LOGINSudah lima hari Valyria berada di kamar perawatan dengan keadaan bosan. Satu-satunya hiburan Valyria hanyalah ponsel genggamnya dan beberapa buku yang sempat dibawakan oleh Frederitch tapi sudah dua hari ini Si Pria Pirang itu tampak absen mengunjunginya. Kondisi Valyria sudah lebih baik. Tubuhnya tak terasa lemas lagi dan nafsu makannya juga kembali normal. Valyria yang semula hanya setengah duduk di ranjang kasur langsung terkejut mendapati kedatangan Tarra dengan gaun hitamnya. "Maaf Valyria aku baru bisa menjengukmu," ucap Tarra sambil menghampiri Valyria. Valyria gelagapan gugup. Ia memang sengaja tidak mengabari Tarra tapi kehadiran Tarra tampaknya ulah dari Frederitch. "A-aku baik-baik saja cuman kelelahan," sahut Valyria gugup. "Kau tak perlu sungkan, aku tahu dari Fred jika saat ini kau sedang mengandung bayinya, aku turut senang lho!" Tarra memeluk Valyria dengan penuh suka cita setelah itu menatap Valyria. "Mengingat dirimu yang tertutup wajar saja kalian menjalani hubu
"Selagi kondisimu belum stabil aku yang akan bertanggung jawab," putus Frederitch. Valyria memandangi Si Pria Pirang itu. Dia seakan-akan hendak mengucapkan kata-kata lain namun Frederitch langsung menghela napas dan beranjak pergi dari Ruang Perawatan. Ia tinggalkan Valyria yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Valyria menunduk menatap kedua tangannya yang mengurus. Tetes demi tetes air mata jatuh. Ia menangis dengan perasaan haru dan duka yang bersamaan. "Ternyata, selama ini cinta yang kami rasakan nyata, keberadaanmu dalam tubuhku itu nyata," ucap Valyria sembari mengusap perutnya yang masih datar itu. Valyria beranjak berdiri dengan susah payah. Ia berjalan sembari mendorong tiang infus untuk menuju jendela kamar perawatan kemudian membuka jendela itu lebar-lebar. Ia menikmati angin malam yang berhembus masuk membelai permukaan kulitnya kemudian menatap bulan purnama yang terang temaram. "Aku tak bisa tinggal diam, aku juga harus melakukan sesuatu." Valyria berucap
"Selamat Malam Ibu, Saya Valyria, temannya Tarra," ucap Valyria sembari meraih handuk dari Frederitch. Frederitch membiarkan Valyria masuk sambil memberikan kunci kamar. "Silahkan berganti pakaian dan istirahat, jika perlu apapun Ibu Ira ada di kamar bawah dekat dapur, dia akan siap menyediakan apapun untukmu," ucap Frederitch."O-okay." Valyria mengangguk setelah itu diapun beranjak pergi ke kamar. Usai membersihkan diri Valyria sempat melihat bayangannya di cermin terutama tanda mawar pada tubuhnya. Valyria menghela napas cukup panjang jika ini adalah tanda pengikat dirinya dan Frederitch dari Crave Rose yang masih berlaku. Valyria mencoba memanggil Frederitch menggunakan telepati seperti yang dahulu sering ia lakukan namun tidak ada sesuatu yang terjadi. Valyria pun memakai baju tidur yang disediakan dalam lemari ini. Meski kaos oblognya kebesaran dan celana pendeknya pun agak kebesaran. Valyria membaringkan dirinya sembari menghela napas cukup panjang. Semua hal yang ia lalui te
"Liriel! Oh, kau berada disini juga," ucap Pria itu.Liriel menerjabkan kedua matanya dan memandang Pria itu dengan ketakutan. "Al-albert," ucap Liriel."Hi Love, Liriel, terakhir kita bertemu 8 bulan lalu," ucap Albert kemudian terdiam saat memandangi perut Liriel. Pria itu menatap heran sosok Harlan yang juga duduk disebelah Liriel. "Siapa Pria ini?" tanya Albert."Seharusnya itu pertanyaanku!" bentak Harlan. Albert langsung menarik kerah baju Harlan. "Hey, jaga bicaramu Bung!" sergah Albert tak mau kalah. Liriel langsung ketakutan sehingga badannya bergetar melihat kedua Pria yang sama-sama ia cintai itu bertengkar karenanya, suasana jadi ribut dan belum lagi Staff Restoran berhamburan menghampiri mereka untuk melerai pertengkaran itu. Seketika Liriel melirik Valyria yang duduk diseberangnya, pandangan Valyria tajam, gelagatnya tenang dan ia sempat tersenyum kecil pada Liriel. "B-bagaimana kau bisa tahu semuanya?" tanya Liriel gemetar. Valyria beranjak berdiri dari bangku itu.
