تسجيل الدخول"Anda pasienku, Nona Valyria Soga Kinaru, meski wajah Anda sangat familiar." Dokter itu menjawab. "Maafkan aku Dokter Will, Valyria dalam masa sulit," sahut Tarra tak nyaman sambil meraih pergelangan tangan Valyria. "Ayo, aku antar kembali ke kamarmu," ajak Tarra. "Wajahku bukan kebetulan kau kenal Dokter," ucap Valyria.Sang Dokter tertegun mendengar ucapan Valyria, ia sempat menatap kedua mata kenari Valyria yang menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Dokter itu menghela napas kemudian berjalan menuju koridor rumah sakit. Ia meraih ponsel genggamnya kemudian menelpon seseorang. "Direktur sudah tiada, ketahuilah posisimu yang penting untuk Rumah Sakit ini jadi besok kami akan mulai mengadakan rapat, kau harus hadir Frederitch," ucap Dokter William pada ponselnya. "Aku tahu itu, jadi bagaimana keadaan permaisuriku saat ini Will?" Dokter William menghela napas sejenak. "Frederitch, keadaannya lebih stabil, kenapa kau baru bilang jika sudah menikah?" "Keadaannya sulit untuk
Sudah lima hari Valyria berada di kamar perawatan dengan keadaan bosan. Satu-satunya hiburan Valyria hanyalah ponsel genggamnya dan beberapa buku yang sempat dibawakan oleh Frederitch tapi sudah dua hari ini Si Pria Pirang itu tampak absen mengunjunginya. Kondisi Valyria sudah lebih baik. Tubuhnya tak terasa lemas lagi dan nafsu makannya juga kembali normal. Valyria yang semula hanya setengah duduk di ranjang kasur langsung terkejut mendapati kedatangan Tarra dengan gaun hitamnya. "Maaf Valyria aku baru bisa menjengukmu," ucap Tarra sambil menghampiri Valyria. Valyria gelagapan gugup. Ia memang sengaja tidak mengabari Tarra tapi kehadiran Tarra tampaknya ulah dari Frederitch. "A-aku baik-baik saja cuman kelelahan," sahut Valyria gugup. "Kau tak perlu sungkan, aku tahu dari Fred jika saat ini kau sedang mengandung bayinya, aku turut senang lho!" Tarra memeluk Valyria dengan penuh suka cita setelah itu menatap Valyria. "Mengingat dirimu yang tertutup wajar saja kalian menjalani hubu
"Selagi kondisimu belum stabil aku yang akan bertanggung jawab," putus Frederitch. Valyria memandangi Si Pria Pirang itu. Dia seakan-akan hendak mengucapkan kata-kata lain namun Frederitch langsung menghela napas dan beranjak pergi dari Ruang Perawatan. Ia tinggalkan Valyria yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Valyria menunduk menatap kedua tangannya yang mengurus. Tetes demi tetes air mata jatuh. Ia menangis dengan perasaan haru dan duka yang bersamaan. "Ternyata, selama ini cinta yang kami rasakan nyata, keberadaanmu dalam tubuhku itu nyata," ucap Valyria sembari mengusap perutnya yang masih datar itu. Valyria beranjak berdiri dengan susah payah. Ia berjalan sembari mendorong tiang infus untuk menuju jendela kamar perawatan kemudian membuka jendela itu lebar-lebar. Ia menikmati angin malam yang berhembus masuk membelai permukaan kulitnya kemudian menatap bulan purnama yang terang temaram. "Aku tak bisa tinggal diam, aku juga harus melakukan sesuatu." Valyria berucap
"Selamat Malam Ibu, Saya Valyria, temannya Tarra," ucap Valyria sembari meraih handuk dari Frederitch. Frederitch membiarkan Valyria masuk sambil memberikan kunci kamar. "Silahkan berganti pakaian dan istirahat, jika perlu apapun Ibu Ira ada di kamar bawah dekat dapur, dia akan siap menyediakan apapun untukmu," ucap Frederitch."O-okay." Valyria mengangguk setelah itu diapun beranjak pergi ke kamar. Usai membersihkan diri Valyria sempat melihat bayangannya di cermin terutama tanda mawar pada tubuhnya. Valyria menghela napas cukup panjang jika ini adalah tanda pengikat dirinya dan Frederitch dari Crave Rose yang masih berlaku. Valyria mencoba memanggil Frederitch menggunakan telepati seperti yang dahulu sering ia lakukan namun tidak ada sesuatu yang terjadi. Valyria pun memakai baju tidur yang disediakan dalam lemari ini. Meski kaos oblognya kebesaran dan celana pendeknya pun agak kebesaran. Valyria membaringkan dirinya sembari menghela napas cukup panjang. Semua hal yang ia lalui te
