Share

Chapter 3

Author: Rimkuyn
last update publish date: 2026-09-09 12:56:06

Tanpa terasa, satu setengah jam telah berlalu.

Elara akhirnya menutup bukunya dan meletakkannya di kursi setelah berdiri.

Ia memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal, lalu mengusap perutnya perlahan.

“Maaf, Mommy duduk terlalu lama, ya?”

Seolah menjawab perkataannya, bayi di dalam kandungannya bergerak kecil.

Elara tersenyum.

Ia mengambil buku tersebut dan berniat mencari Sarah untuk mengembalikannya.

Namun, baru beberapa langkah ia berjalan...

Pintu utama tiba-tiba terbuka dari luar.

Seorang pria dengan rambut pirang yang disisir rapi ke belakang masuk ke dalam rumah.

Langkah Elara terhenti.

“Kamu sudah pulang?”

Pria itu adalah Marcus.

Suaminya.

Marcus bahkan tidak menanggapi pertanyaannya.

Ia hanya berjalan melewati Elara dan langsung menuju kamarnya.

Elara berdiri diam beberapa saat.

Kemudian ia menghela napas pelan.

Ia pikir hari ini akan kembali berjalan tenang seperti kemarin.

Ternyata ia salah.

Ia melupakan satu hal.

Marcus bisa pulang kapan saja.

Dan setiap kali pria itu berada di rumah, ketenangan yang baru saja ia rasakan seolah tidak pernah bertahan lama.

Elara melanjutkan langkahnya untuk mencari Sarah.

Saat tiba di dapur, ia melihat Mona sedang memasukkan beberapa persediaan makanan ke dalam lemari es dan lemari penyimpanan.

“Mona, kamu melihat Sarah?”

“Dia sedang ke toilet,” jawab Mona.

Mona kemudian menatap Elara.

“Ada yang Nona butuhkan?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengembalikan bukunya.”

Elara terdiam sejenak sebelum berkata,

“Marcus pulang.”

Mona langsung menyadari perubahan kecil pada ekspresi wajah Elara.

“Mungkin sebentar lagi Tuan pergi lagi,” katanya, berusaha menenangkan.

“Aku akan bertanya apakah dia sudah sarapan atau belum," ucap Elara.

“Tidak perlu, Nona. Biar saya saja.”

Mona segera mencegahnya.

“Lebih baik Nona kembali ke kamar.”

Mona tidak ingin terjadi keributan di pagi hari.

Ia juga tidak ingin Elara kembali menerima kata-kata kasar dari Marcus.

Pria itu selalu mudah tersulut emosi setiap kali melihat Elara.

Padahal Elara tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Bahkan ketika bertanya, ia selalu melakukannya dengan suara pelan dan sikap hati-hati.

Namun, entah mengapa, kehadiran Elara saja seolah sudah cukup untuk membuat Marcus merasa terganggu.

Mona akhirnya berjalan menuju kamar Marcus.

Ia mengetuk pintunya.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Marcus muncul dengan pakaian yang sudah berganti.

“Tuan, apakah Anda akan sarapan di rumah?” tanya Mona sopan.

“Tidak. Aku akan pergi lagi.”

Marcus melangkah keluar dari kamarnya.

Kemudian, sebelum berjalan meninggalkan rumah, ia berkata dengan nada dingin,

“Katakan kepada wanita itu agar jangan terlalu santai. Dia tidak tinggal di sini secara gratis.”

Kata-katanya kembali terdengar tajam.

Mona menundukkan kepala.

“Baik, Tuan.”

Marcus tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia berjalan keluar dari rumah dan meninggalkan Mona yang hanya bisa berdiri diam di tempatnya.

Tidak lama kemudian, suara pintu utama kembali terdengar tertutup.

Rumah itu kembali sunyi.

Namun, kali ini ketenangan yang tersisa terasa berbeda.

*****

Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.

