Mag-log inDiana menatap lantai.
“Ya ampun.” Bukannya panik, ekspresi Diana justru semakin kesal. “Kamu ini benar-benar menyusahkan.” Marcus menghela napas. “Benar-benar merepotkan.” Elara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak bermaksud…” Elara kembali meringis. Rasa sakit datang bertubi-tubi. Tubuhnya semakin lemah. “Kami baru saja pulang,” kata Diana. “Kami sangat lelah.” Richard mengusap wajahnya. “Kamu tahu kami juga ingin beristirahat?” “Kenapa harus sekarang?” keluh Diana. Elara menahan tangis. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin mereka bisa berbicara seperti itu ketika ia bahkan hampir tidak mampu berdiri? “Marcus.” Diana akhirnya menatap putranya. “Bawa dia ke rumah sakit.” Marcus mengerutkan kening. “Kenapa aku?” “Karena dia istrimu.” “Aku juga lelah.” “Bawa saja dulu ke rumah sakit.” Diana mengibaskan tangannya. “Setelah itu kamu bisa pulang. Di sana ada dokter dan perawat.” Marcus menghela napas panjang. “Baiklah.” Ia berjalan mendekati Elara. Namun, sebelum sempat menyentuhnya, tubuh Elara kembali kehilangan keseimbangan. “Marcus…” Tangannya meraih udara kosong. Marcus segera menangkap tubuhnya. Elara hampir jatuh ke lantai. “Kakiku…” Suaranya bergetar. “Aku tidak kuat berdiri.” Marcus akhirnya membungkuk dan mengangkat tubuh Elara. Elara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Marcus. Tubuhnya terasa sangat ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang sedang mengandung sembilan bulan. Marcus membawanya keluar rumah. Ia memasukkan Elara ke kursi belakang mobil. Setelah memastikan tubuhnya tidak terguling, Marcus menutup pintu. Beberapa detik kemudian, mesin mobil menyala. Mobil melaju meninggalkan rumah. ***** Jalanan malam relatif sepi. Namun, Marcus mengemudi terlalu cepat. Elara yang berbaring di kursi belakang beberapa kali terhentak ketika mobil melewati jalan yang tidak rata. “Hati-hati…” Suaranya nyaris tidak terdengar. Marcus tidak menjawab. “Marcus…” Elara memejamkan mata. “Aku pusing.” Tangannya menggenggam sisi kursi. Tubuhnya terasa semakin lemas. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam. Namun, rasa sakit kembali datang. “Aah…” Air mata mengalir dari sudut matanya. “Bayiku…” Elara mengusap perutnya. “Bertahanlah, Sayang…” Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya sedang berbicara kepada bayinya atau sedang meyakinkan dirinya sendiri. Pandangan Elara mulai kabur. Langit-langit mobil terasa berputar. Suara mesin terdengar semakin jauh. Ia takut. Sangat takut. Namun, tidak ada satu pun tangan yang menggenggam tangannya. Tidak ada seseorang yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Elara berusaha membuka matanya. “Aku… tidak mau…” Suaranya semakin pelan. “Aku tidak mau kehilangan bayiku…” Tidak ada jawaban. Marcus tetap menatap jalan di depannya. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Marcus segera keluar. Ia membuka pintu belakang. “Elara.” Tidak ada jawaban. Wajah Elara pucat. Matanya hanya terbuka sedikit. Marcus mengerutkan kening. “Bangun.” Elara bergerak lemah. “Bayiku…” Marcus segera mengangkat tubuhnya. Begitu masuk ke lobi, seorang perawat yang berjaga langsung menyadari kondisi Elara. Perawat segera memanggil bantuan. Sebuah brankar didorong mendekat. Marcus menurunkan Elara ke atasnya. Begitu tubuh Elara berbaring, beberapa perawat langsung bergerak cepat. “Bu, bisa mendengar saya?” Elara membuka mata