로그인“Ya Tuhan, aku tak sanggup semua ini benar-benar menjijikkan," ujar Valyria sambil menghela napas. Setelah itu Valyria berjalan melalui koridor gedung universitasnya. Dia berjalan dengan tenang dengan raut wajah yang tenang pula, biarpun kepalanya terasa pening akibat kurang tidur. Sepasang mata Violet Valyria melihat Tarra yang berlari dengan secarik kertas yang dibawanya.
Gadis berjilbab merah muda itu tersenyum sumringan. “Ini lihat! Pelelangan lukisan. Kau ratunya urusan ini, ayo ikut.” Tarra berucap dengan antusias sembari memperlihatkan secarik kertas berisi brosur pelelangan lukisan.
“A-Amsterdam? Kau Gila Tarra, ini jauh sekali dan aku tak punya ongkos untuk ke sana,” ucap Valyria dengan kedua matanya melotot, nyaris melongo tak percaya.
“Ah sudahlah, masalah itu urusanku karena kebetulan acara ini Tante Tasya salah satu staff penyelenggara, ini kesempatan baik untukmu Valyria, " ucap Tarra senyum dengan ceria, dia menggegam tangan sahabatnya itu. Tarra teman terbaik yang Valyria punya. Satu-satunya orang yang Valyria percaya selain Sang Kakak.
Valyria mengangguk haru. "Terima kasih Tarra, semua ini sangat berarti bagiku."
“Oky doky, ayo aku anter pulang.” Diraih tangan Valyria bersamanya. Mereka menuju parkiran, dengan suka hati Tarra menjadi supir ekslusif untuk teman manisnya ini. Valyria Soga Kinaru.
Jika Valyria boleh berkata dengan jujur, dia menginginkan kehidupan masa lalunya kembali. Menatap langit di siang hari, warna cerah dan biru. Panas boleh saja terik namun dia menyukai setiap rasa hangat itu menyapu dingin perasaannya. Valyria sekarang yang dibonceng oleh sepeda motor Tarra hanya bisa diam, menikmati hiruk pikuk macet dan klakson kendaraan yang berlomba-lomba berbunyi. Hidup damai seperti biasanya.
“Terima kasih Tarra, sudah mengantarku pulang.” Valyria berucap sambil memberikan helm itu kepada Tarra. Begitu baiknya Tarra ini kepadanya sampai terkadang Valyria harus berkata dengan sungkan.
"Santai aja, eh lihat-lihat! ada mobil didepan kontrakanmu. Apa paman dan bibimu datang?” tanya Tarra sembari menatap Mobil itu.
Valyria menoleh untuk melihat mobil itu “Tarra pulanglah, besok akan kuhubungi lagi.”Suruh Valyria, dia tak ingin teman baiknya itu melihat interaksi buruk dengan walinya ini.
Tarra mengangguk, dia kembali menghidupkan motornya kemudian melesat untuk pulang. Biarpun Tarra sempat khawatir, tapi kedua iris violet cantik Valyria begitu tangguh. Hal itu yang membuatnya sedikit lega.
Valyria, menatap dengan jengah. Percuma saja menolak, besok dan besok harinya lagi mereka akan tetap memaksa “Baiklah, aku akan kembali kerumah itu besok.”Valyria berucap sembari membuka pintu rumah kontrakannya, apakah Valyria akan menjamu paman dan bibinya itu? Tidak, dia tak berrencana semanis itu.
“Nah begitu, besok kami akan menjem—“
Brakhhh
Pintu itu ditutup dengan sangat tak lembut, biarkanlah. Valyria segera mengunci pintunya. Membiarkan kedua pasangan suami isteri itu mengomelinya, Valyria menutup kedua telinganya dengan tangan kurus itu. Tak ingin mendengar, menolak untuk tahu ucapan mereka yang tak berkenan dihatinya. Sejak awal Valyria selalu membangkang pada Paman dan Bibi, semua itu bukan tanpa alasan. Valyria tahu Paman dan Bibi hanya perduli dengan harta warisan peninggalan kedua orang tuanya.
