peduli dan perhatian pada Andi yang diam-diam berselingkuh di belakang punggung Sang Putri membuat Sisil merasa kasihan pada Lusiana.

“Kenapa kamu menghalangiku bertemu dengannya? Eh? Bukannya pria itu adalah calon suamiku?” Lusiana sengaja menanyakan itu pada Sisil.

Sisil menghela napas panjang dan dia tidak menahan langkah Lusiana lagi.

Melihat Lusiana berjalan dengan anggun ke arahnya, Andi yang hampir meminum minumannya langsung menumpahkannya.

“Lu-Lusiana? Ka-kamu bagaimana bisa datang ke sini?” Andi sangat gugup, dia selalu khawatir Lusiana akan membongkar aibnya.

Lusiana membungkuk di depannya lalu menuang minuman ke dalam cangkir Andi. Dia tersenyum lembut dan berpura-pura ramah. “Pangeran Andi, Anda terlihat tidak baik-baik saja, kenapa tidak segera kembali? Anda juga menolak tinggal di Istana kerajaan tapi malah tinggal di penginapan, lihatlah Anda menjadi tidak terurus begini,” ujarnya sambil menyodorkan cangkir itu di depannya.

Wanita sinting ini, dia sudah sangat jelek tapi masih menghinaku! Apa maksudnya dia bilang aku tidak terurus! Apa dia benar-benar hilang ingatan atau hanya berpura-pura?! Dia dulu selalu memujiku, aku yakin wanita ini hanya berpura-pura!

Lusiana melihat matanya, Andi menatapnya dengan tatapan kesal, marah, jijik, dan curiga.

“Apa Yang-mulia baik-baik saja?” tanya Lusiana.

“Ya, aku baik-baik saja, kenapa kamu tidak pulang dan malah berkeliaran di restoran minuman?”

“Ah, ini, aku membeli wadah obat, ini untuk tempat krim. Aku datang ke sini hanya untuk menyapa,” Gumamnya sambil menunjukkan beberapa wadah salep yang dia beli dari toko. “Kalau begitu, Pangeran lanjutkan, aku akan kembali ke Istana,”

Andi melihatnya sekilas lalu kembali acuh.

“Ya, pulanglah!” ujarnya dengan nada mengusir.

***

Di kamar Lusiana, pelayan yang ditugaskan Andi untuk mencampurkan racun sudah selesai melakukan tugasnya lalu diam-diam menyelinap keluar.

Ketika Lusiana tiba di dalam kamarnya, dia mengeluarkan wadah krim dari bungkusnya. Dia sengaja membeli wadah krim yang sama persis dengan milik Rena. Dia memasukkan krim buatannya ke dalam wadah. Saat melakukan itu dia menyadari spatula yang biasanya dia gunakan. Benda itu terlihat penuh dengan gumpalan krim di ujungnya. Selama ini saat dia menggunakan masker benda itu selalu dia cuci bersih. Saat mengamatinya lebih lanjut Lusiana mencium aromanya, dan dia merasakan aroma obat yang lebih pekat seperti racun!

Sisil sejak tadi berdiri di sana, dia langsung bertanya karena melihat kening Lusiana mengernyit.

“Ada apa, Yang-mulia?”

Lusiana menggelengkan kepalanya lalu menutup wadah salep buatannya.

“Kamu berikan ini untuk Rena, bilang saja aku membelinya di toko langganannya!” Lusiana mengukir senyum lembut saat menyerahkan barang itu.

“Baik, Yang-mulia,” ujarnya.

Setelah Sisil pergi, Lusiana membuang semua krim buatannya itu dan meminta pelayan untuk membersihkan sisa-sia racikannya.

“Kenapa Yang-mulia membuang semua ini? Anda membuatnya dengan susah payah,” tanya Aning.

“Aku tidak membutuhkannya lagi, pastikan kamu benar-benar membuangnya ke dalam selokan!” jawabnya singkat.

“Baik, Yang-mulia!”

Setelah semua orang keluar, pada sore hari Lusiana diam-diam menyelinap keluar, dia ingin mengamati apa yang terjadi.

Di kediamannya tidak ada hal-hal aneh, hanya dua pelayan baru yang terus mengawasi gerak-geriknya.

Pelayan itu terus mengikutinya ke mana pun dia pergi. “Kenapa kalian mengikutiku?”

“Kami hanya khawatir pada Yang-mulia,” jawab mereka.

Lusiana sengaja pergi sebentar ke dapur lalu masuk kembali ke dalam kamar. Dia menggunakan krim yang baru untuk merawat wajahnya, dan dua pelayan itu menatapnya dengan wajah antusias. Kedua bola mata mereka terlihat bersinar dan bersemangat. Lusiana merasa penasaran jadi dia sengaja mengujinya.

Kalian sepertinya terlihat bersemangat sekali, tidak sabar melihatku memakainya, oke, aku akan menunjukkan tontonan yang menarik di depan kalian!

“Kenapa? Apa kalian ingin mencobanya?”

“Ti-tidak! Kami merasa kulit Anda menjadi lebih halus dengan krim itu, Yang-mulia sangat cocok memakainya!”

Lusiana berjalan mendekat dan mengoleskan krim buatannya ke wajah dua pelayan itu.

“Yang-mulia, tidak!”

“Jangan! Kami tidak mau memakainya!”

Dua orang itu langsung panik dan kabur untuk mencuci wajah masing-masing. Sisil melihatnya jadi dia segera mendekati Lusiana.

