ログインIstana luas ini terasa sangat sepi. Beberapa kali Dongmei mengembuskan napas dengan keras. Setengah menyeret kakinya dia berjalan melewati lorong-lorong panjang istana. Hari ini Dongmei tidak bisa keluar istana karena ibu suri terus mengawasi pergerakannya. Ia tidak ingin membuat wanita yang memiliki paras seperti mendiang ibu pantinya itu kecewa, karena alasan itu beberapa hari belakangan ini Dongmei memilih untuk tetap tinggal di dalam istana.
Dongmei menekuk kening dalam saat seoran
Salah seorang penyusup berbadan kekar berhasil memanfaatkan celah pertukaran serangan untuk melompati pagar tangga. Gerakannya sangat gesit saat berusaha menerobos ke lorong kamar tempat beberapa orang tamu berlindung.Melihat musuh mendekat ke penduduk sipil, Dongmei langsung bergegas untuk memotong jalur. Ia memutar tubuh, menghubuskan pedang ke arah penyerang pertama, tapi dua penyerang lain melompat menghadang dari arah berlawanan secara bersamaan.Beruntung, Dongmei berhasil menghindari serangan dan segera merendahkan tumpuan kaki, mengangkat pedangnya secara menyilang untuk menahan tebasan atas dari penyerang pertama. Ia bahkan belum sempat bernapas saat tusukan penyerang kedua meluncur dari bawah. Menyipitkan mata, Dongmeilu memutar pergelangan tangannya secara ekstrem hingga menyebabkan suara benturan baja yang keras di udara, memercikkan bunga api di tengah temaram cahaya lentera tangga."Habisi dia! Jangan biarkan target meloloskan diri!" Suara komando bernada berat terdenga
Saat perjalanan kembali ke penginapan, lentera-lentera di sepanjang jalan sudah menyala penuh. Dan di antara bayangan gudang serta perahu-perahu yang tertambat di tepi sungai, beberapa orang memperhatikan rombongan mereka sejak meninggalkan Paviliun Yuehe.“Pastikan dia tidak sempat meninggalkan Qingyuan!” katanya pelan.Di bawah cahaya lentera yang mulai meredup, seseorang mengangguk dan menghilang ke dalam gang sempit, membawa perintah yang akan mengubah malam Dongmei menjadi pertarungan untuk bertahan hidup.Kegelapan merayap cepat menyelimuti Qingyuan, membawa serta embusan udara malam yang merengkuh kota dengan rasa dingin menggigit daripada biasanya. Dari celah jendela lantai dua penginapan, Dongmei berdiri membisu memperhatikan deretan lentera kertas yang mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang lorong jalan utama.Cahaya kekuningan bergetar ditiup angina, menerangi wajah-wajah para pedagang yang bergegas membereskan dagangan dan men
Malam di Paviliun Yuehe belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir ketika keramaian di lantai dua mulai mereda. Sebagian tamu telah beralih ke meja permainan, sedangka lainnya berkumpul di dekat jendela untuk menikmati pemandangan sungai. Perdebatan tentang puisi yang sempat menghangatkan suasana kini tinggal bahan percakapan ringan. Para perempuan bangsawan yang sebelumnya menantang Dongmei pun tidak lagi berusaha menariknya ke dalam permainan, meskipun beberapa di antara mereka masih sesekali melirik ke arahnya dengan rasa ingin tahu bercampur kesal.Dongmei tidak terlalu memedulikan mereka. Ia sudah menyelesaikan hidangannya dan informasi yang dikumpulkan Xuan Huan membuat kunjungan malam itu cukup berharga. Namun, sebelum meninggalkan restoran, wanita itu ingin menikmati udara malam sejenak.Bangkit dari kursinya, Dongmei memberi isyarat kepada Xuan Huan jika dirinya akan pergi ke luar untuk mencari udara segar. Pemuda itu mengangguk dan tetap tinggal untuk menyelesaikan percakap
