Share

03: Penjelasan

Penulis: Domba Kecil
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-06 15:52:44

**

"Ini mungkin terdengar seperti omong kosong, tapi ayah percayalah padaku." Ucap Lily dengan raut wajah serius. Menatap ayahnya yang mengangguk tak kalah seriusnya. "Kau tahu, Ayah... sejak di medan perang dalam waktu satu bulan ke belakang, aku selalu bermimpi. Mimpi ini tidak begitu jelas, karena aku selalu tidak ingat apa yang aku mimpikan, tapi rasa lelah, ketakutan dan gelisah selalu ada ketika aku bangun dari tidurku. Dan mimpinya semakin jelas sejak aku pulang beberapa waktu lalu. Aku ingat setiap detail dari mimpi ini, yang sangat menyeramkan." Jelas Lily dengan nada yang sedikit bergetar.

Ayahnya hanya menatap Lily dengan kasihan, ingin menenangkan tapi biarlah putrinya ini menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.

"Dalam mimpi, ada sebuah keluarga beranggotakan 5 orang, sepasang orangtua, satu laki-laki dewasa, adik perempuan dan adik laki-laki. Terjebak dalam rumah, kelaparan. Terjebak yang aku maksud karena situasi dan kondisi diluar rumah sangat tidak jelas. Teriakan, raungan, semuanya benar-benar mencekam dan menakutkan. Ada monster disana, ayah. Dan yang paling menakutkan adalah, aku jadi sosok yang pasif, tidak bisa bergerak, tidak bisa membantu, hanya bisa menatap mereka semua. Sedangkan mereka menganggap seolah mereka menatap orang yang sedang tidak sadarkan diri setiap melihatku." Jelas Lily kemudian menarik nafas, hal ini memang benar-benar menyiksanya.

Andai Lily tidak dalam keadaan tidak bisa apa-apa, meski ia takut dan gemetar, dengan pengalamannya di medan perang, ia pasti akan tetap bertarung untuk membela diri.

"Pasif?" Tanya sang ayah bingung.

"Ya, pasif, seolah-olah jiwaku ada pada anak dan adik perempuan mereka yang tidak sadarkan diri. Hanya saja mereka tidak sadar ada aku." Balas Lily.

Ayahnya kebingungan, tapi tetap lanjut mendengarkan cerita putrinya. "Lalu monster, monster apa itu?" Tanyanya.

"Itu manusia, ayah! Aku bersumpah bentuknya seperti manusia, hanya saja semua tubuhnya membusuk. Apalagi wajahnya, sangat menyeramkan. Terakhir kali aku terbangun dan menangis, itu karena monster itu berada tepat didepanku, hampir mencabikku. Untungnya aku terbangun dari tidurku, ayah." Ucap Lily dengan raut menahan tangis. Ia benar-benar ketakutan.

Ayahnya merasa kasihan, mengelus kepala lutrinya dengan lembut.

"Tapi ketika aku terbangun, ternyata aku masih berada dalam mimpi. Saat aku sedang menenangkan diri, datanglah lelaki tua berjanggut putih, mendekatiku, memegang tanganku sambil berkata 'takdir tidak bisa dirubah, kau harus menghadapinya'. Ayah, katakan padaku apa maksudnya?" Tanya Lily, dan air matanya berhasil menetes kali ini. Ia begitu ketakutan saat itu, karena lagi-lagi ia tidak bisa melawan sama sekali. Membuat sang ayah semakin kasihan padanya.

Lily hanya merasa tidak terima, sedangkan dalam hati dan pikirannya sendiri ia sudah punya beberapa tebakan yang tidak masuk akal tapi menjadi sangat masuk akal saat ini. Jadi setelah menenangkan diri setelah beberapa saat, ia kembali berkata. "Ayah, sepertinya waktuku sudah tidak banyak. Seperti kata lelaki tua itu, aku memang harus menerimanya. Jadi, daripada aku diam dan meratapi nasib dengan tidak terima, lebih baik aku mulai mempersiapkan diri." Ucap Lily.

