共有

Bab 57. Yang Sebenarnya

作者: Zhang A Yu
last update 公開日: 2026-05-16 10:00:42

“Selamat, Yang Mulia! Selamat untuk Permaisuri Liao!”

Suara lantang itu memecah keheningan lebih dulu.

Seorang adipati tua sudah berdiri sambil mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi, wajahnya penuh senyum lebar seolah baru saja mendengar kabar paling membahagiakan tahun ini. Dan seperti air bah yang menemukan celah—

“Selamat untuk Permaisuri Liao!”

“Keturunan naga Kekaisaran akan segera bertambah!”

“Ini benar-benar be
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
makasih kak, aku tungguin updatenya dari tadi hehe
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 145. Yang Sebenarnya

    “PAMAN!”Teriakan Huza Ergen menggema di antara pepohonan yang tertutup salju.Pada saat bersamaan, serigala putih yang tadi terluka langsung memanfaatkan kekacauan itu.Tubuh besarnya bergerak secepat kilat! Dengan luka menganga di bagian perut dan darah yang terus menetes di atas hamparan putih, makhluk itu berbalik, menerjang ke arah pepohonan, lalu menghilang ke dalam hutan.Tidak ada satu pun yang menghiraukan!Semua perhatian para pemburu kini tertuju pada satu sosok yang tergeletak di atas salju.Huza Ilger.“Paman!” Huza Ergen berlari.Busur yang sejak tadi digenggamnya langsung dilempar begitu saja ke samping.Dengan wajah panik yang tampak alami, dia segera berlutut di samping tubuh Huza Ilger yang sudah bersimbah darah.“Paman!” Huza Ergen coba menggoyang lengan pamannya itu. Tidak ada jawaban.Huza Ergen dengan cepat mengangkat tubuh pamannya sedikit, sementara tangan lainnya langsung bergerak ke arah leher Huza Ilger; mencari denyut nadi.Selang beberapa detik.Wajah Hu

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 144. Dua Minggu Sebelumnya

    Dua minggu sebelumnya. Asisten tabib Asha—Suyin—baru saja mengoleskan obat ke bekas cakaran serigala putih di punggung Huza Ilger. Meski luka cakaran itu tidak terlalu dalam, hampir dua minggu ini belum juga mengering secara sempurna. Berhubung letaknya sulit dijangkau tangan sendiri, Huza Ilger meminta bantuan tabib Asha yang dipercayainya untuk mengobati. Malam itu, kebetulan sekali tabib Asha sedang membantu proses persalinan salah seorang anggota suku. Maka dikirimlah asistennya, Suyin. Selesai menutup kembali bekas luka sang mantan pemimpin suku Tiele, Suyin membungkukan punggung dengan tangan menyilang di depan dada; tanda berpamitan. Huza Ilger mulanya melambaikan tangan tanda mempersilahkan, tetapi detik berikutnya .... “Bisa berkuda?” Tiba-tiba saja pria itu bertanya. Suyin mengangguk. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Huza Ilger mendadak bangkit. Mengeluarkan satu kantong koin dari laci. Lalu, menyerahkannya pada Suyin. Kening Suyin mengernyit tak mengerti. Huza

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 143. Namanya Justru Tak Disebut

    Waktu bergulir. Pintu Paviliun Naga Langit perlahan tertutup dari luar. Jenderal Besar He melepaskan tangannya dari daun pintu, lalu berbalik. Baru saja tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah lorong— Sosok Guli Haoran sudah berdiri tepat di hadapannya dengan pedang kayu terselip di lipatan tangan di depan perut. Katanya, “Ayo berlatih lagi, Guru!” Jenderal Besar He sempat terdiam. Tatapan tajamnya turun perlahan ke arah Guli Haoran. Entah sejak kapan anak itu sudah menunggunya di depan Paviliun Naga Langit. Dia tidak menyadari. Menandakan betapa halusnya pergerakan Guli Haoran. Jenderal Besar He menghela napas panjang tanpa mengatakan apa pun. Berikutnya. Di halaman samping yang cukup luas, Guli Haoran berdiri dengan kedua kaki terbuka. Pedang kayu digenggam erat oleh tangan kecilnya.Wajahnya serius, sorot matanya lurus ke depan. Beberapa langkah darinya, Jenderal Besar He berdiri tegak sambil memperhatikan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 142. Latar Belakang Tersembunyi

