Partager

Chapter 07 : Unjuk Bakat

last update Date de publication: 2025-11-28 01:18:24

Kedua mata violet berkedip-kedip lucu, wajah penasaran dengan bibir ranum yang terbuka. Dia masih tak percaya. “Woah~Paris! Paris!” jerit Valyria takjub.

Valyria baru sampai di Paris. Seharusnya mereka menuju Amsterdam hari ini namun Tarra meminta untuk menenangkan diri di Paris terlebih dahulu, jadi disini mereka sekarang menghantarkan Tarra ke kediaman kerabatnya yang ada di Paris. Kemudian siangnya, Valyria bersama tantenya Tarra itu akan menuju ke Amsterdam.

“Untung saja ini liburan semester, jadi tante bisa membawa kalian berdua," ujar sang tante sambil menggendong anaknya, Bobby yang tampak masih mengantuk itu.

“Iya Tante, Tarra titip Valyria ya. Good luck, Valyria.”

Gadis yang mengenakan jilbab cokelat muda itu tersenyum sekenanya, dia masih tampak lesu dengan dukanya. Valyria memeluk dirinya itu. Ia tersenyum melihat Valyria yang tersenyum sumringah.

"Aku berangkat dulu ya Tarra!” Valyria berseru, baru kali ini dia tersenyum amat manis bahkan bersemangat pula. Valyria memaklumi, jika tingkah Tarra masih berduka.

“Setelah ini apakah kita bisa kembali menemui Tarra. Tante?” tanya Valyria tak canggung lagi dengan ibu satu anak itu, karena Tante Tasya sendiri begitu baik dan ramah.

“Iya dong Val. Besok atau lusa kita ke Paris lagi menjemput Tarra, nah... Chaterine titip Tarra ya?”Ujar tante Tasya kepada wanita paruh baya itu.

Tak berlama-lama, tante Tasya memberhentikan Taxi seraya menerima telepon. Mereka akan menuju bandara saat ini pula, Valyria yang tampak memasukkan lukisannya kedalam bagasi taxi kemudian menawarkan diri untuk menggendong Bobby karena Valyria melihat tante Tasya tampak repot dengan teleponnya itu.

“Bobby, digendong dengan kak Valyria saja ya.” Valyria berucap sambil merentangkan kedua tangannya, dengan suka hati menyambut Bobby.

“Ah tolong ya Val.” Tannte Tasya berucap sambil memberikan Bobby yang tertidur itu kepada Valyria.

Bagi Valyria, gadis manis dengan sifat baik hati yang tersembunyi. Jika sudah percaya dengan seseorang dia akan dengan senang hati membantu, biarpun sebenarnya Valyria masih memikirkan keadaan sahabatnya Tarra yang masih terpukul dengan kepergian ibunya.

Bobby yang ada didekapan Valyria sempat bergerak tak nyaman. “Mama?”

Valyria saat ini duduk di bangku ruang tunggu karenaTante Tasya sedang memeriksa bawaan mereka di bandara ini. Tampak paham, Valyria yang masih menggendong Bobby mulai tersenyum lembut. “Mamamu pergi ke sana sebenar, memeriksa barang. Bobby tidur lagi saja ya?” bujuk Valyria. Awalnya takut kalau Bobby sampai menangis mencari ibunya tapi ternyata Bobby mengangguk kecil dan tidur kembali dalam dekapan Valyria. Hal itu membuat Valyria terkekeh kecil.

Menunggu tante Tasya, tampaknya sudah beberapa belas menit berlalu. Valyria menatap lalu lalang orang dari bandara Charles de Gaulle. Mereka datang dan pergi dengan tujuan penerbangan masing-masing, kesibukan itu menjadi pemandangan menarik untuk Valyria.

“Kunci dan buku yang menarik, Nona!”

“Huh?!” Valyria langsung menoleh, dia melihat seorang pria muda yang duduk disebelahnya. Dia tampak sedang membaca koran. Mengenakan kacamata hitam dengan balutan jas yang tampak mahal itu, Oh dari penampilannya saja Valyria sudah tahu orang ini cukup ‘berada’ baginya.

"Execuse me, Pardon?” tanya Valyria. pasalnya dia mengerti dengan ucapan pria muda ini. Valyria pun tampak was-was karena buku dan kunci itu masih berada dalam tas selempang yang dikenakannya saat ini. Jika itu maksudnya, Valyria sudah mulai curiga dengan pria tak dikenal ini.

Alih-alih menjawab, pria muda itu malah beranjak berdiri dengan memasang senyum manisnya. “Ugh, bagiku itu mengerikkan.” Valyria membatin seraya mengeryitkan sebelah alisnya. Dia nampak heran sekaligus ketakutan.

