Se connecterSebenarnya, ini pertama kalinya Valyria bertemu keluarga besar Tarra. Selama ini jika Valyria berkunjung ke rumah Tarra, dia hanya bertemu ayah dan ibunya. Maka dari itu Valyria menjadi canggung .“N-namaku Valyria Soga Kinaru, tante Tasya,” ucap Valyria yang menuruni tangga dari lantai dua kamar Tarra.
''Namamu cantik begitu juga orangnya, apa kamu Bule Nak?'' tanya Tante.
Valyria hanya terkekeh nanar. Wajahnya ini sering disangka ‘bule’ oleh orang kebanyakan. Apalagi kedua iris mata violetnya. “Tidak juga, Ibu memang orang Indonesia kalau Ayah, kata kakakku Ayah berasal dari Belanda, Valyria juga tak terlalu tahu soal itu.'' Valyria menjawab sebisanya dengan senyum nanar itu.
“Oh pantas aja, sama dong, Bobby juga campuran Belanda, Ayo sapa Kak Valyria Bobby,'' suruh Tante pada Bocah itu.
Bocah itu malu-malu menatap Valyria. “H-halo. Namaku Bobby balu ti-tiga tahun.”
“Oh iya, Tarra sempat mengatakan padaku soal temannya yang jenius dalam seni. Apakah itu kamu Valyria? Mengingat, Tarra jarang sekali membawa teman ke keluarganya.”
“Tidak, jago juga sih tante. Valyria hanya hobi melukis.” Valyria berucap sambil menggaruk ujung pipinya yang tak gatal. Tampaknya Tarra terlalu melebih-lebihkannya.
Wanita itu menepuk-nepuk pundak Valyria. “Haha ... Kalau begitu bawa lukisanmu besok, kita berangkat ke Amsterdam.”
''Eh?!”
“Tapi kita akan pergi tanpa Tarra, sepertinya dia masih perlu istirahat karena kesedihannya itu,'' ucap Wanita itu dengan tatapan sendunya. Berdasarkan raut wajahnya, sudah pasti dia merasa sedih hanya saja tak ingin terlalu diketahui banyak orang.
Valyria mengangguk. “Tante, salam pada Tarra. Valyria mau pulang dulu ... Terima kasih banyak Tante Tasya.” Valyria pun tak bisa lebih lama disini, ingat akan paksaan Paman dan bibinya untuk segera kembali kerumah asalnya. Valyria segera berpamitan.
Sekitar dua malam Valyria tak menyentuh ranjang kasur bututnya. Alias tidak tidur dua malam, kini tubuhnya terasa lemas tapi harus berkemas. Barang-barang dirumah kontrakan belum dikemasi untuk kepindahannya hari ini. “Ah ... aku ngantuk.'' Valyria mengeluh setelah tiba didepan rumah kontrakannya.
Tubuh lemas dan lunglai. Valyria tetap mengusahakan semuanya selesai hari ini, beruntung barang-barangnya dirumah kontrakan tidak terlalu banyak. Dia pun bergegas mengemasi barang-barangnya, usai berkemas itu semua memakan waktu sebanyak tiga jam lebih. Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sedan tampak berhenti didepan rumah kontrakannya. Valyria tahu, dia sudah dijemput. Valyria hampir lupa, dia memasukkan buku Sang Kakak dan kunci misterius itu dalam tas selempangnya.
''Salam Nona Valyria,'' ucap Pria tua itu membungkuk hormat kepadanya, salah satu Supir pribadi kediamannya dulu.
Valyria yang sudah berdiri didepan rumah kontrakan bersama sebuah tas besar disampingnya. “Pak Hasan, lama tak berjumpa. Oh iya barangku tak banyak, jika diletakkan di bagasi mobil akan muat kok.” Valyria masuk lebih dulu ke bangku penumpang, dia sempat meminta tolong pria itu untuk memasukkan tasnya kedalam bagasi.
''Nona, saya mulai hari ini diperkerjakan untuk menghantar nona oleh Tuan Julian.”
