LOGINAnan berjalan di samping Lusiana, awalnya dia pikir Lusiana adalah tipe orang yang supel dan mudah bergaul dengan orang lain. Tapi sejak melangkah keluar dari kamar Wilda tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Anan ingin mengusir rasa canggung tersebut, dia mencoba membuka topik pembicaraan dengannya. “Putri Lusiana,” “Ya?” “Menurutmu apakah kabar tentang dirimu yang meminum racun hanya gosip belaka?” pancing Anan. Lusiana tersenyum lebar, dia melirik Anan sedikit lalu menatapnya dengan jelas untuk mencermati ekspresi wajah pria di sampingnya tersebut. “Bagaimana menurut Pangeran sendiri? Apakah hanya gosip atau kebenaran?” Anan menggelengkan kepalanya. “Jika aku tidak melihatnya sendiri dengan kedua mataku maka aku akan sulit untuk mempercayai desas-desus, meski topik tersebut dibicarakan dengan panas di dalam masyarakat. Putri Lusiana sangat ahli dalam dunia kosmetik, dan aku melihatnya sendiri, aku lebih percaya dengan hasil.” Nada suaranya terdengar dalam dan tegas. Lusiana kembali tersenyum. “Sayangnya gosip itu memang benar.” Anan terdiam, suasana kembali menjadi canggung. Lusiana menghela napas panjang, menatap ke arah langit sebentar lalu kembali berjalan dan Anan buru-buru menyusulnya. “Putri Lusiana, aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalu!” Langkah kaki Lusiana terhenti. Dia terkejut mendengar Anan mengatakannya. Sejak kapan ada orang yang begitu peduli dan kukuh ingin mendekatiku dengan tubuh gendut ini? Apakah aku tidak salah dengar? Lusiana masih tercengang dan Anan berhasil menyusulnya, napasnya masih terengah-engah. “Oh,” hanya itu yang bisa meluncur dari bibir Lusiana. Anan mengerutkan keningnya. “Oh?” “Hem, ya,” angguk Lusiana. “Apakah tidak ada yang ingin Putri katakan padaku?” Lusiana mengerucutkan bibirnya lalu menggelengkan kepalanya. Anan langsung patah hati karena merasa Lusiana sengaja membangun tembok tinggi dan melarangnya untuk berjalan lebih jauh. “Kenapa?” tanyanya dengan nada sedikit mengeluh. Lusiana tertawa. “Pangeran, adakah yang ingin kamu dengar dariku?” “Kamu bisa menceritakannya padaku.” Jawabnya seraya kembali berjalan di samping Lusiana. “Tentang aku meminum racun?” “Apa saja, kamu bisa saja mengubah topik ke topik lain jika enggan mengatakannya. Hanya saja bagaimana bisa seseorang ingin mengakhiri hidupnya sendiri? Pasti ada hal kejam dan sangat menyakitkan yang tidak bisa diterima dengan logika sehingga membuat orang tersebut memutuskan untuk .... mati.” Mendengar ucapan Anan Lusiana mengukir senyum yang menyisakan rasa sakit di kedua matanya. Ekspresinya terlihat getir, sakit, dan pahit. “Sayangnya aku tidak ingat masalah apa yang membuat aku sampai meminum racun.” Lusiana pikir itu jawaban yang paling tepat. Dia tidak ingin membongkar perselingkuhan Andi dan Rena, tidak sekarang! Anan terdiam, mereka tiba di kereta. Lusiana dan Sisil masuk ke dalam kereta dan pergi. Anan masih berdiri menatap sampai kereta kuda Lusiana menghilang dari depan matanya. “Pasti sangat sakit sekali, sampai kamu memutuskan untuk menutup ingatan itu. Meski kamu tidak mengatakannya padaku, aku tahu karena semuanya sangat jelas dari sinar matamu, Lusiana ....” *** Setibanya di kediaman Lusiana sudah ditunggu oleh ayah dan ibunya. Mereka terlihat cemas dan panik. Ketika Lusiana turun dari dalam kereta, ibunya langsung memeluknya seolah-olah tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Yudistira juga ada di sana menyaksikan pemandangan tersebut. Kecuali Rena dan ibunya, mereka tidak menunjukkan batang hidungnya. “Putriku? Sebenarnya apa yang terjadi? Rena bilang kamu sudah menindasnya?” “Menindasnya?” tanya Lusiana dengan heran. Sisil sudah bersiap ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi Lusiana langsung mencegahnya dengan menggenggam lengannya. “Ya, dia bilang karena kamu dia ditampar Putri Wilda, apa kamu tidak tahu mereka masih kerabat Pangeran Andi? Kita harus memperbaiki situasi ini,” ujar ibu Lusiana. Lusiana terlihat tenang lalu mengukir senyum pada salah satu sudut bibirnya, terlihat menakutkan untuk dilihat oleh semua orang yang ada di sana. Lusiana melepaskan pelukan ibunya lalu berkata pada ayahnya dan semua orang. “Aku sudah membereskan masalahnya, tidak akan ada masalah lagi.” Orang di sana saling bertukar-pandang satu sama lain. Lusiana sengaja tidak membahas pisau yang dibawa Rena