Mag-log inKeesokan paginya, seorang perawat datang bersamaan dengan petugas rumah sakit yang membawa sarapan.Namun, Elara tidak ada di tempat tidurnya.Yang ada hanya bayinya yang sedang tertidur pulas di dalam tempat tidur bayi transparan.Petugas rumah sakit meletakkan nampan sarapan di atas nakas.Sementara itu, perawat langsung menghampiri bayi Elara untuk mengecek kondisinya.Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.Elara keluar.Ia menutup pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu berjalan sedikit demi sedikit menuju tempat tidurnya.Perawat menoleh kepadanya.“Bagaimana keadaan Anda pagi ini?”“Jauh lebih baik. Hanya masih terasa nyeri.”Elara kemudian duduk di tepi tempat tidur sebelum perlahan menaikkan kedua kakinya ke atas kasur.“Itu masih wajar,” jawab perawat. “Anda baru tiga hari menjalani operasi Caesar. Rasa nyeri atau tidak nyaman bisa bertahan selama beberapa minggu dan biasanya akan berangsur-angsur berkurang.”Elara mengangguk.Ia kemudian berbaring, sementara pera
Sudah dua hari Elara berada di rumah sakit.Dan selama dua hari itu pula, tidak ada satu pun anggota keluarga Ellington yang datang untuk melihat keadaannya ataupun putrinya.Tidak ada Diana.Tidak ada Richard.Bahkan Marcus pun tidak kembali.Satu-satunya orang yang datang hanyalah Mona, Sarah, dan beberapa pelayan lainnya.Mona bahkan datang lagi malam tadi setelah selesai bekerja. Ia membawa makanan untuk Elara dan memastikan perempuan itu memiliki sesuatu yang layak untuk dimakan.Elara tidak pernah berharap mereka datang untuk dirinya.Namun, setidaknya ada darah daging keluarga Ellington yang berhasil lahir dengan selamat.Meski bukan cucu laki-laki yang selama ini mereka harapkan.Elara tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari rumah sakit.Ia tidak tahu bagaimana keluarga Ellington akan memperlakukannya.Ia juga tidak tahu apakah Marcus akan membiarkannya tetap tinggal di rumah itu bersama putrinya.Yang Elara tahu, tiga hari terakhir memberinya sedikit waktu unt
Setelah kondisi Elara dinilai cukup stabil, ia dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan pascapersalinan.Kamar itu tenang dan tidak terlalu besar.Sebuah ranjang rumah sakit berada di tengah ruangan.Di sampingnya terdapat meja kecil dan kursi.Sebuah tempat tidur bayi transparan diletakkan di dekat ranjang Elara.Tidak ada kemewahan seperti kamar besar di rumah keluarga Ellington.Namun, anehnya, kamar sederhana itu terasa jauh lebih nyaman.Karena kali ini, Elara tidak sendirian.Putrinya ada di sana.Seorang perawat membantu mengatur posisi tubuh Elara.“Perutmu mungkin masih terasa cukup sakit setelah operasi,” jelasnya. “Kami akan memberikan obat pereda nyeri secara teratur.”Elara mengangguk.Setiap gerakan kecil membuat bagian bawah perutnya terasa nyeri.Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana dirinya akan turun dari tempat tidur.“Untuk sementara, kamu masih perlu beristirahat,” lanjut sang perawat. “Kami akan membantumu ketika sudah waktunya untuk bangun.”El
Cahaya terang dari lampu ruang operasi terasa menyilaukan. Elara nyaris tidak mampu membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu berat. Suara-suara di sekelilingnya terdengar samar, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. “Tekanan darah masih rendah.” “Infus tetap berjalan.” “Detak jantung janin kembali menurun.” “Baik. Kita lanjutkan.” Elara berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia ingin bertanya. Ia ingin memastikan bayinya baik-baik saja. Namun, tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekadar berbicara. Seorang dokter anestesi berdiri di dekat kepalanya. “Elara, kami akan memberikan anestesi agar Anda tidak merasakan proses operasi.” Elara hanya mampu mengangguk lemah. Sebuah masker ditempatkan di wajahnya. “Tarik napas perlahan.” Elara mencoba mengikuti instruksi tersebut. Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. Kelopak matanya terasa semakin berat. “Bayiku…” Itulah kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya. Kemudian pandangannya perlahan menghilang. Dan
Diana menatap lantai. “Ya ampun.” Bukannya panik, ekspresi Diana justru semakin kesal. “Kamu ini benar-benar menyusahkan.” Marcus menghela napas. “Benar-benar merepotkan.” Elara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak bermaksud…” Elara kembali meringis. Rasa sakit datang bertubi-tubi. Tubuhnya semakin lemah. “Kami baru saja pulang,” kata Diana. “Kami sangat lelah.” Richard mengusap wajahnya. “Kamu tahu kami juga ingin beristirahat?” “Kenapa harus sekarang?” keluh Diana. Elara menahan tangis. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin mereka bisa berbicara seperti itu ketika ia bahkan hampir tidak mampu berdiri? “Marcus.” Diana akhirnya menatap putranya. “Bawa dia ke rumah sakit.” Marcus mengerutkan kening. “Kenapa aku?” “Karena dia istrimu.” “Aku juga lelah.” “Bawa saja dulu ke rumah sakit.” Diana mengibaskan tangannya. “Setelah itu kamu bisa pulang. Di sana ada dokter dan perawat.” Marcus menghela napas panjang. “Baiklah.” Ia berjalan mendekati E
Tanpa terasa, satu setengah jam telah berlalu. Elara akhirnya menutup bukunya dan meletakkannya di kursi setelah berdiri. Ia memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal, lalu mengusap perutnya perlahan. “Maaf, Mommy duduk terlalu lama, ya?” Seolah menjawab perkataannya, bayi di dalam kandungannya bergerak kecil. Elara tersenyum. Ia mengambil buku tersebut dan berniat mencari Sarah untuk mengembalikannya. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan... Pintu utama tiba-tiba terbuka dari luar. Seorang pria dengan rambut pirang yang disisir rapi ke belakang masuk ke dalam rumah. Langkah Elara terhenti. “Kamu sudah pulang?” Pria itu adalah Marcus. Suaminya. Marcus bahkan tidak menanggapi pertanyaannya. Ia hanya berjalan melewati Elara dan langsung menuju kamarnya. Elara berdiri diam beberapa saat. Kemudian ia menghela napas pelan. Ia pikir hari ini akan kembali berjalan tenang seperti kemarin. Ternyata ia salah. Ia melupakan satu hal. Marcus bisa pulang kapan saja. Dan