Valyria yang sudah lelah pun berjalan ke arah kamar, sempat menatap kunci yang diberikan kepadanya oleh Orang misterius itu. “Kunci apa ini sebenarnya?'' Valyria, duduk ditepian ranjang kasur bututnya sembari memandangi kunci itu. Valyria kini beralih pada buku dan beberapa kertas yang berserakan itu.
''Buku ini kosong, tak ada isinya disetiap halaman.'' Valyria justru penasaran dengan Buku itu sehingga ia meletakkan kunci tadi diatas nakas meja. ''Ayolah, tadinya aku berharap menemukan secercah petunjuk!'' erang Valyria frustasi sembari melempar buku itu ke lantai.
Tak lama bunyi goresan tinta yang berisik terdengar dari buku. Valyria dengan hati-hati membalikkan buku itu. Buku itu mulai menggoreskan tintanya yang berjalan dengan cepat. Seolah dengan ajaibnya seseorang tengah menulisnya disana, Valyria merasa aneh akan buku ini. Takut dan seram namun tetap ia perhatikan buku itu hingga halaman kosong itu menuliskan narasi yang cukup panjang.
''Oh Tuhan, ini tak mungkin.'' Valryria berucap sambil membuka lembar halaman itu, sepasang iris violetnya membaca setiap kata dalam kalimatnya. Semuanya, mengenai sang kakak dan kedua orang tuanya, mengenai dunia yang terselubung didunia ini, mengenai kemustahilan yang hanya menjadi dongeng penghantar tidur, dan tragedi yang terjadi. Semuanya, Valyria membaca semuanya.
Valyria cepat-cepat menutup buku itu. ''Aku pasti kelelahan, ini pasti halusinasi.'' Valyria pun meletakkan buku diatas meja kemudian beranjak naik ke atas ranjang kasur. Ia segera memejamkan matanya dan berharap keanehan ini hanyalah mimpi buruk.
Drrrt ... drrrtt ...
Valyria terbangun karena ponselnya sendiri. Valyria mengangkat sambungan telepon dari Tarra. Valyria baru dikabari jika ibunya Tarra masuk Rumah Sakit setelah penyakitnya kembali kambuh. Valyria cukup tahu soal ini. Latar belakang pendidikan yang tengah ditempuhnya ini berada disekitaran kesehatan dan masalahnya. Sama dengan Valerin mendiam Sang Kakak. Valyria pun sengaja mengambil jurusan yang sama seperti Valerin yang dianggap seperti rolemodel kehidupannya. Panutannya yang sudah tiada lagi.
Butuh beberapa menit bagi Valyria untuk bersiap-siap setelah itu beranjak pergi. Valyria baru turun dari bus yang berhenti didepan halte bus rumah sakit. Valyria bergegas menuju ruangan unit kritis di Rumah Sakit itu, tepat didepan ruangan itu Tarra sudah berdiri bersama anggota keluarga lainnya. ''Tarra!'' teriak Valyria.
“Bagaimana keadaan ibumu?” tanya Valyria dengan lembut. Sepasang mata violetnya, sempat melihat melalui pintu kaca yang ia tangkap pandangannya akan seorang wanita yang berbaring dengan alat-alat life support pada tubuhnya. Valyria melihatnya, mengetahuinya dan hal yang paling ia benci dari dirinya itu. Keadaannya sudah amat kritis dan jauh dari kata selamat.
''Dokter tidak bisa berbuat banyak, meminta kami berdoa,'' jawab Tarra sambil terisak.
Dia tak henti-henti mengusap pundak Tarra yang bergetar samar. Kehilangan seseorang yang dikasihi? Valyria serasa dipaksa mengenang kematian sang kakak. Satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Setidaknya, yang paling dikasihi.
Tepat saat jam dua belas malam, ayah Tarra menghampiri ruang tunggu. Valyria yang ada bersama Tarra, dia menyampaikan kabar kematian sang ibu. Kematian ibunya Tarra. Valyria bisa melihat kesedihan yang histeris dirasakan sahabat baiknya itu, Valyria tak bisa melakukan hal yang banyak biarpun dia tahu. Takdir tetaplah takdir. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir. Valyria hanya menatap Tarra yang menangisi sang ibu dari luar ruang unit kritis itu.
