LOGINSelama beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Keraguan masih muncul dalam benak mereka. Namun saat pria di dalam sel itu perlahan mengangkat kepalanya, seluruh keraguan Belliza seketika menghilang.Tatapan mereka bertemu, Belliza langsung membeku.Mata merah.Warna yang selama berabad-abad hanya dimiliki oleh garis keturunan Kaum Ven.Pria itu menatap mereka dengan sisa-sisa kewaspadaan dan kebanggaan seorang bangsawan, meskipun tubuhnya telah diperlakukan sedemikian kejam.Belliza menarik napas pelan, lalu berbisik hampir tak terdengar. "Dia... Pangeran Ven."Myrrathis mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Selama hidupnya, ia telah melihat banyak hal mengerikan di medan perang, tetapi pemandangan di hadapannya tetap membuat amarahnya mendidih. Tubuh kurus yang dipenuhi luka itu adalah seorang pangeran, seorang manusia yang seharusnya mendapatkan perlakuan layak. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti itu?Tanpa membuang
Setelah menyepakati rencana mereka, kelima orang itu segera bergerak. Lenzoris menjadi orang pertama yang masuk melalui jalur istal tadi. Ia kembali memasuki lorong batu yang dingin dan sunyi. Langkahnya terdengar tenang dan terukur, seolah ia hanya sedang menjalankan tugas seperti biasa.Langkahnya terhenti, ia tiba di depan gerbang baja. Dua ksatria yang berjaga di sana segera mengenalinya. Mereka memberikan anggukan singkat saat Lenzoris mendekat. Tidak ada sedikit pun kecurigaan di wajah mereka.Lenzoris membalas anggukan itu dan mulai berjalan melewati mereka menuju lorong di depan gerbang. Tepat pada saat itulah sebuah batu kecil meluncur dari arah belakang.Tok!Batu itu mengenai bagian belakang kepala Lenzoris. Di saat yang sama, Lucarien yang menjadi pelaku pelemparan itu langsung menghilang kembali ke balik dinding sebelum sempat terlihat jelas.Lenzoris segera memainkan perannya. Ia terhuyung ke depan sambil memegangi kepalanya."Akh!"Tubuhnya jatuh berlutut ke lantai bat
Setelah kurator terakhir meninggalkan area bawah tanah, Lenzoris akhirnya mengalihkan perhatiannya pada dua ksatria berbadan kekar yang masih berjaga di depan gerbang baja. Sebelumnya ada empat orang yang bertugas di sana, namun kini hanya tersisa dua."Di mana dua orang lainnya?" tanyanya tenang.Salah satu ksatria segera menjawab, "mereka ikut bersama Yang Mulia Archduke Aldené. Pasukan tambahan dikerahkan untuk menghadapi para pemberontak."Lenzoris mengangguk singkat. "Baik. Tutup kembali gerbangnya."Perintah itu segera dilaksanakan. Kedua ksatria mendorong pintu baja hingga kembali tertutup rapat. Suara dentuman logam bergema di sepanjang lorong batu.Setelahnya, Lenzoris berbalik dan mulai berjalan menyusuri lorong di sisi kanan. Lorong yang menghubungkan area bawah tanah dengan istal. Para ksatria yang berjaga sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan. Sebagai pengawal pribadi Aldené, kehadiran Lenzoris di area bawah tanah sudah dianggap wajar.Setelah memastikan dirinya cukup
Rombongan kurator terus berjalan menyusuri lorong batu yang menurun ke dalam perut istana. Langkah kaki mereka menggema pelan di sepanjang koridor yang dingin dan lembap. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa jelas bahwa tempat ini sudah berdiri selama berabad-abad.Varella menjaga ekspresinya tetap tenang sambil sesekali mengingat kembali peta yang sempat ia pelajari. Setiap belokan, setiap jalur yang mereka lewati, perlahan ia simpan di dalam ingatannya.Tak lama kemudian, langkah rombongan melambat. Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang baja raksasa.Napas Varella seolah tertahan sesaat. Gerbang itu... gerbang yang selama ini hanya ia lihat dalam bentuk garis-garis tinta di atas peta. Gerbang yang mereka duga menyimpan petunjuk menuju bagian terdalam lorong bawah tanah istana.Kini ia benar-benar berdiri di hadapannya. Namun bukan hanya gerbang itu yang membuatnya terkejut. Di depan gerbang, berdiri seorang pria berambut hitam dengan seragam ksatria kekaisaran.Lenzoris
Keesokan paginya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Belliza pergi ke museum, Myrrathis kembali ke area istal, sementara Lucarien melanjutkan aktivitasnya sebagai pedagang keliling. Namun bagi Varella, hari ini terasa berbeda. Sejak membuka mata pagi tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal. Ruang bawah tanah istana. Tempat yang selama ini hanya menjadi dugaan dalam penyelidikan mereka, sekarang ia akan benar-benar memasuki area itu.Kini Varella telah berdiri di dalam aula besar istana bersama puluhan kurator lainnya. Semua orang mengenakan pakaian formal yang menunjukkan status mereka sebagai peneliti dan penjaga artefak bersejarah. Suasana aula cukup tenang, hanya dipenuhi percakapan-percakapan kecil yang terdengar dari berbagai sudut ruangan. Varella berdiri dengan kedua tangan terlipat, matanya sesekali menyapu aula, mencoba mengingat sebanyak mungkin detail yang mungkin berguna nantinya. "Kau terlihat sangat serius pagi ini."Suara yang dikenalnya membuat Varella m
Saat malam semakin larut, Varella kembali membalikkan tubuhnya untuk kesekian kali. Selimut sudah ia tarik hingga ke dada, matanya pun telah terpejam berkali-kali, tetapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Pikirannya terasa terlalu penuh untuk beristirahat.Pada akhirnya, ia menyerah.Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Belliza, Varella turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Langkahnya membawanya melewati dapur hingga ke bagian belakang gubuk. Udara malam yang dingin segera menyambutnya, membuatnya tanpa sadar memeluk kedua lengannya sendiri. Perlahan, ia duduk di atas rerumputan yang masih lembap karena embun. Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan gelap yang berdiri diam dalam keheningan malam. Namun perhatian Varella tidak tertuju ke sana. Matanya justru terangkat ke langit yang dipenuhi bintang-bintang berkelap-kelip.Lama ia hanya memandang ke atas tanpa mengatakan apa pun. Hingga tanpa sadar, ingatan mengenai seseorang yang paling ia rindukan kembali memen







