หน้าหลัก / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Dinding Dingin Dan Gairah Terlarang

แชร์

Dinding Dingin Dan Gairah Terlarang

ผู้เขียน: V.W. Anara
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-14 00:13:21

Keheningan di dalam penthouse mewah milik  Seonwoo terasa jauh lebih mengintimidasi daripada kebisingan di kantor HanGroup tadi. Winda, ia masih berdiri mematung di dekat ruang tengah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena sisa ketakutan dari kejadian di pantry, tetapi juga karena kemeja putihnya yang basah kuyup mulai mendinginkan suhu tubuhnya hingga ke tulang.

Kemeja itu menempel transparan di kulitnya, memperlihatkan rona merah di bahu dan lengannya akibat dorongan kasar para staf tadi. Di pipi kirinya, bekas tamparan Min-hee mulai membiru, memberikan rasa nyut-nyutan yang konstan.

Winda menatap punggung tegap Seonwoo yang berdiri membelakanginya di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Seoul. Pria itu sudah melepaskan jas mahalnya, menyisakan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya. Seonwoo tampak tenang, namun Winda tahu bahwa ketenangan pria itu hanyalah badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak.

Winda menghirup napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia ingin percaya bahwa ada setitik kemanusiaan yang membuat Seonwoo membawanya ke sini.

"Tuan Han..." suara Winda pecah, hampir seperti bisikan. "Terlepas dari semua hal buruk yang kau lakukan padaku... terima kasih. Terima kasih karena sudah membawaku keluar dari tempat itu. Aku sempat berpikir kau akan membiarkan mereka menghancurkanku di sana."

Seonwoo tidak langsung menjawab. Keheningan yang mengikuti kata-kata Winda terasa sangat mencekam. Perlahan, Seonwoo berbalik. Matanya yang tajam dan sedingin es menelusuri penampilan Winda dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti lama pada bagian kemeja Winda yang transparan, namun tidak ada tatapan kasih kasihan di sana. Yang ada hanyalah penghinaan yang murni.

Seonwoo melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Winda.

"Jangan salah paham, Winda." suara Seonwoo rendah, serak, dan penuh dengan racun. Ia berhenti tepat di depan Winda, auranya yang dominan seketika menyedot oksigen di sekitar mereka. "Jangan pernah sedetik pun dalam otak kecilmu itu kau berpikir bahwa aku membawamu ke sini karena aku mengkhawatirkanmu. Atau karena aku merasa iba melihatmu menangis."

Winda tersentak, rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam daripada tamparan di pipinya. "Lalu kenapa? Kenapa kau tidak membiarkanku di sana saja?"

"Karena kau adalah properti HanGroup. Kau adalah asisten pribadiku." Seonwoo mencengkeram dagu Winda dengan jarinya yang kuat, memaksa wanita itu untuk mendongak menatap matanya yang gelap. "Jika orang-orang melihatmu diperlakukan seperti sampah di kantorku, itu akan merusak citraku. Aku tidak suka barang milikku disentuh atau dirusak oleh tangan-tangan kotor mereka. Kau hanyalah mainan yang kualitasnya harus tetap terjaga sampai aku sendiri yang memutuskan untuk menghancurkanmu berkeping-keping."

Winda mencoba melepaskan cengkeraman Seonwoo, namun pria itu justru mempereratnya. "Mainan? Kau membawaku ke sini hanya untuk menjaga 'kualitas' mainanmu? Kau benar-benar monster, Seonwoo!"

"Aku memang monster, dan kau adalah putri dari orang yang menciptakan monster ini!" desis Seonwoo.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, Seonwoo mencengkeram pinggang Winda dan mendorongnya dengan satu gerakan kasar. Punggung Winda menghantam dinding kaca penthouse yang dingin dengan bunyi yang keras. Winda terkesiap, napasnya seolah terhenti saat tubuh tegap Seonwoo langsung menghimpitnya, mengunci setiap ruang geraknya.

