Home / Historical / Transformasi Sang Tuan Putri / Bab 7 Aku Lusiana bukan babi gendut

Share

Bab 7 Aku Lusiana bukan babi gendut

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2026-02-03 13:04:26

Lusiana melepaskan pelukannya, dia menatap ke arah pelayan di belakang Rena.

“Sita, tolong antar nonamu kembali,” perintah Lusiana pada pelayan yang selalu berada di sisi Rena.

“Lusiana aku pasti akan membalasmu!” desis Rena sebelum memutar badan dan pergi.

Lusiana hanya mengukir senyum dan tatapan penindasan di matanya. Senyumnya terlihat sangat cantik dan memikat.

Anan bisa melihat tatapan mata Lusiana, wanita di dekatnya itu bukanlah sosok wanita biasa. Anan bertanya pada ajudan yang selalu mengawalnya di samping.

“Sebenarnya siapa wanita itu? Apa benar itu putri Raja Yudistira?”

“Benar, Yang-mulia, dia adalah putri Lusiana.”

Wilda bertanya pada Lusiana.

“Kapan kamu akan merawat lukaku?”

“Kapan pun, Putri Wilda bisa menentukan waktunya,” jawab Lusiana dengan tenang.

“Jadi, meski aku memanggilmu datang untuk mengobatiku, apakah kamu akan datang?”

“Ya, aku pasti akan datang,”

Wilda menoleh ke arah Anan. “Kakak, bagaimana menurutmu? Aku ingin lukaku dirawat sekarang, aku ingin cepat mengembalikan kulitku, aku tidak ingin melihat bekas lukanya!”

Anan menatap Lusiana. “Putri Lusi, adikku ingin kamu merawatnya sekarang, mari,”

“Baiklah,” Lusiana mengikuti langkah Anan dan secara otomatis berjalan di sampingnya. Putri yang selalu mendapat julukan si gendut yang sekarang terlihat elegan dan memancarkan aura kecantikan luar biasa dari luar tampak sempurna.

Andi melihat pemandangan itu, dia tiba-tiba ingin ikut campur karena merasa memiliki hak atas Lusiana.

“Paman Anan! Tunggu!” serunya dari arah kerumunan.

Lusiana melihat Andi dan dia langsung menyipitkan matanya.

Andi, pria sial itu apakah dia ingin ikut campur dan memperburuk keadaan? Awas saja jika kamu berani mengacaukan rencanaku!

“Oh, Andi?” balas Anan.

Wilda melongokkan kepalanya ke belakang dan dia melihat Andi berlari menyusul mereka.

Dengan senyum penuh percaya diri, seolah-olah telah memberikan bantuan besar Andi berkata pada Anan dan Wida.

“Pertama-tama aku akan memberitahu pada kalian bahwa Lusiana adalah tunanganku, aku meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan!” Andi mengambil lengan Lusiana dan menariknya ke samping menjauhkannya dari dekat Anan.

Siapa yang kamu sebut melakukan kesalahan, dasar sialan!

Lusiana langsung menarik tangannya lalu melipat kedua tangannya dengan santai.

“Pangeran Andi, apa kamu tidak melihat situasinya? Apakah lebih penting menunjukkan dirimu bahwa kamu adalah siapa ku? Ada hal mendesak yang harus aku lakukan dengan Putri Wilda, kami tidak bisa menundanya,”

Andi sengaja mengeluarkan apa yang sudah dia pikirkan di dalam benaknya. Dia merasa Lusiana sengaja menjebak Rena hari ini hingga Rena mendapatkan tamparan dari Wilda.

“Putri Lusiana, apa maksudmu? Hahaha! Apa kamu ingin memperburuk keadaan hah? Lalu kamu akan melemparkan semua kesalahanmu pada Rena? Apa kamu yakin bisa mengobati luka sampai tidak membekas? Hahaha! Konyol sekali! Jangan-jangan kamu ingin mengubah luka kecil di lengan Putri Wilda menjadi borok membusuk lalu kamu kembali melimpahkan semuanya pada Rena! Kamu sangat licik sekali!”

Lusiana tidak bisa bersabar, dia menatap Andi dengan tatapan dingin menusuk tulang. Berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah.

“Pangeran Andi, sepertinya aku salah, aku pikir kamu datang untuk membantuku. Tidak aku sangka ternyata kamu datang karena cemas pada Rena saudariku. Kenapa kamu tidak batalkan pertunangan kita saja, dan menikah dengannya?” pancing Lusiana.