“Yang-mulia, apa yang terjadi pada mereka?”

“Entahlah, aku tidak tahu, mereka sepertinya sangat takut, reaksinya yang histeris seperti sedang terancam, seolah-olah memakai racun! Apa kamu tahu dari mana para pelayan itu berasal?” tanyanya.

“Aku dengar dari pelayan lain, mereka adalah hadiah yang diberikan pada Anda dari Pangeran Andi, Pangeran Andi ingin merawat Anda dengan baik jadi mengirim mereka ke sini.”

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 5 Babi gendut dan lumpur vulkanik

    Pada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan. Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membuatnya kesulitan. “Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya. Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam. “Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,” Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi. Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana. “Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin maka

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 4 Racun cacar

    Di sisi lain, Andi sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Lusiana. Salah satu pelayan yang dia tugaskan datang ke penginapan untuk melaporkan semua yang terjadi baru-baru ini.“Yang-mulia, baru-baru ini Putri Lusiana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meracik obat-obatan, dia juga mengirimkan ramuan untuk Nona Rena. Menurutnya ramuan itu sangat bagus untuk kesehatan, belakangan ini hanya itu saja yang terjadi.”“Selain itu, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih tidak ingat tentang masa lalunya?”“Ya, Putri Lusiana hanya fokus untuk memulihkan diri, dia juga mempelajari beberapa bahan untuk membuat krim,”Andi mengernyitkan keningnya. “Si jelek gendut itu ingin membuat krim?”“Ya, benar, itu untuk mengobati iritasi di kulit wajahnya,” lanjut pelayan itu.Andi menyunggingkan senyum licik, dia tahu sejenis racun. Dan dia bisa menggunakan racun itu dengan dicampur krim milik Lusiana, dengan begitu efeknya akan lebih mudah. Racun itu tidak sungguh-sungguh akan membunuhnya secar

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 3 Kunjungan Lusiana dan ramuan pencahar

    Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lusiana datang berkunjung ke kediaman Rena. Ini adalah yang pertama kali sejak dia bangkit dari kematian.“Adik Rena, sayang! Apa kamu sudah bangun?” panggilnya saat dia baru melangkahkan kaki di halaman kediaman Rena. Lusiana melongokan kepalanya ke sekitar, ini adalah pengalamannya yang pertama semenjak dirinya masuk ke dalam tubuh putri gendut itu. Lusiana ingin mempelajari banyak hal, terutama lingkungan di mana musuhnya tinggal.Pelayan yang melayani Rena pun terkejut. Mereka gugup dan langsung melaporkan tentang kedatangan Lusiana.“Nona-nona! Putri Lusiana datang, beliau sedang menuju ke sini!”Rena masih sangat mengantuk, dia semalaman begadang karena gelisah memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membuat Lusiana celaka. Wajahnya kusut, bajunya juga sangat berantakan.“Apa maksudmu? Matahari bahkan belum terbit, mana mungkin si jelek gendut itu bisa bangun sepagi ini, hah?! Biasanya dia baru bangun sekitar pukul sepuluh pagi, sudah

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 2 Ramuan kecantikan dan kunjungan Andi

    Coretan boneka kecil dengan leher tergorok yang sengaja ia buat untuk menakut-nakuti Tabib Alex. Rencananya sangat sederhana, mempermainkan dan menguasai ketakutan orang adalah hal remeh baginya, Lusiana ingin memancing mereka datang membawa apa yang ia butuhkan. Di pikirannya yang masih setengah modern, trik kecil seperti ini adalah permainan psikologis yang mudah dimenangkan.Tidak lama setelah Sisil berlari dan pergi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong. Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki bertubuh gemuk dengan janggut tipis masuk sambil tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak pucat.“Tabib Alex!” Lusiana menyambut dengan senyuman manis. Suaranya terdengar berbeda, asing di tenggorokan tubuh barunya, dia berusaha bicara semanis mungkin. “Anda sudah datang.”Tabib itu menunduk, suaranya serak. “Yang-mulia, tadi aku melihat... gambar menakutkan itu di kertas surat yang Anda kirimkan. Aku... aku khawatir roh jahat masih mengganggu kamar ini. Aku membawa ramuan-ramuan pember

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 1 Aku terjebak di tubuh Tuan Putri jelek

    Pada pagi hari dia bangun dengan tubuh yang sama seperti yang dia lihat semalam. Lusiana duduk termenung di tepi ranjang, dia mencoba memahami semua yang baru saja terjadi padanya. Pertama-tama dia meraba pipinya, kulitnya terasa sangat jauh berbeda. Saat melihat ke pantulan cermin yang diletakkan di sudut ruangan, matanya spontan melotot. “I-ini... siapa wanita yang ada di dalam cermin? Itu bukan aku!” ujarnya dengan ekspresi terkejut. Yang dilihatnya bukan wajah cantik artis modern Lusiana, melainkan wajah bulat dengan pipi tembam, kulit kusam, dan bekas jerawat yang memenuhi seluruh permukaan kulit wajahnya. Rambutnya terasa kusut-kering, acak-acakan, berantakan, jauh dari gaya mewah artis papan atas. Lusiana melangkah mundur dari depan cermin dengan wajah pucat. “Apa maksudnya semua ini? Aku... Kenapa-kenapa wajahku jadi jelek sekali?!” dia masih tidak percaya dengan semuanya. Kemarin dia berpikir semua ini hanya mimpi dan dia akan bangun dengan parasnya yang cantik. Satu p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status