Di meja para perempuan bangsawan, suasana terasa sangat berbeda. Beberapa di antara mereka tidak dapat menyangkal keindahan puisi itu, tetapi juta tampak tidak senang karena Dongmei berhasil memperoleh pujian tanpa harus memamerkan pengetahuan ataupun mengklaim dirinya sebagai perempuan terpelajar. Perempuan berbaju merah muda menggenggam kipasnya lebih erat, lalu mencondongkan tubuh dengan senyum yang kembali dipaksakan.“Benar, puisinya memang indah,” katanya kemudian, “tetapi membaca karya orang lain tidak selalu membuktikan kemampuan seseorang dalam bersastra. Barangkali kau memiliki ingatan yang baik. Sebaliknya, memainkan guzheng ide yang sangat menarik," tuturnya.“Bukankah tadi kalian sepakat bermain puisi?” tanya seorang pria muda di ujung meja. “Nona Fei baru saja membacakan puisi yang bagus. Mengapa harus mengubah permainan?”Pernyataannya disetujui oleh beberapa pemuda bangsawan lain. Menurut mereka tidak adil
Menarik napas pendek, Dongmei kembali memasang ekspresi datar. Dongmei pernah membaca puisinya dalam sebuah buku, kemudian menemukan beberapa versi lain ketika mencari tahu lebih jauh tentang penyair besar dari Dinasti Tang tersebut. Puisi itu sederhana dalam gambaran, tetapi memiliki keindahan yang sulit ditandingi, seseorang minum sendirian, mengundang bulan dan bayangannya menjadi teman, lalu menerima bahwa kebersamaan itu tidak akan berlangsung selamanya.Walau tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan karya seperti itu dari awal, ia juga tidak berniat berpura-pura sebagai penciptanya. Namun, di hadapan orang-orang yang menantangnya, Dongmei tidak merasa perlu menjelaskan sejarah sebuah puisi dari dunia yang tidak mereka kenal. Ia hanya akan membacakannya sebagai karya yang pernah didengar dan ingat, tanpa mengarang cerita tentang siapa yang menulisnya.“Bulan di atas sungai memang cocok untuk sebuah puisi,” kata Dongmei pada akhirnya. “Aku teringat sebuah karya yang pernah kuden
Paviliun Yuehe masih dipenuhi suara percakapan ketika para pelayan mulai menghidangkan anggur bunga osmanthus dan aneka manisan untuk para tamu. Cahaya lentera keemasan berayun pelan di bawah atap kayu, pantulan bangunan di seberang sungai bergetar setiap kali perahu melintas. Pesta yang semula hanya menjadi pertemuan para bangsawan dan pedagang kaya berubah semakin meriah setelah beberapa putri keluarga terhormat mengusulkan permainan puisi untuk mengisi waktu menjelang tengah malam.Dongmei sedang menikmati teh ketika Xuan Huan, yang duduk di sampingnya, mendekat sedikit dan berbisik, “Sepertinya mereka belum puas memperhatikanmu, Nona. Sejak kita datang, ada saja yang berusaha mencari alasan untuk mengajakmu berbicara.”“Kalau mereka terus memperhatikanku, kau seharusnya berterima kasih,” balas Dongmei meletakkan cawan. “Kau bisa mengamati para pedagang tanpa terlalu menarik perhatian. Bukankah itu tujuan kita datang ke sini?”Xuan Huan menahan senyum. “Saya memang berterima kasih,
Dongmei mengembuskan napas keras. Pertengkaran kecil dengan Liwei membuatnya sedikit kesal. Ia mengatakan semua itu demi Meifeng. Dongmei merasa jika Meifeng tidak sepantasnya mendapat perlakukan sedingin itu dari keluarganya sendiri.Di dalam kamar, ia membuka hanfu lapisan ketiga dan keduanya sem
Liwei berjalan cepat menyusul langkah Dongmei. Ada beberapa alasan hingga membuatnya nekad menyusul adik kandungnya. Liwei harus memberi peringatan kepada Meifeng untuk tidak bersikap seenaknya. Istana memiliki aturan dan Meifeng harus bisa belajar beradaptasi. Sudah satu bulan berlalu, tapi k
Raja Bai menggertakkan gigi. “Apa maksudmu?” Suara berat raja terdengar menakutkan. Namun, Dongmei bergeming. Dia sudah menetapkan hati untuk mengakhir pertunangan ini. “Bagaimana bisa kau meminta hal itu dariku?”“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat memohon kepada Anda unt
Changpu mengetatkan rahang. Dia mungkin tidak mengenal siapa Putri Meifeng, tapi sebagai wanita, dia pun akan terluka jika tunangannya memutuskan hubungan demi wanita lain. “Kalian sangat kurang ajar!”“Kau pikir kami takut kepadamu hanya karena kau putri dari Jenderal Xi?” ujar pria keempat. “Tema