"Apa maksudmu, tidak, tidak, Ayah tidak akan sanggup menerima kenyataan." Balas sang ayah dengan raut cemas dan sedih, ia sedikit mengerti apa yang dikatakan Lily. Intinya adalah meninggalkannya sendirian disini, tidak akan ada Lily lagi disini. "Ibumu sudah diambil, kenapa kau juga diambil sayang? Bagaimana dengan ayah?" Lanjutnya debgan nada gemetar dan nata yang memeeah menahan tangis.

"Ayah..." Lirih Lily dengan mata yang sudah basah. Siapa yang dengan sukarela menerima ketika meninggalkan dan ditinggalkan? Tapi hanya rasa sedih dan tangisan yang bisa keduanya keluarkan saat ini. Keduanya berpelukan pada akhirnya, cukup lama sampai Chloe mengetuk pintu, membawa tabib bersamanya, barulah keduanya saling melepaskan pelukan.

**

Lily merebahkan dirinya di atas kasur, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tapi otaknya tidak benar-benar kosong. Banyak hal yang ia pikirkan, banyak sekali sampai kepalanya berdenyut sakit. Tapi ia terlalu malas untuk sekedar bergerak, jadi hanya diam mengabaikan sekelilingnya.

Setelah beberapa saat, kepalanya semakin sakit, jadi ia mulai merintih kecil, membuat Chloe yang diam menemaninya dikamar langsung menghampiri, bertanya keadannya.

"Minumlah teh hangat, nona." Ucap Chloe seraya menyodorkannya pada Lily.

Lily meminumnya dan merasa sedikit lebih baik. Tapi setelahnya, ia menyuruh Chloe keluar, jadi Chloe mau tidak mau hanya bisa meninggalkan kamar Lily.

Bukan karna ia tidak suka Chloe, tapi ia tiba-tiba teringat akan tempat itu. Jadi, begitu Chloe menutup pintu setelah keluar, Lily menatap daun biru yang ada dijarinya, mengusapnya pelan dan seketika ia berada dalam ruang itu, dimana ada padang rumput, gunung, sungai dan tanah yang sebelumnya ia lihat.

Lily tidak banyak terpesona seperti terakhir kali, tapi ia lebih memilih mengatakan kata kembali, yang seketika membawanya kembali ke kamar. Ia beberapa kali mengulanginya sampai ia yakin, dan pikirannya mulai berubah. Menatap bantal disampingnya, Lily punya tebakan lagi. Memegang bantal tersebut, mencoba memasukkannya ke dalam ruang. Ketika bantal benar-benar hilang, Lily ikut masuk dan terkejut melihat bantalnya ada disana. Lily pun menjadi bersemangat. Mencobanya beberapa kali dan mengeceknya berulang kali. Setelah benar-benar yakin, ia semakin bersemangat sampai memekik kecil.

"Kalau begitu, tidak akan ada banyak kekhawatiran tentang air minum dan tempat berlindung untuk diriku sendiri." Ucap Lily berbisik dengan nada semangat. Ia menganggukkan kepalanya menjadi yakin. "Aku harus menemui ayah, bantu temukan beberapa makanan, keperluan dan senjata untuk melindungi diri. Masukkan ke dalam ruang itu, dan aku tidak akan lagi gemetar ketakutan. Lagipula jika aku benar-benar menghilang dari dunia ini, mungkin di dunia mimpi itu aku akan bisa bergerak dengan bebas."Lanjutnya menyimpulkan.

Kemudian ia berlari keluar kamar dengan semangat. Bahkan Chloe yang menunggunya dihalaman dilewatinya begitu saja, membuat Chloe mengejar nonanya dengan refleks. Apalagi sebelumnya keadaan sang nona sedang tidak baik-baik saja.

"Ayah! Ayah! Dimana ayahku?!" Pekik Lily berteriak memanggil, karena tidak menemukannya akhirnya ia bertanya pada pengawal dihalaman tersebut. Setelah mendapat jawaban, Lily dengan cepat menuju ruang baca ayahnya. Bahkan tanpa mengetuk saking ingin cepatnya ia bertemu.