Rumah keluarga Ellington sudah lama tenggelam dalam keheningan.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba pecah ketika suara ketukan keras menghantam pintu utama.

Tok! Tok! Tok!

Bukan hanya sekali.

Bel rumah bahkan berbunyi berkali-kali tanpa henti.

Elara mengerjapkan matanya perlahan.

Ia baru saja tertidur.

Sejak beberapa jam terakhir, perutnya terasa sakit dan beberapa kali mengeras. Ia sempat mengira rasa tidak nyaman itu hanya bagian dari kehamilan sembilan bulannya.

Namun, rasa sakit tersebut semakin sering datang.

Dan malam ini, ia benar-benar kelelahan.

Dengan susah payah, Elara bangkit dari tempat tidur.

Tangannya langsung memegangi perutnya.

“Aduh…”

Ia menarik napas panjang, menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan kembali terdengar.

Ia berjalan perlahan keluar dari kamar.

Setiap langkah terasa berat.

Satu tangannya berpegangan pada dinding, sementara tangan lainnya terus menopang perutnya.

Begitu sampai di pintu utama, Elara membutuhkan beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya membuka kunci.

Pintu terbuka.

Dan wajah kesal Diana serta Richard langsung menyambutnya.

“Kenapa lama sekali membuka pintunya?” Diana langsung mengomel.

Elara menundukkan kepala.

“Maaf, Mom. Tadi aku ketiduran.”

“Kenapa pintunya dikunci?”

Richard terdengar tidak kalah kesal.

“Aku pikir kalian tidak jadi pulang,” jawab Elara pelan. “Sudah hampir tengah malam.”

Malam itu memang hanya ada Elara seorang diri di rumah.

Para pelayan telah pulang sejak pukul tujuh malam.

Tidak ada siapa pun yang bisa membantunya.

Elara menarik napas.

“Tadi aku ketiduran karena perutku sakit.”

“Alasan saja.”

Diana mendengus.

Richard kemudian menunjuk sebuah tas yang tergeletak di dekat kakinya.

“Bawa tas itu ke ruang cuci.”

Elara menatap tas tersebut.

Kemudian ia menatap Richard.

“Dad…”

“Apa?”

“Perutku sakit sekali. Sepertinya aku tidak kuat membawanya.”

Richard mengernyit.

“Itu hanya tas kecil.”

“Isinya juga tidak banyak,” sambung Diana.

“Jangan manja hanya karena sedang hamil.”

Elara menggigit bibirnya.

“Sungguh, Mom. Perutku sangat sakit sejak tadi.”

Tangannya mengepal.

Jari-jarinya mencengkeram ujung gaun tidur yang dikenakannya.

Kemudian...

Rasa sakit itu datang lagi.

Lebih kuat.

Jauh lebih kuat dari sebelumnya.

“Aah…”

Tubuh Elara membungkuk.

Napasnya tercekat.

Wajahnya seketika memucat.

Diana hanya memandangnya.

“Jangan mulai lagi.”

Namun sebelum Elara sempat menjawab, suara sebuah mobil terdengar dari luar.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.

Pintu mobil terbuka.

Memperlihatkan Marcus yang keluar dari mobil.

Diana langsung menoleh.

“Kamu baru pulang?” tanyanya saat Marcus sudah ada di dekat mereka.

Marcus hanya menggumam.

“Hm.”

Elara mengangkat wajahnya.

Matanya langsung tertuju kepada suaminya.

Marcus terlihat berantakan.

Rambut pirangnya tidak lagi tertata rapi. Kemejanya kusut, lengan bajunya sedikit tergulung, dan dasinya bahkan tidak terpasang dengan benar.

Namun, sesuatu di lehernya membuat Elara terdiam sesaat.

Ada bekas kemerahan samar di sana.

Ia bahkan tidak sempat memikirkannya.

“Aah!”

Rasa sakit kembali menghantam.

Kali ini membuat kedua lututnya hampir menyerah.