''Jika boleh jujur, aku lebih suka hidup susah diluar dari Rumah itu ... Tempat mereka berkuasa,'' gumam Valyria.
Valyria tersenyum miring, ingatkan selain paman dan bibinya dia masih memiliki seorang paman lagi. Paman Julian, sebenarnya dia cukup baik terhadap Valyria dan Valerin tapi sayang, hak wali malah jatuh ketangan Paman dan Bibi yang menyebalkan ini.
“Tch. Aku sudah muak.” Valyria mendecak kesal.
Perjalanan kerumahnya lumayan jauh, terletak didaerah pendesaan dengan lingkungan yang masih asri. Rumah itu paling mencolok dengan gaya reminiscence yang masih melekat. Saat tiba, Valyria menatap sendu rumah ini, rumah yang terbilang luas dikelilingi kebun Hortensia ungu. Ketika gerbang pintu masuk terbuka, Valyria masih bisa mengingat kenangan lama pada kediaman ini. Sendu sudah tatapannya yang terbilang sedih ini, dia pun menaiki anak tangga yang menuju pintu masuk.
“Aku pulang ... Ayah, Ibu, Kak,'' ucap Valyria lirih sembari memandangi Rumah
“Nona, bapak ingin menemani nona tapi Tuan dan Nyonya bilang hanya bisa menghantar dan jemput nona Valyria saja.” Pria tua itu yang membawa tas Valyria tampak menatap tubuh kecil itu, satu-satunya anak Kinaru yang tersisa. Dia sempat mengiba dan prihatin terhadap gadis muda ini.
Valyria hanya mengangguk, sambil mengulum senyuman. “Tidak pak, terima kasih. Nanti kalau Valyria mau keluar pasti Valyria menghubungi bapak dulu. Salam dengan bu Sri dan adek Budi ya Pak. Kapan-kapan Valyria akan berkunjung kerumah,'' ujar Valyria dengan manis, Valyria sudah kenal keluarga pak Hasan. Memang dulu, keluarga Pak Hasan bekerja dirumah ini tapi semejak saat itu semuanya sudah berubah. Dirumah besar yang megah ini, Valyria dipekerjakan seorang diri. Ulah siapa? Tentu semenjak Paman dan Bibinya menjadi wali pengganti orang tua.
Benar saja, saat itu pula kedua Suami isteri itu baru saja pulang dari Kota. Rasanya Valyria ingin segera kembali kekota, biar dirumah kontrakan sederhana sekali pun dia tak masalah asalkan bisa merasa bebas. ''Paman, Bibi ... ah, itu, Valyria baru sempat pulang.'' Valyria berucap sambil menunduk.
“Dasar bocah tengil, disuruh pulang saja sangat sulit,” cibir Bibi melintasinya dengan tatapan sinis. “Antarkan kopi ke kamar paman Valyria.” Dilanjutkan oleh Oaman yang turut melintasinya.
“Baik, Paman,'' ucap Valyria mau tak mau harus menurut.
“Nona.” Pak Hasan, raut wajah pria berumur itu tampak tak tega. Masih diambang pintu memperhatikan nona kecilnya menjadi pelayan dirumahnya sendiri. Ingin membantu namun tak berdaya.
Valyria mengangguk dengan yakin. “Tidak masalah Pak, terima kasih atas keperduliannya. Lebih baik pak Hasan pulang saja, Valyria permisi ke dapur.'' Valyria berucap sambil beranjak ke dapur.
Aktivitas melelahkan sejak sore tadi baru usai di malam harinya. “Aduh. .. tubuhku sakit semua,'' gerutu Valyria sambil meregangkan kedua tangannya. Tak dipungkiri, aktivitas di rumah melayani kedua orang itu cukup melelahkan.
Bibir ranum Valyria mengerucut maju. “Aku ingin tidur!'' Valyria menjerit dengan tampang yang sangat lelah itu.