Andi sangat marah sampai wajahnya menghitam.

Wanita sialan! Babi gendut menjijikkan sepertimu ingin sekali aku singkirkan!

Anan merasa pertengkaran mereka tidak akan usai, dia segera menyela.

“Andi, Putri Lusiana ingin mengobati Wilda, jadi jangan menunda waktu, kalau kamu ingin membuat perhitungan dengan Putri Lusiana sebaiknya nanti saja.” tuturnya.

Andi mengepalkan tangannya. Dia tidak ingin kalah, menurutnya dia harus membalas semua yang Lusiana lakukan terhadap Rena mumpung ada banyak orang di sana. Dia ingin semua orang tahu siapa Lusiana.

“Terserah saja kalau masih tidak percaya! Putri Lusiana yang ada di depan kalian sekarang baru saja bangkit dari kematian, dari Tabib yang merawatnya dia dikatakan sakit mental, beberapa hari lalu dia membuat obat untuk diminum Rena dan akhirnya Rena sakit diare! Kalau kalian memilih untuk percaya padanya lalu terjadi sesuatu pada Wilda jangan salahkan aku karena aku sudah mencoba menasihati kalian untuk tidak percaya dengan semua omong-kosongnya!”

“Wanita gila?”

“Apa benar?”

“Putri Lusiana aku dengar memang baru saja bangkit dari kematian karena meminum racun.”

“Apa dia sungguh wanita tidak waras?”

“Jika dia benar tidak waras bukankah akan menyebabkan Putri Wilda berada dalam bahaya?”

Anan mulai meragukan Lusiana, Wilda sendiri juga sangat marah mendengar pernyataan Andi juga kasak-kusuk dari mulut semua orang.

Melihat keraguan di mata Anan dan Wilda, Lusiana tiba-tiba tertawa keras.

“Hahahahaha! Pangeran Andi, masalah inti di dalam kediaman keluarga kami bagaimana bisa sampai ke telingamu? Jangan-jangan adikku Rena dan kamu memiliki hubungan tidak biasa?”

Semua orang yang awalnya menjelekkan Lusiana dan hanya menyaksikan mereka mulai berkasak-kusuk dengan pendapat lain, dari semua yang mereka dengar barusan memang menunjukkan Andi lebih memberikan perhatian khusus pada Rena daripada tunangannya sendiri.

“Aku-aku hanya menunjukkan kebenaran! Kamu Lusiana selalu pandai memutar balikkan fakta! Aku hanya tidak ingin keluargaku terus kamu permainkan! Aku tidak ingin Putri Wilda celaka!”

Lusiana terlihat tidak gentar sedikit pun. Dia mencondongkan wajahnya ke depan sampai membuat Andi mundur dan bersandar pada pembatas jalan.  Di bawahnya dan di samping jalan kecil dari papan kayu itu ada kolam ikan emas. Dia mendesak Andi sampai pagar pembatas berderak, setiap melihat mata Andi otomatis Lusiana teringat dengan kejadian menjijikkan antara Rena dan Andi di kolam.

“Lalu? Apakah kamu bisa menebus atas tindakan yang dilakukan Rena terhadap keluargamu? Katakan padaku, Andi?”

“Kamu bisa membawa tabib datang untuk mengobatinya!” Teriak Andi sambil terus mundur.

“Apa kamu pikir tabib mengerti perawatan kecantikan? Apa mereka mengetahui jenis-jenis kulit dan cara merawatnya? Apa kamu pikir ini penyakit tumor atau kanker! Kecuali mereka seorang ahli kecantikan maka baru bisa melakukannya! Dasar bodoh!” desis Lusiana di telinga Andi.

Lusiana terus mendesaknya, tali pagar putus dan Andi jatuh tercebur ke dalam kolam di bawah.

“Akh! Lusiana! Kamu wanita gila!” teriak Andi seraya menatap semua orang di dalam pesta bunga.

Lusiana langsung memutar badan dan berjalan ke arah Wilda.

“Putri Wilda, mari,”

Anan melihat semuanya, setiap kata-kata yang meluncur dari bibir Lusiana seperti anak panah yang ditembakkan ke tepat sasaran. Setiap gerakannya, setiap senyumannya, semuanya terlihat memesona. Seolah-olah tubuh yang gendut dan wajah yang masih memiliki lemak di beberapa bagian tidak mengurangi aura kecantikannya.