sedikit. “Bisa…” “Bagus. Tetap buka mata Anda.” Brankar segera didorong menuju unit persalinan dan penilaian maternitas. Mereka tidak membawanya ke IGD umum karena Elara sudah cukup bulan, mengalami kontraksi, dan ketubannya telah pecah. Namun, karena kondisinya sangat lemah, tim medis segera melakukan penilaian dan stabilisasi tanpa menunda. “Tekanan darah rendah.” “Pasang infus.” “Monitor janin sekarang.” “Siapkan pemeriksaan darah.” Beberapa perawat bergerak cepat. Infus dipasang pada tangan Elara. Monitor ditempelkan pada perutnya untuk memantau detak jantung bayi dan kontraksi. Seorang perawat mengambil sampel darah. “Bu, coba tetap sadar.” Elara mengangguk lemah. “Bayiku…” “Kami sedang memeriksa bayinya.” Tak lama kemudian, dokter kandungan datang. Ia memeriksa kondisi Elara dan melihat hasil monitor. Ekspresinya berubah serius. “Berapa usia kehamilannya?” “Sekitar 39 minggu, Dok.” “Ketuban pecah?” “Ya.” Dokter kembali memperhatikan monitor. Detak jantung janin tidak menunjukkan pola yang meyakinkan. “Terus pantau.” Dokter kemudian memeriksa kondisi Elara. “Pasien sangat lemah dan tampak mengalami dehidrasi. Bagaimana hasil darah awalnya?” “Sedang diproses, Dok.” “Baik.” Dokter kembali melihat monitor. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas. “Detak jantung janin masih mengkhawatirkan.” Elara yang mendengar itu langsung membuka matanya. “Dokter…” Suaranya sangat lemah. “Bayiku…” Dokter mendekat. “Kami sedang berusaha memastikan Anda dan bayi tetap aman.” Elara menggenggam selimut. “Apakah… bayiku baik-baik saja?” “Kondisinya sedang kami pantau dengan ketat.” Dokter kemudian berbicara kepada tim. “Dengan kondisi ibu yang sangat lemah dan pemantauan denyut jantung janin yang mengkhawatirkan, kita tidak boleh menunggu terlalu lama.” Dokter menatap Elara. “Kami menyarankan operasi Caesar segera.” Elara terdiam. “Caesar…?” “Ya.” “Kami perlu melahirkan bayi Anda secepat mungkin karena kondisi bayi tidak cukup meyakinkan untuk menunggu persalinan berlangsung lebih lama.” Air mata Elara mengalir. “Selamatkan bayi saya…” “Kami akan melakukan yang terbaik.” Perawat segera mempersiapkan Elara untuk operasi. Sementara itu, dokter menjelaskan prosedur dan risiko kepada Marcus. “Tuan, kami membutuhkan persetujuan untuk melakukan operasi Caesar segera.” Marcus menerima dokumen yang diberikan perawat. Ia membaca sekilas. “Berapa lama?” “Biasanya sekitar satu jam, tetapi waktunya bergantung pada kondisi ibu dan bayi.” Marcus terdiam. Ia kembali menatap pintu ruang operasi. Kemudian menandatangani formulir persetujuan. “Baik.” Perawat menerima kembali dokumen tersebut. “Terima kasih, Tuan.” Elara masih berbaring di atas brankar. Tubuhnya semakin lemah. Sebelum dibawa masuk ke ruang operasi, pandangannya mencari seseorang. Marcus. Ia menemukan pria itu berdiri tidak jauh darinya. “Marcus…” Pria itu menoleh. “Jangan…” Elara mencoba mengangkat tangannya. Namun, tangannya hanya mampu terangkat sedikit sebelum jatuh kembali ke atas selimut. “Tolong jangan pergi.” Untuk beberapa detik, Marcus hanya menatapnya. Wajahnya tetap dingin. “Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan.” Mata Elara langsung berkaca-kaca. Brankar mulai bergerak. “Marcus…” Pintu menuju ruang operasi semakin dekat. “Jangan tinggalkan aku…” Namun, Marcus tidak mengikuti. Pintu ruang operasi tertutup. Elara akhirnya menghilang dari pandangannya. Marcus berdiri di lorong selama beberapa saat. Seorang