Share

Bab 145. Yang Sebenarnya

Author: Zhang A Yu
last update publish date: 2026-08-17 21:50:07

“PAMAN!”

Teriakan Huza Ergen menggema di antara pepohonan yang tertutup salju.

Pada saat bersamaan, serigala putih yang tadi terluka langsung memanfaatkan kekacauan itu.

Tubuh besarnya bergerak secepat kilat!

Dengan luka menganga di bagian perut dan darah yang terus menetes di atas hamparan putih, makhluk itu berbalik, menerjang ke arah pepohonan, lalu menghilang ke dalam hutan.

Tidak ada satu pun yang menghiraukan!

Semua perhatian para pemburu kini tertuju pada satu sosok yang tergeletak di a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Henny Nilawati Henny
kog lamaaa update nya semakin pinisirin...semoga cepat2 update kak....wes gak sabar sama kaisar han...
goodnovel comment avatar
Tri Ayu Lestari
wahh belum update lg, ditungguin nih kak ...
goodnovel comment avatar
Siska Agustin
oh..ternyata kaisar Han sedang mode cemburu dan waspada..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 145. Yang Sebenarnya

    “PAMAN!”Teriakan Huza Ergen menggema di antara pepohonan yang tertutup salju.Pada saat bersamaan, serigala putih yang tadi terluka langsung memanfaatkan kekacauan itu.Tubuh besarnya bergerak secepat kilat! Dengan luka menganga di bagian perut dan darah yang terus menetes di atas hamparan putih, makhluk itu berbalik, menerjang ke arah pepohonan, lalu menghilang ke dalam hutan.Tidak ada satu pun yang menghiraukan!Semua perhatian para pemburu kini tertuju pada satu sosok yang tergeletak di atas salju.Huza Ilger.“Paman!” Huza Ergen berlari.Busur yang sejak tadi digenggamnya langsung dilempar begitu saja ke samping.Dengan wajah panik yang tampak alami, dia segera berlutut di samping tubuh Huza Ilger yang sudah bersimbah darah.“Paman!” Huza Ergen coba menggoyang lengan pamannya itu. Tidak ada jawaban.Huza Ergen dengan cepat mengangkat tubuh pamannya sedikit, sementara tangan lainnya langsung bergerak ke arah leher Huza Ilger; mencari denyut nadi.Selang beberapa detik.Wajah Hu

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 144. Dua Minggu Sebelumnya

    Dua minggu sebelumnya. Asisten tabib Asha—Suyin—baru saja mengoleskan obat ke bekas cakaran serigala putih di punggung Huza Ilger. Meski luka cakaran itu tidak terlalu dalam, hampir dua minggu ini belum juga mengering secara sempurna. Berhubung letaknya sulit dijangkau tangan sendiri, Huza Ilger meminta bantuan tabib Asha yang dipercayainya untuk mengobati. Malam itu, kebetulan sekali tabib Asha sedang membantu proses persalinan salah seorang anggota suku. Maka dikirimlah asistennya, Suyin. Selesai menutup kembali bekas luka sang mantan pemimpin suku Tiele, Suyin membungkukan punggung dengan tangan menyilang di depan dada; tanda berpamitan. Huza Ilger mulanya melambaikan tangan tanda mempersilahkan, tetapi detik berikutnya .... “Bisa berkuda?” Tiba-tiba saja pria itu bertanya. Suyin mengangguk. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Huza Ilger mendadak bangkit. Mengeluarkan satu kantong koin dari laci. Lalu, menyerahkannya pada Suyin. Kening Suyin mengernyit tak mengerti. Huza

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 143. Namanya Justru Tak Disebut

    Waktu bergulir. Pintu Paviliun Naga Langit perlahan tertutup dari luar. Jenderal Besar He melepaskan tangannya dari daun pintu, lalu berbalik. Baru saja tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah lorong— Sosok Guli Haoran sudah berdiri tepat di hadapannya dengan pedang kayu terselip di lipatan tangan di depan perut. Katanya, “Ayo berlatih lagi, Guru!” Jenderal Besar He sempat terdiam. Tatapan tajamnya turun perlahan ke arah Guli Haoran. Entah sejak kapan anak itu sudah menunggunya di depan Paviliun Naga Langit. Dia tidak menyadari. Menandakan betapa halusnya pergerakan Guli Haoran. Jenderal Besar He menghela napas panjang tanpa mengatakan apa pun. Berikutnya. Di halaman samping yang cukup luas, Guli Haoran berdiri dengan kedua kaki terbuka. Pedang kayu digenggam erat oleh tangan kecilnya.Wajahnya serius, sorot matanya lurus ke depan. Beberapa langkah darinya, Jenderal Besar He berdiri tegak sambil memperhatikan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 142. Latar Belakang Tersembunyi

