LOGIN“Selamat, Yang Mulia! Selamat untuk Permaisuri Liao!”
Suara lantang itu memecah keheningan lebih dulu. Seorang adipati tua sudah berdiri sambil mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi, wajahnya penuh senyum lebar seolah baru saja mendengar kabar paling membahagiakan tahun ini. Dan seperti air bah yang menemukan celah— “Selamat untuk Permaisuri Liao!” “Keturunan naga Kekaisaran akan segera bertambah!” “Ini benar-benar beWaktu bergulir. Guli Haoran berjalan sedikit ke depan, menuntun kuda selangkah demi selangkah melintasi padang rumput yang luas dengan langkah tenang; nyaris lambat.Permaisuri Liao duduk anggun di atas pelana sambil terus tersenyum lembut, juga sesekali bertanya walau hanya dibalas iya atau gumaman saja.Tak jauh dari posisi mereka, Song Yi Chen, Song Ji Wei, Lin Wei Cheng, dan He Lanyin berdiri dalam satu barisan.Keempatnya memasang pandangan lurus ke depan, dan tak satu pun mengucapkan sepatah kata.Satu-satunya pusat perhatian mereka hanyalah Guli Haoran, yang kini berjalan perlahan, menuntun kuda yang ditunggangi ibu tirinya sendiri.Angin musim semi berembus pelan. Rerumputan bergoyang lembut. Ekspresi empat orang itu sama sekali tidak serupa.He Lanyin agak mengerucutkan bibir, tatapannya mengikuti langkah Guli Haoran tanpa berkedip.Entah mengapa, melihat bocah itu berjalan sambil memegang tali kekang untuk orang lain membuat dadanya terasa sesak.Wajah cantiknya tampak jela
Keheningan menyelimuti bagian depan Istana Dingin. Di depan gerbang kayu yang tampak kokoh; sulit ditembus, Jenderal Besar He berdiri dengan punggung tegak bagai tombak yang menghujam bumi. Jubah hitamnya berkibar perlahan, sementara tatapannya yang tenang tertuju lurus pada gerbang yang tertutup rapat, seolah-olah dia sedang memandang masa depan yang tak mampu diraihnya. Saat bersamaan, suara Guli Haoran kembali terngiang-ngiang di benaknya. "Kalau Guru ingin menyembuhkan He Lanyin, Memohonlah pada Ibuku." Wajah Guli Haoran muncul begitu jelas dalam ingatannya. Sejak hari itu, ucapan tersebut terus menghantuinya. Dia—sebelumnya—telah mencari tabib terbaik, mendatangkan orang-orang pandai dari berbagai penjuru negeri, tetapi keadaan He Lanyin tak kunjung membaik. Pria itu awalnya tidak terlalu mengindahkan ucapan Guli Haoran, tapi ketika kalimat itu terus terngiang-ngiang .... dia jadi penasaran. Sekarang, tangannya perlahan terangkat hendak mengetuk gerbang. Namun,
Di Kediaman Permaisuri Liao. Aroma jahe hangat bercampur wangi bunga plum memenuhi aula utama. Permaisuri Liao duduk bersandar di kursi panjang berlapis sutra merah, wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Baru saja Xu Po menyuguhkan semangkuk bubur hangat, wanita itu sudah buru-buru menutup mulut menggunakan sapu tangan. "Huek." Dia memalingkan wajah, seolah tak sanggup mencium aroma makanan itu. Pelayan-pelayan langsung panik. "Permaisuri!" "Air hangat! Cepat!" Permaisuri Liao mengangkat tangan lemah, memberi isyarat agar mereka tidak ribut. "Aku hanya sedikit mual,” katanya pelan tapi serak. Di dalam hati, dia hanya bisa mengeluh, 'Jika terus seperti ini, bahkan aku sendiri mulai percaya sedang mengandung.' Tak lama kemudian terdengar suara pengumuman dari luar. "Nyonya Besar Liao beserta Putri Kedua Liao datang berkunjung!" Permaisuri Liao menarik napas dalam. Bibi tertua bersama putri kesayangan datang lagi. Permaisuri Liao memaksakan diri duduk
