Home / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Cahaya Di Lereng Bukit

Share

Cahaya Di Lereng Bukit

Author: V.W. Anara
last update Last Updated: 2026-02-09 08:54:54

Pagi itu, lereng bukit tidak lagi tampak mengancam. Sisa-sisa badai salju beberapa hari lalu kini telah mengeras menjadi lapisan kristal putih yang berkilauan di bawah siraman matahari musim dingin yang hangat. Langit Seoul yang biasanya abu-abu kini berubah menjadi biru pudar yang bersih, seolah-olah alam semesta baru saja selesai membasuh dirinya dari segala debu dan kenangan pahit.

Sebuah mobil SUV hitam bergerak perlahan mendaki jalan setapak yang telah dibersihkan oleh traktor salju. Di da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tawaran Dari Kegelapan

    Dinding sel isolasi terasa seolah semakin menghimpit Jae-hyun. Di dalam ruangan sempit tanpa jendela itu, waktu hanyalah sebuah konsep abstrak yang ditandai oleh suara denting baki makan yang disodorkan melalui celah pintu. Tubuhnya terasa kaku, namun otaknya tetap bekerja seperti mesin yang tak pernah berhenti. Ia menghitung detak jantungnya sendiri untuk menjaga kewarasan, sambil terus mengukir skema pertahanan di lantai beton menggunakan pecahan tulang sisa makanan.Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat berhenti di depan pintunya. Bukan suara langkah penjaga yang biasanya acuh tak acuh, melainkan langkah yang lebih tertata dan penuh maksud.Pintu besi berdengking terbuka. Cahaya lampu koridor yang menyilaukan menerpa wajah Jae-hyun, memaksanya memicingkan mata. Seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas hitam tanpa lencana petugas berdiri di sana. Wajahnya datar, mempakkan raut wajah yang mudah dilupakan di keramaian."Park Jae-hyun," pria itu berbicara dengan suara y

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bisikkan Di Balik Kabut

    Kabut tebal merayap naik dari lembah, menyelimuti lereng bukit dengan selubung putih yang dingin dan lembap. Di dalam rumah kaca, suasana yang biasanya hangat dan transparan kini terasa terisolasi, seolah-olah dunia luar telah lenyap dan menyisakan mereka dalam keheningan yang mencekam. Suara tetesan embun yang jatuh dari daun-daun pinus ke atap kaca terdengar seperti ketukan jari yang tak beraturan, memicu saraf Winda yang sejak pagi tadi merasa tidak tenang.Seonwoo sedang berada di ruang kerjanya, terkunci dalam pembicaraan serius dengan tim keamanan baru yang ia sewa secara rahasia. Winda mencoba menyibukkan diri di ruang tengah, menata mainan kayu milik Ji-hoo. Namun, setiap kali ia melewati dinding kaca, ia merasa ada siluet yang bergerak di balik kkabut seperti ada sepasang mata yang mengintai dari kegelapan pepohonan.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel Winda yang tergeletak di atas meja kayu bergetar. Layarnya menampilkan "Nomor Tidak Dikenal". Winda ragu sejenak, namun rasa ingin tah

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Pelukan Di Balik Terali

    Gedung Pengadilan Distrik Seoul Pusat tampak begitu angkuh di bawah guyuran hujan sisa semalam. Di dalam Ruang Sidang 402, udara terasa mencekik. Kim Yura berdiri di belakang meja pengacara dengan tangan yang dingin dan gemetar hebat. Di seberangnya, Pengacara Kang Min-ho dari firma hukum Sin-Gwang baru saja menyelesaikan argumen penutupnya untuk sesi mediasi hari ini.Namun, Kang Min-ho tidak berhenti pada masalah hukum. Ia berbalik, menatap ke arah galeri yang dipenuhi jurnalis, lalu melemparkan senyum miring ke arah Yura."Yang Mulia," ujar Kang dengan suara yang lantang dan penuh sandiwara. "Bagaimana kita bisa mempercayai integritas sebuah yayasan medis yang diwakili oleh seorang pengacara yang memiliki hubungan... intim dengan narapidana kelas berat? Apakah Han Medical Center akan menjadi tempat pemulihan, atau sekadar mesin pencucian uang baru bagi Park Jae-hyun melalui asistennya yang setia ini?"Gumaman riuh rendah seketika memenuhi ruangan. Kilatan lampu kamera jurnalis meng

