Share

Chapter 5

Author: Rimkuyn
last update publish date: 2026-09-10 22:10:55

Cahaya terang dari lampu ruang operasi terasa menyilaukan.

Elara nyaris tidak mampu membuka matanya.

Tubuhnya terasa begitu berat. Suara-suara di sekelilingnya terdengar samar, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.

“Tekanan darah masih rendah.”

“Infus tetap berjalan.”

“Detak jantung janin kembali menurun.”

“Baik. Kita lanjutkan.”

Elara berusaha mempertahankan kesadarannya.

Ia ingin bertanya.

Ia ingin memastikan bayinya baik-baik saja.

Namun, tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekadar berbicara.

Seorang dokter anestesi berdiri di dekat kepalanya.

“Elara, kami akan memberikan anestesi agar Anda tidak merasakan proses operasi.”

Elara hanya mampu mengangguk lemah.

Sebuah masker ditempatkan di wajahnya.

“Tarik napas perlahan.”

Elara mencoba mengikuti instruksi tersebut.

Satu tarikan napas.

Dua tarikan napas.

Kelopak matanya terasa semakin berat.

“Bayiku…”

Itulah kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya.

Kemudian pandangannya perlahan menghilang.

Dan semuanya menjadi gelap.

*****

Di dalam ruang operasi, tim medis bergerak cepat.

Waktu sangat berharga.

Operasi Caesar segera dimulai.

Dokter kandungan dan timnya bekerja dengan hati-hati untuk melahirkan bayi secepat mungkin, sementara tim anestesi terus memantau kondisi Elara.

Beberapa menit kemudian...

Tangisan bayi terdengar memenuhi ruang operasi.

Seorang bayi perempuan telah lahir.

“Bayi perempuan.”

Tim neonatal segera menerima bayi tersebut.

Bayi itu menangis dan bernapas sendiri.

Namun, karena sebelumnya terdapat pola detak jantung janin yang mengkhawatirkan dan kondisi ibunya cukup lemah, tim neonatal tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

“Denyut jantung bagus.”

“Napas spontan.”

“Suhunya baik.”

“Terus pantau.”

Bayi itu dikeringkan dan dibungkus dengan selimut hangat.

Gelang identitas dipasang pada pergelangan kakinya.

Berat badannya kemudian ditimbang.

“Dua koma tujuh kilogram.”

Dokter memeriksa kembali kondisi bayi.

“Tidak ada tanda yang membutuhkan perawatan intensif saat ini. Tetap observasi.”

Bayi itu kembali mengeluarkan tangisan kecil.

Namun, ibunya tidak mendengarnya.

Elara masih tertidur di bawah pengaruh anestesi.

*****

Beberapa waktu kemudian, operasi selesai.

Dokter memastikan perdarahan Elara terkendali sebelum menutup luka operasinya.

Setelah prosedur selesai, Elara dipindahkan ke ruang pemulihan.

Tubuhnya masih sepenuhnya berada dalam pengaruh anestesi.

Sebuah infus terpasang di tangannya.

Kateter masih terpasang untuk membantu mengosongkan kandung kemih selama ia belum cukup kuat untuk bangun.

Perawat terus memantau tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, kadar oksigen, dan kondisi luka operasinya.

“Tekanan darah mulai membaik.”

“Bagaimana perdarahannya?”

“Masih dalam batas yang diharapkan.”

“Baik. Terus pantau.”

Beberapa waktu berlalu.

Kelopak mata Elara akhirnya bergerak.

Ia mengerjapkannya perlahan.

Pandangan pertama yang dilihatnya terasa buram.

Langit-langit putih.

Lampu.

Suara alat medis.

Elara mencoba mengingat apa yang terjadi.

Rumah.

Rasa sakit.

Mobil.

Rumah sakit.

Ruang operasi.

Matanya langsung terbuka sedikit lebih lebar.

“Bayiku…”

Suaranya serak dan sangat lemah.

Seorang perawat segera mendekat.

“Tenang. Anda baru saja selesai menjalani operasi.”

Elara mencoba menggerakkan tubuhnya.

Rasa nyeri langsung terasa di bagian bawah perut.

Ia meringis.

“Jangan bergerak terlalu banyak dulu,” ujar perawat.

Elara menelan ludah.

“Bayiku…”

Pertanyaan itu kembali keluar.

“Di mana bayiku?”

Perawat tersenyum lembut.

“Bayi Anda lahir dengan selamat.”

Mata Elara langsung berkaca-kaca.

“Selamat?”

“Ya.”

Elara memejamkan mata sebentar.

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Putri Anda.”

Bibir Elara bergetar.

“Putri…?”

Perawat mengangguk.

