เข้าสู่ระบบMenjelang sore hari, kereta Dongmei baru saja melewati persimpangan dekat pasar ketika suara teriakan terdengar dari arah depan. “Minggir! Minggir!”Kusirnya segera menarik tali kekang, tetapi seekor kuda yang berlari liar telah memasuki jalan sempit. Di belakangnya, sebuah kereta besar melaju tanpa kendali, sementara orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Seorang anak kecil terjatuh di dekat gerobak sayuran, tepat di jalur yang akan dilalui kuda tersebut.“Berhenti!” seru Dongmei. Tanpa menunggu intruksi, ia membuka pintu kereta sebelum kusir sempat menahannya. Xuan Huan segera menyusul, tetapi Dongmei sudah melompat turun. Dengan langkah cepat, Dongmei meraih anak yang terjatuh dan menariknya ke balik gerobak. Kuda itu melintas begitu dekat hingga ujung pakaiannya tersambar debu jalan.“Bawa anak itu ke tempat aman!” perintahnya kepada seorang pedagang yang berdiri terpaku.Pedagang itu segera menggendong anak tersebut menjauh. Dongmei berbalik untuk melihat sumber kekacauan. Ker
Keheningan mengambil alih untuk beberapa saat. Mengepalkan jemari tangannya, Yuelan menatap Dongmei dengan sorot tajam. “Ucapanmu terdengar sangat sombong!"Menggendikkan bahunya ringan, Dongmei tersenyum tipis. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Namun, aku tidak bisa memaksamu untuk tidak berpikir seperti itu mengenai diriku.”Yuelan terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Dongmei akan berani bicara dengan sombong secara langsung di hadapan para tamu. "Kau hanya putri seorang pedagang, dan mendengar ucapanmu sepertinya kau lebih tua dari kami. Wanita tua sepertimu apa pantas untuk memilih?" tanyanya, ketus. "Terlebih, latar belakang kelaurgamu hanya seorang pedagang. Apa yang bisa kau banggakan?"Alih-alih merasa tersinggung, Dongmei justru tersenyum tipis. “Kau harus mengatakan hal itu kepada mereka yang berpikir aku menarik.” Menggendikkan bahunya ringan, Dongmei tersenyum puas. "Jangan marah kepadaku karena aku menarik!"“Jaga
Undangan dari kediaman keluarga Zhou tiba menjelang tengah hari. undangan itu dibawa seorang pelayan pria yang mengaku mendapat perintah langsung dari Nona Muda Zhou Yuelan. Amplopnya berwarna merah muda dengan segel bunga peoni, sementara tulisan di bagian depan dibuat menggunakan tinta keemasan. Isinya singkat dan sopan, berisi ajakan menghadiri jamuan minum teh di Paviliun Linhua bersama beberapa putri keluarga terpandang di Qingyuan.Dongmei membaca surat itu sampai selesai, kemudian meletakkannya di atas meja. Ia mengenali nama pengirimnya. Zhou Yuelan, seseorang yang beberapa hari sebelumnya berusaha mempermalukan Dongmei di Paviliun Yuehe dengan tantangan puisi dan bermain guzheng. Menyentuh amplop surat itu, Dongmei bicara kepada Xuan Huan, “Kali ini apa yang diinginkannya dariku?” Memicingkan mata, Dongmei memasang pose serius. Dirinya, Zihai dan Xuan Huan tengah menyusun rencana untuk menjebak beberapa anggota Kongsi Dagang Liu saat undangan itu datang, siang ini."Apa pun
Bai Lang Bo mendengar desas-desus ketika sedang berjalan melewati pasar bersama dua pengawalnya. Ia berhenti di dekat sebuah kios kain setelah mendengar seorang pedagang wanita menyebut nama Nona Muda Fei dalam percakapan dengan pelanggannya. Ia berhenti berjalan, mendekati meja kasir saat pedagang wanita itu berkata, “Katanya Nona Muda dari ibu kota itu pandai sekali memikat para tuan muda. Baru datang ke Qingyuan, dia berhasil membuat keluarga bangsawan membicarakannya.” Matanya dipenuhi oleh rasa jijik saat bicara. "Benar-benar tidak tahu malu!" ejeknya, menggendikkan bahu, ringan.“Kudengar dia cukup murahan." Menoleh ke belakang, ia melanjutkan ucapannya. "Nona Fei mungkin datang ke Qingyuan untuk mencari calon suami,” sahut pelanggannya. Wanita itu mengenakan hanfu berwarna biru langit. Ada jeda pendek sebelum wanita berusia tiga puluh tahunan itu melanjutkan ucapannya. "Jika dia secantik dan sepandai desas-desus yang beredar, aku tidak akan heran jika terjadi perkelahian antar