untuk mempermalukan dirinya karena menurutnya tidak perlu membahas masalah sepele itu. Lusiana merasa sangat lelah dan ingin secepatnya membersihkan wajahnya lalu tidur. Dia menatap semua orang, tidak ada tanda-tanda mereka akan menyudahi percakapan itu. “Sudah malam, acara pertemuan kali ini sangat melelahkan jadi aku akan istirahat di dalam kamar.” Pamitnya. Lusiana memberikan hormat pada Yudistira dan ibunya sebelum pergi. Ibunya masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Jika itu adalah Lusiana yang dulu pasti Lusiana akan selalu gugup, bicara tergagap, bahkan mengakui semua masalah yang dituduhkan padanya, berlutut dan memohon ampunan padanya dan pada ayahnya. Tapi Lusiana yang dia temui saat ini terlihat acuh, dan cenderung tidak membesar-besarkan masalah. “Apa dia masih putriku? Kenapa aku merasa dia sama sekali bukan putriku? Dan tubuhnya juga lebih kurus dibandingkan sebelumnya, apa aku tidak salah dengar?” “Sudah-sudah, dia putri kita, memangnya dia siapa kalau bukan putri kita? Lagi pula ini adalah perubahan yang baik. Dia adalah putri kerajaan ini, sangat bagus bisa menyelesaikan masalah di luar. Dengan begini aku juga tidak perlu cemas lagi,” *** Di sisi lain, Anan membahas masalah Lusiana dengan bawahannya. “Menurutmu apakah Putri Lusiana memang tipe orang yang dingin dan tidak peduli?” “Saya tidak tahu banyak Yang-mulia, dari yang saya dengar Putri Lusiana terkenal dengan tubuhnya yang gendut ....” “Apakah kamu melihat perbedaannya? Bagaimana ceritanya, aku dengar tadi dia sudah dijodohkan dengan Andi?” “Masalah pertunangan itu semua orang sudah tahu, hubungan antar kerajaan. Tapi sepertinya memang berbeda dia tidak pernah mencolok seperti sekarang, dulu dia adalah putri yang selalu tertindas bahkan semua wanita putri dari para pejabat selalu merendahkannya. Tidak ada orang yang mau bersikap hormat padanya. Dia juga selalu mengalah dan tidak memperhitungkan orang-orang yang sudah bertindak jahat terhadapnya. Selalu memendam semuanya sendiri dan memilih meminta maaf entah dia melakukan kesalahan atau tidak.” Anan menggaruk keningnya sendiri. “Apakah semua orang yang bangkit dari kematiannya akan selalu cenderung berubah seperti itu?” *** Pada keesokan paginya, Anan makan bersama dengan Wilda dan dia melihat bekas luka di lengannya memang sudah membaik. “Baru semalam, apakah obat yang dibuatnya sungguh ajaib?” tanyanya pada Wilda dengan heran. “Ya, lukaku ini selain tidak pedih sedikit pun juga sepertinya sembuh dengan lebih cepat! Orang sepertinya, jika dia masuk menjadi tabib pasti akan sangat terkenal dalam semalam! Aku melihatnya, dia ahli dalam bidang ini dan sepertinya bukan keahlian biasa. Dia memiliki jiwa di bidang perawatan kulit, aku hanya merasa sayang jika bakat sebesar itu terpendam begitu saja. Bakat itu harus dikembangkan dan ditunjukkan pada semua orang!” “Wilda, dia putri raja, tidak kekurangan apa pun, untuk apa dia repot-repot menjadi seorang tabib kecantikan?” “Aku memikirkan masa lalunya, aku sudah mencari tahu tentangnya, para putri pejabat selalu menindasnya di masa lalu tapi dia tidak pernah melawan bahkan hanya tahu meminta maaf meski dihina dan disalahkan,” gumam Wilda seraya menatap Anan dengan kedua mata berkaca-kaca. Anan juga memikirkannya. Dia pikir mungkin Lusiana di masa lalu memutuskan bunuh diri karena diperlakukan dengan tidak adil oleh semua orang. Anan mengusap kepala Wilda, dia mengerti maksud adiknya. “Aku tahu kamu melakukan ini untuk membantunya, bukan?” Wilda memutar otaknya dan dia tiba-tiba mendapatkan ide bagus. “Kak, bagaimana kalau kita adakan lomba meracik kosmetik?” “Perlombaan? Ah, kamu ingin memberikan hadiah berapa?” “Toko besar kosmetik di pusat kota! Itu hadiahnya!” “Kamu ingin membuka toko?” Anan semakin bingung. “Ya, aku sangat tertarik dengan masalah perawatan kecantikan, selain itu menurutku Putri Lusiana sangat menarik ....” Anan menganggukkan kepalanya, “Kamu urus saja semuanya, lagi pula jika aku melarangmu memangnya kamu mau mendengarkanku?”Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild
“Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert
“Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang
Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj
***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers
Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da