“Ya. Anda memiliki bayi perempuan.”

Elara menangis dalam diam.

Seorang putri.

Bayinya selamat.

Itu saja yang ingin didengarnya.

“Apakah dia baik-baik saja?”

“Sejauh ini kondisinya stabil. Dia bernapas sendiri.”

Elara mengembuskan napas panjang.

Tubuhnya masih terasa lemah.

Namun, untuk pertama kalinya sejak rasa sakit itu dimulai, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

“Bolehkah aku melihatnya?”

“Tentu. Setelah kondisi Anda cukup stabil, kami akan membawanya kepada Anda.”

Elara mengangguk lemah.

*****

Tidak lama kemudian, seorang perawat datang membawa bayi kecil yang telah dibungkus selimut.

Elara masih berada di ruang pemulihan.

Tubuhnya terasa berat dan pikirannya masih sedikit berkabut akibat anestesi.

Namun, begitu melihat bayi itu, matanya langsung tertuju kepadanya.

Bayi tersebut diletakkan dengan hati-hati di dekatnya.

Elara menatap wajah mungil itu.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam.

Wajah kecil.

Hidung mungil.

Tangan kecil yang tersembunyi di balik selimut.

Putrinya.

Benar-benar putrinya.

“Dia…”

Suara Elara bergetar.

“Dia cantik.”

Perawat tersenyum.

“Beratnya 2,7 kilogram. Pemeriksaan awalnya baik.”

Elara menatap bayinya tanpa berkedip.

“Apakah dia sakit?”

“Tidak. Kami memang mengawasinya lebih ketat karena kondisi persalinan tadi, tetapi sejauh ini tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.”

Elara mengulurkan tangan dengan gerakan lambat.

Jarinya masih gemetar.

Perawat membantu mendekatkan tangan mungil bayi itu kepadanya.

Jari kecil tersebut bergerak dan menyentuh ujung jarinya.

Air mata Elara kembali jatuh.

“Hai, Sayang…”

Suaranya hampir seperti bisikan.

“Mommy di sini.”

Bayi itu bergerak kecil.

Elara tersenyum di antara air matanya.

Ia telah melewati begitu banyak hal demi bayi ini.

Semua kesepian.

Semua penghinaan.

Semua malam ketika ia merasa tidak diinginkan.

Untuk saat ini, semuanya tidak penting.

Bayinya selamat.

Itu sudah cukup.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 23

    Pagi datang perlahan di kediaman Beaumont.Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar bayi, jatuh di lantai dan beberapa bagian tempat tidur.Elara sudah terbangun sejak beberapa menit lalu.Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggendong Ivy yang baru saja selesai menyusu. Bayi kecil itu tampak tenang, sesekali menggerakkan bibirnya sebelum akhirnya kembali memejamkan mata.Elara tersenyum kecil.“Sudah kenyang?”Ivy hanya mengeluarkan suara kecil.Elara mengusap pipinya dengan lembut.Di tempat tidur sebelah, Noah juga mulai bergerak.Elara segera menoleh.“Sepertinya kamu juga sudah bangun.”Ia meletakkan Ivy dengan hati-hati, kemudian menghampiri Noah.Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Elara adalah memeriksa popoknya.Ternyata popok Noah sudah penuh.Elara mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan di meja kecil, lalu mengganti popok bayi itu.Setelah selesai, ia menggendong Noah.“Sekarang giliran kamu.”Noah mulai mencari-cari dengan mulutnya.Elara tersenyum

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 22

    Tengah malam, Elara terbangun.Ia rupanya tertidur di kamar bayi setelah menyusui Ivy. Matanya masih terasa berat ketika ia menguceknya beberapa kali.Namun, rasa haus membuatnya benar-benar terbangun.Elara menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur.Gelas miliknya sudah kosong.“Ah... haus sekali,” gumamnya pelan.Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, mengambil gelasnya, lalu berjalan keluar kamar.Elara menuruni tangga dengan langkah perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Rumah Beaumont begitu tenang pada tengah malam. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar samar di sepanjang lorong.Sesampainya di dapur, Elara meletakkan gelas di atas meja marmer.Ia kemudian membuka lemari pendingin untuk mencari air.Namun, matanya justru tertuju pada sebuah kotak brownies yang berada di dalamnya.“Ada brownies. Tapi punya siapa, ya?” gumam Elara.Perutnya tiba-tiba berbunyi.Elara terdiam.Ia menatap brownies itu beberapa saat.Sejujurnya, ia memang lapar.Namun, tangannya yang