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Teror Tanpa Wajah

    Musim semi di lereng bukit seharusnya menjadi simfoni kehidupan yang menenangkan, namun pagi ini, Han Seonwoo merasakan nada sumbang yang mengusik ketenangannya. Saat fajar baru saja menyapu kabut dari permukaan lembah, menyisakan butiran embun yang berkilauan di atas atap kaca rumah mereka, Seonwoo berjalan menuju kotak surat di depan gerbang utama. Langkahnya yang mantap tiba-tiba terhenti ketika ia melihat sebuah paket berbungkus kertas cokelat kusam yang tergeletak begitu saja di atas tanah, tepat di bawah bayangan pagar besi, bukan di dalam kotak surat seperti seharusnya.Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat asal. Hanya ada inisial "W" yang ditulis dengan tinta hitam tebal yang merembes ke serat kertas, seolah ditulis dengan tekanan yang penuh amarah.Seonwoo membawa paket itu ke ruang kerjanya yang kedap suara, memastikan Winda masih sibuk menyanyikan lagu nina bobo untuk Ji-hoo di dalam kamar yang letaknya di ujung koridor. Dengan pisau kertas perak, ia membuka bungkusanny

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Bawah Semesta

    Malam di lereng bukit datang dengan keheningan yang menusuk hingga ke tulang belakang. Setelah badai emosi yang dibawa oleh kabar strategi hukum Jae-hyun dari Seoul, rumah kaca itu kini terasa seperti sebuah suaka yang terputus dari hiruk-pikuk dunia. Di luar, langit musim semi tampak begitu bersih, memamerkan jutaan bintang yang bertaburan seperti debu berlian di atas hamparan beludru hitam. Tidak ada polusi cahaya di sini, hanya ada kemurnian alam yang menjadi saksi bisu perjalanan dua jiwa yang telah menempuh ribuan mil penderitaan untuk sampai di titik ini.Di dalam kamar, Han Ji-hoo telah terlelap dalam ranjang kayunya, napasnya teratur dan tenang. Winda berdiri di dekat jendela besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang beradu dengan pemandangan lembah di bawah sana. Ia mengenakan daster sutra panjang berwarna putih tulang yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang kini telah pulih sepenuhnya.Seonwoo melangkah masuk, gerakannya tanpa suara namun kehadirannya memenuhi rua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Strategi Dalam Lapas

    Musim semi di Seoul mulai menunjukkan sisi lainnya yang lebih garang, hujan turun dengan deras sejak pagi, membilas debu-debu di jendela Lapas Permanen dan meninggalkan aroma tanah basah yang dingin. Di dalam ruang kunjungan tatap muka, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Kim Yura tidak datang dengan senyum ceria atau cerita tentang sepatu barunya. Ia masuk dengan langkah terburu-buru, rambutnya sedikit berantakan karena terkena tempias hujan, dan sebuah map hitam tebal dipeluknya erat seperti nyawa.Saat ia duduk di depan Jae-hyun, Yura bahkan tidak sempat menyapa. Ia segera membentangkan sebuah dokumen dengan cap merah "Mendesak" di atas meja kayu."Tuan Jae-hyun, kita dalam masalah besar," bisik Yura, suaranya bergetar antara amarah dan kecemasan. "Para kreditur HanGroup, dipimpin oleh firma hukum Sin-Gwang, pengacara Kang yang sombong itu telah mengajukan gugatan pembatalan atas likuidasi Han Medical Center. Mereka menuduh Tuan Seonwoo melakukan pengalihan aset secara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status