“Kau bisa mengetahuinya, Nona?''
Valyria terkejut bukan main, sepasang iris violetnya melebar. Dia langsung menoleh kearah seorang Gadis yang ada disebelahnya, sejak kapan berdiri disampingnya. “K-kau? Bagaimana kau bisa tahu?”Valyria menahan suaranya, biar bagaimanapun dia tak boleh membuat keributan saat berkabung ini.
Wanita muda yang mengenakan hoodie hitam itu hanya mendelik. “Hanya menduga.'' Wanita itu menjawab sembari beranjak pergi meninggalkan Valyria yang menatap bingung.
“Apa-apaan dia, dasar aneh.'' Valyria menggerutu kesal, dia pun mengabaikannya.
Kini suasana berduka dirumah Tarra masih terasa, dimulai dari sanak saudara yang datang berbela sungkawa. Valyria malah menemani Tarra dikamarnya, dia hanya menenangkan Tarra yang berbaring dengan wajah sembabnya. “Tarra ... Makan siang dulu.” Valyria bukan orang yang pandai membujuk, dia pun hanya bisa duduk dipinggiran ranjang kasur Tarra dengan wajah bingungnya. Tarra belum makan sejak pagi, Valyria cemas jika sampai Tarra sakit.
“Valyria ... Kemarin saat tahu kakakmu meninggal, apa yang kau lakukan?”
“Aku sedih tapi tak larut. Menyembuhkan perasaan sulit itu susah, tapi aku berusaha untuk ikhlas menerima keadaan,'' jawab Valyria sambil mengulum senyumannya.
“Bagaimana ... kau bisa menghadapi hidup ini?” Tarra kembali bertanya.
“Akan kujalani hidup seperti biasa, bukan untuk melupakan tapi menerima kehilangan,'' jawab Valyria sambil tersenyum
Pintu kamar berdecit terbuka tampak seorang bocah kecil membawa sebuah nampan berisi makanan. Bocah itu dibantu oleh seorang wanita cantik yang menyapa mereka dengan ramah. “Oh ada teman Tarra, perkenalkan Tasya Sinclair tantenya Tarra, Ayo Bobby berikan nampannya ke kakakmu,'' suruh Wanita itu kepada bocah lelaki manis ini.
Valyria langsung menyambut nampan itu “Terma kasih Bobby,'' ucap Valyria.
''Ini anakku, Bobby,'' ucap Wanita itu ketika Bobby buru-buru menghampiri ibunya setelah memberikan nampan berisi makanan itu kepada Valyria. Dia bersembunyi dibelakang kaki Sang Ibu dengan malu-malu. “Bobby memang pemalu,'' ucap Tasya Sinclair kepada Valyria.
“Aku akan makan nanti, Tarra ingin tidur.” Tarra berucap sembari menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
Valyria mengangguk sambil meletakkan nampan itu diatas nakas meja .“Kalau begitu, aku akan keluar dulu ya,'' Valyria. Dia tahu Tarra sedang ingin sendiri. Valyria pun beranjak keluar dari kamar Tarra bersama dengan Tasya dan Bobby.
Tasya memerhatikan raut wajah Valyria yang kaku. ''Valyria ya, Tarra banyak cerita soalmu ... Pelukis Berbakat itu.''