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 21

    Ivy kini bisa menempati kamar Noah. Dua tempat tidur bayi sudah tersedia di dalam kamar itu, dengan warna yang berbeda. Satu berwarna putih, sementara yang lainnya berwarna merah muda.Elara sebenarnya merasa tidak enak hati. Ia sempat ingin menolak, tetapi Maggie sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak menolak dan mematuhi perintah yang diberikan.Selain dua tempat tidur bayi, di dalam kamar itu juga terdapat sebuah tempat tidur yang cukup besar untuk dirinya beristirahat.Elara membawa Ivy ke tempat tidurnya, lalu membaringkan Noah di tempat tidurnya sendiri.Setelah memastikan kedua bayi itu nyaman, Elara berjalan menuju lemari pakaian.Bahkan lemari pakaian untuk kedua bayi itu pun dibuat terpisah.Elara membuka lemari berwarna merah muda. Matanya langsung membesar saat melihat isinya.Di dalamnya terdapat begitu banyak pakaian bayi perempuan dengan berbagai macam warna. Beberapa di antaranya memiliki motif bunga kecil, sementara yang lainnya berwarna lembut dan terlihat be

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 20

    Pagi itu, setelah sarapan, Elara membawa Noah dan Ivy ke taman belakang mansion.Kedua bayi ditempatkan di stroller masing-masing. Salah seorang pelayan bernama Emma ikut menemani mereka dan mendorong stroller Noah, sementara Elara membawa stroller Ivy.Udara pagi terasa cukup sejuk.Matahari bersinar hangat, membuat suasana taman terasa nyaman untuk kedua bayi.Adrian sendiri sudah berangkat bekerja ketika Elara masih menyusui Noah. Karena itu, hingga pagi itu Elara masih belum bertemu langsung dengan pemilik mansion tersebut.Elara tidak terlalu mempermasalahkannya.Untuk sementara, ia justru menikmati waktunya sebagai pengasuh sekaligus ibu susu Noah.Ia juga tidak pernah melupakan Ivy.Sesekali Elara memeriksa keadaan putrinya, memastikan Ivy tetap nyaman di dalam stroller.Sambil berjalan santai mengelilingi taman, Elara berbincang dengan Emma.Emma juga sesekali menjelaskan beberapa bagian mansion yang belum sempat ditunjukkan Maggie kepadanya.“Kalau taman belakang ini biasanya

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 19

    Kini Elara sedang beristirahat di kamar yang disediakan untuknya.Kamar itu berada di lantai dua, tepat bersebelahan dengan kamar Noah. Sementara di seberang kamar Noah terdapat kamar milik Adrian Beaumont, sang pemilik mansion.Sebelum masuk ke kamarnya, Elara sempat melihat kamar Adrian yang tadi ditunjukkan oleh Maggie.Pintu kamar itu selalu tertutup.Maggie mengatakan bahwa setelah Adrian berangkat bekerja, kamar tersebut biasanya dikunci. Hanya Maggie yang diperbolehkan masuk setiap hari untuk membersihkan dan merapikannya.Elara tidak terlalu memikirkannya.Baginya, kamar itu bukan sesuatu yang perlu ia ketahui lebih jauh.Saat ini yang terpenting adalah dirinya dan Ivy.Noah sedang tertidur di kamarnya, begitu pula Ivy yang sudah tertidur pulas setelah kenyang menyusu.Elara sendiri sudah makan siang sebelum Maggie mengajaknya berkeliling mansion dan menunjukkan beberapa bagian rumah yang perlu ia ketahui.Kini, ketika kedua bayi sedang tertidur, Elara akhirnya memiliki waktu

  • Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!   Chapter 18

    Maggie kembali sambil mendorong stroller Noah yang sedang tertidur pulas.Begitu melihatnya, Elara otomatis bangkit dari duduknya.Maggie mendekatkan stroller tersebut agar Elara bisa melihat wajah bayi itu dengan lebih jelas.“Namanya Noah Alexander Beaumont,” ucap Maggie.“Dia baru saja tertidur setelah diberi susu formula. Tapi sebentar lagi mungkin akan bangun.”Elara memperhatikan wajah kecil Noah yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.“Apa tidurnya selalu tidak nyenyak?” tanya Elara.“Karena dia hanya minum susu sedikit, dia sering merasa lapar dan akhirnya mudah terbangun,” jawab Maggie.Kemudian Maggie menatap Elara.“Kamu pasti sudah tahu beberapa hal tentang Tuan Muda Noah dari Freya, kan?”Elara mengangguk.“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan ibu susu yang cocok untuknya. Tapi tidak ada yang benar-benar cocok, dan tidak ada yang bertahan lama.”“Yang paling lama hanya bertahan satu hari. Setelah itu, Tuan Muda Noah justru sakit,” lanjut Maggie.“M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status