“Val! Ayo kita berangkat sekarang!”

Valyria mendengar Tante Tasya yang memanggil mereka saat itu juga. Valyria pun buru-buru beranjak pergi sambil menggendong Bobby dalam dekapannya. Sungguh, Valyria merasa sangat risih dengan pria asing itu.

Amsterdam, kota di Belanda. Mungkin ini bukan pertama kalinya Valyria kemari, Valyria ini memiliki ibu yang berasal dari negeri tulip ini. Dulu, pernah sewaktu kecil berkunjung dikampung halaman sang ibu di Den Haag tapi Amsterdam juga bukan hal baru untuknya. Valyria tahu, hanya tak begitu mengingat wilayah ini. Sudah bertahun-tahun lamanya tak kemari, pasti merasa sedikit lupa bukan?

“Val. Mau menginap di rumah Tante atau menginap di hotel?”

Valyria merasa tak enakan, ia merasa merepotkan tante Tasya. “Hm,Valyria pesan hotel saja nanti tante.”

Tante Tasya ingin memaksa gadis manis ini untuk bersamanya. Tapi tampaknya Valyria juga menikmati kota. ini. “Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi Tante ya?” celetuk ibu dengan anak satu itu.

Valyria mengulum senyuman, jiwanya menyukai kebebasan. Dia tak akan keberatan mengekplorasi Amsterdam sendirian. “Dear kak Darly ... maaf Val gunakan sebagian uangnya sedikit.” Valyria bergumam dalam batinnya. Ada rasa penyesalan, tapi biarlah. Sang kakak tak akan keberatan tampaknya. Valyria berpikir seperti itu.

Tahu acara formalnya orang elit bukan? Iya, yang tak hanya berasal dari kalangan bangsawan tapi juga orang-orang penting dalam acara pelelangan lukisan ini. Valyria menjadi gugup, bahkan sudah sejam lebih dia hanya kebingungan didalam kamar hotel yang dipesannya ini. Sebagai seorang wanita muda, mengenakan gaun adalah keharusan sementara satu-satunya gaun yang Valyria bawa hanya gaun mendiam ibunya yang berwarna hijau tua itu.

“Engh." Valyria berdiri dengan gugup, menatap setiap orang yang berlalu lalang dengan gaun-gaun indahnya. Surai hitam panjangnya dibiarkan tergerai,wajah manis yang mengenakan riasan tipis dan gaun hijau tua yang begitu pas pada tubuhnya.

Acara malam ini sudah setengah berjalan, mulai dari pembukaan dan serangkaian acara lainnya. Valyria yang tak begitu paham, dia hanya berdiri diujung ruangan sambil mengamati setiap orang yang hadir. Oh, tante Tasya kemana? Wanita itu tampak sibuk menyapa tamu yang berdatangan, atau sekedar mengarahkan orang-orang penting itu. Valyria memaklumi. “Pasti tante Tasya cukup sibuk.” Valyria berucap sendiri sambil juga memperhatikan wanita bergaun merah itu.

Kegugupan seorang Valyria semakin meningkat saat beberapa wanita mengamati lukisannya yang tengah dipajang. Valyria tahu, lukisannya beruntung untuk berjejer bersama karya ternama lainnya. Mungkin jauh dari kata sempurna, indera pendengar Valyria mulai menangkap bisik-bisik beberapa wanita itu.

Valyria menatap melalui tempatnya berdiri mulai memasang raut wajah murung, kedua tangannya turut dikepal. “Ternyata ... memang tak layak ya?” Valyria hanya bergumam pelan. Sampai pandangannya ditundukkan menatap karpet merah tempatnya berpijak.

Sampai kemudian ...

“Besar juga nyali kalian mengomentari Lukisan cantik ini!"

“Oh Nona, kami hanya mengomentari. Lagipula dari penampilanmu itu kami tahu hanya dari kalangan orang biasa.”

“Tahu apa nona ini soal seni?”

“Bahkan tak seperti bangsawan yang harus diundang kemari, Haha."

“Setidaknya, Pelukis itu mampu menghasilkan sebuah karya dari tangannya. Kalian pun belum tentu dapat melakukannya. Tch, apakah manusia sudah kehilangan empatinya terhadap sesama.”

Wajah Valyria langsung menanggah, dia mendengar suara seorang wanita yang sudi membelanya itu. Valyria langsung berlari-lari kecil, didapatkannya seorang wanita cantik dengan menggenakan gaun putih panjang. Valyria tahu wanita itu tengah dalam keadaan hamil, namun pancaran kecantikannya benar-benar indah. Disaat semua mungkin berpendapat berbeda, wanita berhati lembut itu membela lukisannya.