"Liriel! Oh, kau berada disini juga," ucap Pria itu.Liriel menerjabkan kedua matanya dan memandang Pria itu dengan ketakutan. "Al-albert," ucap Liriel."Hi Love, Liriel, terakhir kita bertemu 8 bulan lalu," ucap Albert kemudian terdiam saat memandangi perut Liriel. Pria itu menatap heran sosok Harlan yang juga duduk disebelah Liriel. "Siapa Pria ini?" tanya Albert."Seharusnya itu pertanyaanku!" bentak Harlan. Albert langsung menarik kerah baju Harlan. "Hey, jaga bicaramu Bung!" sergah Albert tak mau kalah. Liriel langsung ketakutan sehingga badannya bergetar melihat kedua Pria yang sama-sama ia cintai itu bertengkar karenanya, suasana jadi ribut dan belum lagi Staff Restoran berhamburan menghampiri mereka untuk melerai pertengkaran itu. Seketika Liriel melirik Valyria yang duduk diseberangnya, pandangan Valyria tajam, gelagatnya tenang dan ia sempat tersenyum kecil pada Liriel. "B-bagaimana kau bisa tahu semuanya?" tanya Liriel gemetar. Valyria beranjak berdiri dari bangku itu.
"Namaku Valyria Soga Kinar, Anda pasti Nona Liriel bukan?" tanya Valyria.Liriel terkejut dan termangun menatap kehadiran Valyria. Ia langsung meraih tangan Valyria. "Sangat cantik, Anda lebih elegan," ucap Liriel."Oh bukan itu yang kumaksud Nona Liriel, apakah Anda tahu siapa aku?" tanya Valyria tanpa basa-basi.Liriel terdiam memandangi Valyria. Sosok Gadis muda yang memiliki karakter yang kuat, sekilas Liriel seolah melihat sosok Valyria sebagai Valerin Grayii didepannya. Seorang Pemuda berparas indah yang dingin. Liriel segera menggeleng pelan kala Sang Suami membelai pundaknya. "Nona Valyria, bersabarlah ... Istriku sedang hamil," ucap Harlan dengan cemas sembari membelai perut bundarnya Liriel. Valyria langsung mengulum senyuman. Ia segera menduduki kursi yang ada dihadapan pasangan suami istri ini. "Maafkan aku," ucap Valyria setelah itu memanggil pelayan dan mulai memesan makanannya. Valyria tersenyum menatap kehangan pasangan suami istri ini karena ia teringat akan hubunga
Wanita itu menghela napas. “Permaisuri jatuh sakit, karena mereka semua baru tahu mengenai kehamilan kedua permaisuri," ujar penasehat Louisa.Kedua lutut Ellis mendadak lemas, perasaan perihnya sampai menusuk dada. “B-baik penasehat Louisa.” Ellis berusaha tegar, pada kedua mata yang kapan saja bi
Auguste dan Angelise kini berjalan dikoridor istana, keduanya sama-sama terdiam usai terkejut bertemu dengan sosok yang mirip dengan Valerin Grayii. Sampai Auguste sontak berucap sendiri. “Apa-apaan wajah itu? Jelas mirip dengan buronan kita,” celetuk Angelise.Aguste yang berjalan disamping Angeli
“Kurasa, aku Valerin Grayii itu.” Ellis berucap dengan asal tapi sebenarnya dia hanya bercanda, sekaligus ingin melihat raut wajah Sang Raja. Sebenarnya, Ellis jengah mendengarnya.Kedua iris hijau sang Alphonse melebar, binar cerah seolah menemukan harsa rasanya. Segera ia mendeham. “Ellis, kau be
“Tuan Lyn Sander, Earl mendatangi kediaman Hortensiaburg.”“K-kau bercanda? Ellis tak mungkin mendatangi tempat itu, semua ingatannya sudah hilang.”“Benar Tuan, itulah yang terjadi, dia mendatangi tempat itu atas perintah Yang Mulia”“Tak bisa dibiarkan, apa maksud Yang Mulia melakukannya?!”Wajah