Seonwoo mulai menyerang leher Winda, membenamkan wajahnya di sana dengan ciuman yang tidak memiliki kelembutan sedikit pun. Itu adalah serangan, sebuah pernyataan kepemilikan yang brutal.

"Lepaskan aku! Hentikan!" teriak Winda. Tangannya yang bebas memukul dada bidang Seonwoo, mencoba mendorong pria itu menjauh. Winda tidak merasakan gairah; yang ia rasakan hanyalah pemberontakan dan rasa jijik pada dirinya sendiri yang tidak bisa melawan.

"Diam!" bentak Seonwoo. Ia menangkap kedua tangan Winda dan menguncinya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan saja. Tangan Seonwoo yang lain meraba pinggang Winda yang basah, menekan tubuhnya lebih rapat hingga Winda bisa merasakan detak jantung Seonwoo yang memburu dan kerasnya otot pria itu.

"Lepaskan aku, Tuan Han! Aku di sini untuk bekerja, bukan untuk menjadi tawananmu!" rintih Winda dengan napas terengah-engah. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya, bercampur dengan tetesan air dari rambutnya. Ia terus meronta, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, namun dinding kaca di belakangnya dan tubuh Seonwoo di depannya membuatnya terjepit tak berdaya.

Seonwoo berhenti sejenak, namun ia tidak menjauh. Ia justru semakin menekan tubuh Winda ke dinding kaca yang dingin. Napasnya yang beraroma sandalwood dan maskulin terasa panas di lekuk leher Winda, menciptakan kontras yang menyiksa dengan dinginnya kaca di punggungnya.

Tangan Seonwoo beralih dari pinggang ke rahang Winda. Ia mencengkeram rahang itu dengan dominasi yang mematikan, memaksa wajah Winda agar menatap langsung ke matanya yang kini berkilat antara kebencian yang mendalam dan obsesi yang gelap.

"Bekerja? Tidak, Winda. Kau sudah menandatangani kontrak itu." suara Seonwoo terdengar sangat tipis namun mematikan. "Kau di sini bukan untuk mengetik dokumen atau mengatur jadwal. Kau di sini untuk membayar dosa ayahmu dengan setiap inci tubuhmu. Kau di sini untuk menjadi wadah bagi amarahku."

Winda menggelengkan kepalanya dengan lemah, air matanya membasahi tangan Seonwoo. "Ayahku tidak bersalah... kumohon..."

"Tutup mulutmu!" Seonwoo mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan, namun ia tidak menciumnya. Ia hanya ingin Winda merasakan betapa besarnya kebencian yang ia simpan. 

Winda memejamkan mata rapat-rapat saat Seonwoo kembali membenamkan wajahnya di lehernya, kali ini dengan gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan di kulitnya yang pucat. 

Di bawah cahaya remang penthouse dan di depan pemandangan Seoul yang tak peduli, Winda menyadari bahwa pelariannya telah berakhir. Ia benar-benar telah jatuh ke dalam cengkeraman iblis yang tidak akan melepaskannya sebelum ia benar-benar hancur menjadi debu.

Pemberontakan Winda perlahan melemah, bukan karena ia menikmati, tetapi karena ia menyadari bahwa setiap perlawanan hanya akan membuat Seonwoo semakin beringas. Ia bersandar pada dinding kaca yang dingin, membiarkan air matanya mengalir dalam diam sementara sang CEO terus menancapkan taring kekuasaannya pada dirinya. 

“Tuan…” rintih Winda lagi.

