LOGINDavid muncul dengan membawa Duke Alerix. Keduanya tepat berada di sebuah gang gelap. David melangkah dan melihat sekelilingnya ternyata sebuah pasar. Orang-orang masih ramai dengan para pembelinya. Ada juga yang sambil menuntun anaknya. Kehidupan di pasar ini terlalu damai. "Ini dimana?" tanya Duke Alerix. Tiba-tiba sudah berpindah ke pasar. "Sebaiknya kita keluar dan mencari informasi." David dan Duke Alerix keluar dengan menggunakan jubah. Dia melirik sekelilingnya. Duke Alerix menuju ke sebuah penjual roti. Dia melihat ada tiga pembeli dan seorang anak. "Saya ingin membeli roti," ucap Duke Alerix. "Kamu tau tidak katanya Raja Edgar sudah menemukan keponakannya?" Duke Alerix wanita setangah baya yang berbicara. Ia penasaran dengan orang yang di katakan itu. "Katanya Raja Edgar akan mengadakan pesta. Semua rakyat menghadirinya." David menarik tangan Duke Alerix menuju suatu tempat. "Aku sudah mengetahuinya. Mendengar Raja Edgar saja kau pasti bisa menebaknya."
Duke Alerix dan David turun dari kudanya. Keduanya menatap bangunan yang hampir roboh itu. David menghapus ilusi itu dan kinilah terlihat bangunan megah. "Apa ini sihir?" tanya Duke Alerix. "Ada jejak penyihir hitam." Duke Alerix melangkah lebar. Dia membuka kedua pintu kokoh itu dan melihat kemegahan di dalamnya. "Estelle." Panggilnya. "Ratu." David ikut memanggil. Ia merasa tidak ada jejak Ratu Estelle. "Tidak mungkin dia pergi." Duke Alerix tubuhnya langsung panas dan tidak bertenaga. "David apa kau bisa merasakan jejaknya?" David memfokuskan jejak penyihir hitam. Pasti Ratu Estelle bersamanya. "Aku bisa merasakannya. Mereka sudah pergi." "Duke kita harus menggunakan sihir untuk sampai kesana." David membuka menggunakan sihirnya berpindah tempat. Seharusnya ia menggunakan sihirnya dari awal agar lebih cepat. .... Ratu Estelle dan yang lainnya telah sampai di sebuah gerbang. Dia menggunakan jubah agar tidak ketahuan. Begitu pun penyihir hitam. Hanya Jasper, Ana
Kaisar Raymond menatap dua orang itu di tangkap oleh pengawal yang menjaga di wilayah itu. Lalu dia melihat seorang anak kecil yang kira-kira tinggi sampai selututnya. Kedua netranya seolah ingin mengatakan sesuatu. Kaisar Raymond berjongkok. Dia menatap lembut wajah anak perempuan yang berkepang dua itu. "Ada apa?" "Apa benar Yang Mulia Ratu orang baik? Selama ini aku tidak mempercayainya." Anak perempuan itu menunduk. Terlihat ada beban di wajahnya. "Rumor mengatakan Yang Mulia Ratu jahat. Tidak mungkin Jahat. Aku sudah mengatakan pada mereka. Yang Mulia Ratu orang baik. Dia sangat cantik." Kaisar Raymond mengusap pucuk kepala anak perempuan itu hingga menatapnya dengan lekat. "Ratu sangat baik. Dia hanya membalas orang yang menghinanya. Jika ada orang yang menghina mu. Balaslah orang itu. Kau bisa datang ke istana dan mengatakan aku berada dalam perlindungan Kaisar." "Semoga anda hidup bahagia Yang Mulia." Kedua mata Kaisar Raymond menggenang. Akankah ia bisa hidup bahagia
Mengingat masa lalu memang jelas dia bersalah. Ratu Estelle hanya ingin bersamanya. Ratu Estelle menghargainya, tapi ia sendiri yang mendirikan tembok. Sekalipun Ratu Estelle menghinanya, ia menerimanya. "Kau." Ratu Estelle menunjuk Kaisar Raymond. Masa bodoh di hadapannya seorang kaisar. Dari dulu ia ingin mengatakannya. "Ratu Estelle hanya ingin ada yang menghargainya. Dia jahat karena ada penyebabnya. Tidak mungkin dendam akan tercipta tanpa rasa sakit hati termasuk Helena. Dia dendam pada ku karena kau penyebabnya Kaisar Raymond. Menikahlah dengan Helena dan jangan mengganggu ku." Kaisar Raymond menggelengkan kepalanya. Kali ini ia merasa ingin mengingkari janjinya. "Anda seorang Kaisar. Apa anda ingin mengingkari janji anda pada Helena?" Ratu Estelle menekan keningnya dan tertawa. Ingin sekali ia mengatakan di hadapannya seorang bajingan. Mengeluarkan semua unek-unek di hatinya. Bajingan ini "Anda ingin membuat ku tertawa. Anda bagaikan seorang pria yang gila. Pria