Ashile pun tiba di depan gerbang Istana Dingin. Dia berdiri di sana dengan tatapan lurus ke depan, tapi firasatnya mengatakan ada banyak mata yang mengawasinya. Tetap melangkah maju adalah kesalahan terbesar! Ashile alhasil memilih melanjutkan langkah, seakan-akan bukan Istana Dingin tujuannya. Sementara di balik gerbang sendiri, Guli Haoran baru saja mengintip melalui lubang kecil yang dibuatnya sendiri. Dia melangkah mundur diikuti helaan napas berat, serta ekspresi yang rumit. Wan Ning bertanya, “Bagaimana?” “Tubuhnya besar sekali,” jawab Guli Haoran, “lebih besar daripada Guru He.” Wan Ning berdecak-decak. “Ck, ck, Guru Besar He saja sebesar itu apalagi yang lebih besar darinya.” Guli Haoran manggut-manggut. “Ibu benar-benar mengundang raksasa ke sini!” Lin Ya Fei yang memperhatikan mereka dari kejauhan, terlihat begitu santai sambil makan tomat hasil panen. Di sisi lain. Kaisar Han mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung telunjuknya selama beberapa saat.
Hari ini di Suku Tiele.Mantan pemimpin suku Tiele—Huza Ilger—menunjukkan tanda-tanda membaik setelah hampir lima hari meminum ramuan, yang diresepkan Lin Ya Fei.Huza Ergen yang menyadari perubahan signifikan pamannya itu pun mulai panik.Dia sejak pagi berjalan mondar-mandir di tendanya dengan pikiran kacau tak menentu.Dia khawatir pamannya benar-benar pulih lalu mengambil alih jabatannya, dan di sisi lain dia khawatir Ashile tidak berhasil menangkap Lin Ya Fei alhasil pusaka Suku Tiele pun tidak akan kembali.Jika hal ini diketahui satu saja penduduk Suku Tiele, maka akan ada kemungkinan besarnya Huza Ergen kehilangan seluruh dukungan. Dan Suku Tiele tidak butuh pemimpin yang tidak didukung rakyat.“Pemimpin!”Pikiran Huza Ergen membuyar.Seorang penjaga memanggilnya di balik pintu tenda.Lanjut penjaga. “Mantan pemimpin memanggil anda.”Huza Ergen menarik napas sedalam yang dimungkinkan, lantas menyibak pintu tendanya; keluar.Dia melangkah lebar—tidak terkesan terburu-buru—menuj
Sore itu, halaman belakang Jenderal Besar He dipenuhi suara benturan logam. Dua bilah pedang pendek saling beradu begitu cepat hingga meninggalkan bayangan samar di udara. Guli Haoran melesat rendah, tubuh kecilnya berputar lincah seperti musang gunung. Pedang pendek di kedua tangannya bergerak silih berganti, menusuk dari sudut yang mustahil diperkirakan. Di hadapannya, Jenderal Besar He sama sekali tidak panik. Pria itu mengangkat kedua pedang pendeknya, mematahkan setiap serangan dengan gerakan yang ringkas tapi sempurna. Dentang demi dentang menggema. Percikan bunga api beterbangan setiap kali baja bertemu baja. Alan Ruo yang memperhatikan di kejauhan tanpa sadar menahan napas, sulit mempercayai seorang bocah delapan tahun mampu memaksa Jenderal Besar He bertarung serius apalagi di antara mereka tidak ada yang benar-benar unggul. Setiap langkah Guli Haoran dibaca oleh Jenderal Besar He. Namun, setiap kali Jenderal Besar He berusaha menekan, bocah itu selalu menemukan celah