Elara memegangi perutnya.

“Mom…”

Suaranya gemetar.

“Tolong…”

Diana menghela napas kesal.

“Ada apa lagi?”

“Perutku…”

Elara menarik napas dengan susah payah.

“Sakit sekali.”

Marcus berdiri beberapa langkah darinya.

Tidak bertanya.

Tidak membantu.

Elara menatapnya.

“Marcus…”

Pria itu hanya menatapnya sekilas.

Kemudian pandangannya beralih.

“S-sepertinya…”

Elara kesulitan bernapas.

“Aku akan melahirkan.”

Tidak ada yang menjawab.

Kemudian Elara merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari tubuhnya.

Matanya membelalak.

Cairan mulai merembes melalui gaun tidurnya dan menetes ke lantai.

Elara menatap ke bawah dengan tubuh gemetar.

“Ketubanku…”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

“Ketubanku pecah…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 23

    Pagi datang perlahan di kediaman Beaumont.Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar bayi, jatuh di lantai dan beberapa bagian tempat tidur.Elara sudah terbangun sejak beberapa menit lalu.Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggendong Ivy yang baru saja selesai menyusu. Bayi kecil itu tampak tenang, sesekali menggerakkan bibirnya sebelum akhirnya kembali memejamkan mata.Elara tersenyum kecil.“Sudah kenyang?”Ivy hanya mengeluarkan suara kecil.Elara mengusap pipinya dengan lembut.Di tempat tidur sebelah, Noah juga mulai bergerak.Elara segera menoleh.“Sepertinya kamu juga sudah bangun.”Ia meletakkan Ivy dengan hati-hati, kemudian menghampiri Noah.Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Elara adalah memeriksa popoknya.Ternyata popok Noah sudah penuh.Elara mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan di meja kecil, lalu mengganti popok bayi itu.Setelah selesai, ia menggendong Noah.“Sekarang giliran kamu.”Noah mulai mencari-cari dengan mulutnya.Elara tersenyum

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 22

    Tengah malam, Elara terbangun.Ia rupanya tertidur di kamar bayi setelah menyusui Ivy. Matanya masih terasa berat ketika ia menguceknya beberapa kali.Namun, rasa haus membuatnya benar-benar terbangun.Elara menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur.Gelas miliknya sudah kosong.“Ah... haus sekali,” gumamnya pelan.Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, mengambil gelasnya, lalu berjalan keluar kamar.Elara menuruni tangga dengan langkah perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Rumah Beaumont begitu tenang pada tengah malam. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar samar di sepanjang lorong.Sesampainya di dapur, Elara meletakkan gelas di atas meja marmer.Ia kemudian membuka lemari pendingin untuk mencari air.Namun, matanya justru tertuju pada sebuah kotak brownies yang berada di dalamnya.“Ada brownies. Tapi punya siapa, ya?” gumam Elara.Perutnya tiba-tiba berbunyi.Elara terdiam.Ia menatap brownies itu beberapa saat.Sejujurnya, ia memang lapar.Namun, tangannya yang

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 21

    Ivy kini bisa menempati kamar Noah. Dua tempat tidur bayi sudah tersedia di dalam kamar itu, dengan warna yang berbeda. Satu berwarna putih, sementara yang lainnya berwarna merah muda.Elara sebenarnya merasa tidak enak hati. Ia sempat ingin menolak, tetapi Maggie sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak menolak dan mematuhi perintah yang diberikan.Selain dua tempat tidur bayi, di dalam kamar itu juga terdapat sebuah tempat tidur yang cukup besar untuk dirinya beristirahat.Elara membawa Ivy ke tempat tidurnya, lalu membaringkan Noah di tempat tidurnya sendiri.Setelah memastikan kedua bayi itu nyaman, Elara berjalan menuju lemari pakaian.Bahkan lemari pakaian untuk kedua bayi itu pun dibuat terpisah.Elara membuka lemari berwarna merah muda. Matanya langsung membesar saat melihat isinya.Di dalamnya terdapat begitu banyak pakaian bayi perempuan dengan berbagai macam warna. Beberapa di antaranya memiliki motif bunga kecil, sementara yang lainnya berwarna lembut dan terlihat be