Menarik sekali! Wanita ini bukan wanita biasa. 

Di kediaman Wilda, Lusiana memanggil tabib dan meminta mereka menyiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan. Lusiana mengikat lengan bajunya dan mulai membuat ramuan itu sendiri dan menghaluskannya. Setiap prosesnya dilakukan oleh Lusiana sendiri. Sisil di sampingnya dan Lusiana memintanya membantu untuk mengambilkan bahan yang dia butuhkan dari meja.

Anan melihat semua prosesnya. Salep sudah dibuat dan dimasukkan ke dalam wadah, Lusiana membawa wadah kecil itu pada Wilda.

Anan menahan napasnya, dia hanya cemas jika ucapan Andi tadi benar-benar terjadi. Lusiana ingin mencelakai Wilda. Banyak keraguan di dalam hatinya.

“Sebelum Putri Wilda mencobanya, aku akan mencobanya terlebih dahulu.” Lusiana mengoleskannya di punggung telapak tangannya lalu menunjukkannya di depan semua orang. Kulit Lusiana menjadi lebih halus dan salep buatannya memiliki efek mencerahkan.

Lusiana duduk di samping Wilda. “Bagaimana? Apakah Putri bersedia mencobanya?”

Wilda menyentuh punggung telapak tangan Lusiana, kulit Lusiana memang sangat halus dan lembut.

“Ya, apakah akan sakit? Kulitku masih terluka,” tanya Wilda.

“Putri tidak perlu cemas, gel ini terasa sangat dingin dan tidak akan menimbulkan efek pedih,” jawabnya.

Lusiana mengoleskannya sedikit, Wilda bisa merasakan sensasi sejuk, dingin, dan aroma dari salep itu sangat harum.

“Harum sekali....!” serunya dengan senyum cerah. “Benar-benar tidak pedih! Putri Lusiana, kamu sungguh membuat salep ajaib! Ini bukan hanya obat luka kelas tinggi, ini adalah salep luka perawatan kulit, kulitku terasa lebih kenyal dan harum,”

Lusiana tersenyum. “Putri Wilda, aku menyiapkan dua wadah untukmu, jika ada hal lain, nanti kamu bisa langsung menghubungiku di kediaman,” ujarnya.

Lusiana beralih ke arah tabib. “Tabib, Anda bisa memeriksanya jika khawatir salep buatanku berbahaya,”

“Saya sudah memeriksa dan menyaksikannya sendiri, obat yang Putri Lusiana buat sama sekali tidak berbahaya atau memiliki efek samping, saya melihat prosesnya dan Anda memang berbakat dalam membuat salep, apa .... Anda sungguh Putri Lusiana?” tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ya, benar,” jawab Lusiana dengan sopan.

“Tidak disangka Anda sangat luar biasa dan jauh dari seperti yang dikabarkan orang-orang selama ini.”

“Memangnya dulu aku seperti apa?” tanyanya.

Tabib tersebut mulai berkeringat dan tidak berani melanjutkan kata-katanya.

“A, itu, anu,”

Lusiana tahu tabib itu merasa cemas karena takut salah bicara, Lusiana memakluminya. Hari juga sudah larut dia harus segera pulang karena tidak ingin membuat semua orang cemas.

“Sudahlah, aku tidak akan bertanya lagi, hari sudah larut, aku harus kembali ke kediaman,”

Anan melangkah maju. “Putri Lusiana, izinkan aku mengantarkanmu,” ujarnya.

Sisil diam-diam mengukir senyum. Dia merasa sangat senang mendengarnya.

Andi yang tadi tercebur di dalam kolam juga ada di sana, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Lusiana, pria itu sedang menggigil dan menjadi kepompong di balik selimut.

“Babi gendut itu! Bagaimana bisa dia membuat salep! Bukannya dia hanya tahu makan! Dia sangat jelek dan bodoh! Sejak kapan dia memiliki ilmu meracik obat kecantikan?!”

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 48 Anggap saja aku tidak ada

    Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 47 Mengejar Lusiana

    “Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 46 Menolak mengakui

    “Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 45 Desakan Andi

    Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 44 Kita pulang berdua saja

    ***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 43 Untuk membalas dendam

    Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status