"Ugh, Ayah, maaf aku tidak tahu kau punya tamu disini." Ucap Lily dengan raut malu, ia langsung meminta maaf pada tamu sang ayah dan langsung keluar dari ruang baca. Menunggu di halaman dengan tidak sabar, tapi harus tetap sabar.

Setelah waktu berlalu, sang ayah dan tamu tersebut akhirnya keluar. Membuat Lily berdiri dengan cepat, menatap ayahnya dengan mata berbinar.

"Kau baik-baik saja? Apa hal baik yang mau kau sampaikan, pada ayah saat ini?" Tanya sang ayah dengan nada menggoda. Sekaligus lega, karena Lily-nya akhirnya sedikit lebih baik, suasana suramnya sudah berganti dengan suasana cerah.

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   33 : Mencoba Menggali Potensi Baru

    ** "Katakan padaku, apa yang membuat kalian mengetuk pintu?" Tanya Lily pada keduanya, tapi sama-sama fokus pada makanan. Menggigit dan menyuapkan makanan, membuat Lily menghela nafas karena diabaikan. "OH! Kalian melihatku makan ayam makanya mengetuk pintu, kan?!" Tanyanya curiga, keduanya hanya mengincar makanannya. Ansley menalan potongan ayam dimulutnya. Ia menatap Lily dengan panik, menggeleng dengan cepat. Adapun Andien yang mulutnya masih penuh langsung membantah. "Tidak! Tidak! Kami benar-benar ada urusan, tentang inti kristal!" Ucapnya, membuat Lily mengernyit jijik. "Habiskanlah, kau menjijikkan ew!" Ucap Lily seraya mengusap wajahnya dengan tisue yang ada ditengah meja. "Ewww! Kondisikan sikapmu!" Ucap Ansley ikut jijik tapi ada tawa di akhir. "Kau, begitu lapar ya? Padahal biasanya kau yang paling anggun, hahaha!" Ejek Ansley, Lily juga ikut tertawa mendengarnya. Karena selama perjalanan ini, Andien memang yang paling banyak diam. Tidak disangka ia benar-benar be

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   32 : Makan Ayam Panggang

    ** Lily terbangun dari tidurnya, langsung keluar dari ruang ketika ia mendengar ketukan dari pintu kamar di RV. Suara Shion dan Allen yang bertanya tentang keadaannya. Tapi karena awalnya Lily tidak kunjung membuka pintu dan pintu terkunci, alhasil kedua orangtuanya yang sama-sama baru bangun juga ikut mengetuk. Kehabisan energi membuat tidur Lily menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Jadi awal-awal ia tidak mendengar. "Datang! Datang!" Pekik Lily sedikit panik, dan langsung membuka pintu menyambut semua orang dengan senyum lebar. "Ada apa? Maaf aku tidur terlalu nyenyak." Ucap Lily seraya menggaruk kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang, ada yang tidak nyaman?" Tanya sang ibu yang paling khawatir, sang ayah juga menatapnya lekat-lekat. Shion dan Allen menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan ibunya. "Aku baik-baik saja, bu, kalian apakabar? Ada yang terluka? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Lily menatap satu persatu orang didepannya. "Kami baik-baik saja, hanya sedikit lel

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   31 : Menggali Potensi Bakat

    ** Sepeninggal Ryu, Lily membuka kedua matanya. Menatap langit-langit RV kamarnya dan menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah menebaknya selama beberapa hari kedua kelompok bersama. Bahwa Ryu mungkin laki-laki yang tidur dengan pemilik tubuh sebelumnya. Perkataan Ryu barusan, Lily dengan jelas mendengarnya. Tapi ia tidal berniat mengungkap, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan mengaku lebih dulu, biar dia yang berbicara jika memang ingin mengakuinya. Selama ia tidak berbuat jahat dan macam-macam, maka Lily tidak akan mencari perhitungan dengannya. Lagipula malam itu, berdasarkan ingatan pemilik tubuh asli, kejadian yang terjadi diantara Lily dan Ryu adalah sebuah kecelakaan. Sama sekali tidak sengaja, bahkan menurutnya ini adalah kesalahan pemilik tubuh sendiri karena salah memasuki kamar. Ryu yang terpengaruh obat dan Lily yang telah mabuk sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Shion dan keluarga juga tidak menyalahkan, malah menyalahkan masing-masi