petugas administrasi kemudian datang untuk mengurus dokumen dan biaya yang diperlukan. Marcus menyelesaikan seluruh administrasi tanpa banyak bicara. Setelah semuanya selesai, ia menatap pintu ruang operasi sekali lagi. Tidak ada niat untuk menunggu. Ia sudah mengantar Elara. Ia sudah menandatangani persetujuan operasi. Baginya, itu sudah cukup. Marcus berbalik dan berjalan meninggalkan rumah sakit. Tanpa menunggu kelahiran anaknya. Tanpa menunggu apakah Elara selamat dari operasi. Sementara itu, di balik pintu ruang operasi... Elara terbaring sendirian. Lampu operasi menyinari wajahnya yang pucat. Tangannya menggenggam ujung selimut. “Sayang…” Suaranya hampir tidak terdengar. “Mommy di sini…” Matanya perlahan terpejam. Di luar, pintu ruang operasi tetap tertutup.Keesokan paginya, seorang perawat datang bersamaan dengan petugas rumah sakit yang membawa sarapan.Namun, Elara tidak ada di tempat tidurnya.Yang ada hanya bayinya yang sedang tertidur pulas di dalam tempat tidur bayi transparan.Petugas rumah sakit meletakkan nampan sarapan di atas nakas.Sementara itu, perawat langsung menghampiri bayi Elara untuk mengecek kondisinya.Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.Elara keluar.Ia menutup pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu berjalan sedikit demi sedikit menuju tempat tidurnya.Perawat menoleh kepadanya.“Bagaimana keadaan Anda pagi ini?”“Jauh lebih baik. Hanya masih terasa nyeri.”Elara kemudian duduk di tepi tempat tidur sebelum perlahan menaikkan kedua kakinya ke atas kasur.“Itu masih wajar,” jawab perawat. “Anda baru tiga hari menjalani operasi Caesar. Rasa nyeri atau tidak nyaman bisa bertahan selama beberapa minggu dan biasanya akan berangsur-angsur berkurang.”Elara mengangguk.Ia kemudian berbaring, sementara pera
Sudah dua hari Elara berada di rumah sakit.Dan selama dua hari itu pula, tidak ada satu pun anggota keluarga Ellington yang datang untuk melihat keadaannya ataupun putrinya.Tidak ada Diana.Tidak ada Richard.Bahkan Marcus pun tidak kembali.Satu-satunya orang yang datang hanyalah Mona, Sarah, dan beberapa pelayan lainnya.Mona bahkan datang lagi malam tadi setelah selesai bekerja. Ia membawa makanan untuk Elara dan memastikan perempuan itu memiliki sesuatu yang layak untuk dimakan.Elara tidak pernah berharap mereka datang untuk dirinya.Namun, setidaknya ada darah daging keluarga Ellington yang berhasil lahir dengan selamat.Meski bukan cucu laki-laki yang selama ini mereka harapkan.Elara tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari rumah sakit.Ia tidak tahu bagaimana keluarga Ellington akan memperlakukannya.Ia juga tidak tahu apakah Marcus akan membiarkannya tetap tinggal di rumah itu bersama putrinya.Yang Elara tahu, tiga hari terakhir memberinya sedikit waktu unt
Setelah kondisi Elara dinilai cukup stabil, ia dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan pascapersalinan.Kamar itu tenang dan tidak terlalu besar.Sebuah ranjang rumah sakit berada di tengah ruangan.Di sampingnya terdapat meja kecil dan kursi.Sebuah tempat tidur bayi transparan diletakkan di dekat ranjang Elara.Tidak ada kemewahan seperti kamar besar di rumah keluarga Ellington.Namun, anehnya, kamar sederhana itu terasa jauh lebih nyaman.Karena kali ini, Elara tidak sendirian.Putrinya ada di sana.Seorang perawat membantu mengatur posisi tubuh Elara.“Perutmu mungkin masih terasa cukup sakit setelah operasi,” jelasnya. “Kami akan memberikan obat pereda nyeri secara teratur.”Elara mengangguk.Setiap gerakan kecil membuat bagian bawah perutnya terasa nyeri.Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana dirinya akan turun dari tempat tidur.“Untuk sementara, kamu masih perlu beristirahat,” lanjut sang perawat. “Kami akan membantumu ketika sudah waktunya untuk bangun.”El