Valyria merangkak naik keatas kasur empuknya, kamar lamanya. Luas dan nyaman. Setidaknya ia masih diperbolehkan menggunakan ruang pribadi saja sudah senang. “Ah! Oh iya, Tante Tasya bilang ingin mengajak ke Amsterdam ya? Hihi ... senangnya. Tak sabar hari esok, semoga baik-baik saja. Nah, selamat malam Kak Darly, Ayah dan Ibu ... Valyria baik-baik saja disini.” Valyria berujar sambil menatap langit-langit kamarnya, perlahan kedua mata cantik itu semakin mengantuk. Kemudian ia pun sudah masuk kedalam alam mimpi, ditandai dengan dengkuran halus dari pulasnya tidur seorang Valyria Soga Kinaru.
Valerin Grayii baru tiba di sebuah Pabrik Lama Keluarga Grayii. Dia menuruni kuda dalam sekali lompatan. Rambut hitam pendeknya basah kuyup karena keringatnya sendiri. Valerin tidak tahu sudah bergegas memacu kudanya dengan seberapa cepat untuk tiba kemari.Jika dugaannya benar, maka selama ini jawabannya ada di sana. Bisa dibilang gegabah tapi Valerin Grayii menjadikan dirinya sebagai umpan hidup. Valerin yang membaca pola dari rentetan kejadian Frederitch yang sempat menghilang kemudian kembali tanpa jantung juga jadi alasan bagi Valerin memberinya misi untuk menjauh dari Valerin. Kedua matanya melebar menatap beberapa orang yang sudah berdiri disana. Semua itu sudah dalam perhitungannya. Valerin tertawa hambar. “Haha ... kupikir pertemuan ini terlalu cepat, bukan begitu Yang Mulia Nikolai dan Puteri Primavera?" celetuk Valerin.“Untuk seukuran tikus kotor, dia cukup cerdas," hina Wanita dengan surai pirang itu menatap angkuh.“Apa yang adik kecil kami lihat darimu? Kau tak cantik
Valerin Grayii itu sudah cukup lama tak merasakan waktu senggang. Dia kini tengah bersantai di kebun halaman belakang manor Grayii karena nanti malam ia akan berangkat untuk menjalankan misi yang lain. Dia tak sendiri, ditemani secangkir teh seduhan Friday dan Sang Pembuat tentu saja. Valerin tak henti-henti tersenyum, seperti Gadis yang dilanda kasmaran. “Aku tak pernah membayangkan menjadi seorang remaja yang merasakan jatuh cinta haha." Valerin terkekeh pelan.Sementara itu, Friday yang berada dalam setelan pakaian resminya menatap keheranan. “Apakah teh yang kubuat membuat moodmu membaik Tuan Muda?” tanya Friday usai menuangkan teh dalam cangkir kosong yang telah diminum oleh Valerin.“Tidak-tidak, oh ... kau tentu saja alasannya. Bukan teh yang kau buat Pangeran," goda Valerin. Valerin memerhatikan Friday yang kala itu mengenakan jubah biru tua panjang, dalam pakaian kemeja hitam formal dan pedang yang tersarung ikat pinggangnya. Friday tak berpakaian seperti pelayannya meski i
“Val, apa yang sedang kau lakukan?” Friday baru tiba bersama dua anggota lain dari Paladin of Dustbones. William Rovana dan Leon Sirius. Atas permintaan Valerin, Friday dengan senang hatinya membawa kedua orang itu.Valerin menyeka keringatnya. Dia tengah berada di ruangan pabrik keluarga Grayii. Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu kini disulap seperti ruangan berteknologi muktahir. Setidaknya gadis bersurai pendek ini sudah mempermak pabrik itu menjadi markasnya.“Tidak ada, hanya memperbaharui beberapa alat yang ada disini,” jawab Valerin Grayii sambil memberikan ketiganya tiga buah chip berbentuk earphone. “Benda ini mampu melacak keberadaan, alat komunikasi, dan radar koordinat,” ucap Valerin sambil berjalan ke arah komputer yang ada ditengah-tengah ruangan itu dengan layar monitor tipis transparan. “Keluargaku, Ayah dan ibuku berserta kakakku itu membuat dan menitipkan semua peralatan ini bahkan tanpa Dustbones dan Crave Rose tahu.” Valerin Grayii berucap sambil tersenyum kec