"Namaku Valyria Soga Kinar, Anda pasti Nona Liriel bukan?" tanya Valyria.Liriel terkejut dan termangun menatap kehadiran Valyria. Ia langsung meraih tangan Valyria. "Sangat cantik, Anda lebih elegan," ucap Liriel."Oh bukan itu yang kumaksud Nona Liriel, apakah Anda tahu siapa aku?" tanya Valyria tanpa basa-basi.Liriel terdiam memandangi Valyria. Sosok Gadis muda yang memiliki karakter yang kuat, sekilas Liriel seolah melihat sosok Valyria sebagai Valerin Grayii didepannya. Seorang Pemuda berparas indah yang dingin. Liriel segera menggeleng pelan kala Sang Suami membelai pundaknya. "Nona Valyria, bersabarlah ... Istriku sedang hamil," ucap Harlan dengan cemas sembari membelai perut bundarnya Liriel. Valyria langsung mengulum senyuman. Ia segera menduduki kursi yang ada dihadapan pasangan suami istri ini. "Maafkan aku," ucap Valyria setelah itu memanggil pelayan dan mulai memesan makanannya. Valyria tersenyum menatap kehangan pasangan suami istri ini karena ia teringat akan hubunga
Frederitch tersenyum dan mengabaikan jari kelingking itu lalu mengecup pipi manis milik Valyria. “Ingin kau apakan jari kelingking itu?” kekeh Frederitch.“Aku ingin membuatmu berjanji untuk tidak meninggalkan kami," ucap Valyria.Rasa bahagia menyelimuti perasaannya dan Frederitch memeluk gadis itu dengan erat. “Tanpa kau minta aku pasti akan melindungi kalian, aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian.” Frederitch berucap sembari meraih tangan Valyria dan mengecup keduanya dengan lembut."Jadi kau masih ingat ya?" celetuk Valyria."Tidak bisa kujelaskan, kurasa apapun dirimu akan kuterima," sahut Frederitch dengan senyum lebarnya. Valyria memilih jalan perlahan untuk hubungannya dengan Frederitch dari dunianya ini. Valyria memaklumi Frederitch yang hanya memiliki seberkas kecil ingatannya meski Valyria penasaran atas apa yang sudah terjadi. Beberapa orang dari dunia itu ada juga didunia ini tanpa ingatan tentang dirinya, walau hanya perasa dan melalui mimpi."Sebenarnya siapa aku
Ellis memengang wajah Mario yang sekarat. “Mario... Kau selama ini bersamaku?” Isak Ellis.Mario tersenyum dengan bibir bersimbah darahnya, luka pada dada Mario sudah pendarahan dengan deras. Mustahil ia selamat dengan waktu yang kecil ini.“K-kami menunggumu, Tuan Baik Hati,'' ucap kecil dari Mari
“Maafkan aku," ucap Frederitch mengecup bekas gigitan di telapak tangan Ellis. Frederitch melihat luka bekas gigitannya yang tidak kunjung hilang dengan cepat seperti sebelumnya. “Benar, dia belum ingat seutuhnya,” batin Frederitch.Tok ... Tok ...“T-Tuan Muda, sarapan sudah siap!" teriak suara Pa
Sejak mulai dari malam hingga menjelang pagi. Bunyi suara dari dapur sebuah penginapan terdengar sibuk, mulai dari denting panci dan spatula. Kedua tangan ramping berkulit putih mulus itu tampaklah sibuk, sementara Sang empunya tangan memasang raut datar dengan kedua mata yang jelas-jelas sembab.“
“Kalau begitu, selamat malam Ellis, kau boleh pergi.”“A-apa?! Yang Mulia Tunggu!” cegah Ellis ketika Alphonse membukakan kereta kuda untuknya.Ellis langsung keluar dari kereta dengan tatapan tak percaya. Ia sudah tiba di penginapan Wood Remington. Ellis segera menuruni kereta tapi masih sempat me