Waktu terasa berjalan melambat. Wen Xian mengamati wajah lawan bicaranya, tapi Dongmei tidak terlihat gugup. Namun, dia juga tidak memberikan penjelasan yang dapat mengakhiri kecurigaannya. Wanita itu selalu berhasil menemukan batas antara keterbukaan dan kerahasiaan, seolah-olah terbiasa menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit.“Setidaknya katakan apakah tujuanmu dapat membahayakan keluarga Bai,” ujarnya.Dongmei memikirkan pertanyaan itu sebelum menjawab. “Aku tidak datang untuk mencelakai keluargamu. Namun, jika dalam perjalananku menemukan seseorang melakukan kejahatan, aku tidak akan berpura-pura tidak melihatnya hanya karena orang tersebut memiliki nama keluarga terhormat.”Terdiam beberapa saat, Wen Xian menurunkan pandangan ke cawannya. “Kau berbicara seolah-olah sudah menduga akan menemukan sesuatu.”“Aku berharap tidak menemukan apa pun yang buruk,” jawab Dongmei, menggendikkan bahunya acuh tak
Pagi belum menyentuh atap kediaman keluarga Bai ketika seorang pengawal rahasia memasuki ruang kerja Adipati Bai Zhenyuan melalui pintu samping. Pria berpakaian serba hitam itu berlutut di hadapan meja, menunggu hingga sang adipati menyelesaikan kalimat terakhir pada dokumen yang sedang dibacanya.“Yang Mulia, tugas hari ini gagal. Tuan Muda Wen Xian datang bersama pengawal Kediaman Adipati dan membantu wanita itu. Anggota yang tertangkap semuanya sudah bunuh diri,” lapornya masih menundukkan kepala, dalam.Ada perasaan was-was saat pria itu memberi laporan kepada sang adipati. Walau dari luar terlihat biasa saja, tidak ada yang bisa menyelami isi kepala Adipati Bai sehingga baik teman ataupun musuh harus tetap berhati-hati saat berhadapan dengannya.Bai Zhenyuan meletakkan kuas di tangannya ke atas tempatnya. “Wen Xian terlibat?” Sebenarnya hal itu sudah tidak membuatnya terkejut. Putra pertamanya pasti langsung bertindak jika ada kekacauan di kota. Bahkan akan sangat aneh jika Wen X
Dongmei mengembuskan napas keras. Pertengkaran kecil dengan Liwei membuatnya sedikit kesal. Ia mengatakan semua itu demi Meifeng. Dongmei merasa jika Meifeng tidak sepantasnya mendapat perlakukan sedingin itu dari keluarganya sendiri.Di dalam kamar, ia membuka hanfu lapisan ketiga dan keduanya sem
Liwei berjalan cepat menyusul langkah Dongmei. Ada beberapa alasan hingga membuatnya nekad menyusul adik kandungnya. Liwei harus memberi peringatan kepada Meifeng untuk tidak bersikap seenaknya. Istana memiliki aturan dan Meifeng harus bisa belajar beradaptasi. Sudah satu bulan berlalu, tapi k
Raja Bai menggertakkan gigi. “Apa maksudmu?” Suara berat raja terdengar menakutkan. Namun, Dongmei bergeming. Dia sudah menetapkan hati untuk mengakhir pertunangan ini. “Bagaimana bisa kau meminta hal itu dariku?”“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat memohon kepada Anda unt
Changpu mengetatkan rahang. Dia mungkin tidak mengenal siapa Putri Meifeng, tapi sebagai wanita, dia pun akan terluka jika tunangannya memutuskan hubungan demi wanita lain. “Kalian sangat kurang ajar!”“Kau pikir kami takut kepadamu hanya karena kau putri dari Jenderal Xi?” ujar pria keempat. “Tema