“Valerin Grayii. Kaukah itu?” Valerin dan Alphonse kompak segera menoleh saat mendengar suara itu.Valerin Grayi memicingkan matanya, sepasang violet milik Valerin bias oleh cairan air matanya yang hendak keluar. Bibirnya gemetar usai menatap sosok proyektor yang tersenyum padanya. Valerin menundukkan kepalanya sejenak. “Val, kau kenapa?” tanya Alphonse cemas.Gadis berpakaian necis seperti lelaki itu menggeleng pelan. “Itu ... Hologram, Hologram ibuku.” Valerin Grayii menahan isak tangisannya dengan tegar.Hologram dengan siluet ibunya itu amat mirip dengan tampilan manusia, jika saja Valerin tak menyadari pantulan dari sensor alat hologram dari logo logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan “Aku Valyria,” ucap Valerin berusaha tersenyum pada Hologram canggih dengan kemampuan sistem AI-nya itu.“Oh, Aku mengerti.” Hologram ibunya tersenyum menatap Valerin. “Kau Valerin saat ini.” Kata ibunya lagi.Valerin Grayii mengangguk pelan “Itulah aku saat ini.” Valerin berucap sambil
“Aku tak mengerti masalahmu, sungguh.” “Kalau begitu kau bisa memikirkannya bukan, apa masalahmu denganku Frederitch?”Friday memandang Wanita itu dingin. “Sikapmu yang membebaskanku, menolongku, dan membantuku bukanlah cuma-cuma, bukan?" terka Friday pada Wanita yang duduk disebelahnya itu.Wanita dengan perangai yang elegan, duduk dengan menegak segelas cairan merah. “Kau cerdas, Fredericth. Tak diragukan dari tunanganku," ledek Wanita itu menatap Friday aka Frederitch Drew Raymond dengan kekehan kecilnya. “Rhea hentikan itu!” bentak Friday."Yang Mulia rendahkan nada bicaramu terhadap keponakan manisku, Yang Mulia Frederitch." Pria paruh baya itu berdiri tepat disebelah Friday, meremat pundak Pemuda itu dengan keras.Friday terdiam dengan tatapan dinginnya, diam-diam menahan amaranya. Ia mendeham setelah itu tersenyum, secepat itu memanipulasi lawan bicaranya. “Baik, Professor Dawn. Katakan apa yang keponakanmu ini inginkan?” tanya Friday."Bukannya sudah jelas Yang Mulia, setel
"Valerin Grayii." Alphonse menyebut nama Valerin dengan dingin. Ia sudah menerobos masuk ke ruang makan Manor ini. Valerin Grayii mengelap bibirnya dengan serbet putih. “Yang Mulia, Anda repot-repot kemari," ucap Valerin Grayii beranjak berdiri. “Anak-anak lanjutkan sarapannya.” Valerin tersenyum kepada anak-anak yang memasang raut takut itu, lantaran melihat sosok dibelakang Valerin yang berdiri dengan tegap.“Ah, Yang Mulia dan aku berteman. Jangan khawatir," ucap Valerin berdusta. “Ayo Yang Mulia, ruang kerjaku kosong. Kurasa Friday perlu ikut, kaki prostetikku sedikit bermasalah.” Diraih lengan kekar Friday, Valerin Grayii seraya tersenyum menarik Pria Vampir itu untuk ikut serta dengannya. “Waktuku sedikit, bergegas Valerin," celetuk Alphonse, menatap Valerin dengan sinis.Sebaliknya, Valerin Grayii tersenyum lebar. “Rileks Yang Mulia wajah tegangmu membuat takut anak-anak," sindir Valerin.Friday ingin tertawa mendengarnya namun ia segera menahan. “Kau diluar ekspektasi, Val,"