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 20

    Pagi itu, setelah sarapan, Elara membawa Noah dan Ivy ke taman belakang mansion.Kedua bayi ditempatkan di stroller masing-masing. Salah seorang pelayan bernama Emma ikut menemani mereka dan mendorong stroller Noah, sementara Elara membawa stroller Ivy.Udara pagi terasa cukup sejuk.Matahari bersinar hangat, membuat suasana taman terasa nyaman untuk kedua bayi.Adrian sendiri sudah berangkat bekerja ketika Elara masih menyusui Noah. Karena itu, hingga pagi itu Elara masih belum bertemu langsung dengan pemilik mansion tersebut.Elara tidak terlalu mempermasalahkannya.Untuk sementara, ia justru menikmati waktunya sebagai pengasuh sekaligus ibu susu Noah.Ia juga tidak pernah melupakan Ivy.Sesekali Elara memeriksa keadaan putrinya, memastikan Ivy tetap nyaman di dalam stroller.Sambil berjalan santai mengelilingi taman, Elara berbincang dengan Emma.Emma juga sesekali menjelaskan beberapa bagian mansion yang belum sempat ditunjukkan Maggie kepadanya.“Kalau taman belakang ini biasanya

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 19

    Kini Elara sedang beristirahat di kamar yang disediakan untuknya.Kamar itu berada di lantai dua, tepat bersebelahan dengan kamar Noah. Sementara di seberang kamar Noah terdapat kamar milik Adrian Beaumont, sang pemilik mansion.Sebelum masuk ke kamarnya, Elara sempat melihat kamar Adrian yang tadi ditunjukkan oleh Maggie.Pintu kamar itu selalu tertutup.Maggie mengatakan bahwa setelah Adrian berangkat bekerja, kamar tersebut biasanya dikunci. Hanya Maggie yang diperbolehkan masuk setiap hari untuk membersihkan dan merapikannya.Elara tidak terlalu memikirkannya.Baginya, kamar itu bukan sesuatu yang perlu ia ketahui lebih jauh.Saat ini yang terpenting adalah dirinya dan Ivy.Noah sedang tertidur di kamarnya, begitu pula Ivy yang sudah tertidur pulas setelah kenyang menyusu.Elara sendiri sudah makan siang sebelum Maggie mengajaknya berkeliling mansion dan menunjukkan beberapa bagian rumah yang perlu ia ketahui.Kini, ketika kedua bayi sedang tertidur, Elara akhirnya memiliki waktu

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 18

    Maggie kembali sambil mendorong stroller Noah yang sedang tertidur pulas.Begitu melihatnya, Elara otomatis bangkit dari duduknya.Maggie mendekatkan stroller tersebut agar Elara bisa melihat wajah bayi itu dengan lebih jelas.“Namanya Noah Alexander Beaumont,” ucap Maggie.“Dia baru saja tertidur setelah diberi susu formula. Tapi sebentar lagi mungkin akan bangun.”Elara memperhatikan wajah kecil Noah yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.“Apa tidurnya selalu tidak nyenyak?” tanya Elara.“Karena dia hanya minum susu sedikit, dia sering merasa lapar dan akhirnya mudah terbangun,” jawab Maggie.Kemudian Maggie menatap Elara.“Kamu pasti sudah tahu beberapa hal tentang Tuan Muda Noah dari Freya, kan?”Elara mengangguk.“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan ibu susu yang cocok untuknya. Tapi tidak ada yang benar-benar cocok, dan tidak ada yang bertahan lama.”“Yang paling lama hanya bertahan satu hari. Setelah itu, Tuan Muda Noah justru sakit,” lanjut Maggie.“M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status