    Dengan langkah lebar seolah diburu waktu, serta sorot mata setajam elang yang melalang buana di angkasa, Jenderal Besar He berjalan cepat melewati lorong di antara tembok-tembok istana yang menjulang tinggi. Pakaian dinasnya berkibar ringan setiap kali langkahnya bergerak. Wajah nya tampak dingin tapi mengandung aura membunuh. Gulungan bambu di tangannya digenggam erat. Undakan demi undakan dinaikinya tanpa sekalipun memperlambat langkah. Koridor demi koridor dilewatinya. Para pelayan dan penjaga yang berpapasan dengannya segera menepi ke sisi jalan, kemudian membungkuk memberi hormat. Jenderal Besar He seolah tidak memiliki waktu untuk memperhatikan semua itu. Langkahnya terus bergerak cepat sekaligus tegas hingga akhirnya bangunan megah Paviliun Naga Langit muncul di hadapannya. Di depan paviliun, Kasim Zhou yang sedang berdiri berjaga sejak tadi langsung menyadari kedatangan pria itu dari kejauhan. Matanya menyipit secara naluriah. Setelah berhasil mengenali soso

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 141. Bukan Sekedar Mengukur

    Jenderal Besar He tiba-tiba menyatukan kedua tangan di depan dada. “Permaisuri Lin,” suara berat nya menyusul begitu jelas. Alan Ruo yang berdiri persis di sebelah Lin Ya Fei sontak membelalakkan mata, dengan tangan spontan terangkat menutup mulut sekaligus pandangan langsung beralih kepada wanita di sebelahnya itu. Sesaat dia memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Detik berikutnya, dia segera mengikuti gerakan sang Jenderal Besar. Kedua tangannya disatukan di depan dada, tubuhnya setengah membungkuk. “Hamba lancang! Hamba tidak tahu Anda—” Kalimat itu tercekat. Saat bersamaan Lin Ya Fei mengangkat satu tangan. Sebuah kipas yang sejak tadi tersembunyi di balik lengan bajunya tiba-tiba terbuka dengan bunyi ringan. Dia lantas mengipasi wajahnya diikuti helaan napas pendek. “Musim gugur yang panas.” Jenderal Besar He tak berani berkomentar. Alan Ruo lebih-lebih tak berani. Berikutnya. “Mari hitung ukuran bajumu, Jenderal.” Sudut bibir Lin Ya Fei tera

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 140. Menangkap Semua Perbincangan

    Hari berikutnya. Pasar kota dipenuhi kesibukan. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, roda gerobak berderit melewati jalan batu, sementara aroma berbagai makanan bercampur menjadi satu di udara. Di antara deretan bangunan yang berdiri rapat, terdapat sebuah restoran kecil dengan papan kayu sederhana tergantung di depan pintunya. Aroma daging bebek panggang yang baru matang memenuhi seluruh ruangan. Kulit bebek yang kecokelatan tampak mengilap ketika dipotong, mengeluarkan aroma gurih yang bahkan mampu membuat orang yang baru saja makan kembali merasa lapar. Melalui jendela restoran yang terbuka, jalanan kota terlihat jelas. Sekelompok prajurit berjalan—berpatroli—beriringan melewati depan restoran. Pakaian mereka rapi, pedang tergantung di pinggang, dan wajah masing-masing tampak tegas. Sesekali beberapa di antara mereka melirik ke arah toko-toko di sepanjang jalan, memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Di dalam restoran, suasananya tidak kalah ramai. Sebagian be

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 39. Tidak Selalu Beruntung

    “HARUSNYA WANITA ITU SUDAH MATI DELAPAN TAHUN YANG LALU!” Ibu Suri Guo mengamuk. Plakat harimau emas, yang sekarang tidak ada fungsinya lagi—selain dijual untuk menghasilkan uang—wanita tua itu lempar ke sembarang arah. Permaisuri Liao mengusap-usap pundaknya penuh kelembutan. “Tenangkan diri an

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 27. Lukisan Guli Haoran Seharga 50 Tael Emas

    Matahari tenggelam perlahan, Permaisuri Liao tiba di Paviliun Naga Langit. Dia datang-datang langsung saja membantu Kaisar Han Xiao Se menanggalkan jubah, yang memang akan dilepaskan Kaisar sendiri. Permaisuri Liao terbiasa melakukan hal seperti ini, alhasil hanya dilirik sekilas oleh Kaisar. Ju

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 26. Permaisuri Liao Terus Menyembunyikan Kebenarannya

    Matahari hampir naik ke permukaan, Kaisar Han Xiao Se baru tiba di aula pertemuan. Pejabat yang berbaris rapi di sana tidak pernah pergi sejak awal! Bukan hanya karena mereka setia menunggu kedatangan Kaisar Han Xiao Se meski kaki hampir mati rasa sekalipun, tapi juga karena melangkah keluar sebe

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 22. Dupa Perangsang Tidak Tepat Sasaran

    Di kamar masa kecil Kaisar Han Xiao Se. Pintu kayu dibuka perlahan.Bibi Su berdiri di ambang, menunduk hormat. “Silakan, Yang Mulia.”Kaisar melangkah masuk tanpa banyak bicara.Bibi Su kemudian menarik pintu. Dan sebelum benar-benar menutup, dia berkata lembut, “Selamat beristirahat, Yang Mulia.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status