Valyria berjalan mendekati wanita itu. “Nona!" jerit Valyria memanggilnya. “Terima kasih, pembelaan anda atas lukisan saya yang tak seberapa ini.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 113.1 END : Bersulang Kedamaian

    “Kenapa susah sekali,” celetuk Valyria yang kesulitan mengaitkan gaunnya.Tiba-tiba sebuah tangan lebar mengaitkan setiap kancing dipunggung mulus Valyria. Tangan itu juga menyentuh bahu telanjang Valyria kemudian membelainya. Valyria menoleh mendapati Sang Suami dengan setelan jas formal yang membungkus badan kekarnya. Valyria memalingkan pandangannya.“Se-sekarang, kenapa kau memandangi terus? Memangnya ada yang salah denganku?” tanya Valyria sembari membalikkan tubuhnya untuk menatp Frederitch. “Kau cantik Val,” ucap Frederitch memuji Valyri.Pria yang menawan itu memuji dirinya. Tak pernah Valyria sangka-sangka jika jiplakan karakter dari sebuah Dongeng keluar dari buku fantasi kemudian menjadi suaminya sendiri. Valyria terdiam sejenak, ia teringat jika sejak dahulu hidup sebatang kara dan tak pernah menduga akan Bersama seseorang yang sudi menerimanya.“Maafkan aku Frederitch, aku hanyalah aku, aku tak punya apapun yang terbaik untukmu,” ucap Valyria bergumam.Frederitch langsun

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 113 : Elarion Silene Raymond

    “Frederitch, aku berencana akan memberi nama anak kita Elarion Silene Raymond, bagaimana menurutmu?” tanya Valyria.“Bagus, aku setuju, itu nama yang indah.” Frederitch menyahut sembari menciumi puncak kepala Valyria. "Kenapa nama indah itu muncul dibenakmu?" Valyria terdiam sejenak karena teringat dengan mimpinya. "Seseorang bernama Tyche mengatakan Silene jadi kupikir itu nama yang bagus," ucap Valyria. Frederitch tersenyum kecil. "Kau tahu? jaman dahulu kala, Crave Rose sangat memuja Dewi Tyche sebagai dukungan dari kemenangan, perubahan nasib dan kebahagiaan kurasa aku senang jika kau menerima berkahnya," ucap Frederitch lembut. "Memilikimu dan Elarion saja sudah amat beruntung bagiku," celetuk Valyria. Frederitch mengangguk. “Kau memang keajaiban, sekarang kemari Ela, biarkan ibumu istirahat,” ucap Frederitch sembari mengambil alih bayi itu dari gendongan Valyria karena sudah kenyang meminum susu. “Panacea akan kemari untuk membantumu, Val, istirahatlah dengan baik.” Frederit

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 112: Sang Pemintal Emas

    "Bagaimana Valyria?" tanya Frederitch yang mendatangi kamar persalinan itu. Sudah sepuluh jam usai melahirkan bayi tampan bermata violet dan berambut pirang emas tapi Valyria belum sadarkan diri.Tabib menggeleng. "Yang mulia kehilangan banyak sekali darah, sekarang kita hanya bisa menanti kepulihannya saja yang mulia," jawab Tabib."Valyria," panggil Frederitch yang mendatangi ranjang Valyria. Dia menggengam tangan istrinya itu dengan erat. "Kumohon bangun, kau ingin berjumpa dengan Putra kita bukan?" Frederitch mencium punggung tangan Valyria.Dia takut jika Valyria meninggalkannya."Yang mulia, pangeran mahkota menangis terus menerus," ucap Panacea yang datang sembari menggendong bayi kecil yang indah itu.Bayi sehat bermata violet yang berkaca-kaca, hidungnya memerah dan pipi gempalnya turut memerah juga. Rambut Pirang Emas yang tumbuh lebat dan halus. "Huwaaaa..." Tangis bayi itu semakin menjadi. Dia hanya kelaparan menunggu susu dari Sang Ibu yang tak kunjung sadar itu.Frederit

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 111: Manis Stawberry

    Umur menjadi rahasia dari takdir itu sendiri. Sudah delapan bulan lamanya sejak Valyria dan Frederitch kembali ke Crave Rose untuk menata kembali Kerajaan yang dikenal tak pernah menatap mentari itu jadi kerajaan paling hangat dan makmur. Enam bulan lamanya Valyria gunakan untuk mendampingi kekasihnya, Raja Frederitch memperbaiki tatanan dunia. Valyria membuat Crave Rose dan Dust Bones jadi kedua kerajaan paling besar itu saling bersahabat serja menjalin kerja sama pembersihan wabah yang dikembangkan oleh pengobatan yang Valyria buat. Meski ada yang berbeda saat mereka kembali. Valyria pemilik Altarare kebal terhadap perjalanan waktu sehingga tubuhnya sama saja begitu pula dengan Frederitch yang baru menemukan tubuh manusianya, sementara Raja Alphonse sudah berusia 40 tahun sementara Viscount Rovana juga berusia tak beda jauh. Valyria menyesali hal ini namun mereka tidak sama sekali, Valyria pagi ini sedang menikmati jalan santainya di kebun mawar dibelakang halaman istana Crave Ros