“Kenapa susah sekali,” celetuk Valyria yang kesulitan mengaitkan gaunnya.Tiba-tiba sebuah tangan lebar mengaitkan setiap kancing dipunggung mulus Valyria. Tangan itu juga menyentuh bahu telanjang Valyria kemudian membelainya. Valyria menoleh mendapati Sang Suami dengan setelan jas formal yang membungkus badan kekarnya. Valyria memalingkan pandangannya.“Se-sekarang, kenapa kau memandangi terus? Memangnya ada yang salah denganku?” tanya Valyria sembari membalikkan tubuhnya untuk menatp Frederitch. “Kau cantik Val,” ucap Frederitch memuji Valyri.Pria yang menawan itu memuji dirinya. Tak pernah Valyria sangka-sangka jika jiplakan karakter dari sebuah Dongeng keluar dari buku fantasi kemudian menjadi suaminya sendiri. Valyria terdiam sejenak, ia teringat jika sejak dahulu hidup sebatang kara dan tak pernah menduga akan Bersama seseorang yang sudi menerimanya.“Maafkan aku Frederitch, aku hanyalah aku, aku tak punya apapun yang terbaik untukmu,” ucap Valyria bergumam.Frederitch langsun
“Frederitch, aku berencana akan memberi nama anak kita Elarion Silene Raymond, bagaimana menurutmu?” tanya Valyria.“Bagus, aku setuju, itu nama yang indah.” Frederitch menyahut sembari menciumi puncak kepala Valyria. "Kenapa nama indah itu muncul dibenakmu?" Valyria terdiam sejenak karena teringat dengan mimpinya. "Seseorang bernama Tyche mengatakan Silene jadi kupikir itu nama yang bagus," ucap Valyria. Frederitch tersenyum kecil. "Kau tahu? jaman dahulu kala, Crave Rose sangat memuja Dewi Tyche sebagai dukungan dari kemenangan, perubahan nasib dan kebahagiaan kurasa aku senang jika kau menerima berkahnya," ucap Frederitch lembut. "Memilikimu dan Elarion saja sudah amat beruntung bagiku," celetuk Valyria. Frederitch mengangguk. “Kau memang keajaiban, sekarang kemari Ela, biarkan ibumu istirahat,” ucap Frederitch sembari mengambil alih bayi itu dari gendongan Valyria karena sudah kenyang meminum susu. “Panacea akan kemari untuk membantumu, Val, istirahatlah dengan baik.” Frederit
"Bagaimana Valyria?" tanya Frederitch yang mendatangi kamar persalinan itu. Sudah sepuluh jam usai melahirkan bayi tampan bermata violet dan berambut pirang emas tapi Valyria belum sadarkan diri.Tabib menggeleng. "Yang mulia kehilangan banyak sekali darah, sekarang kita hanya bisa menanti kepulihannya saja yang mulia," jawab Tabib."Valyria," panggil Frederitch yang mendatangi ranjang Valyria. Dia menggengam tangan istrinya itu dengan erat. "Kumohon bangun, kau ingin berjumpa dengan Putra kita bukan?" Frederitch mencium punggung tangan Valyria.Dia takut jika Valyria meninggalkannya."Yang mulia, pangeran mahkota menangis terus menerus," ucap Panacea yang datang sembari menggendong bayi kecil yang indah itu.Bayi sehat bermata violet yang berkaca-kaca, hidungnya memerah dan pipi gempalnya turut memerah juga. Rambut Pirang Emas yang tumbuh lebat dan halus. "Huwaaaa..." Tangis bayi itu semakin menjadi. Dia hanya kelaparan menunggu susu dari Sang Ibu yang tak kunjung sadar itu.Frederit
Umur menjadi rahasia dari takdir itu sendiri. Sudah delapan bulan lamanya sejak Valyria dan Frederitch kembali ke Crave Rose untuk menata kembali Kerajaan yang dikenal tak pernah menatap mentari itu jadi kerajaan paling hangat dan makmur. Enam bulan lamanya Valyria gunakan untuk mendampingi kekasihnya, Raja Frederitch memperbaiki tatanan dunia. Valyria membuat Crave Rose dan Dust Bones jadi kedua kerajaan paling besar itu saling bersahabat serja menjalin kerja sama pembersihan wabah yang dikembangkan oleh pengobatan yang Valyria buat. Meski ada yang berbeda saat mereka kembali. Valyria pemilik Altarare kebal terhadap perjalanan waktu sehingga tubuhnya sama saja begitu pula dengan Frederitch yang baru menemukan tubuh manusianya, sementara Raja Alphonse sudah berusia 40 tahun sementara Viscount Rovana juga berusia tak beda jauh. Valyria menyesali hal ini namun mereka tidak sama sekali, Valyria pagi ini sedang menikmati jalan santainya di kebun mawar dibelakang halaman istana Crave Ros