“Diam!” Seonwoo menatapnya tajam. "Sampai aku puas melihatmu hancur, sampai aku merasa hutang nyawa ayahku lunas, kau adalah milikku. Kau tidak punya hak atas tubuhmu sendiri. Kau tidak punya hak untuk menolak."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tempat Kita Pulang

    Satu tahun berlalu sejak Yura berjuang demi melawan penyakitnya. Kini, musim semi kembali menyapa seluruh penjuru kota dengan keanggunan yang sama, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi kabut kecemasan yang menggantung di antara pepohonan pinus, juga tidak ada lagi bayang-bayang menakutkan yang mengintai dari balik kegelapan. Bunga-bunga sakura liar kembali berguguran tertiup angin sepoi-sepoi menutupi rumput hijau dengan kelopak merah muda yang lembut, menciptakan pemandangan yang sangat Indah sebagai wujud nyata dari salah satu lukisan terbaik Winda.Di teras rumah kaca yang kini telah menjadi simbol kedamaian, sebuah meja panjang telah ditata dengan rapi. Aroma sedap dari masakan khas Indonesia yang bumbunya meresap sempurna dari rendang bercampur dengan aroma kopi yang segar. Hari ini adalah hari istimewa dimana merupakan hari perayaan ulang tahun Ji-hoo yang kedua sekaligus syukuran atas satu tahun kebebasan mereka semua dari belenggu masa lalu.

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Balik Duka

    Lorong rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam itu kini telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan seorang wanita bernama Kim Yura. Sudah sepuluh hari sejak operasi besar itu dilakukan, dan Park Jae-hyun tidak pernah sekalipun meninggalkan sisi tempat tidur Yura. Pria yang dulunya dikenal sebagai pria dingin yang mampu meruntuhkan bursa saham hanya dengan satu gerakan tangan itu kini terlihat jauh lebih manusiawi dan jauh lebih rapuh dari sebelumnya .Jae-hyun duduk di kursi kecil, kepalanya bersandar pada pinggiran ranjang Yura. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Yura yang kian stabil. Ia menggenggam tangan Yura yang masih terasa sangat lemah dengan gerakan yang pelan."Yura," bisik Jae-hyun, suaranya parau. "Musim semi hampir berakhir. Bunga-bunga sakura di kantor baru kita pasti sudah mulai gugur. Kau bilang ingin berdansa di sana tanpa musik, bukan? Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku bahkan sudah menghafal l

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Runtuhnya Pertahanan Yura

    Pesta kebun di lereng bukit pagi ini seharusnya menjadi momen yang penuh tawa dan rasa syukur yang dalam dengan dihiasi langit berwarna biru yang seolah sedang memayungi rumah kaca yang kini telah kembali asri. Bahkan aroma daging panggang dan saus marinasi buatan Winda yang menyatu dengan wangi pinus itu seharusnya ikut membuat udara di sekitarnya terasa menyegarkan, tapi tampaknya pagi itu tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.Seonwoo sedang berdiri santai dengan mengenakan kemeja linen putih yang membuatnya tampak berbeda dari biasanya, sementara Ji-hoo asyik merangkak di atas rumput hijau dengan pakaian bayi yang membuatnya tampak begitu menggemaskan, sesekali ia mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga liar sambil terus merangkak.Jae-hyun, yang baru beberapa hari menghirup udara bebas pun tampak begitu segar dengan balutan kemeja putih linen yang senada dengan yang Seonwoo kenakan, ia duduk di bangku kayu bersama Yura sambil terus-menerus memperhatikan wanita itu ya

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Janji Terakhir

    Langit di atas Lapas Permanen Seoul pagi ini tampak lebih cerah dari biasanya, awan kelabu yang menyelimuti sekeliling lapas itu selama berhari-hari itu seolah-olah sengaja menyingkir untuk memberikan jalan bagi sebuah awal yang baru bagi pria bernama Park Jae-hyun itu. Angin musim semi pun bertiup lembut membawa aroma bunga sakura yang mulai berguguran menutupi aspal kasar di depan gerbang penjara dengan kelopak-kelopak merah muda yang tampak begitu cantik.Di depan gerbang besi besar yang dingin itu sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tampak mewah telah terparkir di sana. Seonwoo berdiri bersandar pada pintu mobil, tangannya yang sudah tidak lagi dibalut gips terlipat di depan dada. Di sampingnya, Winda berdiri dengan anggun sambil sesekali merapikan selimut Ji-hoo yang ada dalam dekapan Seonwoo. Namun, pusat dari segala penantian pagi ini adalah Kim Yura.Wanita itu berdiri beberapa langkah lebih depan dari yang lain. Ia mengenakan gaun sutra berwarna peach lembut memberikan

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rahasia...