Cahaya terang dari lampu ruang operasi terasa menyilaukan. Elara nyaris tidak mampu membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu berat. Suara-suara di sekelilingnya terdengar samar, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. “Tekanan darah masih rendah.” “Infus tetap berjalan.” “Detak jantung janin kembali menurun.” “Baik. Kita lanjutkan.” Elara berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia ingin bertanya. Ia ingin memastikan bayinya baik-baik saja. Namun, tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekadar berbicara. Seorang dokter anestesi berdiri di dekat kepalanya. “Elara, kami akan memberikan anestesi agar Anda tidak merasakan proses operasi.” Elara hanya mampu mengangguk lemah. Sebuah masker ditempatkan di wajahnya. “Tarik napas perlahan.” Elara mencoba mengikuti instruksi tersebut. Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. Kelopak matanya terasa semakin berat. “Bayiku…” Itulah kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya. Kemudian pandangannya perlahan menghilang. Dan
Diana menatap lantai. “Ya ampun.” Bukannya panik, ekspresi Diana justru semakin kesal. “Kamu ini benar-benar menyusahkan.” Marcus menghela napas. “Benar-benar merepotkan.” Elara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak bermaksud…” Elara kembali meringis. Rasa sakit datang bertubi-tubi. Tubuhnya semakin lemah. “Kami baru saja pulang,” kata Diana. “Kami sangat lelah.” Richard mengusap wajahnya. “Kamu tahu kami juga ingin beristirahat?” “Kenapa harus sekarang?” keluh Diana. Elara menahan tangis. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin mereka bisa berbicara seperti itu ketika ia bahkan hampir tidak mampu berdiri? “Marcus.” Diana akhirnya menatap putranya. “Bawa dia ke rumah sakit.” Marcus mengerutkan kening. “Kenapa aku?” “Karena dia istrimu.” “Aku juga lelah.” “Bawa saja dulu ke rumah sakit.” Diana mengibaskan tangannya. “Setelah itu kamu bisa pulang. Di sana ada dokter dan perawat.” Marcus menghela napas panjang. “Baiklah.” Ia berjalan mendekati E
Tanpa terasa, satu setengah jam telah berlalu. Elara akhirnya menutup bukunya dan meletakkannya di kursi setelah berdiri. Ia memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal, lalu mengusap perutnya perlahan. “Maaf, Mommy duduk terlalu lama, ya?” Seolah menjawab perkataannya, bayi di dalam kandungannya bergerak kecil. Elara tersenyum. Ia mengambil buku tersebut dan berniat mencari Sarah untuk mengembalikannya. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan... Pintu utama tiba-tiba terbuka dari luar. Seorang pria dengan rambut pirang yang disisir rapi ke belakang masuk ke dalam rumah. Langkah Elara terhenti. “Kamu sudah pulang?” Pria itu adalah Marcus. Suaminya. Marcus bahkan tidak menanggapi pertanyaannya. Ia hanya berjalan melewati Elara dan langsung menuju kamarnya. Elara berdiri diam beberapa saat. Kemudian ia menghela napas pelan. Ia pikir hari ini akan kembali berjalan tenang seperti kemarin. Ternyata ia salah. Ia melupakan satu hal. Marcus bisa pulang kapan saja. Dan