    Dengan langkah lebar seolah diburu waktu, serta sorot mata setajam elang yang melalang buana di angkasa, Jenderal Besar He berjalan cepat melewati lorong di antara tembok-tembok istana yang menjulang tinggi. Pakaian dinasnya berkibar ringan setiap kali langkahnya bergerak. Wajah nya tampak dingin tapi mengandung aura membunuh. Gulungan bambu di tangannya digenggam erat. Undakan demi undakan dinaikinya tanpa sekalipun memperlambat langkah. Koridor demi koridor dilewatinya. Para pelayan dan penjaga yang berpapasan dengannya segera menepi ke sisi jalan, kemudian membungkuk memberi hormat. Jenderal Besar He seolah tidak memiliki waktu untuk memperhatikan semua itu. Langkahnya terus bergerak cepat sekaligus tegas hingga akhirnya bangunan megah Paviliun Naga Langit muncul di hadapannya. Di depan paviliun, Kasim Zhou yang sedang berdiri berjaga sejak tadi langsung menyadari kedatangan pria itu dari kejauhan. Matanya menyipit secara naluriah. Setelah berhasil mengenali soso

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 141. Bukan Sekedar Mengukur

    Jenderal Besar He tiba-tiba menyatukan kedua tangan di depan dada. “Permaisuri Lin,” suara berat nya menyusul begitu jelas. Alan Ruo yang berdiri persis di sebelah Lin Ya Fei sontak membelalakkan mata, dengan tangan spontan terangkat menutup mulut sekaligus pandangan langsung beralih kepada wanita di sebelahnya itu. Sesaat dia memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Detik berikutnya, dia segera mengikuti gerakan sang Jenderal Besar. Kedua tangannya disatukan di depan dada, tubuhnya setengah membungkuk. “Hamba lancang! Hamba tidak tahu Anda—” Kalimat itu tercekat. Saat bersamaan Lin Ya Fei mengangkat satu tangan. Sebuah kipas yang sejak tadi tersembunyi di balik lengan bajunya tiba-tiba terbuka dengan bunyi ringan. Dia lantas mengipasi wajahnya diikuti helaan napas pendek. “Musim gugur yang panas.” Jenderal Besar He tak berani berkomentar. Alan Ruo lebih-lebih tak berani. Berikutnya. “Mari hitung ukuran bajumu, Jenderal.” Sudut bibir Lin Ya Fei tera

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 140. Menangkap Semua Perbincangan

    Hari berikutnya. Pasar kota dipenuhi kesibukan. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, roda gerobak berderit melewati jalan batu, sementara aroma berbagai makanan bercampur menjadi satu di udara. Di antara deretan bangunan yang berdiri rapat, terdapat sebuah restoran kecil dengan papan kayu sederhana tergantung di depan pintunya. Aroma daging bebek panggang yang baru matang memenuhi seluruh ruangan. Kulit bebek yang kecokelatan tampak mengilap ketika dipotong, mengeluarkan aroma gurih yang bahkan mampu membuat orang yang baru saja makan kembali merasa lapar. Melalui jendela restoran yang terbuka, jalanan kota terlihat jelas. Sekelompok prajurit berjalan—berpatroli—beriringan melewati depan restoran. Pakaian mereka rapi, pedang tergantung di pinggang, dan wajah masing-masing tampak tegas. Sesekali beberapa di antara mereka melirik ke arah toko-toko di sepanjang jalan, memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Di dalam restoran, suasananya tidak kalah ramai. Sebagian be

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 16. Cengeng

    Paviliun Naga Langit.Aroma dupa yang biasanya menenangkan, kini bercampur dengan sesuatu yang sangat tidak pantas berada di dalam ruangan.“Hu hu hu, Yang Mulia,” tangis kasim Zhou serak sekaligus terputus-putus, “Permaisuri Lin .... Permaisuri Lin itu benar-benar keterlaluan!”Kaisar Han Xiao Se

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 6. Ada Penyusup

    Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh suara. Istana dingin tenggelam dalam keheningan. Angin malam hanya sesekali berdesir, menyapu dedaunan kebun kecil yang tumbuh rapi di halaman. Tidak ada penjaga, tidak ada cahaya terang selain remang bulan yang jatuh tipis di tanah. Di at

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 5. Menantang Kaisar

    Huli Haoran menggeser batu ke lubang kecil yang sama, lalu berbalik lari—memunggungi Kaisar—tanpa pernah melihat ataupun menganggap pria itu ada di sana. Tangan Kaisar mengepal, matanya menyipit tidak suka. “Bocah ini!” Kasim Zhou membuka mulut nyaris bersuara, “...” Tanpa sempat mereka melaku

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 4. Menghilang Dengan Cepat

    Waktu bergulir. Pertandingan berkuda sekaligus memanah akhirnya selesai. Para peserta kembali ke titik awal dengan napas yang belum sepenuhnya stabil, kuda-kuda mereka masih mengibaskan ekor, sebagian menghentakkan kaki ke tanah seolah enggan berhenti. Sementara itu, para petugas bergerak cepat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status