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 110: Altarare dan Inersia

    Kini Valyria sedang kembali ke rumah lamanya pada dini hari. Rumah Megah itu dikelilingi bunga-bunga tulip, baru saja kemarin terjadi insiden mengerikan di Rumah Ini namun Valyria harus kembali untuk mengemasi beberapa hal. Ia beranjak masuk ke dalam rumah didampingi Sang Suami, Frederitch. "Kemarin aku baru saja menembak Paman dan Bibi, mereka menyerangku," ucap Valyria."Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Frederitch cemas. Ia lebih khawatir dengan kondisi Valyria. Valyria menggeleng pelan. "Aku langsung ditangkap oleh Liriel setelah bertarung dengan Lyn, sayangnya Lyn mengorbankan dirinya demi aku jadi seharusnya dihalaman belakang pun rusak oleh ledakan," ucap Valyria pilu, trauma dan sedih jadi satu. Frederitch mengangguk sembari memegang tangan Valyria, ia menelisik ke seluruh penjuru ruang tamu, Rumah Megah ini malah tampak baik-baik saja tanpa ada sisa pertikaian. "Kita mungkin harus ke halaman belakang rumah," ajak Frederitch memegang tangan Valyria. Rumah Keluarga Kinaru ini

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 109 : Kabut Pagi, Tak Perlu Abadi

    "Aku tak mungkin bisa membereskan semua masalah yang Liriel perbuat," ucap Valyria pada Albert yang sedang duduk termangun menemani Liriel yang masih belum siuman itu. Ruangan perawatan di Fasilitas ini seperti Rumah Sakit Private, semuanya tertata rapih, bau antiseptik yang menyengat dan warna putih jadi latarnya. Valyria sebenarnya hendak pergi usai memastikan semua orang di Fasilitas ini terbangun dari pengaruhnya. "Kupikir hanya kau yang bisa diajak kerja sama," ucap Valyria lagi sembari duduk disebuah bangku tepat disamping Albert. Pria itu hanya menghela napas berat dan panjang seolah mengeluarkan beban beratnya juga disana. Ia menoleh menatap Valyria kemudian mengangguk setuju. "Sulit untuk percaya hal ini tapi kau benar-benar mirip dengan Liriel tapi sikapmu terkadang mengingatkanku dengan diriku di masa muda Nona," ucap Albert. "Tentu saja, aku tahu ini aneh tapi kita memang terhubung dalam sebuah keluarga," sahut Valyria yang sudah tahu semuanya. Sebenarnya Albert dan Li

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 06 : Hidup Punya Kisah Sendiri (Done)

    Sebenarnya, ini pertama kalinya Valyria bertemu keluarga besar Tarra. Selama ini jika Valyria berkunjung ke rumah Tarra, dia hanya bertemu ayah dan ibunya. Maka dari itu Valyria menjadi canggung .“N-namaku Valyria Soga Kinaru, tante Tasya,” ucap Valyria yang menuruni tangga dari lantai dua kamar Ta

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 05 : Ragamu dan Jiwaku

    “Ya Tuhan, aku tak sanggup semua ini benar-benar menjijikkan," ujar Valyria sambil menghela napas. Setelah itu Valyria berjalan melalui koridor gedung universitasnya. Dia berjalan dengan tenang dengan raut wajah yang tenang pula, biarpun kepalanya terasa pening akibat kurang tidur. Sepasang mata Vi

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 04: Pecahan Misteri

    Tok...tok...tokSuara ketukan pintu terdengar nyaris keseluruh rumah kontrakan sederhananya ini. “Engh, siapa?” sayup-sayup Gadis itu melenguh, meregangkan tubuhnya. Mengucek-ucek matanya yang masih kantuk, ketika sadar hari sudah malam. Tampak dari jendela yang lupa ditutupnya itu.“Hoam~ aku ke

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 03: Kabar Kematiannya

    Kabar mengenai kematian kakak laki-lakinya itu baru ia terima pagi ini, tepat pada pukul tujuh pagi. Dari sebuah ponsel genggam yang dipegangnya, dia hanya bisa bergetar dengan kedua mata membelalak namun air mata dari pelupuk matanya hampir jatuh. Mengairi, wajah manis yang sembab. Namanya Valyria

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status