Kini Valyria sedang kembali ke rumah lamanya pada dini hari. Rumah Megah itu dikelilingi bunga-bunga tulip, baru saja kemarin terjadi insiden mengerikan di Rumah Ini namun Valyria harus kembali untuk mengemasi beberapa hal. Ia beranjak masuk ke dalam rumah didampingi Sang Suami, Frederitch. "Kemarin aku baru saja menembak Paman dan Bibi, mereka menyerangku," ucap Valyria."Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Frederitch cemas. Ia lebih khawatir dengan kondisi Valyria. Valyria menggeleng pelan. "Aku langsung ditangkap oleh Liriel setelah bertarung dengan Lyn, sayangnya Lyn mengorbankan dirinya demi aku jadi seharusnya dihalaman belakang pun rusak oleh ledakan," ucap Valyria pilu, trauma dan sedih jadi satu. Frederitch mengangguk sembari memegang tangan Valyria, ia menelisik ke seluruh penjuru ruang tamu, Rumah Megah ini malah tampak baik-baik saja tanpa ada sisa pertikaian. "Kita mungkin harus ke halaman belakang rumah," ajak Frederitch memegang tangan Valyria. Rumah Keluarga Kinaru ini
"Aku tak mungkin bisa membereskan semua masalah yang Liriel perbuat," ucap Valyria pada Albert yang sedang duduk termangun menemani Liriel yang masih belum siuman itu. Ruangan perawatan di Fasilitas ini seperti Rumah Sakit Private, semuanya tertata rapih, bau antiseptik yang menyengat dan warna putih jadi latarnya. Valyria sebenarnya hendak pergi usai memastikan semua orang di Fasilitas ini terbangun dari pengaruhnya. "Kupikir hanya kau yang bisa diajak kerja sama," ucap Valyria lagi sembari duduk disebuah bangku tepat disamping Albert. Pria itu hanya menghela napas berat dan panjang seolah mengeluarkan beban beratnya juga disana. Ia menoleh menatap Valyria kemudian mengangguk setuju. "Sulit untuk percaya hal ini tapi kau benar-benar mirip dengan Liriel tapi sikapmu terkadang mengingatkanku dengan diriku di masa muda Nona," ucap Albert. "Tentu saja, aku tahu ini aneh tapi kita memang terhubung dalam sebuah keluarga," sahut Valyria yang sudah tahu semuanya. Sebenarnya Albert dan Li
“Ayo kita cari bangku di dalam, kita tak boleh gagal mengawasi mereka,” ajak William sembari meraih pergelangan tangan Panacea. “Tunggu Viscount Rovana, sesuatu tampak tidak wajar.” Panacea menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam sebuah Gedung. Panacea memandangi sekitarnya kemudian men
“Val, jangan keluar dari kamar ini, okay?” Frederitch mengecup puncak kepala Valyria sambil mengusap perut ratanya.“Apa yang terjadi?”“Ah, tidak, bukan apapun hanya tamu yang tak diundang.” Fredericth langsung bergegas keluar dari kamar usai berucap dengan tegas. “Tunggu aku, okay?” Fredericth ma
“Benar sekali, aku dan Fred akan menemui Liriel kemudian kalian berdua sebaiknya mengawasi gerak gerik Alphonse,” ucap Valyria.“Bagaimana caranya?” tanya Panacea.“Oh di dunia ini Alphonse adalah Richard, dia dosen dikampusku, untuk melihat Kuliah Tamu yang akan diadakan mala mini di Gedung Audito
"Harlan, mau kemana?" tanya Liriel pada Harlan yang membawa kopernya. Harlan terdiam sejenak, sikapnya pada Liriel jadi dingin beberapa hari ini usai mengetahui kedekatan Liriel dengan teman lamanya, Albert. "Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak, jaga dirimu dan anak kita nanti aku akan sesekal