“Yang Mulia ada dimana? Pasti kalian tau.” Helena menatap tajam ke arah dua pengawal itu. Seharusnya mereka tau Kaisar Raymond yang keluar entah kemana. Kedua pengawal itu saling tatap. “Kami tidak tau Nona. Yang Mulia pergi tanpa mengatakan apa pun. Yang Mulia hanya menyuruh kami untuk mengatakan pada siapa pun yang mencarinya dengan alasan sibuk.” Tutur seorang pengawal. Helena mengerutkan keningnya. Ia pemasaran entah kemana perginya Kaisar Raymond. Padahal malam ini ia ingin melanjutkan aksinya. “Baiklah, jika Kaisar Raymond datang. Katakan pada ku.” Helena merasakan hatinya tidak tenang. Kaisar Raymond pergi tanpa mengatakan apa pun padanya. Artinya ada sesuatu yang mendesak. Sudah berhari-hari Helena menunggu namun Kaisar Raymond tak kunjung datang. Setiap saat dia mendatangi ruang kerja Kaisar Raymond untuk menemuinya. Hatinya semakin tidak nyaman. Pikirannya tertuju pada satu orang yaitu Ratu Estelle. "Kalau dia sampai menemui Ratu Estelle. Aku tidak bisa membi
Prank Helena melemparkan vas bunga ke arah cermin yang memperlihatkan bayangan wajahnya. Kaisar Raymond tidak lagi melihat hatinya. Dengan teganya pria itu menghukum Mia, dayang pribadinya. Kaisar Raymond jelas sekali menunjukkan taringnya. Ia tidak bisa membiarkan posisi yang selama ini ia lakukan dengan susah payah harus terbuang sia-sia. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Ratu Estelle yang membahas tentang keturunan. Jika ia tidak memiliki keturunan dengan Kaisar Raymond jelas sekali posisinya sebagai Ratu tidak bisa di pertahankan. "Aku harus mengandung. Aku harus memiliki anak dengan Yang Mulia bagaimana pun caranya. Tetapi Yang Mulia tidak akan menyentuh ku." Ia harus memikirkan bagaimana caranya membuat Kaisar Raymond memberikan kasih sayangnya lagi. Untuk saat ini ia harus mencari dayang yang setia padanya. Helena menyuruh seorang dayang untuk membawa dayang lainnya. Tentunya dayang itu mengikuti ucapan Helena karena Helena mengancam akan melaporkan pada Kaisar
Duke Alerix menatap kereta kuda yang semakin jauh itu. Dia menunduk dan memejamkan kedua matanya sejenak. Dulu ia salah karena mengabaikan tanggung jawab seorang ayah pada Ratu Estelle. Seharusnya dulu ia memperhatikannya, mencintainya, memeluknya dan merangkulnya. Jasper menoleh ke belakang.
"Yang Mulia." Seorang pengawal masuk begitu saja. Di satu sisi ia takut pada amukan bangsawan di satu sisi ia takut pada dua orang yang sedang menatapnya tajam. "Di luar para bangsawan ingin bertemu dengan anda." Kaisar Raymond mengepalkan tangannya. Tadinya ia tidak ada yang mengganggu percakapa
"Benarkah, kau akan menyesalinya Ratu Estelle. Aku tidak percaya setelah bercerai dengan ku kau akan hidup bahagia." Ia percaya Ratu Estelle masih memiliki perasaan untuknya. "Yang Mulia." Sapa seorang pengawal. "Kami sudah menemukan saudara tiri anda. Pihak kuil sudah mengetahui kebenarannya. Dia
Ratu Estelle tersenyum sinis melihat bola kecil rekaman itu. Wanita selicik Helena belum bisa melawannya. Bagaimana wanita itu membuat namanya buruk maka ia akan melakukan hal yang sama. Ia hanya menunggu sampai pesta pernikahan mereka. Setelah kejadian Helena keracunan. Kaisar Raymond menggelada