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   30 : Mengetahui Kebenaran

    ** Ryu tahu akan kedatangan beberapa orang dibelakang, dia tidak menghentikannya sama sekali. Tunggu saja dan lihat apa yang akan mereka lakukan, jika berniat mencelakai kelompok maka ia tidak akan memberi ampunan. Jika berniat ikut bertarung, itu bagus, maka ia tidak perlu repot-repot mencari perhitungan meski sangat tidak suka akan kesalahan yang mereka buat. Mengabaikan beberapa lrang dibelakang, Ryu lantas menatap Lily yang asyik menebas dengan raut semangat. Cipratan darah mengenai tubuh dan wajahnya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Ia terlihat lebih cantik hari ini, benar-benar membuat Ryu terpesona. Ryu hampir tidak bisa menahan diri apalagi ketika keduanya bersampingan. Tapi cara ia menebas kepala zombie tanpa sedikitpun rasa takut ini benar-benar membuatnya lebih menarik. Bisa disebut kecantikan kejam, pikir Ryu. Meski memikirkan beberapa hal berantakan, Ryu tetap tidak mengurangi serangannya pada zombie-zombie yang masih terus maju. Ia bahkan memerinta

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   29 : Bertarung

    **Raje dan Hans langsung keluar dari mobil begitu berhenti. Keduanya bersiap menghadapi gelombang zombie didepannya. Saling menatap, keduanya juga mengangguk dan mulai bertarung. "Buat dinding, Hans!" Ucap Raje, dengan serius. Kemudian Hans maju, ia langsung memukul tanah dan muncullah dinding tanah besar dan tinggi didepan keduanya. Raje lantas mengamgguk, kemudian giliran dirinya yang maju. Naik ke atas dinding tanah tebal yang telah dibuat Hans. Mengulurkan tangan ke arah gerombolan zombie, dan wushh! Seketika angin besar menghantam. Gerombolan zombie jelas tertahan pada saat ini. Hans memanfaatkan situasi, mulai membuat gelombang tanah, begitupula Raje yang mulai membuat banyak pisau kecil yang ia padatkan dengan kekuatan anginnya kemudian melemparkannya. Banyak zombie jatuh, setiap pisau yang dipadatkan berhasil mengenai setiap kepala zombie, menusuknya hingga mati. Lily menatap keduanya dengan takjub. Ada dua lagi di depannya yang mengeluarkan kemampuan spiritual. Tanah dan

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   28 : Makan Bersama

    ** Hingga konvoi berhenti untuk makan di siang hari, semua orang langsung menghela nafas lega karena bisa beristirahat lebih awal kali ini. Kejadian sebelumnya tidak benar-benar membuat setiap orang istirahat dengan baik, alhasil kini dibawah mata setiap orang dari kelompok Ryu terdapat lingkaran hitam yang sangat jelas. Berbeda dengan keluarga Lily, semuanya tampak segar dan tidak ada jejak kelelahan sa sekali. Membuat setiap orang dikelompok Ryu menatap kelimanya penasaran. Pasalnya, bahkan Shion dan sang ayah yang bertugas mengemudi pun tidak tampak lelah sama sekali. Kecuali tiga orang lain, tidak membuat orang-orang penasaran karena menebak jika ketiganya tidur dengan nyaman. Sampai-sampai Hans bertanya pada Lily. "Punya RV sangat nyaman ya?" Ucapnya dengan nada iri. "Bagus, tahan guncangan dan bisa tidur telentang seperti dirumah." Balas Lily menjawab dengan santai. Tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi ia menjawab sesuai fakta yang ia rasakan. Ben dan Widy mena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status