    Pagi itu langit di kota Seoul ini terlihat sendu dengan tampilan warna yang abu-abu, awan pun seakan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan air hujan. Di distrik Gangnam yang bising, gedung baru Kantor Hukum Jae-Yura berdiri dengan kokoh, memantulkan kesibukan kota pada dinding kacanya yang mengilat. Namun, di dalam ruangan utama milik Yura, suasananya cukup berbeda dan jauh dari kata bising. Hanya ada kesunyian yang mencekam, yang sesekali dipecah oleh suara helaan napas milik Yura.Winda berdiri di depan pintu kayu besar ruang kerja Yura. Tangannya yang memegang sebuah botol obat kecil tanpa label itu terasa dingin. Ia baru saja kembali dari apotek di pusat kota, tempat seorang kenalan lamanya memberikan konfirmasi yang meruntuhkan separuh dunianya pagi ini.“Ini bukan vitamin, Winda. Ini obat pereda nyeri saraf stadium akhir. Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami tekanan besar di otak agar mereka tetap bisa beraktifitas secara baik.”Kalimat itu terngiang-ngiang di

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Atas Gedung Baru

    Matahari musim semi bersinar terik di atas distrik Gangnam, memantul pada dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuatan ekonomi Seoul. Di salah satu sudut paling mewah, sebuah gedung perkantoran tiga lantai berdiri dengan desain arsitektur modern yang minimalis namun sangat berwibawa. Di bagian depan, terukir huruf logam berwarna perak yang elegan."KANTOR HUKUM JAE-YURA & PARTMER".Ini adalah hadiah dari Han Seonwoo, sebuah bentuk penebusan dosa dan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan Jae-hyun dan kesetiaan Yura. Bukan sekadar ruko kecil di sudut sempit seperti dulu, kini kantor mereka adalah salah satu firma hukum yang paling diperhitungkan di Seoul, lengkap dengan sistem keamanan tingkat tinggi dan tim staf yang profesional.Pagi itu, Kim Yura melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh supir pribadi kiriman Sekretaris Kim. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna biru tua yang pas di tubuhnya, rambutnya ditata rapi, da

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Kejutan Dari Jakarta

    Langit Seoul pagi itu terlihat seperti kanvas yang dicuci dengan warna abu-abu pucat. Udara musim dingin yang menusuk tulang tak mampu mendinginkan gejolak yang membara di balik dada Han Seonwoo. Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, ia berdiri mematung di depan meja kerja, menatap sebuah map d

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Ujian Kesetiaan

    Suasana Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu begitu megah, namun bagi Jihan, setiap langkah di atas karpet beludru merah itu terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak kasat mata. Sebagai Manajer Operasional PJH Strategic Consulting, ia harus mendampingi Park Se-hun dalam jamuan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-25
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perubahan Winda

    Pagi itu, cermin besar di kamar utama apartemen memantulkan sosok yang hampir tidak dikenali oleh Winda sendiri. Rambut hitamnya yang dulu selalu tergerai dengan polosnya, kini rambut itu tergerai dengan tatanan wavy yang elegan. Gaun tidur sutranya telah berganti dengan setelan kantor premium, seb

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perpisahan Yang Dipaksa

    Pagi buta di pelabuhan Jakarta Utara datang dengan warna abu-abu yang suram. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di lantai gudang yang retak. Winda terbangun dengan leher yang kaku, menyadari bahwa ia tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang darurat Seonwoo. Ia menoleh ke arah

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status